Indonesia
NovelToon NovelToon
Mahkota Bunga Dan Bayangan Hati

Mahkota Bunga Dan Bayangan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:429
Nilai: 5
Nama Author: AZKA DINARA

Di tengah kemegahan Kekaisaran Langit Permata, di mana kekuasaan berpadu dengan tradisi kuno dan setiap langkah selalu diawasi, lahirlah kisah cinta yang tumbuh perlahan, lembut namun kokoh seperti akar pohon tua yang menjalar dalam tanah.

Liān Huā, putri cerdas dan berjiwa bebas dari keluarga pejabat terpercaya, dipindahkan ke ibu kota bersama keluarganya. Berbeda dari wanita-wanita istana yang berusaha tampil sempurna dan menuruti segala aturan, dia tetap menjaga ketulusan hati dan keberaniannya — sifat yang justru membuatnya menarik perhatian Kaisar Yuán Zhēn, penguasa yang dikenal dingin, tegas, dan tak tergoyahkan oleh siapa pun.

Di mata rakyat dan pejabat, Yuán Zhēn adalah kaisar yang hebat dan jauh. Namun di balik wajah berwibawa itu, tersembunyi hati yang kesepian dan rindu pada kehangatan sejati. Pertemuan pertamanya dengan Liān Huā mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AZKA DINARA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEMBALINYA PUTRI YANG HILANG

Suara Yuán Zhēn terdengar tenang, tetapi seluruh ruangan merasakan tekanan di balik kata-katanya.

Pengawal yang berlutut di hadapannya segera menundukkan kepala.

“Yang Mulia, seorang perempuan yang ciri-cirinya menyerupai Putri Ning terlihat memasuki ibu kota melalui gerbang timur pagi ini. Ia datang dengan kereta sederhana dan hanya ditemani dua orang pengawal.”

“Ke mana ia pergi?”

“Kami kehilangan jejaknya setelah keretanya memasuki kawasan lama di sebelah utara kota.”

Yuán Zhēn terdiam.

Kawasan utara.

Tempat yang ditunjukkan pada peta tua milik Paviliun Yún.

Ia menoleh kepada Pangeran Rui.

“Paman, apakah Anda sudah mengetahui kedatangannya?”

Pangeran Rui tidak segera menjawab. Tatapannya tertuju pada liontin tua yang tergeletak di atas meja.

“Jika perempuan itu benar-benar Putri Ning,” katanya akhirnya, “kedatangannya berarti masa lalu yang selama ini kita kubur telah kembali menuntut jawaban.”

“Namun, Paman mengatakan bahwa beliau seharusnya duduk di takhta sebelum ayahku.”

“Karena memang demikian.”

Liān Huā berdiri dengan wajah pucat.

“Maafkan saya, tetapi saya tidak mengerti. Mengapa ibu saya memiliki hubungan dengan takhta kerajaan?”

Pangeran Rui menatapnya lama.

“Karena ibumu bukan perempuan biasa yang meninggalkan istana akibat perselisihan keluarga. Ia adalah putri tertua dari kaisar terdahulu. Menurut urutan pewarisan pada masa itu, dialah yang memiliki hak pertama untuk memimpin kerajaan.”

Liān Huā merasakan pikirannya berputar.

“Kalau begitu, mengapa ayah Kaisar yang naik takhta?”

“Karena Putri Ning menghilang sebelum penobatan. Dewan Istana menyatakan bahwa beliau tidak lagi dapat menjalankan tugas kerajaan. Setelah itu, saudara laki-lakinya diangkat menjadi kaisar.”

Yuán Zhēn menyipitkan mata.

“Dan tidak seorang pun menyelidiki kepergiannya?”

“Penyelidikan dilakukan,” jawab Pangeran Rui. “Tetapi seluruh saksi menghilang atau menarik kembali kesaksian mereka. Tidak lama kemudian, muncul kabar bahwa Putri Ning meninggal karena sakit.”

“Padahal beliau masih hidup,” bisik Liān Huā.

Pangeran Rui mengangguk pelan.

“Setidaknya, itulah yang mulai kita curigai sekarang.”

Liān Huā menatap liontin di meja.

Jika ibunya benar-benar Putri Ning, berarti dirinya mungkin memiliki hubungan langsung dengan garis pewaris kerajaan.

Namun, ada satu hal yang lebih mengganggunya.

“Yang Mulia,” katanya kepada Pangeran Rui, “jika ibu saya memiliki hak atas takhta, mengapa saya harus disembunyikan?”

Pangeran Rui tidak langsung menjawab.

Yuán Zhēn mengambil alih pertanyaan itu.

“Karena keberadaanmu dapat mengubah keseimbangan kekuasaan di istana.”

Liān Huā menoleh kepadanya.

“Jadi, selama ini aku disembunyikan demi politik?”

“Bisa jadi. Tetapi kita belum mengetahui apakah itu satu-satunya alasan.”

Tatapan Yuán Zhēn melembut ketika melihat kebingungan di wajahnya.

“Aku tidak akan membiarkan siapa pun menggunakan identitasmu untuk memaksamu mengambil jalan yang tidak kauinginkan.”

Liān Huā terdiam.

Ia menghargai perkataan itu, tetapi hatinya belum menemukan ketenangan.

Ia tidak pernah meminta menjadi bagian dari perebutan takhta.

Ia hanya ingin mengetahui siapa dirinya dan mengapa ibunya menghilang.

---

Di kawasan utara ibu kota, sebuah kereta berhenti di depan kediaman tua yang hampir tertutup tanaman merambat.

Seorang perempuan turun perlahan.

Usianya tidak lagi muda. Rambutnya disanggul sederhana, dan sebagian wajahnya tertutup kerudung tipis. Meskipun demikian, sikapnya menunjukkan bahwa ia pernah terbiasa hidup di lingkungan kerajaan.

Ia berdiri di depan pintu untuk beberapa saat.

“Apakah tempat ini masih sama seperti dahulu?” tanyanya.

Seorang perempuan yang menemaninya mengangguk.

“Tidak banyak yang berubah, Paduka.”

Perempuan itu memejamkan mata.

Sudah bertahun-tahun ia tidak mendengar seseorang memanggilnya dengan sebutan tersebut.

“Jangan panggil aku begitu lagi,” katanya lirih. “Aku sudah meninggalkan kehidupan itu.”

“Namun, Nona Liān Huā kini berada di istana.”

Tubuh perempuan itu menegang.

“Dia sudah ditemukan?”

“Ya. Kaisar sedang menyelidiki masa lalunya.”

Perempuan itu menggenggam ujung lengan bajunya.

“Siapa yang memberitahunya?”

“Kami belum mengetahui siapa yang mengirim dokumen kepada Paviliun Yún.”

Ia menatap pintu kediaman yang tertutup.

“Kalau begitu, waktuku semakin sedikit.”

“Apakah Paduka akan menemuinya?”

Perempuan itu tidak segera menjawab.

Ada kerinduan yang telah ia simpan selama bertahun-tahun, tetapi bersamaan dengan itu terdapat ketakutan yang jauh lebih besar.

“Belum,” katanya akhirnya.

“Jika aku muncul sekarang, orang-orang yang mengincarnya akan segera mengetahui bahwa dia benar-benar putriku.”

Ia berbalik kepada pengawalnya.

“Cari tahu siapa yang membuka kembali arsip kerajaan. Aku harus mengetahui seberapa banyak kebenaran yang sudah mereka temukan.”

---

Sementara itu, di kediaman Liān Huā, Xiǎo Yàn membantu majikannya menyimpan surat lama dari ibunya.

“Nona, apakah Anda percaya bahwa perempuan yang terlihat di ibu kota itu benar-benar ibu Anda?”

Liān Huā menatap jendela.

“Aku ingin percaya.”

“Namun?”

“Aku takut berharap terlalu banyak.”

Xiǎo Yàn berhenti melipat kain.

Liān Huā tersenyum tipis, tetapi senyum itu tidak mencapai matanya.

“Sejak semua ini dimulai, setiap jawaban selalu melahirkan pertanyaan baru. Aku bahkan tidak tahu apakah kenangan masa kecilku benar-benar milikku atau sengaja ditanamkan oleh orang lain.”

“Kenangan Nona tetap berharga, sekalipun ada bagian yang belum Nona ingat.”

Liān Huā memandang pelayannya.

“Kau selalu tahu bagaimana membuatku sedikit lebih tenang.”

Xiǎo Yàn tersipu kecil.

“Saya hanya mengatakan apa yang saya yakini.”

Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu.

Seorang pengawal masuk dan menyerahkan sepucuk surat.

“Pesan dari Yang Mulia Kaisar.”

Liān Huā membuka surat itu.

Tulisan Yuán Zhēn singkat.

Jangan meninggalkan kediaman sendirian. Aku telah mengirim pengawal tambahan. Ada seseorang yang sedang berusaha mendekatimu, dan aku belum mengetahui niatnya.

Liān Huā membaca surat itu sekali lagi.

Di bagian bawah, terdapat tambahan tulisan yang berbeda.

Jika seseorang datang dan mengaku sebagai keluargamu, jangan langsung mempercayainya. Mintalah dia menunjukkan lambang phoenix.

Liān Huā tertegun.

Lambang phoenix.

Lambang yang terdapat pada surat ibunya dan liontin tua milik Pangeran Rui.

Mengapa Yuán Zhēn memberikan peringatan seperti itu?

---

Di aula utama, Yuán Zhēn sedang menghadapi laporan lain.

“Yang Mulia,” ujar Lù Shān, “kami menemukan seseorang yang memasuki kawasan utara sebelum kedatangan perempuan yang diduga Putri Ning.”

“Siapa?”

“Seorang utusan dari kediaman Paman Agung Zhāng.”

Yuán Zhēn meletakkan kuasnya.

“Apakah mereka bertemu?”

“Kami belum dapat memastikan. Namun, utusan itu meninggalkan kawasan tersebut membawa sebuah kotak kecil.”

“Di mana kotak itu sekarang?”

“Belum ditemukan.”

Yuán Zhēn berdiri dan berjalan ke sisi meja.

Paman Agung Zhāng selama ini berusaha mengendalikan penyelidikan dengan menanamkan petunjuk palsu. Kini, utusannya muncul di tempat yang mungkin menjadi persembunyian Putri Ning.

Kebetulan seperti itu terlalu mencurigakan.

“Periksa semua hubungan antara keluarga Zhāng dan Dewan Istana pada tahun ketika Putri Ning menghilang.”

“Baik, Yang Mulia.”

“Dan jangan menyentuh siapa pun tanpa bukti. Aku ingin mengetahui siapa yang memberi perintah, bukan sekadar menangkap orang yang menjalankannya.”

Lù Shān menunduk.

“Saya mengerti.”

Sebelum ia pergi, Yuán Zhēn menambahkan, “Ada satu hal lagi. Apakah Paviliun Yún memiliki pemimpin yang masih hidup?”

Lù Shān terdiam.

“Menurut kabar yang saya terima, pemimpin terakhir mereka menghilang bertahun-tahun lalu.”

“Namanya?”

“Tidak pernah tercatat dalam dokumen yang saya lihat.”

Yuán Zhēn menatapnya tajam.

“Temukan namanya.”

---

Malam itu, Xiǎo Lán menerima kunjungan Paman Agung Zhāng.

Wajahnya tampak gelisah.

“Paman, apakah kabar itu benar? Putri Ning telah kembali?”

Paman Agung Zhāng menatapnya tanpa menjawab.

“Kalau beliau masih hidup, semua yang kita lakukan selama ini akan terbongkar.”

“Tidak semuanya,” kata Paman Agung Zhāng dingin.

Xiǎo Lán mengerutkan kening.

“Apa maksud Paman?”

“Putri Ning mungkin masih hidup, tetapi itu tidak berarti dia dapat membuktikan apa yang terjadi bertahun-tahun lalu.”

“Bagaimana dengan Liān Huā?”

Paman Agung Zhāng menatap ke arah jendela.

“Gadis itu adalah bagian terpenting dari seluruh persoalan. Selama identitasnya belum dikonfirmasi, kita masih dapat mempertanyakan klaim apa pun tentang dirinya.”

Xiǎo Lán menunduk, berpikir keras.

“Kalau begitu, kita harus menemukan Putri Ning lebih dahulu.”

“Tidak.”

Xiǎo Lán mengangkat wajah.

Paman Agung Zhāng melanjutkan, “Jika kita mencarinya secara terbuka, Kaisar akan mengetahui bahwa kita takut kepadanya.”

“Lalu apa yang harus kita lakukan?”

“Kita akan membiarkan Kaisar menemukan ibunya.”

Xiǎo Lán tampak tidak memahami maksudnya.

Paman Agung Zhāng tersenyum tipis.

“Ketika mereka akhirnya bertemu, kebenaran yang selama ini mereka yakini akan menjadi awal dari keraguan mereka sendiri.”

---

Menjelang tengah malam, Liān Huā kembali membuka surat ibunya.

Ia membaca setiap baris dengan hati-hati, berharap menemukan petunjuk yang terlewat.

Ketika hendak melipatnya, ia melihat sesuatu di balik lipatan kertas yang sebelumnya tidak diperhatikannya.

Ada tulisan sangat kecil di sana.

Liān Huā mendekatkan surat itu ke cahaya lentera.

Tulisan tersebut hanya terdiri dari beberapa kata.

Jika kau ingin menemukan ibumu, carilah bunga yang tidak pernah mekar.

Liān Huā mengerutkan kening.

Bunga yang tidak pernah mekar?

Ia pernah mendengar ungkapan itu ketika kecil, tetapi tidak ingat dari siapa.

Tiba-tiba, ia teringat pada sebuah lukisan tua yang pernah dilihatnya di lorong istana. Lukisan itu menggambarkan taman musim dingin dengan satu pohon plum yang tidak berbunga.

Di sudut lukisan terdapat sebuah plakat kecil.

Paviliun Han Mei.

Liān Huā segera berdiri.

Namun, sebelum ia sempat memanggil Xiǎo Yàn, terdengar suara dari luar jendela.

“Jangan pergi ke sana.”

Liān Huā terkejut dan berbalik.

Seorang perempuan berdiri di balik tirai jendela yang sedikit terbuka. Wajahnya tertutup kerudung, tetapi suaranya terdengar tenang.

“Siapa kau?” tanya Liān Huā.

Perempuan itu melangkah mendekat, lalu mengangkat sebuah liontin dengan lambang phoenix.

“Aku datang untuk memperingatkanmu.”

“Apakah kau berasal dari Paviliun Yún?”

“Pernah.”

Liān Huā menggenggam suratnya erat-erat.

“Apakah kau mengenal ibuku?”

Perempuan itu terdiam cukup lama.

Kemudian ia menjawab, “Aku mengenal perempuan yang melahirkanmu.”

Jantung Liān Huā berdebar.

“Di mana dia?”

Perempuan itu memandang ke arah pintu, seolah khawatir seseorang akan mendengar percakapan mereka.

“Ibumu masih hidup. Tetapi jika kau ingin bertemu dengannya, kau harus mengetahui satu hal terlebih dahulu.”

“Apa?”

Perempuan itu mendekat dan berbisik,

“Orang yang selama ini melindungimu dari kejauhan bukanlah satu-satunya orang yang mengetahui identitas aslimu.”

Ia meletakkan secarik kertas di tangan Liān Huā.

Di atasnya tertulis sebuah nama.

Nama yang membuat Liān Huā kehilangan kata-kata.

Yuán Zhēn.

Sebelum Liān Huā sempat bertanya lebih jauh, perempuan itu telah menghilang di balik kegelapan malam.

Liān Huā berdiri terpaku.

Mengapa nama Kaisar tercantum dalam rahasia masa lalunya?

Apakah Yuán Zhēn telah mengetahui identitasnya sejak awal?

Ataukah ia juga merupakan bagian dari rahasia yang selama ini disembunyikan keluarga kerajaan?

Di luar kediaman, lonceng istana berbunyi tiga kali.

Dan jauh di kawasan utara, di depan Paviliun Han Mei yang telah lama ditinggalkan, seorang perempuan berjubah putih berdiri memandangi pintu.

Di tangannya terdapat sebuah lukisan lama.

Lukisan seorang bayi perempuan yang mengenakan liontin giok.

Di bawah lukisan itu tertulis satu kalimat:

Dua anak dilahirkan pada malam yang sama, tetapi hanya satu nama yang diizinkan tercatat dalam sejarah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!