Gibran Dirgantara, seorang pemuda desa yang berniat mengadu nasib di ibu kota, harus menelan kenyataan pahit saat dicampakkan dan dihina habis-habisan oleh mantan pacarnya, Siska, bersama kekasih konglomeratnya yang arogan. Namun, saat harga dirinya diinjak-injak di tengah kerasnya persaingan pusat pelelangan batu giok, Gibran secara ajaib membangkitkan entitas misterius bernama "Sistem Mata Sakti Raja Giok" yang menyatu langsung dengan saraf penglihatannya. Berbekal mata dewa yang kini mampu menembus lapisan batu kotor untuk melihat energi murni di dalamnya, Gibran memulai jalan balas dendam yang elegan untuk meremukkan kesombongan mereka yang meremehkannya, memborong batu-batu bernilai triliunan dari tumpukan sampah, dan merangsek naik menjadi master giok nomor satu yang paling ditakuti di dunia modern.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Brak.
Pintu ruang kerja CEO Dirgantara Larasati Group didobrak terbuka dari luar dengan sangat kasar.
Bima berlari masuk ke dalam ruangan dengan napas terengah-engah dan keringat dingin yang membasahi kemeja kerjanya.
Pemuda kurus itu nyaris tersandung karpet tebal di tengah ruangan saking paniknya.
"Bos Gibran, gawat darurat! Semua kontainer batu giok kita ditahan paksa oleh petugas bea cukai di pelabuhan pagi ini!" teriak Bima dengan suara melengking.
"Mereka melarang puluhan ton batu kita naik ke atas kapal kargo tanpa alasan yang jelas Bos!" ratapnya sambil memegangi kepalanya yang pusing.
Gibran sedang duduk santai di kursi kulit kebesarannya sambil memutar-mutar sebuah pulpen emas di jari tangannya. Ia sama sekali tidak terlihat terkejut mendengar laporan bencana yang bisa membuat perusahaan normal langsung bangkrut tersebut.
"Duduk dan bernapaslah yang benar Bima, kau membuat lantai ruang kerjaku basah oleh keringat ketakutanmu itu," tegur Gibran dengan suara bariton yang sangat tenang. Bima buru-buru menarik kursi dan duduk dengan tubuh yang masih gemetar hebat menahan kepanikan.
Pintu ruangan kembali terbuka dan Aurel Larasati melangkah masuk dengan raut wajah yang sangat tegang dan serius. Wanita cantik itu membawa setumpuk dokumen bersampul merah dan melemparkannya ke atas meja kerja Gibran.
Bruk.
"Surat izin ekspor kita baru saja dicabut secara sepihak oleh kementerian pusat atas rekomendasi Asosiasi Giok Nasional Gibran," lapor Aurel menahan amarah. "Surya tidak main-main dengan ancamannya semalam, mereka benar-benar ingin mencekik leher perusahaan kita sampai mati kehabisan uang."
Gibran menghentikan putaran pulpen di tangannya dan mengambil dokumen merah itu sekadar untuk melihat stempel resminya.
"Kerugian kita bisa mencapai lima puluh miliar per hari jika kontainer itu dibiarkan membusuk tertahan di pelabuhan Bos," tambah Bima nyaris menangis menghitung angka kerugiannya.
Gibran melemparkan kembali dokumen itu ke atas meja dan tertawa pelan seolah ia sedang mendengarkan lelucon lucu di pagi hari.
Hahahaha.
"Biar saja batu-batu itu berjemur di pelabuhan untuk sementara waktu Bima, anggap saja kita sedang memberi mereka liburan."
Aurel mengerutkan keningnya tidak mengerti melihat ketenangan Gibran yang terasa sangat tidak masuk akal di tengah krisis raksasa ini. "Kita tidak bisa membiarkannya Gibran, jika arus kas kita mati maka ribuan pekerja tambang kita tidak akan bisa gajian bulan depan," protes Aurel dengan nada khawatir.
Gibran berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati jendela kaca besar yang menghadap ke arah pemandangan seluruh kota. "Jika Asosiasi Nasional berpikir mereka bisa membuat kita kelaparan dengan menutup keran air di rumah kita, maka mereka sangat salah."
"Kita akan pergi ke rumah mereka hari ini juga dan merampok seluruh isi kulkas serta brankas emas mereka Nona Aurel," ucap Gibran dengan senyum iblis yang mematikan.
Napas Aurel sedikit tertahan mendengar rencana invasi gila yang keluar dari mulut Gibran secara tiba-tiba itu. "Maksudmu kita akan mendatangi ibu kota negara dan melawan mereka langsung di kandangnya hari ini juga?" tanya Aurel memastikan pendengarannya tidak salah.
"Siapkan jet pribadi perusahaan kita sekarang juga Nona Aurel, bawa Bima dan Kapten Codet beserta pasukan elitnya." "Kita akan menghabiskan akhir pekan ini dengan menguras habis pasar lelang elit milik para pejabat korup di ibu kota negara," perintah Gibran dengan otoritas mutlak yang tidak bisa dibantah.
Wusss.
Hanya butuh waktu tiga jam bagi jet pribadi mewah milik Dirgantara Larasati Group untuk membelah awan dan mendarat mulus di bandara ibu kota negara.
Empat mobil SUV hitam anti peluru sudah menunggu mereka di landasan pacu VIP berkat koneksi luas milik Kapten Codet di dunia militer. Gibran masuk ke dalam mobil utama bersama Aurel dan Bima yang masih terlihat sangat tegang dan mabuk udara.
Brumm.
Iring-iringan mobil itu langsung melaju membelah padatnya jalan raya ibu kota negara yang dipenuhi gedung pencakar langit berukuran masif.
"Target pertama kita adalah Galeri Seni Cahaya Emas di distrik pusat pemerintahan Bos Gibran," lapor Kapten Codet dari kursi depan. "Tempat itu berkedok sebagai pameran seni elit, tapi sebenarnya itu adalah pasar lelang tertutup tempat para pejabat Asosiasi Nasional mencuci uang kotor mereka."
Gibran menyandarkan punggungnya ke jok kulit yang empuk dan tersenyum sinis menatap jalanan ibu kota dari balik kaca mobil. "Bagus sekali Kapten, mari kita lihat seberapa kotor uang yang mereka cuci di dalam mesin cuci mewah itu hari ini."
Ciiit.
Mobil mereka berhenti tepat di depan sebuah bangunan megah bergaya klasik Eropa yang dijaga oleh puluhan petugas keamanan berjas rapi. Gibran turun dari mobil disusul oleh Aurel yang kembali memukau mata semua orang dengan gaun kerja hitam elegannya.
Bima mengekor di belakang mereka sambil memeluk tas kerjanya dengan erat seperti anak ayam yang takut kehilangan induknya. Mereka berjalan santai menaiki tangga galeri tanpa mempedulikan tatapan menyelidik dari para penjaga keamanan.
"Maaf Tuan, tempat ini hanya khusus untuk anggota klub elit ibu kota, apakah Anda memiliki kartu keanggotaan?" tahan seorang penjaga di depan pintu utama. Gibran bahkan tidak menoleh sedikit pun ke arah penjaga itu dan terus melangkah maju.
Kapten Codet yang berjalan di depan langsung mencengkeram kerah baju penjaga itu dan mengangkatnya ke udara.
Brak.
Penjaga itu dilemparkan ke samping hingga menabrak pilar batu pualam dan langsung pingsan tak sadarkan diri.
"Bosku adalah hukum di mana pun dia berpijak, minggir kalian semua!" bentak Kapten Codet membuat penjaga lain mundur ketakutan melihat otot bajanya.
Gibran melangkah masuk ke dalam ruangan galeri yang sangat luas dan dipenuhi oleh ratusan pria dan wanita berpakaian berlian serta sutra.
Ruangan itu dipenuhi oleh meja-meja kaca yang memajang berbagai batu giok, lukisan kuno, dan barang antik bernilai miliaran rupiah.
Kehadiran Gibran yang mendobrak masuk langsung menghentikan alunan musik klasik dan menarik perhatian seluruh elit politik di ruangan tersebut.
"Hei, bukankah itu pemuda sombong dari daerah yang menghancurkan batu utusan Asosiasi Nasional semalam?" bisik seorang pria paruh baya berhidung mancung.
"Dia benar-benar berani menginjakkan kakinya di ibu kota, dia pasti sudah bosan hidup dan ingin menyerahkan nyawanya secara sukarela," cibir wanita sosialita di sebelahnya dengan tawa merendahkan.
Gibran mengabaikan semua bisikan sampah dari lalat-lalat ibu kota itu dan langsung mengaktifkan kemampuan dewa di kedua matanya.
[Pemindaian area elit ibu kota diaktifkan dalam skala maksimal.]
[Proses analisis material menembus lapisan etalase kaca anti peluru.]
Sring.
Dunia di mata Gibran seketika berubah menjadi lautan angka dan warna yang menunjukkan kualitas sebenarnya dari semua barang di ruangan tersebut. Senyum sinis Gibran semakin melebar hingga nyaris menyerupai seringai seorang iblis yang menemukan ladang dosa baru.
[Mendeteksi seratus empat puluh batu giok palsu yang diwarnai menggunakan zat kimia tingkat tinggi.]
[Mendeteksi lima puluh barang antik palsu buatan pabrik modern. Nilai total kerugian pasar: Nol rupiah.]
"Tempat ini bukanlah pasar lelang kelas atas Nona Aurel, ini hanyalah tempat pembuangan sampah yang dilapisi kertas emas," bisik Gibran pelan ke telinga Aurel.
"Mereka sengaja menaikkan harga batu sampah menjadi puluhan miliar agar uang hasil suap proyek negara terlihat seperti transaksi bisnis yang sah."
Mata Aurel langsung membelalak lebar mendengar fakta mengerikan tentang praktik pencucian uang skala raksasa yang terjadi tepat di depan matanya.
"Ini adalah skandal korupsi tingkat nasional Gibran, jika kita membongkar ini maka kita tidak hanya melawan Asosiasi Giok tapi melawan setengah dari pejabat negara," balas Aurel dengan napas tertahan.
"Aku tidak pernah takut melawan dewa mana pun yang berani turun menghalangi jalanku Nona Aurel." Gibran melangkah maju ke tengah ruangan dan langsung mengambil sebuah batu hijau raksasa dari atas meja pameran utama yang dijaga ketat.
"Hentikan tangan kotormu pemuda udik! Itu adalah Zamrud Hijau Sungai yang harganya mencapai delapan puluh miliar rupiah!" teriak seorang bos besar dari seberang ruangan.
Bos besar berwajah licik itu berjalan cepat menghampiri Gibran dengan diiringi empat pengawal pribadi berbadan raksasa.
"Kau pikir galeri ini sama dengan pasar malam di kampungmu yang bisa kau rusak sesuka hati hah?" bentak bos itu dengan wajah merah menahan amarah gengsi.
Gibran mengangkat batu hijau raksasa itu tinggi-tinggi dengan satu tangan seolah batu itu hanya seberat bola plastik.
"Zamrud Hijau Sungai kau bilang? Aku menyebutnya adukan semen yang dicat menggunakan pewarna tekstil murahan," ejek Gibran dengan suara lantang yang menggema ke seluruh ruangan.
Brak.
Gibran membanting batu seharga delapan puluh miliar itu ke lantai marmer dengan kekuatan penuh hingga batu itu hancur berkeping-keping. Debu semen abu-abu dan cairan pewarna hijau langsung berhamburan mengotori karpet mewah galeri tersebut membuktikan ucapan Gibran secara mutlak.
Jeritan histeris dari para sosialita dan wajah pucat pasi dari para pejabat korup seketika melukiskan pemandangan kehancuran yang sangat indah di mata sang Raja Giok.