Valerie menyukai kakak sahabatnya Tiara sejak awal semester 1 semasa kuliah. membutuhkan 1 tahun usaha akhirnya meluluhkan hati Dean yang selalu bersikap kaku dan dingin. Akhirnya setahun sudah mereka berpacaran namun tidak ada dari sikap Dean yang berubah tetap dingin, kaku, tidak romantis, tidak inisiatif namun tidak pernah menolak perlakuan dan permintaan Valerie. masalah mulai muncul setelah setahun hubungan mereka. Dania adik sahabat Dean timoty hadir di tengah hubungan mereka. Bagaimana akhir kisah mereka? Apakah badai sanggup meruntuhkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketenangan Semu dan Rahasia yang Terkubur
Matahari pagi kembali menyapa Jakarta, menembus celah gorden abu-abu di unit apartemen nomor 1502. Bagi Valerie, hari-hari setelah makan malam di kedai rooftop itu adalah kelanjutan dari duniakah mimpi indah yang nyata. Namun bagi Carlo, setiap detik yang bergulir sejak fajar menyingsing adalah siksaan batin yang perlahan-lahan mengikis kewarasannya.
Satu minggu telah berlalu sejak malam terkutuk di hotel mewah kawasan pusat bisnis itu terjadi. Carlo terbangun di pagi hari dengan kepanikan luar biasa, rasa mual yang mencekik, dan kehancuran mental yang teramat sangat pekat saat menyadari dirinya telah dijebak oleh konspirasi busuk keluarganya sendiri. Zat penenang dosis tinggi malam itu telah melumpuhkan logikanya, membuatnya terbangun di samping Sarah tanpa memori apa pun tentang apa yang terjadi selama kegelapan menguasai tubuhnya.
Dipenuhi rasa bersalah yang teramat sangat besar dan ketakutan yang mendalam akan kehilangan Valerie, Carlo mengambil keputusan paling fatal dalam hidupnya. Dia memilih untuk mengubur rapat-rapat rahasia malam terkutuk itu. Dia membersihkan jejaknya, mengabaikan senyuman penuh kemenangan Sarah saat melangkah keluar dari kamar hotel, dan bersumpah pada dirinya sendiri untuk bersikap seolah tidak terjadi apa-apa di depan Valerie.
"Kak Carlo? Kakak mendengarkanku, kan?" Suara renyah Valerie membuyarkan lamunan Carlo.
Carlo tersentak kecil, buru-buru menarik fokusnya kembali ke meja makan kecil apartemen. Di hadapannya, Valerie sedang memegang sendok berisi bubur ayam dengan dahi sedikit berkerut manis. "Ah, iya, Val. Maaf, aku sedikit kepikiran draf bab terakhir skripsiku yang harus diserahkan ke dosen pembimbing siang nanti," bohong Carlo, memaksakan senyum sehangat mentari pagi yang biasa ia pamerkan.
Valerie tertawa kecil, menaruh sendoknya dan mengulurkan tangan untuk mengusap pelipis Carlo dengan lembut. "Jangan terlalu stres, Kak. Kak Carlo kan pintar, pasti langsung diarsip tanpa revisi besar. Ayo dihabiskan sarapannya, nanti kita terlambat ke kelas laboratorium."
Saat jemari Valerie menyentuh kulit wajahnya, Carlo sempat memejamkan mata erat selama sekelebat detik. Sentuhan tulus dari gadis yang sangat dicintainya itu mendadak terasa seperti siraman air raksa yang membakar nuraninya. Rasa bersalah yang teramat pekat menghantam ulu hatinya, membuatnya merasa menjadi pria paling munafik dan kotor di duniakah ini. Namun, ketakutan melihat binar ekspresif di mata Valerie padam lagi akibat trauma masa lalu jauh lebih besar daripada keberaniannya untuk jujur.
Siang harinya, koridor gedung fakultas biologi tampak ramai oleh hilir mudik mahasiswa yang membawa lembar diktat perkuliahan. Valerie berjalan beriringan bersama Tiara menuju perpustakaan pusat kampus untuk mengembalikan beberapa buku referensi yang sudah selesai digunakan. Di pergelangan tangan kiri Valerie, gelang perak minimalis dengan gantungan daisy pemberian Carlo berkilat indah tersiram cahaya matahari.
Tiara melirik gelang tersebut, lalu beralih menatap wajah Valerie yang tampak begitu berseri-seri tanpa beban emosional sedikit pun. "Val, aku benar-benar senang melihat kondisimu yang sekarang. Kamu kelihatan jauh lebih hidup dan bahagia dibanding setahun lalu saat Kakakku bertindak kaku padamu."
Valerie menyentuh gantungan daisy pada gelangnya dengan seulas senyuman manis yang penuh rasa syukur mendalam. "Ini semua berkat Kak Carlo, Ra. Bersamanya, aku tidak perlu lagi merasa takut atau merasa bersalah hanya karena aku ingin menangis atau menunjukkan rasa cemburuku. Kak Carlo selalu ada untuk memvalidasi dan memeluk setiap emosiku tanpa pernah menghakimi menggunakan logika formal."
Tiara mengangguk setuju dengan tulus, namun saat pandangannya beralih ke ujung selasar koridor, matanya mendadak menangkap sosok Carlo yang sedang berjalan terburu-buru menuju gedung senat mahasiswa. Ponsel pribadi pria itu menempel erat di telinganya. Ketika tidak sedang berada di dekat Valerie, raut wajah Carlo terlihat begitu tegang, lelah, dan dipenuhi oleh beban pikiran yang sangat berat hingga guratan di dahinya tercetak jelas.
Sebagai bagian dari lingkaran elite Jakarta, Tiara sempat mendengar selentingan kabar burung dari ibunya mengenai rencana aliansi bisnis besar antara Dirgantara Group dan Wijaya Group yang sedang macet di luar kota. Melihat perubahan drastis ekspresi Carlo akhir-akhir ini, Tiara mendadak merasakan firasat buruk yang samar merayap di dadanya. Dia berdoa dalam hati agar ketenangan yang Valerie miliki saat ini bukanlah sebuah ketenangan semu yang rapuh sebelum badai besar duniakah orang dewasa kembali menghantam sahabatnya untuk kedua kalinya.
Malam harinya, sebagai penutup hari Jumat yang santai, Carlo mengajak Valerie untuk menikmati makan malam di sebuah kedai atap terbuka (rooftop) kecil bernuansa estetik di kawasan Jakarta Selatan. Tempat itu tidak serbapekat dan kaku seperti restoran pilihan Dean dulu; di sini, di bawah siraman cahaya lampu-lampu gantung yang hangat dan angin malam yang berembus sepoi-sepoi, mereka duduk berdampingan menatap gemerlap lampu kota yang memukau dari ketinggian.
Valerie sedang asyik menikmati es krim vanilanya sambil menceritakan tentang kelucuan asisten laboratoriumnya tadi siang dengan gaya bicaranya yang ekspresif. Carlo menatap lekat-lekat wajah Valerie, menopang dagu dengan kedua tangannya. Di permukaan, senyum hangat Carlo tampak begitu sempurna menghargai setiap celotehan kekasihnya. Namun di dalam saku celana jinsnya, ponsel pribadinya terus bergetar tanpa henti.
Sebuah pesan singkat dari nomor tidak dikenal—yang Carlo tahu pasti adalah nomor rahasia Sarah—baru saja masuk beberapa menit lalu:
“Carlo, draf laporan medis pertamaku dari dokter kandungan sudah keluar. Jangan mengabaikan teleponku lagi kalau kamu tidak ingin gadis kuliahmu itu menerima salinan foto kebersamaan kita di kamar penthouse hotel minggu lalu.”
Dada Carlo bergemuruh hebat, memompa rasa cemas yang kian mencekik lehernya. Dia merasa dunianya sedang dikepung oleh tembok tinggi yang siap runtuh menimbun dirinya. Di satu sisi, ada Sarah yang membawa ancaman keji menggunakan malam terkutuk yang tidak pernah Carlo inginkan. Di sisi lain, ada Valerie yang menatapnya dengan binar mata penuh rasa percaya mutlak yang tak tergoyahkan.
"Kak Carlo..." panggil Valerie lembut, menurunkan sendok es krimnya sejenak saat menyadari genggaman tangan Carlo pada jemarinya di atas meja mendadak mengerat dengan sangat kuat. "Kakak kenapa? Tangan Kakak dingin sekali."
Carlo tersentuh oleh kepedulian tulus Valerie. Dia memaksakan senyum terbaiknya, membalikkan telapak tangannya untuk menggenggam jemari Valerie lebih erat, seolah-olah dia takut jika dia melonggarkannya sedikit saja, Valerie akan langsung terenggut dari pelukannya ke dalam kegelapan.
"Nggak apa-apa, Val. Aku cuma sedang berpikir... betapa beruntungnya aku bisa memilikimu di hidupku sekarang," ucap Carlo, suaranya merosot ke nada yang lebih rendah, berat, dan sarat akan kesungguhan yang putus asa. "Apa pun yang terjadi di masa depan nanti... tolong tetap percaya padaku sepenuhnya, ya? Tetap percaya kalau cintaku padamu tidak akan pernah bisa diubah oleh badai apa pun di duniakah ini. Aku akan selalu menjadi pria yang paling mencintaimu."
Valerie tersenyum manis, pipinya merona segar di bawah temaram lampu kedai. Dia membalas genggaman tangan Carlo dengan kehangatan tulus yang menenangkan segala gemuruh di dada pria itu. "Tentu saja aku sangat percaya padamu, Kak Carlo. Aku tidak akan pernah meragukan ketulusan cintamu padaku."
Carlo tersenyum lega, mengecup punggung tangan Valerie dengan kelembutan yang pekat di bawah kesaksian langit malam yang sunyi. Mereka melangkah meninggalkan kedai atap terbuka tersebut dengan hati yang dipenuhi oleh kebahagiaan manis di permukaan, berjalan beriringan menuju mobil untuk pulang menuju apartemen.
Valerie melangkah dengan riang, tanpa pernah menyadari bahwa ketenangan semu yang dia rasakan malam ini sudah berada di ambang batas akhir. Di balik kebungkaman Carlo dan rahasia yang terkubur rapat itu, jarum jam takdir telah mulai berputar mundur menuju hari esok—hari di mana Sarah akan mendatangi Carlo secara langsung membawa hasil tes medis positif hamil, meledakkan kebenaran terkutuk itu menjadi sebuah badai patah hati terbesar yang akan menghancurkan duniakah Valerie untuk kedua kalinya tanpa sisa.