Anyara menikahi Juned, pria dari keluarga berkecukupan, tapi hidupnya jauh dari nyaman — suami pelit karena terlalu penurut pada ibunya, mertua cerewet tak henti mencela, tetangga sibuk menggosip. Di balik itu, Juned diam-diam membiayai wanita lain.
Takdir mempertemukan Anyara dengan Hans, pria kaya yang ia selamatkan dari preman dengan cara kocak yang justru membuat Hans jatuh hati diam-diam. Ketika Hans kelak balas menyelamatkan Anyara dari bahaya, kedekatan mereka tumbuh perlahan — hingga kebohongan Juned akhirnya terbongkar, dan Anyara harus memilih jalan hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SIDANG PERTAMA
Dua minggu setelah surat gugatan resmi diajukan, sepucuk surat panggilan sidang dari Pengadilan Agama akhirnya tiba di rumah, dialamatkan atas nama Juned Pratama. Ratih yang menerima surat itu dari tukang pos, menyerahkannya langsung ke Anyara dengan tangan gemetar.
"Ini udah dateng, Nak. Kamu mau kasih langsung ke Juned, atau biar Ibu aja yang kasih?"
"Saya aja, Bu," jawab Anyara, mengambil amplop itu dengan perasaan campur aduk—bukan lagi ketakutan seperti sebelumnya, melainkan sebuah ketenangan yang datang dari kepastian arah yang sudah ia pilih.
Ia menemui Juned yang masih tinggal di kamar tamu sejak kejadian dua minggu lalu, jarang berinteraksi langsung kecuali untuk hal-hal yang benar-benar penting.
"Mas, ini surat panggilan sidang dari pengadilan," ucap Anyara, menyerahkan amplop itu.
Juned menerimanya dengan tangan gemetar, membuka amplop itu perlahan, membaca isinya dengan wajah yang semakin pucat. "Ra, sidang pertamanya minggu depan?"
"Iya, Mas. Sesuai yang udah dijelasin Pak Bram, tahap pertama biasanya mediasi dulu, buat liat apa masih ada kemungkinan rujuk."
Juned menatap istrinya, matanya penuh harap yang sia-sia. "Ra, apa masih ada kesempatan buat kita coba lagi? Aku janji, kali ini beneran serius mau berubah."
Anyara menghela napas, menatap suaminya dengan tatapan yang sudah jauh berbeda dari beberapa bulan lalu—tidak lagi penuh amarah atau kesedihan, melainkan ketegasan yang sudah mengakar kuat. "Mas, saya udah dengerin janji itu berkali-kali. Tapi kenyataannya, bahkan setelah kejadian struk hotel, bahkan setelah saya tau soal Dinda, Mas masih lanjutin sama Melia, terus sama Sinta. Saya udah nggak punya alasan buat percaya lagi."
"Tapi Ra, gimana sama Sinta yang lagi hamil? Kalau kita cerai, gimana nasib aku sama dia nanti?"
Pertanyaan itu, meski terdengar egois, membuat Anyara semakin yakin dengan keputusannya. "Itu urusan Mas sama Sinta, Mas. Saya udah nggak mau lagi jadi bagian dari masalah itu."
Sore harinya, Anyara menceritakan perkembangan itu kepada Hans, yang responsnya penuh dukungan seperti biasa.
"Jadi minggu depan udah mulai sidang mediasi, Pak. Saya udah siap mental buat hadapin apa pun yang terjadi di sana."
"Bagus, Mbak. Mediasi itu biasanya cuma formalitas dulu, apalagi kalau salah satu pihak udah yakin sepenuhnya kayak Mbak sekarang."
"Saya jadi mikir, Pak, kira-kira gimana ya reaksi Mas Juned di sidang nanti. Dia tadi masih coba minta kesempatan lagi."
"Wajar aja, Mbak, orang yang udah kepepet biasanya bakal coba segala cara. Tapi Mbak udah tau sendiri, keputusan ini udah yang paling tepat buat Mbak."
"Iya, Pak. Makasih selalu ngingetin saya soal itu."
Hari sidang mediasi pun tiba. Anyara mengenakan pakaian rapi yang baru saja ia beli dari gaji pertamanya di butik, sebuah simbol kecil dari kemandirian yang baru saja ia bangun. Ratih ikut menemani, meski hanya sebagai pendukung moral karena tidak diizinkan masuk ke ruang mediasi.
Di dalam ruang mediasi, seorang mediator perempuan paruh baya memimpin sesi dengan tenang, menanyakan berbagai hal kepada kedua belah pihak—alasan perceraian, kemungkinan rujuk, hingga pembagian harta dan tanggung jawab pasca-cerai.
"Bapak Juned, apakah Bapak masih berkeinginan untuk mempertahankan pernikahan ini?" tanya mediator itu.
Juned menunduk, tampak bergulat dengan berbagai perasaan yang campur aduk. "Saya... saya ingin, Bu. Tapi saya juga sadar, kesalahan saya udah terlalu banyak buat dimaafin."
"Ibu Anyara, bagaimana dengan pandangan Ibu?"
Anyara menatap lurus ke arah mediator, suaranya tegas tanpa keraguan. "Saya sudah memutuskan untuk melanjutkan proses perceraian ini, Bu. Kepercayaan yang sudah hancur berkali-kali tidak bisa dibangun kembali hanya dengan penyesalan sesaat."
Mediator itu mencatat pernyataan itu, lalu melanjutkan ke pembahasan teknis lainnya—soal harta bersama yang ternyata tidak banyak selain tabungan kecil di rekening bersama, dan kesepakatan bahwa Anyara tidak akan menuntut nafkah pasca-cerai mengingat ia sudah memiliki pekerjaan sendiri, hanya meminta hak-hak dasar yang memang menjadi bagiannya secara hukum.
Selesai sesi mediasi yang berlangsung sekitar satu jam, Anyara keluar ruangan dengan perasaan lega, meski lelah secara emosional. Ratih segera menghampirinya, wajahnya penuh kekhawatiran.
"Gimana, Nak? Lancar?"
"Lancar, Bu. Mediatornya bilang, karena saya udah yakin nggak mau rujuk, proses selanjutnya bakal lanjut ke sidang pembuktian, mungkin sekitar sebulan lagi."
Ratih mengangguk, memeluk Anyara sejenak. "Ibu bangga sama kamu, Nak. Kamu jauh lebih kuat dari yang Ibu kira selama ini."
Dalam perjalanan pulang, Anyara menyempatkan diri mengabari Hans soal hasil mediasi hari itu.
"Pak, mediasinya udah selesai. Saya tetep pada keputusan saya buat lanjutin cerai."
"Alhamdulillah, Mbak. Saya bangga banget sama keteguhan Mbak. Gimana perasaannya sekarang?"
"Lega, Pak. Meski masih ada proses panjang ke depan, tapi rasanya saya udah di jalur yang tepat."
"Itu yang penting, Mbak. Satu langkah pasti lebih baik daripada terus terjebak dalam keraguan."
Anyara tersenyum membaca balasan itu, menatap keluar jendela angkot yang membawanya pulang, merasakan campuran emosi yang kini lebih didominasi oleh rasa syukur dan harapan, dibanding kesedihan yang dulu selalu menyelimuti setiap langkahnya.
(Bersambung ke Bab 31)