Indonesia
NovelToon NovelToon
Takut Nikah

Takut Nikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cintamanis / Romansa
Popularitas:370.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yutantia 10

"Kapan nikah?"

"Udah mau 30 loh."

"Jangan pilih-pilih, nanti jadi perawan tua."

Jena muak sekali dengan semua itu. Baginya, menikah bukan kriteria kesuksesan seseorang. Mau nikah atau pun tidak, itu juga bukan urusan mereka, tapi entah kenapa, mereka suka sekali mengurusi hidupnya.

3 kali ia menjalin kasih, endingnya selalu diselingkuhi. Sahabat terbaiknya, jadi janda diusia 25 tahun karena suaminya selingkuh. Dan yang paling gong, Papa yang ia sayang dan sosok yang ia kagumi, diam-diam ternyata punya istri kedua. Lalu, laki-laki seperti apa lagi yang bisa ia percaya.

Baginya, berurusan dengan laki-laki, hanyalah cari penyakit. Entah sekarang atau nanti, pasti endingnya disakiti. Ia tak mau menikah. Kalau sendiri bisa bahagia, untuk apa berdua?

Sampai kejadian tak terduga, mempertemukanmu dia dengan Budi. Laki-laki yang humoris, dan selalu bilang. "Gak semua laki-laki kayak gitu, Mbak."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29

Sambil memanggang roti pesanan pembeli, Budi berkali-kali menyalakan ponsel yang ia letakkan di atas kotak selai hanya untuk melihat jam. Hatinya gundah gulana menunggu keputusan Jena. Sudah hampir pukul tujuh malam, tapi masih tidak ada pesan atau pun telepon dari gadis itu.

Ia mengembuskan napas panjang, lalu kembali membalik roti di atas panggangan agar tidak gosong.

Apa jangan-jangan dia memang terlalu sedikit memberikan waktu? Budi mulai kepikiran kesana.

Ia melirik ponselnya lagi. Mungkin seharusnya dia menghubungi Jena, sekadar mengatakan bahwa batas waktunya diperpanjang sampai besok.

Tangannya bahkan sempat mengambil ponsel. Namun baru beberapa detik kemudian ia mengurungkan niat, meletakkan kembali.

Tidak. Dia tidak boleh terlihat seperti orang yang terlalu berharap. Kalau Jena memang mau, perempuan itu pasti akan menghubunginya. Kalau tidak...

Budi menelan ludah. Ya sudah. Dia harus menerima, mungkin Jena memang bukan jodohnya.

Pembeli terus berdatangan. Pesanan demi pesanan masuk, termasuk dari pesanan online. Tangannya sibuk mengoleskan margarin, menaburkan meses, keju, dan susu kental manis. Namun, setiap beberapa menit, matanya tetap saja mencuri pandang ke arah ponsel.

Pukul tujuh lewat lima menit, tidak ada kabar.

Pukul tujuh lewat tiga puluh, masih tidak ada.

Pukul delapan, Budi akhirnya berhenti berharap.

Ia menundukkan kepala sebentar. Senyum getir muncul di sudut bibirnya. Ternyata Jena menolak. Sepertinya, dia yang terlalu berharap. Iya, seorang Jena, mana mungkin mau menikah dengan dia yang hanya penjual roti bakar. Jena hanya butuh bantuannya untuk jadi suami kontrak, bukan ingin benar-benar menikah dengannya.

Budi menarik napas panjang, lalu kembali mengambil sepotong roti untuk dibakar.

"Budi."

Tangannya mendadak berhenti. Suara itu...

Budi perlahan mengangkat wajah. Jena berdiri beberapa langkah di depan gerobaknya. Perempuan itu tampak sedikit terengah, seolah baru saja bergegas datang. Rambut panjangnya bergerak diterpa angin malam. Sedikit berantakan, tapi sama sekali tidak mengurangi kecantikannya.

Budi menatapnya beberapa detik, berusaha menyembunyikan keterkejutan sekaligus rasa lega yang tiba-tiba memenuhi dadanya.

Jena mengangguk kecil. "Iya, aku mau."

Mata Budi langsung membesar. Jantungnya seolah melonjak sampai ke tenggorokan. Kalau bukan karena sedang berdiri di depan pelanggan, mungkin ia sudah berteriak kegirangan. Namun alih-alih menunjukkan kebahagiaan itu, Budi justru memasang wajah datar.

"Waktu udah habis."

Jena mengerjap.

Budi kembali membalik roti dengan wajah seolah tidak peduli. "Kamu telat."

"Budi..."

"Aku kasih waktu sampai jam tujuh."

"Budi, please..." Jena mengitari gerobak, lalu berhenti di samping Budi. "Aku butuh waktu buat berpikir tadi. Kamu fikir, menikah itu hal yang bisa diputuskan hanya beberapa jam saja?"

Budi tetap diam. Tangannya sibuk menyiapkan pesanan pelanggan.

"Mas, cokelat keju satu!" seru seorang pembeli yang baru datang.

"Iya, sebentar, Pak." Budi memasukkan roti yang sudah siap ke dalam kotak, memberikan pada pembeli, lalu lanjut membuat pesanan berikutnya.

Jena menatapnya dengan wajah memelas. "Budi..."

Tidak ada jawaban.

"Cuma telat satu jam."

Budi masih pura-pura sibuk.

"Budi..."

"Hmm."

"Cuma satu jam."

"Kamu fikir 1 jam sebentar, aku bisa membuat lebih dari 10 roti bakar dalam waktu 1 jam."

Jena semakin mendekat. "Yang pentingkan kamu belum berubah."

Budi menoleh, mengernyit bingung.

"Belum berubah jadi batu, itu artinya, penawaran tersebut belum expired." Jena terkekeh kecil.

Sialan, Budi yang ingin pura-pura kesal, jadi ikutan senyum.

"Ini pernikahan Budi, butuh waktu buat mikir," ujar Jena. "Jangankan soal nikah, besok pagi mau pakai baju apa untuk kerja saja, mikirnya bisa semalaman."

Lagi-lagi, Budi tak bisa menahan senyum.

Jena tahu, Budi sedang berpura-pura kesal. "Jadi... gimana? Penawarannya masih berlaku, atau udah expired?"

Budi berhenti bekerja. Ia menatap Jena sebentar. Sebenarnya, ingin sekali ia mengatakan bahwa sejak tadi ia hampir gila menunggu kabar perempuan itu. Bahwa setiap kali ponselnya tidak menyala, hatinya semakin tenggelam. Bahwa saat melihat Jena datang, rasanya seperti seluruh malam tiba-tiba menjadi jauh lebih terang. Namun, gengsinya terlalu besar untuk mengakuinya.

Budi menghela napas. "Ya sudahlah, aku terpaksa, kasihan soalnya."

Jena langsung mendelik kesal. "Aku gak butuh dikasihani. Kalau terpaksa, ya udah, gak usah." Ia melangkah pergi, pura-pura kesal, berharap Budi mengejar.

"Ya udah kalau gak jadi."

Langkah kaki Jena seketika terhenti, matanya melotot. Ia menghentakkan kaki kesal, lalu menoleh dengan bibir cemberut.

Melihat itu, Budi hampir tak bisa menahan tawa.

"Jadi atau enggak?" Jena menatap garang.

"Ya terserah kamu." Budi sok jual mahal.

"Budi!" Jena membalikkan badan.

"Iya, jadi." Budi tersenyum. Ia membungkus roti yang sudah matang, memberikan pada pelanggan.

Budi menghampiri Jena yang masih diam di tempat dengan wajah kesal. Menatap wajahnya sambil menahan senyum.

"Jadi atau enggak?" Jena kembali mengulang pertanyaannya.

"Jadi, Jena!" Budi menatap gemas.

"Terpaksa atau enggak?"

"Enggak."

"Karena kasihan?"

"Karena cinta."

Jena seketika terdiam, menatap Budi dengan bibir setengah terbuka.

"Cie...digombalin dikit baper."

"A, apasih sih." Jena langsung salah tingkah. "Gak baper ya. Gak jelas banget sih."

"Pipi kamu merah, Jen."

"Hah!" Jena reflek menyentuh pipi. "Enggak, gak mungkin."

Budi tersenyum melihat kegugupan Jena. "Sini." Ia menarik lengan Jena mendekati gerobak. "Karena kamu telat satu jam..." Ia menyerahkan sebuah spatula kepada Jena. "Kamu harus bantuin aku jualan sampai habis."

"Hah!" Jena menatap spatula di tangannya.

"Anggap saja denda."

"Kok gitu?"

"Sekolah aja telah di hukum, apalagi keputusan sebesar ini." Budi tersenyum tipis.

"Tapi aku gak bisa."

"Belum bisa, bukan gak bisa. Nanti setelah nyoba satu dua kali, pasti langsung jago."

"Tapi..."

"Mas, roti bakar coklat kacang 2," ujar pembeli yang baru datang.

"Siap!" sahut Budi dengan senyum lebar. "Yuk, mulai kerja," menoleh pada Jena.

"Serius, aku harus bakar roti?"

"Dua rius." Budi terkekeh.

Jena menatap spatula di tangannya dengan wajah pasrah.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, ponsel di atas kotak selai tidak lagi menarik perhatian Budi. Namun gadis cantik di sebelah, membuat ia hampir sepuluh detik sekali menoleh.

Hampir jam 11 malam, akhirnya dagangan Budi habis. Jena meletakkan spatula, menghembuskan nafas lega lalu melakukan peregangan ringan.

"Tanganku pegel tahu gak."

"Ya elah Jen, baru bakar beberapa roti, udah capek aja. Nanti kalau udah jadi istriku kamu baka_"

"Enggak!" Jena memotong cepat sambil menggeleng. "Aku gak mau kalau setelah nikah, harus bantu kamu jualan roti tiap malam." Matanya melotot.

"Enggaklah. Kalau tiap malam, agendanya lain, bukan bakar roti."

Jena reflek menutup dada dengan kedua lengan.

"Mikir apa kamu?" Budi tertawa cekikikan. "Malam ya tidur, Jen." Ia merapikan gerobak. "Aku gak bakalan nyuruh kamu bantuin aku jualan. Kalau pun kamu mau nemenin, yang tinggal duduk manis." Menoleh pada Jena. "Aku gak akan ngebiarin tangan halus kamu, kasar gara-gara harus pegang spatula." Ia tersenyum.

Budi mengambil selembar tisu di etalase, menyodorkan pada Jena. "Kamu keringetan."

Jena mengambil tisu tersebut, menyeka keringat di kening dan lehernya.

"Tapi tetep cantik kok."

Gerakan tangan Jena langsung terhenti.

"Hm, baper lagi tuh," ledek Budi.

"Ish, siapa yang baper!" Jena melotot, menghentakkan kaki lalu melangkah menjauh, duduk di kursi depan gerobak.

"Udah mau pulang belum? Kalau belum, kita ngopi dulu yuk, biar gak ngantuk nanti bawa mobil."

1
sikepang
sabar Jen nanti cantik y hilang klo nanggapin nyinyiran sepupu mu gda habis y🤭🤣
Humaira
bidadari surganya budi 😂😂
Humaira
hajarrr jen... hajar itu mulut kurang ajar 😤
Humaira
baguslah, kalau bisa andika jangan pulang2 lagi ke rumah pelakor 😤
Asih Rahmadhani Bohara
padahal udh dksh peringatan sama Jena.. tetap aja ngulah
novel destiny
keluarga emak nya jena julid nya kaya si Juwita 🤣🤣
Hani Ekawati
Ga usah berlebihan muji nya Bud, aku kok jadi ngeri klo cowok yang mulutnya manis 😂
Hani Ekawati
Awas kamu Bud ga usah pinter gombal, klo cowok pinter gombal aku jadi inget si aki Andre 😂
lyani
bener Jen jangan diem aja..lawan mulut julid....kl perlu sini saya tambah sandal
Hani Ekawati
Bagus Jen, lawan aja mulut nyinyir nya si Cindy. 😂
Hani Ekawati
Ini si Cindy punya mulut nyinyir banget julid banget, kudu disemprot sama kamu Jen biar mulutnya bisa diem.
Hani Ekawati
Heh mau tukang roti bakar atau tukang apa pun yang penting kerjaan nya halal dan yang penting bukan suami orang !!!
Situ julid banget jadi orang🙄
ryuka
selalu,ada yg kaya gitu jen di keluarga besar.. ngomongin orang seakan dia yg paling bagus
lyani
kesian deh gagal Dion berarti gagal jg kamu menguasai harta y ju
Eonnie Nurul
biasa hidup ya gitu belum nikah di tanya kapan nikah , sudah nikah kapan punya anak , kapan mantu , segitunya orang gak punya kerjaan ngurus orang lain padahal sudah tua ( dalam hati kapan kamu menghadap ilahi ) 🤭
Rahmawati
kasian bocah bau kencur kecewa karna jena tetep nikah sama budi😂
vj'z tri
aku suka huru hara /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ serangggggg
jumirah slavina
padahal barusan dia mode Singa lo Bud., senggol bac0k

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
jumirah slavina
hidup sombong🤣🤣🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
pinter nak udah di brifing dulu ternyata /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!