Ketika cinta berubah menjadi sebuah penjara.
Menikah adalah impian setiap wanita, pernikahan yang bahagia penuh keharmonisan adalah harapan. Namun, bagaimana jika cinta hanya membawanya dalam sebuah Sangkar Pernikahan?
Seruni menikahi Tuan Muda pertama dari keluarga Danuel. Tentu pernikahan dalam sebuah keuntungan bagi orang tuanya. Namun, sial ketika Seruni jatuh cinta pada sosok ramah dan hangat itu. Yang dalam sekejap mata berubah, nyatanya Tuan Muda pertama keluarga Danuel ini adalah sosok pria arogan yang dingin.
Seruni menjalani pernikahan yang bagaikan sebuah penjara. Dia harus melepas karir sebagai model yang saat itu sedang begitu naik. Lalu, semua hal yang dia lakukan harus atas persetujuan suaminya. Hingga, Seruni mulai jengah dan memberanikan diri mengajukan Perceraian. Tapi, apakah suaminya akan menyetujui Perceraian itu?
"Ceraikan aku, Mas. Pernikahan ini tidak akan bisa di lanjutkan lagi. Wanita dari masa lalumu sudah kembali sekarang"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi Tanpa Izin
Cahaya mentari pagi sudah memasuki lewat celah jendela, mengganggu sosok yang masih terlelap di sebuah sofa. Silau dari cahaya membuatnya terpaksa membuka matanya. Hari sudah pagi, dan dia tidur hanya tiga jam saja. Terlalu banyak pikiran semalam sampai sulit untuk tertidur. Raifan bangun dan duduk di sofa, memijat pelan lehernya yang terasa pegal. Menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri untuk meregangkan otot yang kaku.
Saat Raifan mulai sadar sepenuhnya, dia pergi keluar dari ruang kerja. Semalam sengaja tidak menemui Seruni, karena ingin menenangkan pikiran masing-masing dengan sendiri dulu.
"Selamat pagi, Tuan"
"Dia sudah bangun?" tanya Raifan, dia duduk di sofa dan menerima secangkir teh hangat dari Pak Gun, meminumnya untuk mengembalikan kesadarannya. Raifan mendongak saat Pak Gun tidak langsung menjawab pertanyaannya. "Ada apa? Katakan saja"
"Em, Nona sudah pergi pagi sekali tadi dan ... tidak di antar Pandi, Nona pergi di jemput temannya"
Tatapan Raifan berubah dingin, semalam mereka berdua baru saja bertengkar hebat, dan pagi ini Seruni sudah berani bertindak hal yang paling Raifan tidak suka.
"Panggil Pandi kesini!"
"Baik Tuan"
Tangannya mengepal erat, menunggu Pandi datang. Dan ketika pria itu berdiri di depannya sekarang, tatapan Raifan benar-benar dingin.
"Kenapa kau membiarkan dia pergi sendirian? Hah?!" Brak... Raifan menggebrak meja di depannya, teh di dalam cangkir sampai tumpah karena gebrakan terlalu keras di atas meja. "Aku mempekerjakan kamu untuk menjaga istriku, mengikutinya kemana pun. Tapi sekarang, kau sudah melanggar aturan kerja dariku!"
Pandi menunduk diam, dia memejamkan matanya setiap mendengar suara Raifan yang penuh penekanan. "Maafkan saya Tuan, tapi Nona Muda memohon pada saya sambil menangis. Saya tidak tega juga"
Siapa yang akan tega melihat wajah menangis Nona tadi pagi, apalagi dengan mata yang sudah bengkak. Aku saja merasa iba.
Raifan berdiri, berjalan mendekati Pandi dan menepuk pelan bahunya. Sebuah tepukan yang pelan, tapi berhasil membuat Pandi hampir ingin menghilang saja di telan bumi sekarang. Suasana di ruangan ini juga begitu terasa dingin dan mencekam.
"Dia memang begitu, menunjukan tangisan dan wajah polosnya untuk bisa mendapatkan apa yang di inginkan. Kau tidak bisa menjadikan alasan tangisannya untuk mengizinkan dia pergi sendiri tanpa denganmu!"
Pandi terus menunduk, untuk menatap Raifan sekilas saja, dia tidak berani. Terlalu menakutkan melihat tatapan Tuannya ini. "Saya minta maaf, Tuan. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi"
Raifan menghembuskan napas berat, dia tahu ini adalah sikap pembangkang yang di tunjukan Seruni padanya. Apalagi setelah pertengkaran semalam.
"Tunggu aku bersiap, kita susul ke tempat kerjanya"
"Baik Tuan"
Raifan pergi ke kamarnya, mengacak rambutnya frustasi. Saat membuka pintu kamar, semuanya sudah rapi kembali seperti tidak ada apa-apa. Padahal semalam sudah ada pertengkaran hebat diantara suami istri.
"Kau ingin bermain-main denganku, maka aku ikuti semua permainanmu, Seruni!"
*
Seruni masih berada di Kafe dengan Selvia. Pagi ini memang sengaja mengajak Selvia keluar karena Seruni butuh teman cerita dan hanya Selvia yang dia percaya untuk mendengarkan ceritanya.
"Jadi, suami kamu tetap tidak mengaku jika dia masih berhubungan dengan Mawar mantan kekasihnya itu? Terus sekarang apa yang akan kamu lakukan?"
"Entahlah, aku juga bingung harus melakukan apa. Pergi dan bebas dari pernikahan ini adalah hal yang sulit, mungkin hanya akan terus berada dalam pernikahan yang kacau ini sampai akhir hidupku"
Selvia menghela napas pelan, menatap iba pada sahabatnya. Meski mereka kenal hanya di dunia model, tapi sudah cukup lama dan saling mengerti satu sama lain.
"Bagaimana jika kita minta bantuan Mas Riko saja? Bukannya waktu itu Mas Riko sudah janji ingin membantumu"
"Memangnya bisa?"
"Pasti bisa, Mas Riko terlihat peduli padamu. Satu-satunya orang yang memungkinkan bisa membantu kamu, hanya dia. Iyakan?"
Seruni mengangguk pelan, sekarang mungkin Seruni harus mulai bertindak untuk bisa terlepas dari jerat pernikahan suaminya. Dia terlalu lelah untuk semuanya.
"Dan tadi pagi, bagaimana bisa kamu pergi tanpa pengawal kamu itu?"
Seruni menghela napas pelan, dia mengingat kejadian tadi pagi. Ketika dia memohon dengan wajah memelas dan sampai menangis pada Pandi agar di biarkan pergi bersama Selvia tanpa dia antar.
"Tolong Pandi, kali ini saja biarkan aku pergi bersama temanku. Selvia yang akan menjemput aku, kamu bisa lihat sendiri kalau kamu takut aku berbohong. Aku capek, aku lelah Pandi, terus di pantau seperti ini. Kamu harus membayangkan bagaimana jika kamu jadi aku, semuanya terlalu melelahkan. Hiks..."
Dan Pandi masih ingat tentang kejadian di Pantai, saat Seruni menangis pada Pandi dan mengeluarkan segala perasaan yang dia pendam selama ini. Tangisan dan tatapan matanya sangat menyakitkan. Dan sekarang Pandi juga tidak tega melihatnya seperti ini.
"Tapi Nona-"
"Tolonglah Pandi, kali ini saja. Hiks... Aku hanya ingin pergi dengan temanku, aku ingin bercerita dengannya. Aku butuh waktu, kamu juga pasti sudah tahu bagaimana aku bertengkar dengan Mas Rai semalam. Tolong biarkan aku menenangkan diri hari ini"
Dan dengan rasa tidak tega dan kesadaran penuh, akhirnya Pandi mengizinkan Seruni pergi dengan temannya tanpa di dampingi Pandi. Meski Pandi tahu bagaimana konsekuensinya, tapi dia tetap tidak tega pada Seruni dan akhirnya tetap mengizinkannya.
Seruni menghela napas pelan mengingat kejadian tadi pagi, karena dia tahu sekarang berapa orang di rumah yang akan terkena masalah karenanya. Raifan tidak mungkin diam saja saat tahu Seruni pergi tanpa di dampingi Pandi.
"Aku harus kembali sekarang, Sel. Orang-orang di rumah pasti terkena masalah karena aku"
"Kita tidak akan menemui Mas Riko dulu?"
Seruni berdiri, dia membenarkan kacamata hitamnya, sengaja dia pakai untuk menutupi mata yang bengkak karena menangis semalam.
"Nanti saja, kita harus cari waktu lain. Karena sekarang kalau aku tidak segera pulang, akan membuat orang-orang di rumah terkena masalah. Suamiku tidak mungkin membiarkan saja aku pergi tanpa pengawal"
Selvia mengangguk, sepertinya dia juga tidak bisa memaksa, dan juga tidak mau melihat Seruni semakin dalam masalah dengan suaminya.
"Baiklah, ayo aku antar kamu pulang sekarang"
Seruni mengangguk, mereka baru saja ingin berjalan ke arah pintu keluar, tapi seseorang yang membuka pintu dan masuk ke dalam Kafe ini membuat mereka berhenti bergerak.
"Run" Selvia menyenggol lengan sahabatnya dengan tatapan takut.
"Mas, kenapa disini?"
Raifan berdiri di depannya sekarang, menatapnya dingin. "Mencari istriku yang pergi tanpa izin dari suaminya!"
Bersambung
orang raifan aja aja aneh bin gak jelas kalo suka bilang suka kalo gak yaudah pisah aja novel dibuat ribet 🤣🤣🤣🤣
semangat berkarya kak 🤗