Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh, Naya yang hancur melarikan diri ke bar untuk menenggelamkan kesedihannya sebelum akhirnya memutuskan menginap di rumah Nessa.
Dalam keadaan setengah sadar, Naya masuk ke rumah Nessa dan menemukan Kafka yang baru pulang dari luar negeri, tetapi karena gelap dan pengaruh alkohol ia mengira pria itu adalah "jasa hiburan" yang sengaja dipesan Nessa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Satu bulan telah berlalu sejak hari di mana langit runtuh dan mengubur seluruh masa depan Naya.
Namun bagi Naya, waktu telah berhenti berdetak tepat di detik ketika pilar beton raksasa itu menghantam tubuh Kafka. Dunia di luar jendela kamarnya mungkin terus berputar—matahari tetap terbit, jalanan ibu kota tetap bising oleh kemacetan, dan hujan tetap turun membasahi bumi. Tapi di dalam kamar tamu rumah Nessa, dunia Naya membeku dalam keheningan yang mematikan dan kegelapan yang tidak berujung.
Naya duduk meringkuk di sudut lantai, memeluk lututnya erat-erat. Tirai kamar tertutup rapat, menghalangi seberkas pun sinar matahari untuk masuk. Tubuhnya yang dulu berisi kini terlihat jauh lebih kurus dan rapuh. Wajahnya pucat pasi, dihiasi kantung mata yang menghitam karena berhari-hari ia menolak untuk tidur.
Setiap kali ia memejamkan mata, memori itu kembali menyerang tanpa ampun. Suara ledakan yang memekakkan telinga. Debu pekat yang menyesakkan dada. Dan siluet tubuh tegap Kafka yang berlari menembus kekacauan hanya untuk mendekapnya, mengorbankan nyawanya sendiri agar Naya tetap bernapas. Naya sering terbangun di tengah malam sambil menjerit histeris, memanggil nama pria itu, hanya untuk ditampar oleh kenyataan bahwa sisi ranjangnya kosong dan dingin.
Naya mengangkat tangan kirinya yang bergetar. Di jari manisnya, cincin berlian emerald-cut dari Cartier masih melingkar dengan angkuh, memantulkan sedikit cahaya dari celah pintu. Tepat di pergelangan tangannya, gelang emas putih yang dipakaikan Kafka di malam sebelum tragedi itu seolah menjadi borgol yang mengikat kewarasannya. Benda-benda mati itu adalah bukti bahwa Kafka pernah ada, bahwa cinta pria itu nyata, namun kini sang pemberi telah pergi untuk selamanya.
Ia tidak kembali bekerja. Surat pengunduran dirinya sudah dikirimkan oleh Nessa minggu lalu. Naya tidak bisa membayangkan harus melangkah ke luar rumah, berinteraksi dengan orang-orang yang menatapnya dengan tatapan iba, atau melewati lobi kantor tempat Kafka dulu sering menjemputnya dengan SUV hitamnya yang mengilap. Ia memilih mengurung diri, membiarkan rasa duka menggerogoti jiwanya hingga ia merasa mati rasa.
Suara kenop pintu yang diputar memecah kesunyian kamar. Pintu terbuka perlahan, menampilkan sosok Nessa yang berdiri di ambang pintu dengan sebuah nampan berisi semangkuk bubur ayam dan segelas air putih.
Penampilan Nessa tidak jauh berbeda dengan Naya. Sahabatnya itu terlihat berantakan. Rambutnya diikat asal-asalan, wajahnya kuyu, dan matanya selalu terlihat sembap. Kehilangan adik satu-satunya, adik yang sangat ia sayangi dan banggakan, telah menorehkan luka yang sama dalamnya di hati Nessa. Namun, Nessa berusaha keras untuk tetap waras demi menjaga Naya.
"Nay..." panggil Nessa pelan, suaranya parau. Ia melangkah masuk, meletakkan nampan itu di atas meja nakas, lalu ikut duduk bersila di lantai, tepat di sebelah Naya.
Naya tidak merespons. Matanya tetap kosong menatap karpet berbulu di bawahnya.
Nessa menghela napas panjang, menahan air mata yang kembali menggenang di pelupuk matanya. Ia merangkul bahu Naya yang kurus, menarik sahabatnya itu bersandar ke bahunya. Naya tidak menolak. Tubuhnya bersandar pasrah, seolah ia adalah boneka tanpa nyawa.
"Lo harus makan, Nay. Seenggaknya dua suap aja," bujuk Nessa dengan suara bergetar. "Kafka bakal marah besar sama gue dari atas sana kalau dia lihat wanitanya kelaparan dan sekurus ini."
Mendengar nama Kafka disebut, setitik air mata kembali lolos dari sudut mata Naya, meluncur jatuh membasahi pipinya yang tirus. "Untuk apa aku makan, Nes? Untuk apa aku hidup? Setiap detik yang aku lewati sekarang terasa seperti hukuman. Jantungku berdetak, tapi rasanya aku sudah mati."
Nessa mengeratkan rangkulannya, membiarkan air matanya sendiri ikut menetes membasahi kaus yang ia kenakan. "Gue tahu, Nay. Gue tahu rasanya sakit banget. Dada gue juga rasanya mau pecah setiap kali ingat Kafka nggak akan pernah lagi ngeledek gue gara-gara main game. Tapi kita harus bertahan. Kita harus hidup demi dia."
Keheningan kembali menyelimuti mereka selama beberapa menit, hanya diisi oleh isak tangis tertahan dari kedua wanita yang sama-sama hancur tersebut. Pak Haris dan Bu Tari terpaksa harus kembali ke Solo dua minggu yang lalu karena urusan pekerjaan, namun mereka tidak pernah putus menghubungi Naya setiap hari. Naya menolak untuk pulang ke Solo. Ia bersikeras menetap di Jakarta, agar ia bisa lebih dekat dengan makam Kafka, agar ia bisa mengunjungi gundukan tanah berselimut rumput basah itu setiap kali rindunya tidak lagi tertahankan.
Nessa menyeka air matanya, lalu menatap Naya dengan tatapan yang lebih serius.
"Nay, hari ini lo harus mandi dan ganti baju. Gue mau ngajak lo pergi," ucap Nessa pelan namun tegas.
Naya menggeleng lemah. "Aku nggak mau ke mana-mana, Nes. Aku mau di sini aja."
"Kita nggak akan ke tempat yang jauh. Kita cuma mau ke rumah utama. Ke rumah orang tua gue," jelas Nessa, memegang kedua bahu Naya agar wanita itu menatap matanya. "Mama dan Papa minta kita datang hari ini. Ada hal penting yang mau mereka bicarakan sama lo."
Tuan dan Nyonya Besar Adiraja. Naya menelan ludah. Sejak hari pemakaman, Naya belum pernah lagi bertemu dengan kedua orang tua Kafka. Di hari pemakaman itu, Nyonya Adiraja jatuh pingsan di pelukan suaminya saat peti jenazah Kafka diturunkan ke liang lahad. Keluarga konglomerat itu membatalkan semua penerbangan kembali ke London. Mereka menetap di Jakarta, berkabung dalam kesunyian mansion mewah mereka.
"Apa yang mau mereka bicarakan, Nes?" tanya Naya dengan suara serak yang dipenuhi ketakutan. "Apa ibumu mau mengambil cincin ini? Apa dia menyesal pernah merestui hubungan kami karena pada akhirnya Kafka..." Naya tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya, isakannya kembali pecah.
"Nggak, Nay. Sumpah, bukan itu," potong Nessa cepat, menghapus air mata Naya dengan lembut. "Tolong ya? Turuti permintaan Mama kali ini aja. Habis itu lo boleh ngurung diri lagi di kamar ini sepuas lo."
Satu jam kemudian, Naya duduk kaku di kursi penumpang mobil Nessa. Ia mengenakan gaun katun panjang berwarna hitam pekat, riasan wajahnya dibiarkan polos tanpa polesan sedikit pun, memperlihatkan betapa hancur dan pucat wajahnya.
Mobil yang dikendarai Nessa memasuki sebuah kawasan elite di Menteng, berbelok melewati gerbang besi raksasa yang dijaga ketat oleh beberapa petugas keamanan berpakaian hitam. Mansion keluarga Adiraja berdiri megah di ujung jalan masuk yang dikelilingi taman luas yang sangat terawat. Namun, kemegahan bangunan berarsitektur Eropa klasik itu kini terasa suram dan diselimuti oleh aura duka yang luar biasa pekat.
Begitu mereka melangkah masuk ke dalam ruang tamu utama yang langit-langitnya setinggi dua lantai, Naya bisa merasakan keheningan yang mencekam. Tidak ada suara denting porselen, tidak ada hiruk-pikuk pelayan. Semuanya bergerak dalam diam.
Di sofa ruang tengah, duduklah Tuan dan Nyonya Adiraja.
Langkah Naya terhenti sejenak. Ia nyaris tidak mengenali wanita paruh baya yang sedang duduk bersandar di sana. Nyonya Adiraja yang sebulan lalu terlihat begitu elegan, mengintimidasi, dan tak tersentuh dengan riasan wajah dan gaun mahalnya, kini terlihat sangat berbeda. Rambutnya dibiarkan tergerai tanpa ditata, wajahnya terlihat jauh lebih tua dengan garis-garis kelelahan yang dalam, dan ia hanya mengenakan pakaian rumah berwarna gelap yang sederhana. Kehilangan seorang putra kesayangan telah merampas seluruh keangkuhan sang matriark.
Tuan Adiraja, yang terlihat sama kuyu dan lelahnya, menepuk pelan tangan istrinya saat menyadari kedatangan Nessa dan Naya.
"Naya... kemarilah, Nak," panggil Tuan Adiraja dengan suara baritonnya yang serak, mengulurkan tangan.
Naya melangkah maju dengan kaki yang bergetar. Begitu ia berdiri di hadapan meja kaca, Nyonya Adiraja mendongak. Mata tajam yang dulu pernah menatap Naya dengan penuh ujian dan kebanggaan itu kini berkaca-kaca, dipenuhi oleh genangan kepedihan yang tidak ada ujungnya.
Tanpa memedulikan etiket atau gengsi, Nyonya Adiraja tiba-tiba bangkit dari sofanya. Wanita paruh baya itu melangkah mendekat, lalu merengkuh tubuh Naya ke dalam pelukan yang sangat erat. Isak tangis Nyonya Adiraja seketika pecah, menggema di ruang tamu yang luas itu, meruntuhkan seluruh pertahanan emosional yang tersisa.
Naya terkesiap. Ia membalas pelukan itu dengan tubuh yang bergetar hebat. Aroma parfum mahal bercampur dengan kepahitan duka mengelilinginya. Dua wanita yang paling mencintai Kafka di dunia ini, menangis bersama dalam pelukan yang menyayat hati.
"Maafkan aku, Tante..." isak Naya di bahu Nyonya Adiraja. "Kalau saja hari itu Kafka tidak berlari ke arahku... kalau saja dia menyelamatkan dirinya sendiri..."
"Sshhh... jangan pernah menyalahkan dirimu, Naya. Jangan pernah mengatakan itu," potong Nyonya Adiraja, melepaskan pelukannya namun tetap menangkup kedua belah sisi wajah Naya dengan telapak tangannya yang gemetar. Wanita itu menatap lurus ke dalam mata Naya, menyapu air mata yang terus mengalir di pipi calon menantunya.
"Anakku adalah pria yang keras kepala. Dia mencintaimu lebih dari ia mencintai napasnya sendiri. Jika ia harus memilih jutaan kali pun, ia akan tetap berlari ke arahmu hari itu," ucap Nyonya Adiraja, suaranya bergetar namun sarat akan keyakinan mutlak.
Nyonya Adiraja menuntun Naya untuk duduk di sofa, menempatkan Naya di antara dirinya dan suaminya. Nessa ikut duduk di kursi tunggal di seberang mereka, menyeka matanya dengan tisu.
"Naya," Tuan Adiraja mengambil alih pembicaraan. Pria paruh baya itu menatap Naya dengan pandangan kebapakan yang sangat teduh. "Kami memanggilmu ke sini hari ini bukan untuk membuka kembali luka lama. Kami melihat bagaimana hancurnya dirimu sebulan terakhir ini. Kami mendengar dari Nessa bahwa kau berhenti bekerja, menolak makan, dan terus mengurung diri."
Naya menunduk dalam-dalam. "Saya kehilangan alasan untuk hidup, Om. Setengah jiwa saya ikut terkubur di pemakaman itu bersamanya."
Tangan Nyonya Adiraja kembali menggenggam erat tangan kiri Naya, tepat di atas cincin berlian yang berkilau di jari manisnya.
"Kau kehilangan kekasihmu, dan kami kehilangan putra kami," ucap Nyonya Adiraja lirih. "Keluarga ini kehilangan penerusnya, kehilangan tawanya yang jarang namun sangat kami rindukan. Rumah ini terasa seperti kuburan yang luas."
Wanita itu menarik napas panjang, menatap suaminya sejenak, seolah mencari persetujuan. Tuan Adiraja mengangguk mantap.
"Naya, dengarkan aku baik-baik," Nyonya Adiraja kembali menatap Naya dengan sorot mata yang tiba-tiba berubah sangat serius dan penuh ketulusan. "Kafka mengancam kami di hari ia memperkenalkanmu. Ia bersumpah akan melakukan apa pun agar kau bisa menjadi bagian dari keluarga ini. Ledakan itu mungkin merenggut nyawanya, dan merampas janji suci kalian di altar. Tapi takdir yang kejam itu tidak akan pernah bisa merampas hakmu di keluarga ini."
Naya mengerjap kebingungan, tidak memahami arah pembicaraan ini. "Maksud Tante...?"
"Kami sudah berdiskusi panjang," sahut Tuan Adiraja. "Kafka memilihmu. Ia menjadikanmu miliknya. Dan apa yang menjadi milik putra kami, adalah milik kami juga. Kami ingin kau tahu bahwa kau tidak sendirian menanggung duka ini."
Nyonya Adiraja mengusap punggung tangan Naya dengan sangat lembut. "Sebagai pengobat luka... sebagai cara kami untuk menjaga satu-satunya hal yang paling disayangi oleh Kafka di sisa hidupnya... kami ingin memintamu untuk tetap berada di keluarga ini, Naya. Bukan lagi sebagai calon menantu yang batal melangkah ke pelaminan, melainkan sebagai putri kami."
Dada Naya seolah dihantam gelombang lautan yang luar biasa besar. Matanya terbelalak menatap sepasang suami istri konglomerat di hadapannya ini.
"Mulai detik ini, kau adalah anak angkat dari keluarga Adiraja," ucap Nyonya Adiraja, air matanya kembali menetes diiringi sebuah senyuman keibuan yang luar biasa hangat. "Kami akan mengurusmu, melindungimu, dan menyayangimu persis seperti kami menyayangi Nessa dan Kafka. Kau tidak akan pernah kekurangan apa pun. Jika orang-orang di luar sana bertanya siapa dirimu, kau adalah putri dari keluarga ini. Naya Adiraja."
Naya membungkam mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Tangisannya meledak sejadi-jadinya. Ini adalah sebuah kehormatan dan bentuk cinta yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Di saat ia merasa seluruh dunianya kiamat, keluarga pria yang sangat dicintainya ini justru membuka pintu rumah mereka lebar-lebar, menawarkannya sebuah tempat untuk bernaung, sebuah keluarga baru untuk saling menyembuhkan luka.
"Tante... Om... saya hanya perempuan biasa... saya tidak pantas..." isak Naya terbata-bata, merasa terlalu kecil menerima kebaikan yang begitu besar ini.
"Berhenti memanggil kami Tante dan Om," potong Nyonya Adiraja dengan nada tegas namun penuh kasih sayang, persis seperti nada bicara Kafka saat pria itu sedang mendominasinya. Nyonya Adiraja menarik Naya ke dalam dekapannya, memeluknya dengan kehangatan seorang ibu kandung. "Panggil kami Mama dan Papa, Naya. Kau adalah putri kami sekarang. Putraku meninggalkanmu di bawah perlindungan kami, dan kami tidak akan pernah mengecewakannya."
Di pelukan Nyonya Adiraja, Naya akhirnya menangis bukan hanya karena kehilangan, melainkan karena rasa haru yang luar biasa membuncah. Ia memang kehilangan pria yang paling mencintainya, dan ia tahu lubang di hatinya tidak akan pernah benar-benar tertutup. Namun hari ini, di ruang tamu mansion yang megah ini, Naya menemukan secercah cahaya terang di tengah kegelapannya.
Ia tidak sendiri. Detak jantung Kafka mungkin telah berpindah ke tubuh orang asing di luar sana, dan tubuh pria itu mungkin telah beristirahat di bawah nisan yang dingin. Tapi cinta Kafka tetap hidup dan abadi, menjelma menjadi perlindungan absolut dari keluarganya yang kini resmi menjadi keluarga Naya juga. Perlahan, Naya membalas pelukan wanita paruh baya itu, memejamkan matanya, dan untuk pertama kalinya sejak tragedi itu, Naya merasa ia memiliki alasan yang cukup kuat untuk kembali melanjutkan hidup.