“Bu, mimpi-mimpi itu seperti nyata. Ada yang menunggu kedatangan kita disana, tapi bukan manusia.”
Hamima memberi pengertian kepada putranya, dengan mengatakan jika tidak semua mimpi akan menjadi nyata, bisa jadi bunga tidur semata.
Namun, kepindahannya ke sebuah desa demi mengikuti sang suami yang dipindahtugaskan, membuat ketenangan hidup hilang seketika, tergantikan hal-hal tak pernah terbayangkan, dan belum pernah dialami sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak ada pilihan : 29
‘Tunggu sesaat lagi, tak lama, hanya sampai dia bersedia pergi ke rumah mbah Nar ….’ senyum miring perlahan tergantikan oleh bibir mencebik dan sorot mata redup.
Rosna memejamkan matanya sejenak, lalu dia melembutkan ekspresi, dan berjalan tenang ke belakang.
Belanjaan ditaruh di atas meja makan, dan keranjang Ayam diletakkan di lantai.
“Bu, Bu ….” Pujiara menggeliat minta diturunkan dari gendongan. Dia kesenangan melihat Ayam berbulu dan berkulit hitam legam.
“Nanti kamu dipatok loh, Nak,” Mima menakuti, tetapi putrinya lebih berani, bersikeras.
Pujiara pun diturunkan, langsung saja merangkak mendekati kepala Ayam yang keluar dari lubang keranjang anyaman bambu.
“Uangnya cukup atau kurang, Rosna?” Mima mengeluarkan belanjaan dengan dibantu temannya.
“Ada lebihan 7 ribu,” jawab Rosna.
“Buat kamu saja, untuk beli bensin,” ia menolak uang kembalikan. “Terima kasih banyak ya, Rosna. Aku terbantu sekali dengan adanya kamu, mas Galih gak sempet belanja, dia mulai sibuk mengajar sama urusan sekolah.”
Hamima tidak menceritakan prahara rumah tangganya, menutupi kebenaran dengan kebohongan, tetap menjaga nama baik suaminya.
Rosna melirik wanita yang sedang memetik sayur Kangkung. “Aku setiap hari lewat pasar, kalau kamu butuh sesuatu, mau nitip, ngomong aja jangan sungkan.”
“Iya. Kedepannya, aku bakalan ngerepotin kamu,” canda Hamima.
“Kamu mau nganterin barang permintaan Simbah, kapan Mima?” Rosna mengalihkan obrolan, ada nada menuntut dalam kalimatnya.
Hamima jadi bingung. Dia tidak punya kendaraan, dan juga belum tau dimana rumah mbah Nar. “Mau naik apa kesana? Apa disini ada ojek, Rosna?”
“Kita jalan kaki saja, aku anterin. Kalau bisa hari ini sebelum bunganya layu,” usulnya menekankan keinginan.
Mima berhenti memetik sayur, dia memandang wanita yang juga menatapnya. “Katamu tadi rumah mbah Nar melewati pasar, berarti kan jauh?”
“Lewat jalan potong lebih dekat dan gak kepanasan karena terlindungi pepohonan rimbun,” jawabnya sembari membantu Mima memetik sayur. Mereka duduk di lantai.
“Dimana jalan potong itu? Aman gak dilalui anak-anak?” ia takut membahayakan buah hatinya.
“Aman. Walaupun jalannya kecil, diapit rumput ilalang dan sebagian hutan lebat, aku jamin aman,” ucapnya mantap.
“Hamima, jangan banyak tanya apalagi tentang rumah ini, aku gak bisa menjawab kalau disini. Sebaiknya kamu cepat masak lalu makan siang, sehabis itu kita pergi,” sambungnya mencegah Mima bertanya sebelum diutarakan.
Perkataan Rosna hampir sama dengan mbah Nar — disini tidak aman membahas hal penting yang ingin diketahui ibu dua orang anak tersebut.
‘Aku harus berani mengambil resiko, daripada menunggu mirip orang bodoh, ketakutan tanpa tahu mengapa anak-anakku yang diteror,’ batinnya meyakinkan, menghilangkan keraguan.
Pada akhirnya Hamima sudah bertekad, membuang semua rasa takut, dan dia setuju dengan usulan Rosna.
‘Benar ataupun salah, baik maupun jahat, sudah sampai sini, dan aku serta anak-anak terlanjur mendapatkan teror makhluk tak kasat mata — maka harus dihadapi,’ keputusan itu sudah bulat dengan tekad kuat.
Sesudahnya Hamima mulai masak menu makan siang dibantu Rosna yang enggan meninggalkan tetangganya seorang diri.
Hamima buka tidak menaruh curiga, tetapi dia tak memiliki pilihan lain.
Tinggal dilingkungan baru, belum mengenal siapapun selain Rosna, maka apa yang bisa diperbuatnya disaat kondisi mencekam seperti ini?
Sikap suaminya berubah, tak lagi bisa dijadikan pelindung malah melakukan hal aneh.
Setengah jam kemudian, nasi sudah masak, tumis sayur telah matang, dan ikan Lele pun baru saja diangkat dari minyak panas, siap disantap.
Guntur yang tidur pulas, dibangunkan oleh ibunya, lalu diajak makan pagi menjelang siang.
“Rosna, ayo makan disini saja bareng kami,” pinta Mima.
“Aku pulang ke rumah saja, Mima,” tolaknya sungkan menumpang makan.
“Mana boleh seperti itu. Tadi subuh-subuh kamu kasih kami kue lupis, terus banyak bantu lainnya, ayolah makan bersama, biar menghemat waktu juga,” bujuk Mima masih berharap Rosna mau menerima tawarannya.
“Ayo Bude.” Guntur menarik kursi di sebelahnya, mempersilahkan teman ibunya duduk.
Rosna pun lebih tidak enak lagi kalau menolak, akhirnya dia makan bersama Mima dan kedua anaknya.
Makan siang yang lebih cepat satu jam itu diiringi obrolan ringan, Hamima dan Rosna tidak ada membahas tentang mbah Nar ke Guntur yang sempat bertanya.
Tidak sampai setengah jam, mereka pun selesai menyantap hidangan yang dimasak cukup sampai makan malam nanti.
Guntur bertugas mencuci piring, sedangkan ibunya membereskan meja makan, sementara Rosna membantu menjaga Pujiara sambil menggulung tikar bekas pijat tadi.
“Bu, kalau Ayah pulang dan kita gak ada dirumah, apa nanti tak jadi masalah?” tanya Guntur sambil menyiram lantai cuci piring.
“Bilang saja kita jalan-jalan ke rumah temanmu di bawah bukit,” jawab Mima, baru saja selesai menyusun piring yang tadi dicuci putranya.
“Baik, Bu. Aku mandi sebentar ya, Bu?” kaos dan celananya basah, terus badanku pun lengket minyak pijat.
Mima mengizinkan, dia juga mengganti pakaian putrinya dengan yang lebih nyaman dikenakan saat sinar matahari panas menyengat kulit.
***
“Sudah benar-benar terkunci belum, Mima?” Rosna membantu menggendong Ara, nanti ganti-gantian dengan Hamima.
Handle pintu pun didorong demi meyakinkan kalau sudah terkunci. “Udah.”
Mima berjalan menuruni teras, bergabung dengan Rosna dan Guntur yang menjinjing keranjang Ayam.
Mereka berjalan melewati belakang rumah, lalu menuruni bukit yang belum lama Hamima merosot sampai bawah.
“Kita lewat sungai?” tanya ibunya Guntur, kakinya sedikit lemas, medan jalan menurun ini terbilang cukup curam.
Begitu mudah Rosna menuruni bukit sambil menggendong bayi, tidak terpeleset. “Lewat tepian sungai sebentar saja, habis itu menyusuri hutan.”
“Akhirnya, kakiku sampai gemetaran.” Mima mengelus dada, tidak berani melihat ke atas, takut rasa cemas kembali datang, pun enggan memandangi cekungan kolam dibawah air terjun yang kapan hari dia tenggelam di sana.
“Le, Ibu numpang lewat ya, Nak ….” suaranya sarat rindu mendalam, dan rasa sakit. Rosna berhenti sebentar di tepian tengah kolam besar.
Guntur dan ibunya pun berdiri dibelakang wanita yang mengusap air mata di pipi menggunakan jarinya.
Hamima merangkul pundak sang putra, tidak dapat dibayangkan betapa sakit hatinya Rosna. Kehilangan anak semata wayang dengan cara tidak diduga-duga.
Rosna menyudahi meratapi nasib sambil membayangkan wajah sang buah hati. Ia pun melanjutkan perjalanan, melangkah mantap dengan manik tegas menatap depan.
Selama menyusuri tepian sungai, rombongan Hamima tidak ada bertemu orang lain. Tempat itu sunyi, hanya terdengar suara burung hinggap di dahan pohon seberang sungai.
Perjalanan pun meninggalkan aliran sungai, dan memasuki hutan ditumbuhi pohon tinggi dan rumput liar.
“Perhatikan langkahmu, Guntur!” ujar Mima, takut tiba-tiba ada hewan berbahaya seperti Ular, Kalajengking atau Lipan.
“Iya, Bu.” Guntur menginjak rumput pendek yang tumbuh subur berwarna hijau.
“Bu, pohon di semak-semak itu kok bergerak-gerak?”
.
.
Bersambung.
Kenapa manusia2 dungu ini ,gampang sekali tergoda iman nya, tergadai kepercayaan pada Sang Pencipta NYA, demi harta dunia fana??
Galih kasihan anak istrimu....
Mbah Nar ,tolong jangan habisi nyawa anak2 tak bersalah
bersekutu dengan tujuan apa lh Sigalih ini mungkin ada hubungannya dengan dia JD guru itu kali ya
sepertinya galih pengen cepet kaya
gara2 dari kecil hidupnya miskin dan banyak hinaan,,
kasian guntur dan Ara
semoga tidak terjadi apa2 sama mereka