Lima sahabat Pramuka Penegak — Bima, Arga, Gilang, Maira, dan Elina— masuk ke Rimba Larangan hanya untuk mencari jejak yang hilang.
Satu langkah salah, mereka terperosok ke dimensi lain yang tak terlihat.
Saat Elina tiba-tiba hilang tanpa jejak, Maira panik dan berteriak memanggil namanya sekeras-kerasnya.
Itulah kesalahan fatal mereka.
Teriakan itu membangunkannya.
BHAYAVEDIN — makhluk buta Sang Perasa Takut yang memburu setiap suara. Semakin keras mereka berteriak, semakin dekat ia datang.
Kini mereka terjebak dalam aturan mengerikan: dilarang bersuara.
Dengan satu teman hilang di dalam kabut dan makhluk itu yang terus memburu, satu-satunya cara pulang adalah memecahkan kode rumit di Gerbang Kelima.
Tapi bagaimana memecahkan kode saat kau bahkan dilarang untuk berteriak meminta tolong?
Berhasilkah mereka keluar??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Narishea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 29 : Bertiga Jadi Berlima
Dua tangan akar Bhayavedin udah di atas.
Tingginya 3 meter, kalau di-smash ke bawah, Bima, Maira, sama Arga yang setengah badan masih di dalam tanah bakal gepeng ketanam bareng tanah hitam itu.
Bhayavedin gak pakai ancang-ancang. Kayu gak butuh ancang.
WUUSSHH...
Turun.
Di detik itu...
BRAKK!!
Bukan tanah yang kena.
Elina sama Gilang.
Mereka lari dari samping Pohon Induk. Gak jinjit lagi. Lari beneran. Tanah bunyi kecipak lumpur kencang, tapi mereka udah gak peduli aturan jangan bersuara. Temannya mau mati.
Gilang lompat, badannya nabrak punggung Bima sama Maira, dorong mereka berdua mental ke samping, keluar dari area smash.
Elina lompat ke arah Arga, tangannya langsung meluk kepala Arga yang masih nongol, narik pakai badan, bukan pakai tangan doang.
DUAKK!!
Dua tangan akar Bhayavedin menghantam tanah kosong tempat Bima sama Maira tadi gali. Tanah hitam muncrat kemana-mana. Akar-akar kecil di dalam tanah putus semua kena hantaman. Tanahnya bolong sedalam lutut.
Kalau tadi telat 1 detik, kepala Bima pecah.
Bhayavedin gagal. Tangan akarnya nancep di tanah, kejebak sebentar di lumpur hitam yang dalam.
Gilang yang habis dorong Bima sama Maira, jatuh guling di tanah. Napasnya ngos-ngosan kencang, suaranya bocor. Dia udah ngelanggar aturan kedua kalinya,teriak, terus lari bunyi.
Mata-mata pohon yang tadi ketutup lumpur, yang di batang-batang jauh, mulai bergetar lagi. Lumpur penutupnya retak karena getaran hantaman Bhayavedin.
Krek...Satu mata kebuka lagi, ngintip.
Elina yang meluk kepala Arga, dia tarik, tarik terus. Dia gak peduli tangannya masuk ke tanah hitam yang hangat kayak daging itu.
"ARGA TARIK TANGAN GUE!!" Elina udah gak bisik. Dia ngomong, suaranya pelan tapi jelas. Dia juga ngelanggar.
Arga yang dari tadi bekap mulutnya sendiri, akhirnya lepas bekapannya. Karena Elina udah ngomong, aturan udah jebol semua.
Arga tarik napas pertama setelah 5 menit ditahan.
HAAAHHH...
Napasnya panjang, serak, campur lumpur.
Terus dia teriak, bukan karena takut, tapi karena marah.
"TARIKK!!!"
Berlima sekarang pegangan.
Bima pegang tangan kanan Arga, Maira kiri, Elina kepala, Gilang kaki yang udah keliatan dikit.
Mereka tarik barengan.
SRETTTTT!!!
Tanah hitam itu teriak. Bukan suara manusia. Suara akar putus semua. Tanah yang hangat itu kayak jerit ketahan.
PLOT!
Arga keluar. Full. Badan full lumpur hitam, dari kepala sampai kaki, kayak bayi baru lahir dari tanah. Bajunya sobek-sobek kena akar. Kakinya berdarah-darah kecil bekas lilitan.
Dia bebas.
Tapi...
Suara tarikan mereka tadi...
SRETTTTT!!!
Kencang banget.
Semua mata pohon yang ketutup lumpur, lumpurnya rontok semua kena getaran teriakan Arga.
PLETAK PLETAK PLETAK PLETAK!
Puluhan mata buka barengan. Merah. Pupil hitam. Semua ngeliat ke mereka berlima yang ada di tengah.
Dan Bhayavedin...
Tangan akarnya yang nancep di tanah, dia cabut pelan.
Srekkk...
Mata putih di jidatnya yang tadi kesakitan kena lumpur, sekarang nyala terang lagi. Lebih terang dari sebelumnya. Karena sekarang, bukan 1 orang yang bersuara.
Lima-limanya bersuara.
Bhayavedin dongak. Kayu di punggungnya retak, keluar 2 tangan akar lagi dari punggungnya. Jadi total 4 tangan panjang.
Dia mau ambil 5-5 nya sekalian.
Arga yang baru keluar dari tanah, masih tiduran di tanah, napasnya ngos-ngosan liat Bhayavedin dengan 4 tangan di atas mereka.
Dia ngomong, suaranya serak tapi jelas, ke Bima.
"Bim... selendang leher lo mana?"
Bima pegang tengkuknya yang berdarah. Selendangnya kan udah putus, setengah ketinggalan di dalam tanah.
Arga nunjuk ke tanah bolongan tempat dia tadi ketelan. Di dalam bolongan itu, di antara akar-akar putus, selendang leher Bima masih ada, nyangkut, tapi di ujung selendang itu, ada sesuatu yang gerak-gerak.
Bukan akar.
Cacing putih gede, sebesar jari, yang dari tadi netes dari Pohon Induk.
Induk cacingnya. Sarangnya ada di dalam tanah tempat Arga tadi.
Dan cacing itu... takut sama cahaya? Atau takut sama apa?
Bima ingat sesuatu. Darahnya yang netes tadi langsung diserap tanah.
Tapi darah Bhayavedin? Kayu busuk?
Mereka saling lirik. Tiba-tiba Arga ada ide gila.
*
Empat tangan akar Bhayavedin udah di atas kepala mereka.
Bayangannya nutupin berlima yang masih jatuh di tanah lumpur. Bau kayu busuknya makin nyengat, kayak kuburan kebuka.
Arga yang masih tiduran, tangannya masuk lagi ke bolongan tanah tempat dia tadi ketelan. Gak peduli tanahnya masih gerak-gerak mau nelan lagi.
Dia narik selendang leher Bima yang putus. Di ujung selendang itu, emang ada sarang.
Bukan cuma 1 cacing. Ratusan cacing putih gede, sebesar kelingking, ngumpul di akar Pohon Induk yang putus. Lendir putih yang dari tadi netes di kepala mereka, itu telur-telur cacing itu.
Cacing-cacing itu pas kena cahaya remang-remang, langsung gerak-gerak liar, gak suka cahaya.
Tapi pas kena darah...
Arga inget, pas dia ketelan tadi, akar yang ngelilit lehernya putus sendiri pas kena darah dari bibirnya yang kegigit.
Darah manusia ngusir cacing, tapi manggil Bhayavedin. Darah Bhayavedin? Kayu busuk?
"El, senter! Senter yang mati tadi mana?!" Arga teriak, suaranya serak, udah gak bisik-bisik lagi. Aturan jangan bersuara udah jebol total.
Elina ngerti. Dia merangkak cepat ke tempat dia buang senter lowbat tadi. Senternya masih ada di tanah lumpur. Dia ambil, pukul-pukul.
Tok tok tok!
Gak nyala.
"Gilang, korek! Korek lo!" Elina teriak ke Gilang.
Gilang yang masih jatuh di samping Bima, rogoh saku carrier. Korek gunung yang tahan angin. Dia lempar ke Elina.
Elina nyalain korek.
Ceklek..
Api kecil nyala. Kuning.
Di hutan gelap Pohon Bermata yang semua matanya udah buka lagi ngeliatin mereka, api kecil itu terang banget.
Efeknya...
SSHHHHH!!!
Semua mata pohon yang ngeliat api, pupilnya ngecilin paksa. Silau. Mereka benci cahaya, apalagi api.
Termasuk Bhayavedin.
Mata putih di jidatnya yang nyala terang, pas kena cahaya api korek, langsung kedip kenceng.
Krek krek krek!
Kelopak kayu jidatnya nutup buka nutup buka kesilauan.
Empat tangan akarnya yang mau ngesmash, berhenti di udara, nutupin mata jidatnya sendiri.
Kesempatan.
Bima yang tengkuknya masih berdarah bekas tusukan akar, dia ambil darahnya pakai tangan, olesin ke selendang lehernya yang putus yang ada cacingnya.
Darah manusia, selendang dan sarang cacing.
Bima lempar selendang itu...
Langsung ke muka Bhayavedin. Ke mata putih di jidatnya.
PLAK!
Selendang berdarah nempel di jidat Bhayavedin. Cacing-cacing putih di selendang itu langsung gerak, masuk ke sela-sela kayu retak di jidat Bhayavedin, masuk ke mata putihnya.
Bhayavedin...
Untuk pertama kalinya, dia bersuara.
Bukan bunyi krek. Tapi jeritan kayu dipaku.
KRAAAAAAAAAKKKK!!!
Badannya kejang. Empat tangan akarnya mukul-mukul mukanya sendiri, mau lepasin selendang yang ada cacingnya. Cacing-cacing itu masuk ke dalam kayu, makan kayu busuknya dari dalam. Musuh alami.
Tanah hitam di bawah mereka getar lagi. Bukan karena Bhayavedin, tapi karena Pohon Induknya sendiri kesakitan. Induk cacingnya ada di akarnya.
"SEKARANG! TARIK AKARNYA!" Bima teriak.
Berlima langsung bangun, gak peduli lumpur becek.
Mereka lari ke kaki Bhayavedin, yang bawahnya masih kumpulan akar yang nancap ke tanah. Itu sumber tenaganya. Selama akarnya nancap, dia gak bisa mati.
Bima, Gilang, Arga, megang akar kanan. Maira, Elina megang akar kiri.
Tarik barengan.
SRETTT!!! SRETT!!!
Akar-akar gede itu ketarik, putus satu-satu. Tanah hitam muncrat, darah hitam keluar dari akar putus. Bau busuknya minta ampun.
Bhayavedin makin jerit, tangan-tangannya mukul tanah, mukul batang pohon, bikin mata-mata pohon di sekitar pecah satu-satu kena hantaman tangannya sendiri.
Mata pohon yang pecah, keluar cairan putih dan cacing, netes kemana-mana. Benar-benar bikin mual.
Hutan Pohon Bermata yang tadinya hening dan ngawasin, sekarang jadi chaos. Semua mata meletus, semua akar berontak.
Arga yang paling deket sama kaki Bhayavedin, dia ambil akar putus yang tajam, ujungnya runcing, terus...
Dia tusuk balik ke jidat Bhayavedin yang masih ketutup selendang leher Bima.
JLEB!!
Akar masuk ke mata putihnya.
KRAKK!!
Mata putih itu pecah. Cairan hitam dan putih muncrat kena muka Arga. Bhayavedin diam.
Empat tangannya jatuh ke tanah. Badannya yang dari kayu hitam, retak dari jidat sampai bawah lalu..
PRUKK...
Ambruk. Jadi tumpukan kayu busuk,akar dan cacing yang masih gerak-gerak.
Hening.
Cuma suara napas mereka berlima yang ngos-ngosan oarah, dan suara cacing makan kayu busuk.
Semua mata pohon di sekeliling mereka, yang tadi melek, sekarang pecah semua, merem, mati. Tinggal batang-batang hitam kosong.
Pohon Induk di depan mereka, retakan tempat Bhayavedin keluar tadi, sekarang nganga lebar, di dalamnya gelap, tapi ada angin keluar dari dalam,hangat.
Jalan keluar dari Pohon Bermata.
Arga jatuh duduk, badannya full lumpur, mukanya kena muntahan mata Bhayavedin. Dia liat selendang leher Bima yang masih nempel di tumpukan kayu busuk.
Selendang itu udah gak bisa diambil lagi.
Bima jongkok sebelah Arga, napasnya masih deg-degan, dia tepuk bahu Arga.
"Gila... lu masih bekap mulut pas di dalam tanah tadi, Ga..."
Arga ketawa kecil, serak: "Gue takut dimarahin lo lagi, Bim..."
Maira sama Elina meluk Arga dari samping, nangis, tapi ketawa juga. Gilang jatuh terlentang di tanah, liat langit yang masih ketutup daun, tapi sekarang gak ada mata lagi.
Mereka bisa bernapas lega. Meski hanya sesaat.
***
***