Oliver Robert dosen tampan bersatatus duda dan dia mempunyai anak kembar, suatu hari anak kembarnya Oliver bertemu dengan salah satu mahasisa Piskolognya yang bernama Zafana
Oliver dan kedua anaknya yang sellu menutup diri dari orang lain.
Pertemuan yang tidak sengaja itu membuat Oliver sadar jika Zafana berbeda dari wanita yang lain yang pernah ia temui dari wanita lain termasuk mendiang istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BJP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Oliver pun memutuskan untuk kembali kedalam ruangannya setelah melihat dengan jelas senyuman Zafana pada Renzo yang terlihat sangat ringan tanpa beban. Kepalanya terasa sangat pening ditambah pikirannya yang begitu bercabang memikirkan banyak hal. Beberapa menit setelahnya Zafana kembali dengan senyuman hangat yang tertuju pada Oliver.
"Mas, maaf ya aku lama, tadi itu aku gak sengaja----"
“Ya, siap-siap sekarang mas antar kamu pulang”sela Oliver cepat.
Zafana sedikit terkejut karena Oliver yang tiba-tiba saja memotong ucapannya dengan tatapan yang dingin.
“Mas tapi aku masih---"
"Ma, Oliver ke kamar mandi bentar ya"ucap Oliver lalu berjalan menuju kamar mandi tanpa menghiraukan Zafana yang terdiam mematung disana.
Beberapa menit setelahnya Oliver kembali dan pandangannya tertuju pada Zafsna yang sedang membujuk Rina untuk makan.
“Ma, makan sedikit ya”ucap Zafana dan Rina memalingkan wajahnya sedikit kaku.
“Mama harus makan supaya bisa minum obat”Zafana kembali membujuk dengan sabar.
Melihat Rina yang terus menolak dan Zafana yang membujuk dengan penuh kesabaran malah membuat Oliver merasa emosi.
Dengan langkah cepat dan besar Oliver mendekat kearah Zafana. Niatnya ia ingin menaruh piring itu, tapi tepat saat itu Zafana menggeser tangannya membuat tangan Oliver membentur piring itu hingga membuatnya terjatuh dan pecah.
Prakk
Rheyna terkejut lalu segera bangkit dari duduknya,
"Mas, kamu tuh kenapa sih?”
Oliver menghela lalu menatap tajam mata Zafana,
“kamu yang kenapa! Udah tau mama saya gak mau kamu suapin, kenapa malah kamu paksa?!"
Zafsna sedikit terkejut dengan nada bicara Oliver yang tiba-tiba saja tinggi dan membentaknya begitu tegas.
“Salah kalau aku Cuma mau mama kamu makan? Dia belum makan dari pagi mas, harus aku tega biarin dia kelaparan? Dan menurut kamu aku salah?”tanya Zafana dengan air mata yang perlahan turun dari sudut matanya.
Oliver hanya diam, dia tidak tega melihat Zafana yang menangis seperti ini karena ucapannya barusan. Zafana sendiri hanya bisa menunduk sambil menahan tangisannya agar tidak semakin deras.
"Kalau gitu aku pamit pulang”ucap Zafana
Oliver menahan tangan Zafana yang hendak meninggalkannya namun dengan cepat ditepis oleh Zafana yang segera keluar setelah mengambil tas selempang miliknya. Oliver menghela lalu berbalik menarik tangan Zafana dan berjalan bersama keluar dari ruangan itu.
“Mas aku bisa pulang sendiri!”ucap Zafana sembari berusaha melepaskan genggaman tangan Oliver yang sangat erat.
“Mas-----aww”Zafana menghentikan langkahnya membuat Oliver berbalik menatapnya khawatir.
“Kamu kenapa?”tanya Oliver.
Zafana hanya menggelengkan kepalanya sambil menunduk. Kakinya terasa sangat sakit sekarang, bahkan beberapa lukanya mengeluarkan darah. Tidak sanggup lagi berdiri, Zafana pun akhirnya terduduk lemah diatas lantai.
“Zafa, kaki kamu sakit..naik ke punggung mas sekarang”ucap Oliver yang kini sudah berjongkok membelakangi Zafana.
“Gak usah mas, aku masih kuat jalan kok”jawab Zafana sembari berusaha untuk bangkit.
Namun usahanya gagal, setelah beberapa kali percobaan kakinya malah tambah sakit dan beberapa kali terkilir.
“Zafana kamu jangan keras kepala sekali aja bisa gak sih?!”bentak Oliver seketika membuat Zafana semakin menunduk.
Oliver beringsut lalu perlahan menarik Zafana kegendongannya. Zafana hanya diam dalam gendongan Oliver, begitu pun dengan Oliver yang tidak berminat untuk mengajak Zafana mengobrol.
Sampainya dirumah Zafsna segera membuka pintu mobil dan hendak turun. Namun langkahnya terhenti saat Olivee secara tiba-tiba sudah ada dihadapannya dan siap untuk kembali menggendongnya kedalam rumah. Tanpa persetujuan dari Zafana, Oliver segera membopong tubuh Zafana masuk kedalam rumah.
“Renzo?”
Langkah Oliver sontak berhenti diruang tamu, pandangan mereka tertuju pada laki-laki yang sedang duduk bersama Damian diruang tamu.
“Zafa kamu udah pulang?”tanya Damian.
“I-iya pa, ini kaki Zafa sakit jadi mas Oliver anterin Zafa pulang”jawab Zafana.
“Mas, turunin aku disini”bisik Zafana.
Oliver tidak menjawab dan hanya menatapnya dingin. Oliver tau kalau laki-laki itu adalah laki-laki yang bertemu dengan Zafana beberapa waktu lalu dirumah sakit dan menjadi penyebab kecemburuan Oliver.
“Nak Renzo, ini tante buatin----lho Zafa, kamu ngapain disitu?”tanya Clara.
“I-ini ma, Zafa sama mas Oliver mau ke kamar”jawab Zafana.
“Yasudah sana ke kamar”ucap Clara.
Oliver mengangguk lalu berjalan menuju kamar Zafana dilantai 2 dan mendudukan Zafana dipinggiran kasur. Zafana sedikit meringis karena kakinya yang terbentur dengan lantai. Disaat seperti ini memang Oliver tidak seperti Oliver yang ia kenal.
“Mas langsung ke rumah sakit aja, takutnya mama kamu perlu apa-apa”ucap Zafana.
“Saya mau obatin luka kamu dulu, dimana kotak obatnya”jawab Oliver dengan tatapan yang datar.
“Nanti aku bisa obatin sendiri kok, kamu balik lagi aja”ucap Oliver.
“Kamu mau berduaan sama laki-laki itu? Mau mesra-mesraan dibelakang saya?”tanya Oliver.
“Renzo?”
Oliver menghela lalu sibuk mencari kotak obat didalam kamar Zafana. Saat ia sudah mendapatkannya dengan segera menyimpan kotak obat itu disamping kaki Zafana lalu masuk kedalam kamar mandi untuk mengambil air hangat.
“Kamu cemburu?”tanya Zafana.
“Siapa juga yang cemburu sama kamu”jawab Oliver sedikit emosi.
Zafana terkekeh, “Renzo itu temen SMA aku mas, dari lulus sekolah dia kerja di luar negeri ngurusin perusahaan orang tuanya gitu....beberapa minggu ini juga dia lagi sibuk disini, makanya main ke rumah”
“Dia tampan”ucap Oliver.
Zafana tertegun dengan ucapan Oliver barusan lalu segera mengusap puncak kepala Oliver yang menunduk tanpa berkata apapun lagi. Setelah usai mengobati kaki Zafana, Oliver pun bangkit lalu duduk disamping Zafana.
“Mas gak ke rumah sakit?”tanya Zafana.
“Saya udah suruh mbo Itah untuk jaga mama”jawab Oliver.
“Yaudah kamu bersih-bersih dulu sana, nanti aku bilang sama Kaka Alaska biar dia pinjemin bajunya buat kamu”ucap Zafana.
Oliver mengangguk lalu melenggang masuk kedalam kamar mandi. Zafana terkekeh setelah pintu kamar mandi tertutup.
“Jadi dia marah Cuma gara-gara Renzo?”gumam Zafana yang diakhiri kekehan gemas. Setelah itu Zafana berjalan perlahan keluar kamar untuk menemui Renzo.
Ia duduk tepat Disebrang Renzo yang sedang mengetik sesuatu pada ponselnya.
“Kok lo kesini?”tanya Zafana membuat Renzo menyadari keberadaannya lalu mendongak.
“Iya, tadi di chat nyokap lo suruh kesini bawa kue buat nyokap”jawab Renzo
“Oh gitu, terus keadaan tante gimana?”tanya Zafana.
“Baik-baik aja kok Zafa, Cuma perlu banyak istirahat aja”jawab Renzo. Zafana mengangguk paham. Tidak lama kemudian Clara datang menghampiri mereka membuat Zafana dan Renzo sontak mendongak.
“Nak Daniel, tolong sampaikan salam tante buat mama ya..maaf tante belum bisa jenguk”ucap Clara sambil menyerahkan kue bolu buatannya pada Renzo.
“Iya tante gak papa, nanti Renzo sampaikan salamnya ke mama”jawab Renzo.
“Yaudah kalau gitu tante tinggal ke dapur dulu ya”ucap Clara.
“Renzo juga mau sekalian pamit tante”
“Lho, kok buru-buru sih Enzo?”tanya Zafana.
“Gue masih harus nungguin nyokap, Zafa...yaudah tante, makasih kuenya ya, Renzo pamit pulang dulu”ucap Renzo.
“Iya nak Renzo, hati-hati dijalan ya”jawab Clara.
“Iya tante, Zafa gue pulang ya”ucap Renzo yang diakhiri mengusap pelan puncak rambut Zafana.
“Cepet sembuh”gumamnya sambil tersenyum manis. Zafana tersenyum lalu mengangguk singkat.
Renzo berjalan keluar diikuti Zafana yang mengantarnya hingga mobil Renzo benar-benar menjauh dari halaman rumahnya. Setelah itu ia berjalan menuju kamar Kak Alaska yang tak berpenghuni dan mengambil baju serta celana pendeknya yang berada didalam lemari lalu berjalan menuju kamar miliknya sendiri. Oliver belum juga keluar dari kamar mandi dan Zafana memilih untuk merebahkan tubuhnya sambil menunggu Oliver keluar.
“Zafa, kamu lagi apa?”itu suara Clara yang terdengar balik pintu kamarnya yang tertutup.
Dengan helaan napas yang sangat pelan Zafana bangkit dan membuka pintu kamar. “Zafa lagi nunggu mas Oliver ma, ada apa?”jawab Zafana.
“Mama mau keluar dulu sama papa, kamu jaga rumah sama nak Oliver ya?”ucap Clara.
Zafana mengangguk dengan tatapan sayu, “jangan lama-lama”
“Iya Zafa..oh iya, nanti kalau nak Oliver mau makan udah mama siapin diruang makan ya menunya”ucap Clara. “Iya ma iya”jawab Zafana.
“Zafa, Sayang kamu udah ambil baju---tante?”
Clara terdiam ditempat saat melihat Oliver yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk putih yang hanya menutupi bagian pinggang hingga lututnya. Rambut yang basah dan tubuhnya sangat kekar juga membuat Clara membulatkan matanya.
Zafana yang menyadari itu segera keluar dan menutup pintu rapat-rapat,
“mama bisa pergi sekarang”
“Sebentar, mama mau lihat lagi”ucap Clara.
“Mama ih! Udah sana pergi sama papa aja..kalau mau lihat lagi punya papa aja”jawab Zafana sambil memutar balikan tubuh Clara.
“Punya papa rotinya Cuma satu, kalau nak Al rotinya ada delapan”ucap Clara.
“Mama! Itu punya Zafa, mama satu aja gapapa”ucap Zafana tidak mau kalah.
“Apanya yang satu?”
Suara Damian sontak membuat kedua ibu dan anak itu menoleh dengan wajah kagetnya.
“Ini pa, mama masa mau lihat----mmpphh”
“Ayok pa, nanti kelamaan klien nya nunggu”Clara memotong ucapan Zagana dengan membekap mulut anak bungsunya itu.
“Yasudah ayok, papa juga udah siap kok..mama udah siap kan?”jawab Damian.
“Udah, yuk”ucap Clara lalu menggandeng tangan Damian.
“Pah....”Zafana memanggil dengan nada lirih yang sontak mendapat tatapan tajam dari Clara.
Zafana tersenyum, ide jahil tiba-tiba saja muncul dibenaknya.
“Mama tadi bilang....katanya.....mama pengen lihat....”Zafana menggantung ucapannya dengan senyuman jahil.
“Lihat apa? Kamu mau lihat apa Ma?”tanya Damian penasaran.
“I-itu..aku mau lihat...lihat manusia silver yang gak pakai baju”jawab Clara asal sontak membuat Zafana tergelak.
“Lho? Kamu ini aneh ma, buat apa lihat manusia silver? Kurang piknik ya kamu?”tanya Damian.
“Mama ngidam, pa”jawab Zafana lebih asal lagi.
“Ngaco kamu, orang mama kamu udah suntik berencana kok, ya kan ma”ucap Damian.
“Ah udah lah, nanti malah kesorean pa..ayok berangkat”sela Clara.
“Oh iya papa jadi kelupaan..kamu sih Zafa malah ajak papa ngobrol”ucap Damian..
Zafana terkekeh geli lalu membiarkan mereka pergi. Setelah itu Zafana berbalik kembali ke kamarnya Langkahnya terhenti saat pintu kamar sudah tertutup, pemandangan Oliver yang masih belum memakai bajunya itu sontak membuat Zafana meneguk air liurnya dengan susah payah.
“M-mas kenapa belum pakai baju?”tanya Zafana gugup.
“Mana bajunya?”Oliver balik bertanya.
“T-tadi aku simpan diatas kasur”jawab Zafana.
Okivee bangkit lalu memberikan kode pada Zafana untuk mencarikan baju itu. Zafana yang perasaannya sudah bercampur aduk itu berjalan kaku kearah ranjang. Dalam hati ia terus meminta pada Tuhan agar Oliver tidak berbuat macam-macam padanya.
“I-ini baju---”
Grepp
Zafana berdiri menegang saat tangan Oliver melingkar didepan perutnya. Detak jantung, denyut nadi, serta napas pun rasanya terhenti yang membuat Zafana merasa sangat sesak sekarang.
“Mas kedinginan nungguin kamu”ucap Oliver dengan suara yang berat.
Oliver mendaratkan kepalanya pada pundak kanan Rheyna yang membuat tubuh Rheyna rasanya semakin lemas.
Brukk
Pada akhirnya Zafana menjatuhkan tubuhnya diatas kasur, kedua bola matanya membulat saat wajah Oliver berada tepat beberapa centi didepan wajahnya.
“M-mas”gumam Zafana.
“Hmm?”
Zafana terdiam saat mendengar deheman Oliver yang terdengar sangat candu.
“A-aku gak bisa napas”ucap Zafana sontak membuat Oliver terkekeh lalu mengecup puncak kepala Zafana.
“Gak ada yang suruh kamu tahan napas kok”jawab Oliver lalu bangkit dari posisinya dan segera mengambil baju yang tergeletak disamping mereka.
“STOPP!”Zafana berteriak saat Oliver hendak membuka handuk yang sejak tadi masih menutupi bagian pinggangnya.
“Kenapa?”tanya Oliver bingung.
“Pakai bajunya dikamar mandi, gak boleh disini”jawab Oliver.
Oliver terkekeh lalu berjalan masuk kembali kedalam kamar mandi. Melihat itu Zafana langsung menghembuskan napasnya lega, ia pikir jika Oliver akan memakannya hari ini. Tapi ternyata tidak, dan itu sangat membuat Zafana merasa lega.