Indonesia
NovelToon NovelToon
Senja Untuk Cahaya

Senja Untuk Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Romantis
Popularitas:81
Nilai: 5
Nama Author: PLEMIK

Rendy Alamsyah tidak pernah membayangkan bahwa hari pertama kuliah akan terasa persis seperti hari pertama taman kanak-kanak dulu - canggung, ramai, dan entah kenapa Cahaya Kusuma Dewi selalu ada di tengah-tengahnya. Dua sahabat yang tumbuh bersama sejak TK itu kini menginjakkan kaki di dunia baru yang sama: kampus. Bagi Cahaya, dunia baru berarti teman-teman baru, popularitas baru, dan kehidupan sosial yang langsung bersinar. Bagi Rendy, dunia baru hanya berarti satu hal - tempat baru untuk memakai hoodie, pasang earphone, dan menghabiskan waktu dengan anime tanpa diganggu. Sayangnya, Cahaya tidak pernah benar-benar membiarkan Rendy sendirian. Tidak dulu, tidak sekarang. Di tengah kekacauan PKKMB, gosip "sepasang kekasih" yang beredar tanpa diminta, dan malam-malam nostalgia yang terasa terlalu nyaman untuk dipertanyakan - Rendy menjalani semua itu dengan satu keyakinan sederhana: ini hanya Cahaya, teman masa kecilnya. Tidak lebih. Yang tidak ia sadari adalah - keyakinan itu sendiri y

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Definisi yang Berbeda

Ada satu prinsip dalam desain game yang aku pelajari dari salah satu video esai yang aku tonton berulang kali: kalau pemain terus-menerus gagal di satu titik yang sama, biasanya bukan karena pemainnya bodoh, tapi karena game itu tidak memberi sinyal yang cukup jelas soal apa yang sebenarnya diminta.

Aku memikirkan itu lagi minggu ini, meski bukan dalam konteks game.

Enam hari sudah berlalu sejak insiden nonton bareng yang batal karena aku keasyikan main game sampai lupa waktu, dan meski Cahaya sudah bersikap normal lagi sejak hari ketiga, ada sesuatu yang masih mengganjal, semacam sisa rasa bersalah yang tidak sepenuhnya hilang meski permukaannya sudah tenang.

Aku tidak tahu itu masih mengganjal sampai Sasa, hari Kamis siang itu, memutuskan untuk memberi tahu aku secara langsung, dengan cara yang khas dia: tanpa basa-basi sama sekali.

Tapi sebelum sampai ke Kamis siang itu, aku perlu mundur sedikit, karena beberapa minggu terakhir ini penuh dengan hal-hal kecil yang, sekarang aku pikir-pikir, mungkin lebih penting dari yang aku sadari waktu itu.

Semuanya dimulai dari tugas kelompok mata kuliah Pengantar Ilmu Komputer, sekitar tiga minggu lalu, ketika dosen membagi kelompok secara acak dan aku, karena nasib atau statistik atau apa pun yang menentukan hal semacam ini, masuk ke kelompok yang sama dengan tiga orang dari circle pertemanan Cahaya. Bukan Cahaya sendiri, karena kami beda jurusan jadi tidak mungkin sekelas, tapi tiga orang yang aku kenal karena sering muncul di sekitar Cahaya waktu makan siang atau nongkrong sore.

Aku tidak nyaman di awal. Bukan karena mereka tidak ramah, mereka cukup ramah malah, tapi karena aku tidak punya kosakata sosial yang cukup untuk bergabung ke percakapan yang biasanya mengalir natural di antara mereka, tentang siapa yang lagi PDKT sama siapa, drama organisasi, atau rencana liburan yang belum pasti. Aku duduk di pertemuan kelompok pertama dengan laptop terbuka, lebih banyak diam, sampai salah satu dari mereka, cewek bernama Rara, secara tidak sengaja menyebut nama Cahaya.

"Eh btw kamu kan temennya Cahaya ya? Yang dari kecil itu?"

Dan dari situ, entah kenapa, percakapan jadi lebih mudah. Bukan karena topiknya berubah drastis, tapi karena ada jembatan yang tiba-tiba muncul, semacam kode akses yang membuat aku sedikit lebih diterima ke dalam lingkaran itu. Tugas kelompok yang tadinya terasa seperti ujian sosial berubah jadi cukup lancar, terutama karena Cahaya sendiri, tanpa diminta, beberapa kali mampir ke meja kami saat kami mengerjakan tugas di kantin, memberi komentar receh yang mencairkan suasana, atau sekadar duduk sebentar sambil ngemil sebelum pergi lagi ke kelasnya.

Tugas itu selesai tepat waktu, nilainya cukup baik, dan yang lebih penting, aku jadi punya beberapa kenalan baru yang, meski tidak sedekat Bimo, setidaknya cukup untuk menyapa kalau berpapasan di koridor.

Minggu berikutnya, insiden yang sekarang kami sebut "insiden kencan" terjadi, dan sampai sekarang aku masih merasa itu salah satu kesalahpahaman paling konyol yang pernah aku alami.

Ceritanya sederhana: aku dan Cahaya harus mengerjakan tugas gabungan untuk mata kuliah yang sama-sama kami ambil, mata kuliah pilihan lintas jurusan soal literasi digital, dan karena deadline-nya mepet, kami sepakat mengerjakannya di kafe dekat kampus sepulang kuliah, cuma berdua, dengan laptop masing-masing dan waktu sekitar tiga jam.

Seseorang dari kelompok tugas Pengantar Ilmu Komputer melihat kami di kafe itu, memfoto tanpa izin dari kejauhan, dan mengunggahnya ke grup chat angkatan dengan caption: "eh ada yang lagi kencan nih di kafe deket kampus 👀👀" lengkap dengan emoji yang cukup untuk membuat foto itu menyebar dalam hitungan jam.

Aku baru tahu soal ini keesokan harinya, ketika Bimo menunjukkan screenshot-nya sambil menahan tawa. Foto itu memang, kalau dilihat sekilas tanpa konteks, bisa disalahartikan. Sudut pengambilan gambar membuat kami terlihat duduk lebih dekat dari yang sebenarnya, dan laptop kami yang saling berhadapan memberi kesan seolah kami sedang berbagi layar dengan cara yang lebih intim dari kenyataan (yang sebenarnya cuma karena Cahaya minta bantuan format kutipan APA yang dia selalu lupa caranya).

Grup chat angkatan penuh dengan komentar selama hampir dua hari, mulai dari yang bercandaan ringan sampai yang serius bertanya apakah kami memang pacaran. Cahaya, ketika akhirnya melihat sendiri thread itu, responsnya jauh lebih heboh dari yang aku duga, sampai dia mengetik pesan bantahan panjang di grup yang isinya lebih defensif dari yang diperlukan untuk sekadar meluruskan kesalahpahaman biasa.

"Kenapa kamu enggak protes juga?" tanyanya ke aku, setelah semua drama itu agak reda.

"Protes soal apa? Fotonya emang bener kita lagi di kafe."

"Tapi captionnya salah!"

"Captionnya cuma salah interpretasi. Fotonya sendiri akurat."

Cahaya menatapku dengan ekspresi yang campur antara kesal dan menyerah, seolah dia baru sadar berdebat soal logika dengan aku tidak akan pernah menang, dan topik itu perlahan mereda dengan sendirinya begitu ada gosip baru yang lebih menarik muncul di grup, sesuatu soal salah satu mahasiswa tingkat dua yang kedapatan menyontek waktu kuis.

Yang aku tidak sepenuhnya mengerti waktu itu, dan baru mulai terasa aneh belakangan, adalah reaksi Sasa terhadap seluruh insiden itu.

Bukannya ikut heboh seperti yang lain, Sasa malah terlihat diam-diam mengamati, dengan ekspresi yang, kalau aku boleh menebak sekarang setelah beberapa minggu berlalu, terlihat seperti dia sedang mengumpulkan data untuk sesuatu.

Dan memang benar. Seminggu setelah insiden kafe itu mereda, Sasa mengajak kami bertiga, aku, Cahaya, dan seorang temannya dari jurusan Manajemen bernama Alga, untuk nongkrong bareng di akhir pekan, dengan alasan "biar makin akrab, kan Alga juga suka anime."

Aku tidak curiga apa-apa waktu itu. Alga memang ternyata suka anime, meski seleranya lebih ke arah shounen mainstream sementara aku lebih condong ke seinen yang lebih niche, tapi kami cukup nyambung untuk mengobrol panjang soal rekomendasi tontonan. Yang aku tidak sadari, sampai Sasa sendiri mengaku beberapa hari kemudian dengan nada agak kesal, adalah bahwa seluruh acara nongkrong itu sebenarnya rencana untuk mencomblangkan Alga dengan Cahaya, sambil diam-diam mengamati reaksiku.

"Rencananya gagal total," kata Sasa, hari Senin setelah acara itu, sambil menyeruput es kopi di kantin. "Aku udah setting semuanya biar Alga sama Cahaya duduk sebelahan, eh kamu malah nyerobot duduk di tengah karena ngotot mau nunjukin manga di HP kamu ke Alga."

"Itu manga bagus. Alga belum pernah baca."

"BUKAN ITU POINNYA, REN."

"Terus apa poinnya?"

Sasa menatapku lama, menghela napas panjang, lalu menggeleng sambil bergumam sesuatu yang tidak sepenuhnya aku dengar, sesuatu seperti "enggak berguna" atau "percuma", dan aku memutuskan untuk tidak menanyakan lebih lanjut karena kelihatannya dia sedang kesal soal sesuatu yang aku tidak sepenuhnya paham konteksnya.

Sekitar waktu yang sama, aku mulai menyadari Cahaya bersikap sedikit berbeda kalau aku menghabiskan waktu dengan Wisnu, teman baru dari kelompok kelas Algoritma yang, seperti aku, cukup dalam terjun ke dunia anime dan manga, bahkan lebih dalam lagi karena dia juga aktif ikut komunitas doujin lokal.

Kami mulai sering bertukar rekomendasi, kadang nongkrong sepulang kelas di perpustakaan buat sekadar diskusi teori-teori fandom yang menurut orang lain mungkin terdengar terlalu detail untuk dibahas serius, dan itu jenis percakapan yang jarang aku dapat dengan orang lain selain lewat forum online.

Cahaya tidak pernah bilang keberatan secara langsung. Tapi ada pola kecil yang mulai aku perhatikan, meski aku tidak langsung menyadarinya sebagai pola sampai beberapa kali berulang: setiap kali aku cerita soal obrolan dengan Wisnu, responsnya sedikit lebih pendek dari biasa, kadang diselingi komentar seperti "oh, seru ya kayaknya" dengan nada yang datar, atau "kalian emang cocok deh, sama-sama aneh" yang meski dibungkus bercandaan terasa punya tekanan berbeda dari candaan biasa kami.

Suatu sore, waktu aku bilang aku akan telat pulang karena Wisnu ngajak mampir ke toko buku bekas yang katanya baru dapat stok langka, Cahaya bilang, "Ya udah, pergi aja sana, aku pulang duluan," dengan nada yang terdengar biasa tapi entah kenapa membuat aku merasa tidak enak.

Aku sampai membatalkan rencana ke toko buku itu, memilih pulang bareng Cahaya seperti biasa, karena aku merasa bersalah sudah membuatnya harus pulang sendirian, meski dia bilang tidak masalah.

"Kamu enggak usah ngerasa harus nemenin aku terus," katanya, di tengah jalan pulang, setelah aku menjelaskan kenapa aku batal ke toko buku.

"Aku enggak nemenin karena harus. Aku emang pengen."

"Tapi tadinya kamu udah ada rencana."

"Rencana bisa diganti."

Cahaya diam sebentar, menatap ke depan, lalu bilang, "Kamu enggak perlu ngorbanin waktu kamu sama Wisnu buat aku, Ren. Aku bukan anak kecil yang enggak bisa pulang sendiri."

Nada suaranya waktu itu terdengar seperti dia sedang menegaskan sesuatu yang praktis, soal kemandirian, dan aku menerimanya begitu saja tanpa menyadari ada lapisan lain di bawahnya yang mungkin lebih rumit dari sekadar soal siapa pulang dengan siapa.

Ujian tengah semester datang dua minggu lalu, dan di antara semua kesibukan itu, ada satu malam yang, kalau dipikir sekarang, terasa berbeda dari malam-malam belajar biasa.

Cahaya datang ke rumahku untuk belajar bareng persiapan ujian Statistika, mata kuliah yang dia benci setengah mati, membawa buku catatan setebal lima sentimeter dan wajah yang sudah menunjukkan tanda-tanda stres sebelum kami bahkan mulai membuka buku.

Kami belajar di ruang tamu, meja kopi penuh kertas coretan, dan meski materinya berat, suasananya justru lebih santai dari yang aku kira. Cahaya cerewet seperti biasa, mengeluh setiap kali ketemu soal yang rumit, kadang melempar pulpen ke sofa dengan gestur dramatis yang membuat aku tertawa, dan aku, di sela menjelaskan konsep distribusi normal, sesekali menyisipkan analogi dari anime yang entah kenapa justru membantu dia memahami materi lebih baik daripada penjelasan buku teks.

"Kok penjelasan kamu pake analogi Re:Zero malah lebih masuk akal daripada dosen aku," katanya, di tengah sesi belajar, sambil mencatat cepat.

"Karena dosen kamu enggak paham cara ngejelasin konsep abstrak ke manusia biasa."

"Atau kamu emang jago ngejelasin."

"Itu juga mungkin."

Dia melempar bantal sofa ke arahku, aku menangkisnya, dan sesi belajar itu berlanjut sampai jam sepuluh malam, diselingi tawa dan keluhan dan sesekali keheningan waktu kami berdua benar-benar fokus mengerjakan soal latihan. Ibuku sempat mampir membawakan camilan, melihat kami berdua duduk berdampingan di lantai dengan kertas berserakan, dan tersenyum sebelum pergi lagi tanpa komentar apa pun, meski senyum itu sendiri sudah terasa seperti komentar.

Malam itu terasa nyaman dengan cara yang sulit dijelaskan, semacam kenyamanan yang lebih dalam dari sekadar rutinitas biasa, dan aku ingat, sebelum Cahaya pulang, dia berhenti sebentar di depan pintu dan bilang, "Makasih ya, Ren. Enggak semua orang mau repot-repot ngejelasin sesuatu sampe aku beneran ngerti."

Aku tidak tahu harus menjawab apa selain, "Ya iyalah, kan kamu temen aku," yang sekarang aku pikir mungkin bukan jawaban yang paling tepat, meski waktu itu terasa cukup.

Dan kemudian, enam hari lalu, terjadilah insiden nonton bareng yang batal.

Rencananya sudah dibuat seminggu sebelumnya: Cahaya ingin nonton film yang baru rilis, sesuatu yang katanya sudah dia tunggu lama, dan kami sepakat nonton bareng di rumahnya hari Jumat malam, setelah ujian tengah semester selesai, sebagai semacam perayaan kecil.

Aku lupa total.

Bukan karena aku sengaja, tapi karena hari itu game yang aku tunggu rilisnya selama berbulan-bulan akhirnya keluar, dan aku, dengan disiplin diri yang jauh di bawah rata-rata, memutuskan untuk main "sebentar" setelah makan malam, yang kemudian berkembang menjadi enam jam tanpa jeda sampai aku sadar jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam dan ada tujuh pesan tidak terbaca dari Cahaya yang isinya berubah dari "Ren udah siap belum" ke "Ren?" ke akhirnya cuma "oh oke enggak apa-apa" yang entah kenapa terasa lebih berat dari kalau dia marah secara terbuka.

Aku minta maaf berkali-kali keesokan harinya, dan Cahaya bilang tidak masalah, bahkan tersenyum waktu aku menjelaskan alasan game itu, tapi ada sesuatu di senyumnya yang terasa sedikit dipaksakan, dan tiga hari berikutnya dia sedikit lebih pendek dalam merespons chat, sebelum akhirnya kembali normal di hari keempat seolah tidak terjadi apa-apa.

Aku pikir masalahnya sudah selesai.

Ternyata belum sepenuhnya, dan aku baru tahu itu hari Kamis, ketika Sasa memutuskan untuk bicara.

Kamis siang itu, aku sedang menunggu di perpustakaan, di meja dekat jendela yang biasa aku pakai kalau ada waktu kosong sebelum kelas berikutnya, membaca ulang catatan kuliah sambil sesekali melirik ponsel, ketika Sasa muncul dan duduk di kursi seberangku tanpa basa-basi.

"Ren," katanya, langsung, tanpa sapaan pembuka. "Kita perlu ngobrol."

Aku menutup buku catatan. "Ngobrol soal apa?"

"Soal kamu."

Nada suaranya cukup serius sampai aku merasa perlu duduk lebih tegak, menyimpan ponsel, memberi perhatian penuh. "Aku salah sesuatu?"

"Bukan salah. Lebih ke... kamu enggak sadar sesuatu."

"Sesuatu apa?"

Sasa menghela napas panjang, menyandarkan punggung ke kursi, menatapku dengan ekspresi yang campur antara frustrasi dan, entah kenapa, sedikit iba. "Ren, kamu tau enggak, Jumat kemarin itu Cahaya nunggu kamu di depan TV selama dua jam sebelum akhirnya nyerah dan nonton sendirian?"

Aku merasa sesuatu yang tidak nyaman di dada. "Aku udah minta maaf soal itu."

"Aku tau. Bukan itu poinnya." Sasa maju sedikit, sikunya bertumpu di meja. "Poinnya, kamu selalu minta maaf setelah kejadian, tapi kamu enggak pernah beneran sadar kenapa hal-hal kayak gitu bisa bikin orang lain ngerasa... enggak diperhatiin."

"Aku emang enggak perhatiin jam waktu itu, makanya aku lupa."

"BUKAN CUMA SOAL JAM, REN."

Beberapa orang di meja sekitar menoleh sebentar karena suara Sasa yang meninggi, dan dia buru-buru menurunkan volume, tapi intensitasnya tidak berkurang.

"Maksud aku," lanjutnya, lebih pelan tapi tetap tegas, "kamu tuh orangnya baik, aku enggak bilang kamu jahat atau apa. Tapi kadang kamu terlalu fokus sama hal-hal yang menurut kamu penting, sampe enggak sadar ada orang di sekitar kamu yang lagi berusaha nunjukin sesuatu, dan kamu enggak nangkep sama sekali."

Aku mencoba mencerna kalimat itu, dan yang muncul di kepalaku pertama kali adalah insiden tugas kelompok beberapa minggu lalu. "Ini soal tugas kelompok kemarin? Aku emang agak lambat gabung ke circle-nya Cahaya, tapi kan udah membaik—"

"Bukan soal itu."

"Terus soal insiden kafe yang viral itu? Aku emang enggak protes soal captionnya, tapi itu kan karena secara teknis fotonya akurat—"

"REN. BUKAN SOAL ITU JUGA."

"Terus soal apa?"

Sasa menatapku lama, dengan ekspresi yang, kalau aku boleh menebak sekarang, terlihat seperti dia sedang menahan diri dari mengatakan sesuatu yang lebih langsung, sebelum akhirnya memilih kalimat yang lebih hati-hati.

"Soal kepekaan kamu secara umum, Ren. Kamu tuh pinter banget soal hal-hal detail yang orang lain suka lewatin, kayak bros kecil di kostum anime atau statistik distribusi normal. Tapi soal hal-hal yang lebih... personal, kamu suka telat nangkep, atau malah sama sekali enggak nangkep."

"Aku enggak sepenuhnya paham maksudnya."

"Ya itu masalahnya," kata Sasa, dengan nada yang sekarang lebih ke arah lelah daripada marah. "Kamu enggak sepenuhnya paham, dan itu bikin orang di sekitar kamu kadang harus nunggu, atau nahan sesuatu, karena mereka enggak yakin kamu bakal nangkep kalo mereka kasih sinyal yang lebih halus."

Aku memikirkan kalimat itu, mencoba menghubungkannya dengan hal-hal yang sudah terjadi belakangan ini, tugas kelompok, insiden kafe, usaha comblang yang gagal, komentar-komentar pendek Cahaya soal Wisnu, dan yang paling baru, insiden nonton bareng yang batal.

"Ini soal aku harus lebih rajin cek kalender ya," kataku akhirnya, merasa sudah menemukan kesimpulan yang masuk akal. "Biar enggak lupa janji lagi kayak Jumat kemarin."

Sasa menatapku dengan ekspresi yang campur aduk antara ingin tertawa dan ingin memukul kepalaku dengan buku catatan yang ada di tangannya.

"...Ya," katanya akhirnya, panjang, dengan nada yang terdengar seperti dia baru saja menyerah pada sesuatu. "Iya, Ren. Cek kalender kamu. Itu... salah satu solusinya."

"Aku bakal pasang reminder di HP mulai sekarang. Biar enggak keulang."

"Bagus." Sasa mengangguk pelan, menggosok wajahnya dengan telapak tangan, seperti orang yang baru saja menghabiskan energi lebih dari yang direncanakan untuk percakapan ini. "Pasang reminder. Itu langkah awal yang bagus."

"Langkah awal buat apa?"

"Buat..." Sasa berhenti, menatapku sebentar, lalu menggeleng kecil, seolah memutuskan untuk tidak melanjutkan kalimat itu. "Enggak penting. Yang penting kamu pasang reminder."

Aku mengangguk, merasa percakapan ini sudah selesai dengan hasil yang cukup jelas: aku perlu lebih disiplin soal jadwal, dan aku sudah punya solusi konkret untuk itu.

Sasa berdiri, mengambil tasnya, tapi sebelum benar-benar pergi, dia berhenti sebentar dan menatapku dengan ekspresi yang lebih lembut dari sebelumnya.

"Ren," katanya. "Aku enggak lagi marah sama kamu, ya. Aku cuma... pengen kamu lebih perhatian dikit. Bukan cuma soal jadwal."

"Perhatian soal apa lagi kalo bukan jadwal?"

Sasa menatapku lama, dan aku bisa melihat dia sedang mempertimbangkan sesuatu, semacam keputusan yang tidak mudah, sebelum akhirnya menghela napas dan berkata, "Nanti kamu juga bakal ngerti sendiri. Semoga secepatnya."

Dia pergi setelah itu, meninggalkan aku duduk sendirian di meja perpustakaan dengan buku catatan yang sudah lama tidak aku sentuh lagi, dan kalimat terakhirnya yang menggantung tanpa penjelasan lebih lanjut.

Sepanjang sisa hari itu, aku tidak bisa sepenuhnya fokus ke kelas, karena percakapan dengan Sasa terus berputar di kepalaku, dengan cara yang tidak biasa.

Aku sudah membuat kesimpulan bahwa masalahnya soal jadwal, dan aku sudah punya solusi untuk itu, tapi ada sesuatu di cara Sasa bicara, di ekspresi wajahnya waktu dia bilang "nanti kamu juga bakal ngerti sendiri," yang membuat aku merasa kesimpulanku mungkin tidak sepenuhnya benar, meski aku tidak bisa menunjuk dengan pasti apa yang salah dari kesimpulan itu.

Aku memikirkan kembali semua kejadian beberapa minggu terakhir, satu per satu. Tugas kelompok yang canggung di awal. Insiden kafe yang viral. Usaha comblang Sasa yang gagal karena aku terlalu semangat pamer manga. Komentar-komentar pendek Cahaya soal Wisnu yang aku anggap biasa saja. Sesi belajar yang hangat di ruang tamu rumahku. Dan insiden nonton bareng yang batal karena aku lupa waktu.

Kalau dilihat satu-satu, semuanya terasa seperti kejadian terpisah, tidak ada hubungan langsung satu sama lain selain fakta bahwa Cahaya ada di semuanya.

Tapi kalimat Sasa soal "kepekaan secara umum" terus mengganjal, seperti ada benang yang menghubungkan semua kejadian itu, benang yang aku tidak bisa lihat karena aku terlalu fokus melihat setiap kejadian sebagai peristiwa terpisah, bukan sebagai bagian dari pola yang lebih besar.

Sore itu, sepulang kelas, aku bertemu Cahaya di persimpangan seperti biasa, dan dia terlihat normal, cerita soal dosen yang tadi kasih kuis dadakan, mengeluh soal tugas yang menumpuk, dan aku ikut dalam percakapan itu dengan cara yang biasa, tertawa di bagian yang lucu, memberi komentar di bagian yang perlu.

Tapi sepanjang perjalanan pulang, sebagian dari aku terus memperhatikan Cahaya dengan cara yang berbeda dari biasa, mencoba menangkap sesuatu yang mungkin selama ini aku lewatkan, meski aku tidak sepenuhnya yakin apa yang harus aku cari.

"Kamu kenapa diem-diem merhatiin aku dari tadi," tanyanya, di tengah jalan, waktu dia sadar aku sedikit lebih sering melirik ke arahnya dari biasanya.

"Enggak apa-apa. Cuma mikir."

"Mikirin apa?"

Aku ingin menjawab jujur, bilang soal percakapan dengan Sasa, tapi entah kenapa terasa seperti hal itu belum siap untuk dibagikan, atau mungkin aku sendiri belum sepenuhnya paham apa yang perlu dibagikan.

"Enggak penting," jawabku akhirnya, mengulang kalimat yang sama seperti yang Sasa gunakan tadi siang, tanpa sadar. "Cuma mikirin reminder buat jadwal."

Cahaya menatapku sebentar, dengan ekspresi yang aku tidak sepenuhnya bisa baca, sebelum akhirnya tersenyum kecil dan melanjutkan cerita soal tugas yang menumpuk, dan percakapan kami kembali ke ritme biasa, ringan, tanpa beban, seperti hari-hari lain sebelumnya.

Tapi kalimat Sasa masih ada di suatu tempat di kepalaku, tidak sepenuhnya hilang, seperti pertanyaan yang belum menemukan jawabannya, menunggu waktu yang tepat untuk akhirnya dipahami.

1
Pena Quality
up, saling support
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!