Indonesia
NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua: Pengantin Pengganti Sang Mafia

Kehidupan Kedua: Pengantin Pengganti Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Pengantin Pengganti / Penyesalan Keluarga
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: riri-can

Serena mati tersambar petir saat bermain hujan di tengah malam karena bosan, Serena berpikir dia akan ke alam baka. Siapa sangka jiwa Serena malah masuk ke tubuh seorang gadis bernama Serena juga, seorang gadis malang yang dikorbankan keluarganya sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi seorang mafia kejam untuk melunasi hutang.

Sebagai seorang pecinta dunia mafia, Serena sangat menikmati hidupnya didunia baru ini. Serena berencana akan memikat hati mafia kejam itu hingga jatuh ke pelukannya.

Bagaimana kehidupan Serena di dunia ini, apakah Serena mampu meluluhkan hati sang mafia? Ataukah Serena malah menjadi mainan mafia itu sendiri?. Stay tune!.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berniat Balas Dendam

Hari demi hari berlalu di dalam mansion megah Ziegler. Kemampuan Serena dalam bidang menembak dan memanah kian hari kian meningkat pesat, membuat para instruktur bahkan Anna merasa kagum dengan kemajuan yang ditunjukkan oleh sang nyonya muda.

​Namun, di balik kehebatannya memegang senjata jarak jauh, ada satu bidang yang sama sekali tidak dikuasainya yaitu bela diri.

​Serena sudah berusaha semaksimal mungkin mengikuti arahan pelatih fisik di ruang latihan, namun hasilnya tetap nihil. Keseimbangan tubuhnya sangat payah. Setiap kali ia mencoba memasang kuda-kuda pertahanan diri atau melakukan lemparan bantingan dasar, kakinya pasti kehilangan keseimbangan dan berujung pada jatuhnya tubuhnya kelantai dengan tidak elegan.

​Lalu, di mana keberadaan sang suami selama beberapa hari terakhir?

​Sergio ternyata belum juga menjejakkan kaki kembali ke mansion sejak kepentingannya ke luar kota minggu lalu. Dari berita selintas dan laporan yang tak sengaja didengarnya dari para penjaga, Sergio rupanya sedang sibuk mengurus dan mengaudit beberapa perusahaan legal besar yang menjadi kedok sekaligus aset gurita bisnis sindikat mereka di luar daerah.

​Dalam hati, Serena sempat berdecih pelan saat mengetahuinya. "Ternyata seorang mafia kejam seperti dia masih sempat-sempatnya mengurus perusahaan korporasi, ya? Sungguh mengesankan," batin Serena sinis namun diiringi rasa kagum yang terselubung.

​Pikiran itu lantas membawanya pada rasa penasaran yang mendalam. Sebenarnya, seberapa kaya raya sosok Sergio Maximilian Ziegler ini? Dan seluas apa kekuatan serta kekuasaan mutlak yang dimiliki pria itu di dunia nyata?

​Namun, lamunan Serena tentang kekayaan suaminya seketika bergeser ke topik yang jauh lebih membakar emosinya, keluarga pemilik tubuh yang dia tempati sekarang.

​Selama ia disekap dalam sangkar emas penuh aturan ini, Serena sering kali memikirkan nasib ayah kandung, ibu tiri, serta saudari tirinya di rumah lama. Darahnya mendidih seketika setiap kali ia teringat bagaimana mereka memperlakukan pemilik tubuh dulu hingga menjadikannya kambing hitam, menganggapnya sebagai beban keluarga, dan dengan tega melemparkannya ke dalam pernikahan neraka ini untuk menggantikan posisi Ivanna, sang kakak tiri yang manja dan serakah.

"​Seharusnya, wanita sialan bernama Ivanna itulah yang berada di posisi ini! Menikah dengan monster dingin seperti Sergio dan merasakan kengerian di hutan kemarin!" geram Serena dalam hati.

​Sebuah rencana jahat dan memuaskan tiba-tiba terlintas di benak Serena. Ia bertekad, suatu hari nanti, setelah ia mendapatkan izin penuh untuk keluar dari mansion ini, ia akan pulang dan memberikan pembalasan telak pada keluarganya. Ia ingin mencengkeram rahang mereka, menyumpal mulut busuk ibu tiri dan kakaknya dengan kata-kata telak, lalu setelah itu ia akan tertawa terbahak-bahak melihat kehancuran mereka. Memikirkan skenario balas dendam itu saja sudah membuat hati Serena berbunga-bunga bahagia.

​"Lihat saja nanti! Setelah aku mendapatkan izin keluar dari sini, akan kubungkam mulut-mulut busuk keluarga sialan itu!" ucap Serena setengah berbisik di kamarnya, matanya menyala penuh bara dendam dan antusiasme yang membara.

​"Mulut busuk siapa yang ingin kamu bungkam, hm? Serena?"

​Deg!

​Suara bariton yang sangat dingin, berat, dan familier itu tiba-tiba saja menggema tepat di ambang pintu kamar tidur utama.

​Serena tersentak kaget bukan main. Ia langsung membalikkan badannya dengan cepat, dan betapa terkejutnya ia saat mendapati sosok Sergio Maximilian Ziegler sudah berdiri tegak bersidekap di daun pintu, menatapnya dengan sorot mata biru tajam yang menghujam langsung ke jantung.

"​Sejak kapan pria ini sudah pulang?!" batin Serena histeris. Bukankah berdasarkan informasi Anna, suaminya itu baru akan pulang lusa?! Mengapa monster es ini tiba-tiba muncul tanpa suara bagaikan hantu di siang bolong?!

​Sergio melangkah masuk perlahan, menutup pintu kamar di belakangnya dengan bunyi klik pelan yang terdengar sangat mengintimidasi. Wajah tampan itu tampak lelah usai perjalanan jauh, namun auranya tetap mendominasi seluruh ruangan.

​Serena menyipitkan matanya, merasa kesal karena waktu termenungnya yang indah dan rencana balas dendamnya mendadak terganggu oleh kehadiran pria yang paling dihindarinya minggu ini.

​Sergio terus mendekat hingga jarak di antara mereka hanya tinggal beberapa jengkal saja. Pria itu menatap lurus ke dalam mata istrinya dengan sebelah alis terangkat.

​"Kamu belum menjawab pertanyaanku, Serena," tagih Sergio dengan nada rendah yang menuntut jawaban mutlak.

"Mulut busuk siapa yang ingin kamu bungkam tadi? Siapa yang berani membuat istriku merencanakan kejahatan sebesar itu di dalam kamarku?"

​Serena mendengus pelan, melipat kedua tangannya di dada dengan gaya menantang untuk menyembunyikan rasa gugupnya.

"Apasih! Kepo banget jadi orang!" cibir Serena berani, sengaja membuang mukanya ke samping.

​Melihat sikap acuh tak acuh dan nada bicara istrinya yang sangat berani itu, kesabaran Sergio yang sudah terkikis habis selama perjalanan pulang akhirnya menemui batasnya. Tanpa aba-aba, Sergio langsung merangsek maju, mendorong tubuh Serena ke belakang hingga punggung gadis itu membentur empuknya kasur king size.

​Dalam hitungan detik, Sergio sudah mengurung tubuh Serena di atas ranjang, menopang bobot tubuhnya dengan kedua lengan kokoh di sisi kiri dan kanan sang istri, membuat Serena sama sekali tidak memiliki ruang untuk melarikan diri.

​"Jawab aku, Serena," bisik Sergio tepat di depan wajah istrinya, napas hangat pria itu menerpa kulit pipi Serena.

"Siapa yang ada di dalam kepalamu? Jangan membuatku harus mencari tahu sendiri dengan cara yang kotor."

​Serena mendongak, menatap lekat-lekat manik mata biru terang suaminya yang menyala berbahaya. Meskipun jantungnya berdegup kencang karena jarak mereka yang teramat dekat, harga dirinya menolak untuk terlihat lemah di hadapan pria dominan ini.

​"Kenapa aku harus memberitahumu, hah?!" protes Serena sengit, mencoba mendorong dada bidang Sergio dengan kedua tangannya.

"Memangnya aku tahananmu!" kesal Serena.

​"Kamu memang tahananku, Serena," potong Sergio cepat dengan suara mutlak yang membuat darah Serena mendidih seketika.

"Sejak hari pertama kamu menginjakkan kaki di altar pernikahan kita, statusmu adalah istriku sekaligus tanggung jawab mutlak di bawah pengawasanku. Apa pun yang menyangkut dirimu, termasuk orang-orang yang ingin kamu bungkam, adalah urusanku juga."

​"Ih, menyebalkan sekali!" geram Serena kesal setengah mati, meronta-ronta pelan dalam kurungan tubuh suaminya.

"Lepasin tangan kananku, Max! Berat tahu!"

​"Tidak sebelum kamu memberitahuku siapa orang yang membuatmu ingin membungkam mulut busuk mereka," balas Sergio dingin, sama sekali tidak bergeming dari posisinya yang mengurung sang istri. Pria itu menundukkan sedikit kepalanya, mengamati bibir cemberut Serena dengan tatapan menyelidik.

"Apakah itu ayah kandungmu? Atau ibu tiri dan saudari tirimu yang membuang mu ke sini?"

​Mendengar tebakan tepat sasaran dari Sergio, mata Serena membelalak kaget. Ia tertegun sejenak.

"B-Bagaimana kamu bisa tahu?!" tanyanya keceplosan, wajahnya menunjukkan ekspresi tertangkap basah.

​"Aku tahu segalanya tentang latar belakangmu, Serena," jawab Sergio dengan nada tenang namun penuh kekuasaan.

"Termasuk bagaimana cara mereka memperlakukanmu sebelum aku mengambil alih hidupmu."

​Serena terdiam, giginya menggigit bibir bawahnya perlahan. Kilatan amarah dan rasa sakit masa lalu kembali berkelebat di benaknya.

"Kalau kamu sudah tahu, kenapa kamu tidak membiarkanku membalas perbuatan mereka dan melepaskan aku saja?" suaranya berubah sedikit parau, menyiratkan luka lama yang belum sepenuhnya sembuh.

"Mereka memperlakukanku seperti sampah, Max... Terutama Ivanna dan ibunya. Aku ingin membuat mereka merasakan apa yang aku rasakan."

​Melihat perubahan emosi yang drastis pada wajah istrinya dari yang tadinya marah kini menjadi rapuh, ekspresi Sergio sedikit melunak, meski dominasinya tidak berkurang sedikit pun. Pria itu melepaskan kunciran tangan Serena, lalu perlahan membawa jemari hangatnya untuk mengusap lembut pipi gadis itu.

​"Kamu tidak perlu mengotori tanganmu sendiri untuk membalas mereka, Serena," bisik Sergio lembut namun sarat akan kekejaman mutlak seorang penguasa bawah tanah.

"Cukup katakan satu patah kata saja padaku... dan aku bisa membuat keluarga itu lenyap dari muka bumi ini dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam tanpa sisa."

​Serena merinding mendengar ucapan dingin penuh keyakinan itu. Ia menatap mata suaminya, menyadari bahwa bagi Sergio, menghancurkan sebuah keluarga miskin atau serakah bukanlah perkara sulit, itu semudah membalikkan telapak tangan.

​"Jangan..." cicit Serena pelan, menggelengkan kepalanya lemah.

"Aku tidak mau kamu membunuh mereka dengan cara keji seperti itu... Aku hanya ingin... aku ingin melihat mereka berlutut dan meminta maaf di depanku dengan cara mereka sendiri."

​Sergio menatap lekat-lekat ke dalam manik mata cokelat istrinya, lalu mengangguk kecil mengerti. "Baiklah. Aku akan memegang kata-katamu," ujar Sergio patuh dengan suara baritonnya.

"Tapi sebagai gantinya... jangan pernah berani lagi bersikap ketus, menutup telepon di tengah jalan, atau mencoba kabur dariku saat aku sedang pergi ke luar kota. Mengerti, Nyonya Ziegler?"

​Serena mengerjap-ngerjap, menyadari bahwa suaminya itu ternyata masih mengingat jelas kenakalan yang dilakukannya beberapa hari lalu lewat panggilan video. Wajah Serena merona merah, antara sebal karena di skakmat dan salah tingkah karena jarak mereka yang terlalu dekat.

​"Iya, iya... aku mengerti!" gerutu Serena pura-pura kesal, memalingkan wajahnya agar Sergio tidak melihat rona merah di pipinya.

​Melihat ekspresi menggemaskan dari istrinya itu, tawa kecil yang sangat jarang terdengar akhirnya lolos dari bibir Sergio. Pria itu tidak menyia-nyiakan kesempatan. Sebelum Serena sempat melayangkan protes lagi, Sergio langsung menunduk dan membungkam bibir gadis itu dengan ciuman hangat yang dalam, merayakan kepulangannya ke mansion setelah sekian hari terpisah oleh jarak dan amarah.

Bersambung...

1
Ita Putri
kasihan nasib Callum setelah ini....jangan terlalu kejam hukum Callum nya sergio
It's me Ri🥕: Kayaknya bakalan di bunbun dehh🙏😭
total 1 replies
Mia Camelia
seru banget ngliat tingkah polos serena🤭
Mia Camelia
sergio bisa lembut juga 🤭
Dessy Rinda
klo serenanya jago nela diri sm nembak keren kak thor🤭😁🙏
Dessy Rinda: siiippp
total 2 replies
Mia Camelia
mampir thor🤭
cerita nya bagus thor, pliss jangan di hapus lgi kya 2 judul yg kemarin itu ya😔🤭🤔
Dessy Rinda: semangat nulisnya kk thor,semoga di berikan ide2 cemerlang sehat2 ya kak💪👍
total 2 replies
Sumawita
saya suka dengan cerita nya bagus bangett 🥰🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!