Luo Chen tidak punya air mata untuk ditangisi saat ibunya meninggal; ia hanya punya ingatan sempurna yang merekam setiap detail wajah pembunuhnya. Berbekal satu foto tua, ia menyusup ke sarang Shen Mo, penguasa mafia paling ditakuti di Yucheng. Alih-alih dibunuh sebagai penyusup, kecerdasan brilian Chen justru memukau sang raja mafia. Bersama-sama, mereka membentuk aliansi maut melawan sindikat pengkhianat yang haus darah. Tanpa kekuatan fisik, Chen menjadi otak di balik setiap langkah balas dendam, membuktikan bahwa musuh paling berbahaya di dunia bukan lah orang yang memegang senjata, melainkan anak kecil yang tahu seluruh rahasia gelapmu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 : PERANGKAP DI LANTAI EKSEKUTIF
Brak!
Pintu ruang kerja pribadi di lantai enam puluh terbuka dengan kasar.
Direktur Wang yang tadinya berdiri tegap di dekat jendela kaca raksasa langsung terkesiap. Cangkir porselen berisi teh hijau yang ada di tangannya terlepas begitu saja, menghantam lantai marmer hitam dengan suara dentingan nyaring yang memecah keheningan ruangan kedap suara. Pecahan porselen berhamburan, dan cairan teh hangat mengalir membasahi sepatu kulit mahalnya.
Wang mendongak dengan napas tercekat.
Shen Mo melangkah masuk tanpa mengenakan jas formalnya. Kemeja hitam dengan lengan digulung sampai siku itu memancarkan aura ancaman yang telak. Di sampingnya, Luo Chen berjalan tenang dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku jaket hoodie hitamnya. Wajah bocah sepuluh tahun itu sedingin es.
"T-Tuan Shen..." Wang menelan ludah mentah-mentah. Suaranya bergetar hebat, gagal menyembunyikan kepanikan yang langsung meremukkan mentalnya. "Ada apa... sampai Anda turun tangan langsung ke lantai eksekutif?"
Shen Mo tidak membuang waktu untuk basa-basi. Pria itu berjalan melewati meja kerja besar berlapis kayu mahoni, lalu langsung menarik kursi kulit berlengan milik Wang. Ia mendudukinya dengan posisi tegak, menatap tajam dari atas singgasana yang biasa dipakai Wang selama bertahun-tahun.
Chen berhenti tepat di tengah ruangan, satu langkah di depan meja kerja itu.
"Tujuh tahun, Direktur Wang," suara Chen memecah kesunyian, kecil namun menusuk tajam ke dalam gendang telinga. "Gaji resmi Anda sebagai petinggi keuangan tidak akan pernah cukup untuk membayar jam tangan Patek Philippe di pergelangan tangan kiri Anda, apalagi tiga vila mewah atas nama anak menantu Anda di distrik selatan."
Wajah Wang berubah pucat pasi, kehilangan seluruh warna darahnya. Ia mundur teratur hingga punggungnya membentur rak buku besar di belakangnya.
"Anak kecil, jaga mulutmu!" Wang membentak panik, mencoba menutupi rasa gentar dengan kemarahan palsu. "Berani sekali kamu bicara sembarangan di depan petinggi perusahaan—"
"Cukup, Wang," potong Shen Mo dengan nada rendah yang mutlak.
Shen Mo merogoh saku celananya, lalu melemparkan sebuah flashdisk hitam kecil ke atas meja mahoni. Benda itu meluncur mulus dan berhenti tepat di hadapan Wang.
"Zhang Wei sudah bernyanyi di lantai bawah," lanjut Shen Mo dingin. "Dia menceritakan bagaimana caranya membelokkan alur dana yayasan amal ke rekening kerabatmu, Li Mei, selama tujuh tahun berturut-turut. Dan dia juga menyebutkan siapa otak intelektual yang memberinya instruksi serta jaminan keamanan di lantai eksekutif ini."
Melihat flashdisk itu, seluruh pertahanan diri Direktur Wang runtuh seketika. Lututnya melemah, tak sanggup lagi menopang berat badannya. Ia jatuh terduduk dengan lutut menghantam lantai marmer, kedua tangannya mencengkeram tepi meja kerja untuk menopang tubuhnya yang gemetar hebat.
"S-Saya... saya bisa jelaskan, Tuan Shen!" jerit Wang putus asa, air matanya mulai tumpah. "Itu... itu hanya celah administrasi! Organisasi kita terlalu besar—"
"Kesalahan administrasi?" Chen memotong dengan senyuman sinis yang dingin. Ia melangkah lebih dekat, menatap lurus ke mata pria tua itu tanpa rasa takut. "Apakah membiarkan seorang ibu mati kelaparan di gang sempit sambil memegang resep obat palsu juga bagian dari kesalahan administrasi Anda?"
Wang tertegun. Ia menatap lekat-lekat bocah di hadapannya, baru menyadari siapa identitas di balik mata tajam itu.
"Kamu..." bisik Wang ngeri, "...anak dari wanita di Jalan Anyelir..."
"Ya," jawab Chen datar. "Dan permainan Anda sudah selesai."
Shen Mo mengangkat tangan kanannya memberi isyarat tanpa sepatah kata pun.
Pintu lift eksekutif di luar kembali terbuka lebar. Dua pengawal berbadan tegap langsung menerjang masuk ke dalam ruangan, mencengkeram kedua lengan Direktur Wang dengan kasar tanpa memberinya kesempatan untuk melawan atau merangkak pergi.
"Tuan Shen! Tolong! Ampuni saya! Saya sudah mengabdi puluhan tahun untuk Crown Tower—!" teriak Wang histeris. Suaranya melengking penuh keputusasaan saat tubuhnya diseret paksa menjauh dari meja kerja, melintasi karpet tebal, hingga akhirnya lenyap dibalik pintu lift yang tertutup rapat.
Ding.
Suara lonceng lift berbunyi pelan, menandakan target telah dibawa turun ke lantai bawah.
Kamar kerja itu kembali sunyi. Di luar jendela, badai hujan lebat mulai menghantam kaca antipeluru lantai enam puluh dengan suara gemuruh yang konstan.
Shen Mo masih duduk di kursi kebesarannya. Ia mendongak, menatap bocah yang berdiri tegak di hadapannya. Dendam masa lalu yang selama ini membakar dada Chen kini telah menemukan keadilannya. Ular utama di dalam istana telah dipenggal.
"Satu masalah besar selesai," ucap Shen Mo pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis penuh penghargaan. "Lalu, apa langkahmu selanjutnya, Tuan Muda Chen?"
Chen menoleh, manik matanya memantulkan cahaya lampu ruangan yang terang. "Ini baru membersihkan halaman depan, Tuan Shen. Sekarang saatnya kita mengambil alih kursi yang kosong."