Silvana, seorang dokter dengan karir yang sangat bagus, terpaksa di kirim ke Wilayah Konflik karena menolak cinta dari putra salah satu Petinggi di Rumah Sakit tempatnya bekerja.
Tentu saja Silvana menolak, karena Pria itu tak hanya meminta cintanya, namun juga hampir melecehkannya.
Karena tak ingin berada di lingkungan toxic, ia pun sama sekali tak keberatan ketika di kirim ke Wilayah Konflik yang ada di Negaranya.
Disana, ia bekerja di sebuah Klinik Militer. Selain menangani Prajurit yang terluka, ia juga secara rutin datang ke desa-desa sekitar Markas Militer untuk melakukan pemeriksaan pada warga desa.
Siapa sangka, jika di tempat 'pengasingan' itulah ia justru bertemu dengan pria yang berhasil meluluhkan hatinya.
Bagaimana kisah cinta Silvana?
Apakah perjalanan cintanya berjalan dengan mulus?
Siapakah sosok pria yang berhasil meluluhkan hatinya?
Simak kisah dan keseruannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Jogging
Begitu sampai di Markas Batalyon, Komandan Kaivan segera mengambil alih mobil yang tadi mereka bawa. Ia membawa mobil itu ke rumahnya dan bergegas pergi ke rumah Dokter Sisil malam itu.
Komandan Kaivan mengetuk pintu rumah Kekasihnya, kemudian mengucapkan salam. Tak butuh waktu lama, pintu rumah Dokter Sisil pun terbuka.
"Waalaikumsalam." Jawab Sisil sembari berdiri di ambang pintu. Tak ada senyuman atau sambutan hangat seperti biasanya. Gadis cantik itu tampaknya masih kesal.
"Cari apa, Mas? Disini gak ada kopi." Ujar Sisil setelah menjawab salam dari Komandan Kaivan.
"Cari kamu kok, Sayang." Jawab Komandan Kaivan.
"Ngapain cari aku? Bukannya lebih enak minum kopi di rumah?" Tanya Sisil.
"Bukan begitu, Sayang. Mas lebih suka kamu, ketimbang kopi." Jawab Komandan kaivan yang ini benar-benar berniat untuk mengurangi konsumsi kopi.
"Ch!" Sisil tersenyum miring sambil mengalihakan pandangannya.
"Sayang, maaf. Mas janji akan mengurangi konsumsi kopi.? Kata Komandan kaivan yang berusaha membujuk sembari memegang tangan Sisil.
"Aku gak butuh janji, Mas. Aku sudah muak sama janji calon Presiden dan calon Anggota DPR." Sahut Sisil yang membuat Komandan Kaivan hampir tersenyum. Untungnya ia berhasil mengontrol emosi hingga tak membuat Sisil lebih merajuk lagi.
"Mas usaha, Sayang. Mas bukan cuma janji." Jawab Komandan Kaivan dengan meyakinkan.
Sisil terdiam. Ia sebenarnya ta benar-benar marah. Ia hanya ingin Komandan Kaivan mengurangi kecanduannya pada kopi dengan berpura-pura marah seperti ini.
"Aku akan pantau Mas melalui Miko." Ujar silvana pada akhirnya.
"Iya, Sayang." Jawab Komandan kaivan yang kini merasa sedikit lega karena Sisil tampak mulai melunak.
"Ikut Mas sebentar." Ajak Komandan kaivan sambil menggandeng tangan Sisil.
"Mau kemana, Mas? Mas kan baru pulang." Tanya Sisil.
Komandan Kaivan membawa Sisil menuju ke bagian belakang mobilnya. Ia kemudian membuka bagasi mobilnya Komandan kaivan mengambil buket bunga yang juga ia letakkan di bagasi mobilnya bersama dekorasi dan beberapa hadiah disana.
Sisil yang terkejut, sampai menutup mulutnya yang terperangah. Ia benar-benar tak menyangka jika Komandan Kaivan akan memberikannya hadiah tiba-tiba seperti ini.
"Maafin Mas ya, sayang." Ujar Komandan Kaivan sembari memberikan buket bunga pada Sisil.
"Mas? Sempet-sempetnya nyiapin semua ini?" Tanya Sisil dengan wajah yang tersipu karena rasa bahagia.
"Ini semua buat kamu." Ujar Komandan kaivan sembari menunjuk berbagai jenis makanan ringan juga coklat yang tersusun rapi di bagasi mobilnya.
"Makasih, Mas." Sisil langsung memeluk Komandan Kaivan karena merasa sangat bahagia.
"sama-sama." Jawab Komandan Kaivan.
"Mas kok bisa kepikiran kasih kayak gini?" Tanya Sisil yang merasa penasaran.
"Mm... Itu..." Kata Komandan Kaivan sambil menggaruk-garuk kepala bagian belakangnya yang sebenarnya tak gatal.
"Apa, Mas?" Tanya Sisil sambil mengernyitkan dahi, menunggu jawaban dari Komandan Kaivan.
"Sebenarnya ini semua ide Miko." Jawab Komandan kaivan dengan jujur.
Raut wajah Sisil pun sedikit berubah setelah mendengar ucapan jujur Komandan kaivan. Ia yang sudah bahagia karena mengira jika ini semua ide Komandan Kaivan pun mendadak sedikit kecewa karena ternyata Komandan Kaivan tak sekreatif itu untuk bersikap romantis.
"Mas lakukan supaya kamu senang dan tidak marah lagi." Ujar Komandan Kaivan kemudian.
"Iya, aku udah gak marah, asal Mas tepati janji Mas." Jawab sisil.
"Makasih ya, Mas." Imbuhnya sambil tersenyum.
Bagaimanapun ia sangat menghargai usaha Komandan Kaivan untuk menyenangkannya, meskipun itu bukan atas inisiatif Komandan Kaivan sendiri.
...****************...
Matahari masih belum menunjukkan sinarnya ketika pintu rumah Sisil kembali di ketuk. Tentu saja Komandan Kaivan lah yang mengetuk pintu rumah kekasihnya.
"Ada apa, Mas?" Tanya Sisil. Ia memandang heran Komandan Kaivan yang sudah siap dengan kaos, celana raining dan juga sepatunya.
"Ayo olah raga." Ajak Komandan Kaivan.
"Lari di komplek Markas?" Tanya Sisil yang di jawab gelengan oleh Komandan Kaivan.
"Kita lari keluar dengan anak-anak -Anggota Batalyon." Ujar Komandan Kaivan.
"Lari keluar Markas? Tunggu sebentar, Mas." Jawab Sisil dengan sumringah.
"Lima menit, Sayang. Kalau lewat, Mas tinggal." Ujar Komandan Kaivan yang membuat Sisil terburu-buru.
"Ah! Mas Kaivan. Aku kan bukan prajurit. Harusnya kasih tau aku dari semalam dong." Omel Sisil dari dalam kamarnya. Sementara Komandan Kaivan hanya bisa tersenyum saat mendengar omelan gadisnya.
"Tiga puluh detik lagi, Sayang." Seru Komandan Kaivan.
"Aaaa! Mas Kaivan nyebelin." Seru Sisil yang berlari keluar dengan membawa sepatu juga sunscreennya.
"Pake sunscreenmu, biar Mas bantu pakaikan sepatu." Ujar Komandan Kaivan yang kemudian mendorong pelan bahu Sisil agar gadis cantik itu duduk di kursi.
"Mas, jangan." Tolak Sisil sambil menarik kakinya menjauh. Namun, Komandan Kaivan yang sudah berjongkok di depannya, tetap menarik kaki Sisil dan memakaikan sepatu gadisnya.
Sisil pun tersenyum. Ia bergegas memakai sunscreennya sembari memandangi Komandan Kaivan yang sedang sibuk mengikat sepatunya.
"Mas, lihat aku." Pinta Sisil yang membuat Komandan Kaivan mendongak ke arah gadisnya itu.
Sisil kemudian mengoleskan sunscreen di wajah Komandan Kaivan. Komandan kaivan sendiri hanya terdiam pasrah sembari menikmati sentuhan jari Sisil yang mengusap-usap wajahnya.
"Biar gak jomplang sama aku yang masih kinyis-kinyis ini." Ledek Sisil.
"Memang Mas setua itu, Sayang?" Tanya Komandan Kaivan.
"Lah! Emang udah tua. Untung aja Mas ini baby face. Jadi gak kelihatan banget kalo udah tuwir." Sahut Sisil sambil terkekeh. Sementara Komandan Kaivan hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
"Sudah selesai." Ujar Komandan Kaivan yang sudah selesai memakaikan sepatu Kekasihnya.
"Makasih, Komandan." Ucap Sisil sambil tersenyum manis.
Komandan Kaivan kemudian menggandeng Sisil menuju ke lapangan yang ada di bagian depan Markas. Disana, para anggota sudah berkumpul untuk lari bersama keluar Markas.
"Widih, Bapak mengajak serta Ibu Komandan, ternyata." Ledek Riki.
"Jadi curiga semalam-"
"Mulut Ko, Miko!" Sergah Komandan Kaivan.
"Semalam sengaja janjian dengan Dokter Sisil untuk ikut lari pagi. Komandan ini sudah berpikiran negatif saja." Kata Miko yang membela diri.
"Segera pemanasan!" Titah Komandan Kaivan yang langsung dilaksanakan oleh semua anggotanya, termasuk juga Komandan Kaivan dan Sisil.
Setelah selesai pemanasan, mereka semua berbaris dengan rapi dan bersiap untuk lari bersama keluar Markas, melalui rute yang biasa mereka lewati jika berlari keluar dari Markas.
"Sini, Dokter. Masuk ke barisan supaya tidak tertinggal." Ajak Miko.
Barisan paling belakang, diantara Miko dan Riki masih tersisa satu slot kosong. Sisil pun langsung masuk ke dalam barisan itu, tepatnya di antara Miko dan Riki.
Komandan kaivan hanya bisa menghela nafas panjang ketika Miko dan Riki menatap ke arahnya dengan tatapan meledek karena berhasil membawa Dokter Sisil ke dalam barisan mereka.
"Ayo berangkat!" perintah Komandan Kaivan.
Semua aggota dengan kompak melangkahkan kaki dan mulai jogging. Sementara itu, Komandan Kaivan berlari di belakang Sisil untu menjaga gadisnya.
"Teriakkan Yel-yel! Supaya lebih semangat." Perintah Komandan Kaivan lagi.
Jogging mereka pagi itu terasa semakin meriah karena Yel-yel yang diserukan dengan penuh semangat oleh semua anggota yang ikut jogging pagi itu.
kompor baget sih Miko & Riki