Indonesia
NovelToon NovelToon
Pembantu Tawanan Tuan Mafia

Pembantu Tawanan Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Lari Saat Hamil / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: nova sari

Elena Rossi terpaksa menjadi pembantu di mansion Lorenzo De Luca, Tuan Muda Mafia paling kejam di New York, untuk melunasi hutang ayahnya.

Hari pertama kerja, Elena tidak sengaja melihat rahasia gelap Lorenzo di lantai tiga.

Sejak itu Lorenzo mengurungnya.

"Kau sudah melihat rahasiaku. Sekarang kau milikku. Kau tidak boleh keluar dari rumah ini."

Elena ingin kabur, tapi semakin dia membenci Lorenzo, Lorenzo semakin terobsesi padanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nova sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luna Jadi Ketua Kelas

Hari Selasa di SD De Luca International, ada acara besar.

Pemilihan ketua kelas 1A.

Papan pengumuman di depan aula sudah ditempel poster 3 calon.

Poster pertama, foto Bruno, anak kelas 1 yang badannya paling besar. Tulisannya: *VOTE BRUNO - KETUA PALING KUAT!*

Poster kedua, foto Bella, rambut kuncir dua. Tulisannya: *VOTE BELLA - BAGI PERMEN GRATIS TIAP HARI!*

Poster ketiga, foto Luna. Fotonya pakai mahkota miring, senyum gigi ompong. Tulisannya dibuat Leon semalam: *VOTE LUNA - KETUA PALING BAIK - BAGI STIK KEJU PINK GRATIS!*

Pagi-pagi jam 06.00, mansion De Luca sudah heboh kayak mau perang.

Luna bangun paling pagi. Dia sudah pakai blazer pink, tapi bolak-balik ngaca.

"Mama, Luna gugup. Nanti kalau Luna kalah gimana?" tanya Luna ke Elena yang lagi susah payah pakai kaos kaki karena perut hamil 8 bulan.

Elena yang lihat Luna gugup, langsung jongkok pelan, peluk Luna.

"Sayang, kalah menang gak apa-apa. Yang penting Luna berani pidato di depan teman-teman. Mama bangga," kata Elena.

Leon keluar dari kamar, bawa 2 tas. Tas hitamnya sendiri, dan tas pink Luna. Di tangan Leon ada kotak besar.

"Ma, Pa, ini amunisi kampanye Luna," kata Leon.

Lorenzo yang baru turun tangga, jas hitamnya sudah rapi, pin PAPA SIAGA masih nempel, lihat kotak itu.

"Isinya apa?" tanya Lorenzo.

Leon buka. Isinya 50 bungkus stik keju pink mini, yang semalam Lorenzo suruh Thomas beli di supermarket.

"Ini buat bagi-bagi kalau Luna menang," kata Leon, serius kayak tim sukses beneran.

Lorenzo angguk puas. "Bagus. Strategi bagus. Papa dulu kampanye jadi ketua mafia juga bagi-bagi cerutu. Sekarang bagi stik keju."

Elena geleng-geleng. "Pa, ini pemilihan ketua kelas SD, bukan pemilihan bos mafia!"

Jam 07.30, mobil Rolls Royce sampai di SD.

Aula SD sudah penuh. 20 murid kelas 1, plus 20 orang tua, plus Ms. Clara dan Kepala Sekolah Mr. Antonio.

Elena duduk di barisan depan, perut besarnya bikin dia susah duduk. Lorenzo di sebelahnya, tangan siaga pegang punggung Elena. Leon dan Luna di barisan calon.

Mr. Antonio pidato dulu.

"Hari ini kita akan pilih pemimpin kelas 1A. Pemimpin harus berani, baik, dan tidak boleh bully. Mengerti?" kata Mr. Antonio.

Anak-anak angguk.

Giliran pidato.

Bruno maju pertama. Badannya besar, suaranya kencang.

"Kalau aku jadi ketua, aku akan buat aturan! Siapa yang berisik, lari keliling lapangan 10 kali! Aku kuat, aku bisa jaga kelas!" kata Bruno.

Beberapa anak tepuk tangan takut-takut.

Giliran Bella maju. Bella senyum manis.

"Kalau aku jadi ketua, aku akan bagi permen setiap hari Jumat! Dan aku akan ajak main boneka bareng!" kata Bella.

Anak cewek tepuk tangan meriah.

Sekarang giliran Luna.

Luna naik panggung, kakinya gemetar. Kertas pidatonya yang ditulis pakai krayon pink semalam, jatuh dari tangannya.

Kertasnya jatuh ke lantai panggung.

Luna bengong, mau nangis. Matanya lihat Elena di bawah.

Elena mau berdiri bantu, tapi perutnya besar, susah.

Leon yang lihat Luna mau nangis, langsung lari naik panggung tanpa disuruh Ms. Clara.

Leon ambil kertas yang jatuh, kasih ke Luna, lalu pegang tangan Luna.

"Luna, gak apa-apa, baca aja pelan-pelan. Leon di sini," bisik Leon, tapi mic masih nyala, jadi satu aula dengar.

Luna tarik napas. Suaranya kecil, tapi jelas.

"Halo... aku Luna. Aku... aku mau jadi ketua kelas karena... karena aku mau semua teman bahagia. Kalau aku jadi ketua, aku mau bagi stik keju pink buat semua. Kalau ada yang sedih, aku peluk. Kalau ada yang berantem, aku lerai. Karena Mama aku bilang, jadi ketua itu harus baik, bukan galak. Terima kasih."

Selesai pidato, Luna nunduk.

Satu detik hening.

Lalu, Elena yang di barisan depan langsung berdiri, tepuk tangan paling kenceng, sampai perutnya yang besar ikut goyang.

"BRAVO LUNA! MAMA BANGGA!" teriak Elena, air matanya netes. Hormon hamilnya naik.

Lorenzo ikut berdiri, tepuk tangan. "Itu anak saya!"

Leon di panggung langsung peluk Luna. "Luna hebat!"

Anak-anak lain di aula ikut tepuk tangan meriah. Bahkan Bella tepuk tangan tulus buat Luna.

Ms. Clara yang lihat, sampai lap air mata pakai tisu.

"Pidato yang sangat tulus, Luna," kata Ms. Clara.

Pemilihan dimulai. Setiap anak dapat satu kertas kecil, tulis nama calon.

Elena deg-degan nunggu. Tangannya pegang perutnya yang nendang-nendang terus.

Thomas yang berdiri di belakang Lorenzo bisik, "Tuan, mau saya hitung cepat? Saya sudah suruh 5 anak pilih Luna."

Lorenzo langsung cubit Thomas pelan. "Thomas! Jangan curang! Ini pemilihan jujur!"

Thomas angguk takut.

Ms. Clara buka kertas satu-satu di depan.

"Bruno... 3 suara."

Bruno cemberut.

"Bella... 5 suara."

Bella senyum, gak sedih.

"Luna... 12 suara!"

Ms. Clara angkat kertas terakhir.

"Luna menang! Luna jadi ketua kelas 1A!"

Aula langsung heboh.

Luna bengong di panggung, lalu nangis, tapi nangis bahagia.

"Luna menang! Luna jadi ketua kelas!" teriak Luna, loncat-loncat, mahkotanya jatuh.

Leon gendong Luna di panggung. "Hore! Luna menang! Bodyguard Luna menang!"

Elena yang di bawah sudah nangis sesenggukan. Lorenzo peluk Elena.

"Sayang, jangan nangis, nanti adek di perut ikutan nangis," kata Lorenzo.

Luna turun panggung, lari peluk Elena.

"Mama! Luna menang! Luna jadi ketua kelas!" kata Luna, air matanya masih netes.

Elena peluk Luna erat, meskipun perutnya besar menghalangi. "Mama tahu nak, kamu pasti bisa! Kamu ketua kelas termanis!"

Ms. Clara kasih pin mahkota kecil warna pink ke Luna. Pin ketua kelas.

Luna pasang pin itu di blazernya, gak mau dilepas.

Siang itu, Luna bagi-bagi 50 bungkus stik keju pink ke semua anak kelas 1A, janji kampanyenya ditepati.

Bruno yang kalah, awalnya cemberut, tapi setelah dapat stik keju 3 bungkus dari Luna, dia senyum juga. "Selamat ya Luna."

Bella peluk Luna. "Selamat Luna! Kamu memang paling baik!"

Di mobil pulang, Luna duduk di tengah, pakai pin ketua kelas, pegang tangan Leon.

"Leon, mulai besok Leon jadi wakil ketua ya! Wakilnya ketua Luna!" kata Luna.

Leon angguk. "Siap, Ketua Luna! Bodyguard sekaligus wakil!"

Elena di depan lihat dari kaca spion, senyum bahagia. Perutnya yang besar tiba-tiba mules dikit, tapi mules bahagia.

Lorenzo lihat Elena mules, panik lagi. "Sayang! Mau lahiran?"

Elena ketawa. "Belum Pa, masih 1 bulan lagi. Ini adeknya ikut seneng kakaknya jadi ketua kelas."

Mansion De Luca hari itu penuh tawa. Ketua kelas baru umur 7 tahun, yang kampanyenya cuma pakai stik keju pink dan pelukan.

Apakah Luna bisa jadi ketua kelas yang baik tanpa bikin aturan aneh kayak harus pakai mahkota tiap hari?

*BERSAMBUNG*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!