Aku bukan siapa-siapa. Nggak punya prestasi, nggak punya bakat khusus.
Yang aku punya cuma kenangan.
Kenangan jadi remaja perempuan yang dulu mikir dunia selebar halaman sekolah.
Tentang tawa di jam kosong, surat cinta yang nggak pernah dikasih, persahabatan yang pecah karena sepele, dan guru yang tanpa sadar ngubah hidupku.
"Cuma Modal Cerita" adalah kumpulan kisahku.
Loncat dari sekarang ke dulu. Dari dewasa ke anak kecil yang masih percaya permen bisa nyelesaiin semua masalah.
(Gak Semuanya Real Dari Hidup Ku ,Ada Beberapa Karangan)
Ini bukan novel tentang orang hebat.
Ini novel tentang kita. Tentang kamu, aku, dan semua orang yang pernah duduk di kursi paling belakang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jiejie_IYAYA'S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Setengah Hati di Citilink
Semilir angin sore selalu punya cara sendiri untuk memanggil kenangan lama. Ingatan itu mendadak balik lagi ke masa-masa SMK, tepatnya waktu kami masih duduk di kelas 12. Masa di mana tugas sekolah mulai menumpuk, tapi keinginan buat main bareng teman justru lagi tinggi-tingginya.
Waktu itu, kelompok kecil kami sebenarnya cuma berempat: aku, Dita, Siti, dan Lilis. Kami berempat ini tipe yang kalau kemana-mana pasti barengan, dari mulai ke kantin sampai nongkrong di pojokan sekolah. Tapi entah gimana awalnya, muncul satu orang lagi yang mulai sering gabung bareng kami. Namanya Amel. Jujur, aku sendiri agak lupa gimana persisnya Amel bisa makin dekat dan ikut nongkrong, tapi ya sudahlah, makin ramai kan biasanya makin seru.
Sekitar seminggu sebelum hari Jumat yang ditunggu-tunggu, kami berlima merencanakan satu agenda besar: nonton bioskop bareng. Buat ukuran anak sekolah, rencana ini butuh persiapan matang. Biar uangnya gak terpakai buat beli jajan lain, kami sepakat buat patungan dan menabung.
Uang tabungan itu kami titipkan ke Dita. Kenapa Dita? Soalnya dia tipe orang yang paling rapi dan bisa dipercaya kalau urusan pegang uang. Dita sempat menolak halus karena takut ketingsut, tapi setelah kami bujuk ramai-ramai, akhirnya dia mau juga jadi pemegang kas. Setiap hari—atau sesempatnya kami kalau lagi ada uang lebih—kami rajin menyisipkan saku buat disetor ke Dita.
H-2 sebelum hari H, suasana makin seru. Kami kumpul buat menentukan film apa yang mau ditonton. Setelah perdebatan kecil antara mau nonton film horor atau film sedih, pilihan akhirnya jatuh ke film drama yang bikin mewek. Judul pastinya aku agak lupa, tapi yang jelas ada kata-kata “Days”-nya gitu. Pokoknya dari trailernya aja udah kelihatan kalau film ini bakal nguras air mata. Rencana sudah matang, tiket aman, dan semangat kami udah di puncak.
Tapi, dasar manusia cuma bisa merencana. Pas hari H tiba, momen yang paling bikin elus dada malah terjadi. Amel mendadak ngasih kabar kalau dia gak bisa ikut. Padahal itu tinggal hitungan jam sebelum kita berangkat! Alasannya ada urusan mendadak.
Jujur, ada rasa kesal yang menyelip di hati. Soalnya, ini bukan pertama kalinya Amel begini. Dia memang punya kebiasaan pembatal janji sepihak tepat di menit-menit terakhir. Tapi ya mau gimana lagi? Daripada merusak suasana dan bikin rencana yang udah disusun seminggu hancur berantakan, kami berempat berusaha lapang dada. Ya sudahlah, mungkin urusannya memang penting banget. Kami mengikhlaskan Amel gak ikut.
Akhirnya, perjalanan tetap berlanjut. Kami berempat—aku, Dita, Siti, dan Lilis—berangkat menuju bioskop yang ada di Festival Citylink Bandung. Begitu sampai di mall, rasa kecewa karena Amel batal ikut perlahan terobati oleh kebersamaan kami. Sebelum masuk ke studio, kami sempat heboh foto-foto dan bikin video kenang-kenangan di depan poster bioskop.
Saat film dimulai, ruangan bioskop yang dingin mendadak berubah haru. Alur ceritanya benar-benar menyentuh dan bikin tenggorokan tercekat. Begitu masuk babak pungkasan atau ending film, pertahanan kami runtuh total. Kami berempat menangis bombay! Aku yang biasanya paling tahan tahan gengsi pun akhirnya ikut mewek sesenggukan. Ceritanya benar-benar sedih dan pas banget ngenai perasaan. Pas keluar studio, mata kami semua sudah merah dan sembap, tapi justru di situ serunya. Sambil ngusap sisa air mata, kami malah tertawa melihat muka masing-masing yang benyok habis menangis, lalu sibuk bikin video lagi buat mengabadikan momen muka sembap itu.
Puas menguras emosi di bioskop, kami gak langsung pulang. Kami jalan-jalan santai keliling mall dan mampir ke toko Oh! Some. Di sana kami cuma liat-liat barang lucu tanpa ada niat beli. Nah, kelakuan ajaibku mulai keluar di sini. Melihat deretan produk make-up yang jujurly harganya agak menguras kantong anak sekolah, aku cuma bisa nyobain tester-nya aja. Lumayan kan, bisa dandan gratis dan merasakan make-up mahal walaupun cuma sebentar. Soal belinya sih, ya nanti-nanti aja kalau udah sukses, he-he.
Hari pun makin sore. Setelah puas keliling dan tertawa puas, kami akhirnya berpisah dan pulang ke rumah masing-masing.
Pengalaman hari itu menyisakan satu pelajaran manis sekaligus getir. Karakter orang memang beda-beda; ada yang gampang mengumbar janji tapi paling cepat ingkar, dan ada yang selalu menghargai setiap detik kebersamaan. Amel mungkin melewatkan hari itu dengan alasannya sendiri, tapi buat kami berempat, Jumat itu tetap jadi salah satu kenangan SMK paling indah yang bakal terus diingat.