Indonesia
NovelToon NovelToon
Penulis Terakhir Langit Yang Retak

Penulis Terakhir Langit Yang Retak

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi Timur
Popularitas:208
Nilai: 5
Nama Author: Tubagus Abidin

Di Kekaisaran Xuan-Mo, realitas adalah tinta, dan kekuasaan adalah keindahan goresan. Mereka yang bisa menulis hukum alam dengan kuas emas diperlakukan sebagai dewa, sementara mereka yang gagal hanyalah noda yang harus dihapus.
Ren Zexian lahir dengan kutukan "Mata Void"—ia tidak bisa melihat keindahan ilusi dunia, hanya kerangka rapuh di baliknya. Dianggap sampah oleh klan kaligrafer elit, ia bekerja sebagai penghapus buku terlarang, hidup dalam diam hingga suatu hari ia menemukan sebuah halaman kosong yang berdarah.
Saat "The Fade" mulai menelan desa asalnya, mengubah manusia menjadi hampa tanpa ingatan, Ren menyadari bahwa kekacauan ini bukanlah bencana alam, melainkan suntingan yang disengaja oleh Dewan Langit. Dengan kuas patah dan teknik terlarang yang memungkinkan ia "menghapus" keberadaan musuh, Ren memulai perjalanan berbahaya mendaki 9 Provinsi Mengambang.
Ia bukan pahlawan yang akan melukis dunia baru. Ia adalah editor yang akan memotong bagian-bagian busuk dari cerita ini,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tubagus Abidin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tinta yang Tidak Terlihat

Satu bulan di Lembah Senyap bukanlah waktu yang panjang bagi sejarah, namun bagi Ren Zexian dan Lin, itu terasa seperti satu kehidupan utuh yang dijalani ulang. Di sini, waktu tidak diukur oleh jam pasir atau posisi matahari, melainkan oleh ritme napas dan ketenangan pikiran. Udara lembah yang dingin dan jernih bertindak sebagai balsam bagi paru-paru mereka yang terbiasa menghirup asap industri dan debu pertempuran.

Pagi itu, kabut putih menyelimuti dataran batu berpilarnya seperti selimut sutra. Ren duduk bersila di atas sebuah batu datar yang menghadap ke kolam air jernih Master Jian. Di tangannya, ia tidak memegang kuas patahnya yang biasa. Ia memegang sebatang ranting pinus kering yang sederhana.

"Kaligrafi Jiwa bukan tentang bentuk huruf," suara Master Jian bergema lembut di udara hening, meski pria tua itu duduk puluhan meter jauhnya di beranda biara. "Bentuk hanyalah wadah. Inti dari kaligrafi adalah niat. Jika niatmu kotor, tintamu akan keruh. Jika niatmu ragu, garismu akan patah. Hari ini, kau tidak akan menulis di kertas. Kau akan menulis di angin."

Ren menutup matanya. Ia merasakan aliran udara di sekitarnya—arus dingin yang turun dari puncak gunung, arus hangat yang naik dari tanah. Sebelumnya, ia akan mencoba memaksakan Qi-nya untuk membelah angin itu. Tapi sekarang, setelah minggu-minggu meditasi intensif, ia belajar untuk menjadi bagian dari aliran tersebut.

Ia mengangkat ranting pinusnya. Dengan gerakan pergelangan tangan yang halus dan presisi, ia mengayunkan ranting itu ke depan. Tidak ada cahaya Qi yang meledak. Tidak ada suara gemuruh. Hanya hembusan angin kecil yang berubah arah, membentuk pusaran spiral yang sempurna di depan ujung ranting. Pusaran itu bertahan selama beberapa detik, stabil dan harmonis, sebelum perlahan-lahan membubarkan diri kembali ke dalam alam.

"Bagus," komentar Jian. "Kau berhenti melawan dunia, dan mulai menari dengannya."

Di sisi lain dataran, Lin sedang berlatih dengan cara yang berbeda. Gadis kecil itu berdiri di tengah lingkaran pilar batu putih. Matanya tertutup, tapi cincin perak di kelopak matanya berdenyut pelan. Ia tidak menggunakan alat bantu. Ia menggunakan emosinya.

Sebuah batu kerikil kecil melayang di udara di depan telapak tangannya. Lin tersenyum, dan batu itu berputar perlahan, memancarkan cahaya perak lembut. Ia tidak memanipulasi gravitasi dengan paksa; ia "meminta" batu itu untuk melayang, dan batu itu, yang jiwanya sederhana, menuruti permintaan gadis kecil yang penuh kedamaian itu. Ini adalah manifestasi dari kemampuan anomali Lin yang telah dijinakkan: resonansi empatik dengan materi.

Namun, kedamaian di Lembah Senyap hanyalah jeda napas sebelum badai berikutnya.

Sore harinya, saat Ren dan Lin sedang membantu Master Jian mengumpulkan akar herbal di lereng bukit, suasana hening lembah tiba-tiba pecah. Bukan oleh suara, tapi oleh getaran. Getaran yang asing, kasar, dan penuh niat jahat.

Burung-burung kecil yang biasanya hinggap di dahan pohon pinus terbang panik. Air di kolam utama beriak tanpa sebab angin.

Master Jian berhenti bekerja. Wajahnya yang tenang kini mengerut serius. Ia menatap ke arah gerbang masuk lembah—celah batu sempit yang tadi pagi masih sepi.

"Mereka datang," kata Jian, suaranya rendah namun tajam.

"Dari mana?" tanya Ren, segera siaga. Ranting pinusnya masih di tangan, tapi ia sudah siap menggantinya dengan kuas patahnya yang terselip di pinggang.

"Bukan dari luar," jawab Jian gelap. "Dari dalam bayangan kita sendiri."

Dari celah-celah antara pilar batu putih, kegelapan mulai merembes keluar. Bukan kabut biasa, tapi cairan hitam pekat yang bergerak seperti minyak. Dari genangan kegelapan itu, muncul sosok-sosok manusia. Mereka mengenakan jubah hitam tanpa wajah, tubuh mereka setengah transparan, seolah-olah terbuat dari asap padat.

Penulis Bayangan. Tapi bukan kelompok yang dipimpin wanita bertopeng emas sebelumnya. Ini adalah unit elit yang lebih kecil, lebih mematikan. Mereka adalah "Penghapus"—tugas tunggal mereka adalah menghapus keberadaan target secara total,不留 jejak.

Ada lima dari mereka. Dan pemimpin mereka, seorang pria tinggi kurus dengan topeng kayu polos berwarna putih, melangkah maju. Ia tidak membawa senjata. Tangannya kosong, tapi jari-jarinya bergerak-gerak seolah-olah sedang mengetik di keyboard tak terlihat.

"Master Jian," kata pemimpin Penghapus itu, suaranya datar dan mekanis, bergema dari segala arah. "Anda telah melanggar Protokol Isolasi. Menyimpan Anomali Kelas S adalah pelanggaran terhadap Kesepakatan Diam."

Jian tidak mundur. Ia berdiri tegak, tongkat kayunya ditanamkan kuat di tanah. "Anak-anak ini bukan barang. Mereka adalah jiwa yang mencari keseimbangan. Kalian tidak punya hak atas mereka."

"Hak ditentukan oleh kekuatan," balas si Pemimpin Putih. "Dan hari ini, kami membawa otoritas Dewan Langit."

Ia mengangkat tangan. Kelima Penghapus lainnya serentak mengangkat tangan mereka. Udara di sekitar mereka menjadi berat, tekanan mental yang luar biasa menekan dada Ren dan Lin. Itu bukan serangan fisik, tapi serangan konseptual. Mereka mencoba menulis "ketiadaan" ke dalam realitas Ren dan Lin.

Ren merasa ingatannya mulai kabur. Siapa dia? Mengapa dia di sini? Nama "Ren Zexian" terasa asing di lidahnya.

"Lin!" teriak Ren, berusaha mempertahankan kesadarannya. "Jangan dengarkan mereka! Ingat siapa dirimu!"

Lin terjatuh ke lutut, memegang kepalanya. Cahaya perak di tubuhnya berkedip liar, berjuang melawan gelombang penghapusan memori itu. "Aku... aku lupa..." bisiknya, air mata mengalir.

Melihat adiknyaa menderita, sesuatu di dalam diri Ren pecah. Bukan kemarahan buta, tapi kejernihan mutlak. Ia ingat pelajaran Jian: Niat adalah tinta.

Ren tidak mencoba melawan tekanan mental itu dengan kekuatan kasar. Sebaliknya, ia memusatkan seluruh niatnya pada satu hal: Cinta pada adiknya. Cinta itu nyata. Cinta itu tidak bisa dihapus oleh tinta hitam siapapun karena ia berasal dari jiwa, bukan dari memori.

Ren mengangkat kuas patahnya. Kali ini, ia tidak menulis karakter di udara. Ia menulis karakter "Ada" (You) langsung di dalam jiwanya, lalu memproyeksikannya keluar melalui Mata Void-nya.

Gelombang energi transparan meledak dari tubuh Ren, menerjang para Penghapus. Gelombang itu tidak merusak fisik mereka, tapi membatalkan efek penghapusan memori mereka. Realitas yang goyah menjadi stabil kembali.

Lin tersentak, kesadarannya kembali. Ia menatap kakaknya, matanya berkaca-kaca tapi penuh pengenalan. "Kakak..."

Pemimpin Putih tampak terkejut untuk pertama kalinya. "Mustahil. Kau menolak narasi penghapusan? Dengan hanya niat?"

"Niat adalah akar dari semua realitas," kata Ren, napasnya berat tapi suaranya stabil. "Kalian bisa menghapus nama, tapi kalian tidak bisa menghapus keberadaan."

Master Jian tersenyum bangga. Ia mengangkat tongkatnya, memukulkannya ke tanah. DUM!

Suara pukulan itu bergema seperti gong raksasa. Pilar-pilar batu putih di sekitar mereka mulai bersinar. Cahaya putih murni menyembur dari batu-batu itu, membentuk dinding cahaya yang mengusir kegelapan para Penghapus.

"Ini tanah suci," kata Jian, suaranya kini berwibawa seperti petir. "Di sini, kebenaran lebih kuat daripada kebohongan. Pergilah, sebelum kalian terhapus oleh cahaya kalian sendiri yang dipantulkan balik."

Para Penghapus itu mulai larut, tubuh asap mereka terbakar oleh cahaya murni pilar batu. Pemimpin Putih menatap Ren dengan tatapan dingin yang menyimpan dendam mendalam.

"Ini belum selesai, Zexian," katanya, sebelum tubuhnya menghilang sepenuhnya ke dalam bayangan. "Dewan Langit tidak akan berhenti. Kami akan kembali dengan Penulis Agung. Dan kali ini, tidak ada tempat yang bisa menyembunyikan kalian."

Keheningan kembali turun ke Lembah Senyap. Tapi kali ini, hening itu terasa berbeda. Lebih waspada. Lebih rapuh.

Ren ambruk, kelelahan menggunakan teknik barunya. Lin segera memeluknya, membantu kakaknya duduk.

"Kakak hebat," bisik Lin.

Ren menggeleng lemah. "Kita hanya membeli waktu, Lin. Mereka tahu di mana kita sekarang. Lembah Senyap tidak lagi aman."

Master Jian mendekati mereka, wajahnya sedih namun tegas. "Benar. Protokol Isolasi telah dilanggar. Kami harus memindahkan kalian malam ini juga."

"Ke mana?" tanya Ren.

Jian menunjuk ke arah utara, ke pegunungan es yang lebih tinggi dan lebih berbahaya. "Ke Puncak Naga Tidur. Di sana, terdapat reruntuhan Kuil Pertama, tempat Kaligrafi Jiwa ditemukan pertama kali. Di sana, kalian akan menemukan sumber asli Tinta Inti. Dan mungkin... jawaban mengapa The Fade benar-benar terjadi."

Ren menatap Lin. Gadis kecil itu mengangguk, meski wajahnya pucat. Mereka tidak punya pilihan. Mundur berarti mati. Maju berarti menghadapi misteri terbesar dunia.

"Siapkan bekal," kata Jian. "Kita berangkat saat bulan purnama. Cahaya bulan akan menyamarkan jejak Qi kalian dari para Penghapus."

Ren bangkit, membersihkan debu dari jubahnya. Ia menatap langit yang mulai gelap. Bintang-bintang mulai bermunculan, dingin dan jauh.

Permainan kucing dan tikus telah berakhir. Sekarang, ini adalah perang terbuka antara mereka yang ingin mengendalikan cerita, dan mereka yang berani menulis akhirannya sendiri.

1
Anime aikō-kā
..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!