Reyga membenci aturan ayahnya. Berry membenci cinta karena perceraian orang tuanya.
Keduanya memilih hidup bebas dengan cara masing-masing—sampai mereka menyelamatkan seorang bayi berusia sembilan bulan dari penculikan.
Tak tahu siapa orang tua bayi itu, Reyga dan Berry terpaksa merawatnya bersama.
Dua lelaki yang bahkan tak tahu cara mengganti popok itu perlahan belajar tentang tanggung jawab, pengorbanan, dan perjuangan seorang ibu.
Di saat Reyga mulai jatuh cinta pada Amelia, reporter muda yang selama ini selalu ia hindari, Berry justru dihantui masa lalu bersama Melda—perempuan polos yang pernah ia sakiti hingga harus menghadapi kehamilannya seorang diri.
Namun ketika identitas bayi mulai terungkap, mereka sadar bahwa penculikan itu bukan kebetulan.
Bayi kecil yang awalnya mereka anggap sebagai beban ternyata menjadi jalan bagi dua lelaki yang terluka untuk menemukan cinta, keluarga, dan kesempatan kedua.
Bila suka ceritanya, jangan lupa subscribe, like, komentar & votenya ❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 : RUMAH SEDERHANA AMELIA
...BAB 29...
...RUMAH SEDERHANA AMELIA...
Tak terasa hari sudah sore, langit mulai terlihat menguning. Pukul lima sore, Amelia sudah selesai merapikan pakaian Bintang yang ia cuci dan jemur tadi siang. Lalu mainannya juga telah rapi di tempatnya.
Berry yang sejak tadi berada di ruang keluarga sedang menggendong bayi itu.
"Sudah mau pulang?" tanya Berry.
Amelia mengangguk. "Iya. Ibuku pasti sudah menunggu."
Reyga mengambil kunci mobil dari meja. "Gue antar Lo."
Amelia langsung menoleh. "Nggak usah. Aku bisa pulang sendiri."
"Ini sudah sore."
"Aku biasa naik kendaraan umum."
Reyga menatapnya. "Dan sekarang lo pulang sama gue."
Berry yang mendengar langsung menyeringai.
"Uhuk!"
Reyga menoleh. "Kenapa lagi?"
Berry pura-pura tidak mendengar sibuk membetulkan posisi Bintang. "Nggak ada. Cuma batuk doang."
"Bohong." Reyga mendelik.
Berry tertawa. "Ya sudah, antar saja. Kalian berdua ribet amat."
Amelia memutar bola mata. "Jangan mulai kalian."
Reyga membuka pintu. "Ayo."
Sebelum pergi, Reyga menoleh pada Berry. "Jaga Bintang."
Berry mengangkat Bintang. "Tenang. Anak lo aman."
Reyga langsung mengernyit. "Dia bukan anak gue."
Berry menyeringai. "Iya, iya."
Amelia menahan tawa. "Sudah. Ayo." Tapi sebelum pergi, Amelia mencium pipi Bintang. "Daah Bintang..."
Mereka pun keluar. Mobil Reyga melaju meninggalkan apartemen.
Amelia duduk di kursi penumpang sambil memandang jalan. Beberapa menit pertama mereka diam.
Hingga Reyga bertanya. "Rumah lo jauh?"
"Nggak terlalu."
"Di mana?"
"Nanti aku tunjukkan."
Tak lama kemudian Amelia mengarahkan Reyga masuk ke sebuah jalan yang semakin kecil.
Reyga mulai memperlambat mobil. "Masuk sini?"
"Iya."
"Mobil gue muat nggak?"
Amelia tertawa kecil. "Ya muatlah."
Beberapa menit kemudian mereka berhenti di depan sebuah rumah sederhana.
Reyga terdiam. Ia melihat rumah kecil itu.
Cat dindingnya sederhana. Halamannya tidak luas. Ada beberapa pot tanaman dan jemuran pakaian di samping rumah.
Jauh berbeda dari rumah-rumah mewah yang biasa ia datangi.
Amelia membuka sabuk pengaman. "Sudah sampai."
Reyga ikut turun. Amelia langsung menoleh.
"Kamu mau ikut?"
"Gue antar sampai depan."
"Nggak perlu."
"Sudah nggak papa."
Mereka berjalan menuju halaman.
Seorang perempuan paruh baya sedang menyapu dedaunan. Begitu melihat Amelia, wajahnya langsung cerah.
"Lia!"
"Ibu!" Amelia tersenyum.
Namun ketika ibunya melihat lelaki yang berjalan di belakangnya, tangannya berhenti menyapu. Tatapannya berpindah dari Reyga ke Amelia. "Ini siapa?"
Amelia langsung sedikit gugup. "Ini Reyga, Bu."
Reyga tersenyum sopan. "Selamat sore, Bu."
"Selamat sore." Ibu Amelia masih memperhatikan.
Amelia buru-buru menjelaskan. "Em.. Dia teman Lia Bu."
Berry tidak ada di sana untuk menyelamatkan keadaan. Reyga pun ikut menambahkan.
"Saya yang mengantar Amelia pulang, Bu."
"Oh..." Nada suara ibu Amelia terdengar seperti sedang melakukan investigasi.
"Teman kerja?"
Amelia tersenyum kaku.
"Dulu." jawab Reyga.
"Dulu?" Amelia terdiam.
Reyga menahan senyum. "Amelia sekarang membantu saya mengurus seorang bayi."
Mata ibu Amelia langsung membesar. "Bayi?"
Amelia mengangguk cepat. "Nanti Lia ceritakan ke Ibu."
Tiba-tiba terdengar suara dari dalam rumah. "Kak Amelia pulang!" Dika keluar.
Namun baru melihat Reyga, ia langsung berhenti. Matanya membulat. "KAK REYGA?!"
Reyga tertawa. "Halo sobat!"
Dika langsung berlari menghampiri. Lalu salah satu tangan Reyga dan Dika terangkat dan tos bareng.
"Kak! Serius Kak Reyga datang ke rumah kita?"
Amelia menghela napas. "Pelan-pelan bicaranya."
Dari belakang, Intan ikut muncul. Begitu melihat Reyga, ia langsung ikut heboh.
"Kak Reyga!"
Reyga sampai mundur selangkah. "Wah... ternyata penggemar gue satu rumah."
Dika tertawa. "Aku suka banget lihat Kak Reyga balapan di TV pengennya sih lihat langsung di arena balapan!"
"Iya lain kali jika ada pertandingan Kakak akan ajak kalian berdua."
"Serius?" Mata Dika berbinar.
"Iya!" angguk Reyga.
"Horee!" Dika melonjak senang.
Intan lalu menyodorkan ponselnya. "Kak, boleh foto nggak?"
"Foto, boleh."
Dika langsung berdiri di samping Reyga. Intan ikut masuk.
Amelia berdiri di belakang sambil tersenyum. "Sudah, jangan bikin Kak Reyga lama."
Dika menjawab. "Sebentar aja Kak. Ini kesempatan langka."
Reyga tertawa. "Biarkan saja."
Ibu Amelia hanya bisa tersenyum melihat putra-putrinya.
Tak lama kemudian Dika bertanya. "Kak Reyga, motor yang kemarin itu masih ada?"
"Masih."
"Kalau aku sudah besar boleh naik?"
Reyga mengangkat alis. "Boleh, kalau kamu sudah cukup umur."
Dika mengangguk serius. "Aku akan latihan."
Amelia tertawa. "Latihan apa?" ledeknya.
"Latihan jadi pembalap-lah Kak!" oceh Dika.
"Nilai matematikanya tuh perbaiki dulu."
Dika langsung terdiam.
Reyga tertawa. "Nah, itu baru tantangannya."
Setelah cukup lama mengobrol, Reyga akhirnya berpamitan kembali ke Apartemen Berry.
"Kalau begitu saya permisi pulang dulu."
Ibu Amelia mengangguk. "Iya Nak Reyga, terimakasih sudah antar Lia pulang.."
"Sama-sama Bu..." Reyga mengangguk tersenyum, lalu kembali menuju mobil dan Amelia ikut mengantarnya sampai mobil.
"Adik lo lucu."
"Dika memang penggemar balapan."
"Kelihatan."
Amelia menoleh. "Kamu juga kelihatannya senang ngobrol sama mereka."
Reyga mengangkat bahu. "Ya, mereka enak diajak ngobrol."
Amelia tersenyum kecil. "Terima kasih sudah mengantarku sampai rumah." ucapnya lagi.
Reyga hanya mengangguk. "Besok jangan sampai telat."
Amelia tertawa. "Memangnya aku karyawan kamu?"
Reyga menoleh sekilas. "Sejak lo jadi pengasuh Bintang, gue rasa gue rada cerewet dikit."
Amelia langsung memelototinya. "Sedikit?"
Reyga tertawa, lalu lelaki itu masuk ke mobilnya. "Sudah ya, sampai besok."
"Ya.. Hati-hati." ucap Amelia melambaikan tangan.
Mobil Reyga pun bergerak keluar dari halaman depan rumah Amelia tinggal. Setelah agak jauh dari rumah Amelia, Reyga sempat menoleh lagi ke rumah itu.
Ia tidak menyangka. Selama ini Amelia yang ia kenal sebagai reporter ternyata hidup dalam keluarga sederhana.
Dan meskipun kehidupannya jauh dari kemewahan, rumah itu terasa hangat.
Reyga tersenyum tipis. "Walaupun hidup Lo dalam kesederhanaan, namun terasa hangat dan damai... "
Reyga menghela napas dalam. "Sesuatu hal yang belum pernah gue dapatkan selama hidup ini.." lanjutnya.
****
Malamnya, setelah kembali ke apartemen, Reyga melihat Berry sedang duduk di depan televisi. Bintang sudah tidur sejak Amelia pulang.
Ponsel Reyga berbunyi. Sebuah pesan masuk dari Alessia.
Alessia : Reygaaa... Sabtu malam kamu jangan lupa datang ya ❤️
Reyga menghela napas.
Berry melirik. "Pesan dari siapa?" keponya.
"Alessia."
"Undangan lagi?"
Reyga mengangguk.
Berry langsung menyeringai. "Jangan-jangan dia mau ngajak Lo nikah." celetuknya.
Reyga mendelik tajam. "Jangan mulai."
Lalu Reyga membuka pesan berikutnya.
Alessia :Jangan nolak. Aku sudah siapkan semuanya.
Pleaseee... Kamu datang ya. 🥺
Reyga mengetik.
Reyga: Gue nggak terlalu suka acara ramai.
Balasan datang cepat.
Alessia: Kali ini nggak ramai kok.
Aku cuma ingin makan malam sama kamu. Papa hanya mengundangmu makan malam di rumahku...
Berry langsung mendekat. "Ayo jawab."
"Apaan?"
"Terima."
"Gue males."
Berry menggeleng kepala melihat Reyga yang sejak tadi terlihat malas membaca pesan dari Alessia.
“Muka lo udah kayak orang disuruh bayar utang!” celoteh Berry.
“Gue takut dia bikin berita baru.”
Berry langsung tertawa. “Berita soal bunga itu?”
Reyga mendengus. “Jangan sebut-sebut bunga itu.”
“Padahal lo nggak pernah kasih dia bunga 'kan?!"
“Makanya itu gue kesal!” Reyga meletakkan ponselnya di meja. “Dia bilang ke media gue datang ke pestanya sambil bawa bunga. Gue bahkan nggak bawa apa-apa selain dompet dan muka capek.”
Berry tertawa semakin keras. “Tapi gara-gara berita itu, sekarang lo terkenal sebagai cowok romantis.”
“Romantis dari mana?”
“Ya siapa tahu besok lo benar-benar disuruh beli bunga.”
Reyga menatap tajam. “Kalau itu terjadi, gue lempar bunganya ke muka lo.”
Berry langsung mengangkat kedua tangan. “Oke, Bos. Jangan emosional.”
Reyga kembali melihat pesan Alessia. Gadis itu kembali membujuknya datang.
Sementara itu, dari kamar terdengar suara Bintang mengoceh.
Berry menunjuk ke arah kamar. “Tuh, penggemar lo yang satu lagi manggil.”
Reyga langsung berdiri. “Nah, kalau yang itu gue nggak mungkin nolak.”
Berry terkekeh. “Beda perlakuan banget.”
“Karena dia nggak pernah bikin berita bohong tentang gue.”
Berry tertawa. “Masuk akal.”
Reyga pun segera menghampiri Bintang di kamar, dengan mengabaikan pesan Alessia.
Bersambung...