Indonesia
NovelToon NovelToon
Raja Iblis Jatuh Dalam Pesonaku

Raja Iblis Jatuh Dalam Pesonaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

Li hua gadis yang bertrasmigrasi ke tubuh gadis desa yang hidup sendiri, dengan wajah yang sama dan nama yang sama.
awalnya dia kira dirinya hidup dengan sederhana didesa, tapi semuanya berubah saat pengurus keluarga Zhang datang menemuinya dan mengatakan kalau dirinya adalah nona kedua keluarga zhang yang harus kembali.
didalam rumah keluarga zhang dirinya menemui Li yun pangeran tawanan dari negeri tang liang.
seketika itu dia menyadari dirinya berada dalam buku yang menceritakan Raja iblis menghancurkan negeri Ye lu, setelah itu membunuh semua keluarga zhang termasuk dirinya.
apa yang akan dilakukan Li hua untuk mencegah itu terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 29.Sandiwara.

Pintu gerbang kediaman Keluarga Zhang terbuka lebar tepatnya di kediaman Li hua, dan Li Yun melangkah masuk dengan langkah tenang namun penuh wibawa. Baru beberapa langkah melewati halaman, matanya membelalak tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Di sana, Qiao'er berdiri di hadapan Li Hua, lalu mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan menampar pipi tuannya dengan keras! Bunyi tamparan itu terdengar nyaring, memecah keheningan sore yang tenang. Li Hua hanya berdiri diam, membiarkan pipinya memerah, lalu Qiao'er kembali memukul bahu dan wajahnya dengan gemetar namun terus melakukannya.

"Cukup! Hentikan itu sekarang!" seru Li Yun seketika, melompat maju dan mendorong tubuh Qiao'er menjauh dengan lembut namun tegas. Dia berdiri di antara mereka, menatap Qiao'er dengan mata menyala marah. "Kenapa kau memukul tuanmu sendiri? Apa yang terjadi denganmu, Qiao'er?!"

Qiao'er menunduk gemetar, air matanya mengalir deras, namun sebelum dia sempat menjawab, suara Li Hua terdengar tenang namun tegas dari belakang punggung Li Yun.

"Pangeran, hentikan! Apa yang sedang kau lakukan?"

Li Yun berbalik menatapnya, keningnya berkerut penuh kebingungan. "Apa yang aku lakukan? Aku menyelamatkanmu! Dia memukulmu, Li Hua!"

"Aku tahu," jawab Li Hua tenang, mengusap pipinya yang memerah dengan punggung tangannya. "Akulah yang menyuruh Qiao'er melakukannya."

Li Hua ternganga, matanya membulat tak percaya. "Apa... apa maksudmu?"

"Kau akan segera tahu alasannya," ucap Li Hua singkat, lalu menoleh ke arah Qiao'er. "Ayo, Qiao'er. Kita pergi menemui Ayah dan Ibu sekarang."

Sebelum melangkah pergi, Li Hua berhenti sejenak dan menoleh ke arah Li Yun. "Pangeran, ada satu hal yang kuminta darimu. Kembalilah ke kamarmu, berbaringlah di tempat tidur, dan berpura-puralah sedang sakit keras. Jangan keluar dari sana sampai aku memanggilmu. Janjilah padaku."

Li Yun menatapnya bingung, namun ada sesuatu di mata gadis itu yang membuatnya tidak bisa menolak. "Baiklah... aku akan menuruti permintaanmu. Tapi jelaskan padaku nanti, apa rencana yang sedang kau susun ini?"

Li Hua hanya tersenyum tipis, lalu berjalan pergi bersama Qiao'er meninggalkannya sendirian di halaman. Li Yun menatap punggung mereka yang menjauh, pikirannya berputar cepat.Rencana apa lagi yang sedang dia lakukan? Dia menyuruh pelayannya memukul dirinya sendiri... ini pasti rencana nya. Aku harus waspada.

Saat dia berbalik hendak masuk ke dalam, sosok pria muda berjalan cepat mendekat, berpakaian seragam prajurit yang rapi namun terlihat berdebu karena perjalanan jauh. Pria itu berhenti di hadapannya, lalu memberi hormat dengan penuh penghormatan. Itu An Fu, pengawal kepercayaannya yang dikirim ke negeri Tang Liang beberapa waktu lalu.

"Pangeran, An Fu telah kembali melaksanakan tugas," ucapnya dengan suara rendah namun tegas.

Li Yun menurunkan tangannya, menatapnya serius. "Bagaimana keadaannya di Tang Liang? Apa yang kau temukan di sana?"

An Fu menarik napas panjang, raut wajahnya serius. "Pangeran... Putra Mahkota Tang Liang sepertinya tidak akan bertahan lama. Penyakitnya semakin parah, dan para pejabat di istana mulai gelisah. Mereka mendesak Kaisar agar segera menjemput Pangeran pulang sebelum semuanya terlambat."

Li Yun mengangguk pelan, namun matanya melirik ke arah kediaman utama tempat Li Hua berada, pandangannya terlihat berat. "Aku mengerti... tapi sepertinya hatiku masih berat untuk pergi. Bilang pada semua pengikutku untuk menunda rencana kepulangan ku. Aku butuh waktu sebentar lagi. Aku ingin memastikan siapa sebenarnya pengantin politik yang akan dikirimkan oleh negeri Ye Lu, dan apa sebenarnya yang sedang terjadi di balik semua ini."

Di dalam Aula Utama Keluarga Zhang, suasana hening dan tenang tiba-tiba berubah menjadi gempar saat Li Hua dan Qiao'er melangkah masuk. Kedua gadis itu berlutut di tengah ruangan, tepat di hadapan Tuan Zhang dan Nyonya Zhang yang duduk di kursi utama. Li Hua menunduk dalam, bahunya terlihat bergetar seakan menahan tangis yang deras.

"Ayah... Ibu..." suaranya bergetar, terdengar begitu rapuh dan menyedihkan. "Begitukah kalian memperlakukan putri kalian sendiri? Biarkan aku diambil orang asing, disiksa, dan hampir dijual... lihatlah luka-luka ini di tubuhku!"

Nyonya Zhang tersentak bangkit dari duduknya, wajahnya pucat pasi. Dia segera berjalan turun dan membantu putrinya berdiri, memeluknya erat dengan mata berkaca-kaca.

"Anakku... maafkan kami, Nak... maafkan Ayah dan Ibu yang tidak becus menjagamu," isaknya lembut, mengusap rambut putrinya dengan penuh kasih sayang dan rasa bersalah. "Jangan berlutut lagi, bangunlah. Tidak ada yang berani menyakitimu di sini."

Li Hua menyandarkan kepalanya di bahu ibunya, menangis tersedu-sedu — sebagian tulus, sebagian lagi sandiwara yang ia mainkan dengan sangat meyakinkan.

"Ayah... Ibu... aku takut sekali..." isaknya pelan, namun terdengar jelas di sepanjang ruangan. "Mereka membawaku ke tempat yang mengerikan... aku pikir aku tidak akan pernah bisa pulang lagi. Tolong... tolong berikan hukuman yang setimpal pada orang-orang yang melakukan ini padaku. Aku tidak ingin mereka lepas begitu saja."

Tuan Zhang menghela napas panjang, menatap putrinya dengan wajah penuh kesedihan dan kemarahan yang tertahan. Dia mengangguk pelan.

"Tenanglah, anakku. Ayah akan menyelidiki semuanya. Siapa pun pelakunya, Ayah tidak akan membiarkan mereka lolos dari hukuman."

"Tapi Ayah..." Li Hua mendongak sedikit, menatap ayahnya dengan mata yang basah namun tajam. "Aku takut Ayah tidak akan tega menghukumnya... karena orang yang menyuruh mereka... dia adalah orang yang dekat dengan kita."

Tuan Zhang mengerutkan kening. "Apa maksudmu? Siapa yang kau maksud?"

Li Hua menunduk kembali, suaranya terdengar lirih dan penuh kepedihan. "Saat mereka berbicara di tempat gelap itu... aku mendengar salah satu dari mereka memiliki dompet kecil yang dihiasi sulaman bunga malam berwarna-warni. Dan dompet itu... aku pernah melihatnya. Itu milik pelayan kakak kedua."

Keheningan menyelimuti ruangan itu seketika. Tuan Zhang menatap putrinya dengan ragu.

"Kau yakin dengan apa yang kau lihat, Hua'er? Jangan sampai kau menuduh kakakmu tanpa bukti yang kuat."

"Aku tidak bermaksud menuduh, Ayah..." jawab Li Hua pelan, namun kata-katanya menusuk tepat sasaran. "Aku hanya menceritakan apa yang aku dengar dan itu yang aku dengar dari percakapan mereka saat mau menjualku. Aku tidak mengerti kenapa kakak keduaku begitu memusuhiku. Jika dia tidak menginginkanku di sini, aku bisa pergi. Aku tidak akan menyusahkan siapa pun. Tidak perlu menggunakan cara yang sejahat ini... bagaimana jika mereka benar-benar melecehkanku, Ayah? Aku ini wanita yang lemah..."

Lemah? batin Li Hua sambil menunduk menyembunyikan senyum tipisnya. Siapa yang akan percaya kalau aku menguasai bela diri, pedang, memanah, dan berkuda sejak kecil berkat didikan mamaku yang ingin putrinya sempurna luar dan dalam? Biarkan mereka mengira aku lemah. Mereka tidak perlu tahu kemampuan ku.

Tuan Zhang merenung lama, raut wajahnya berubah dari keraguan menjadi kekhawatiran, lalu perlahan berubah menjadi kemarahan yang dingin. Dia menoleh ke arah pelayan yang berdiri di sisi ruangan.

"Panggil Nona Shi Yin ke sini sekarang. Katakan aku ingin menemuinya di aula ini segera."

Belum lama berlalu, suara langkah kaki yang tidak teratur terdengar mendekat, disertai aroma alkohol yang menyengat. Pintu terbuka, dan Mo Chen masuk dengan terhuyung-huyung, ditopang oleh dua orang pelayan yang wajahnya tampak cemas. Matanya sayu, senyumnya melengkung tidak wajar — dia jelas sedang mabuk berat.

Tuan Zhang berjalan cepat menghampiri putranya, wajahnya memerah menahan amarah. Para pelayan yang menopang Mo Chen segera menunduk dalam, memberi hormat pada Tuan Besar mereka.

"Kenapa majikanmu dalam keadaan seperti ini?" tanya Tuan Zhang dengan suara rendah namun menggelegar.

"Tuan Muda... dia terlalu banyak minum tuan," jawab salah satu pelayan dengan gemetar. "Sebaiknya... izinkan kami membawanya ke kamar untuk beristirahat."

Tepat saat itu, Li Hua berjalan mendekat dengan secangkir air dingin di tangannya. Tanpa ragu sedikit pun, dia menyiramkan seluruh isi cangkir itu tepat ke wajah kakak pertamanya.

"Maafkan aku, Kak," ucapnya tenang namun tegas. "Kalau kita menunggu sampai sadar, Kakak pasti akan membuat alasan lagi. Ayah sudah tahu Kakak menghabiskan waktu di rumah hiburan bersama Pangeran Mahkota sepanjang hari.Putra bangsawan yang lain belajar giat untuk jadi pejabat,tapi kakak malah isi waktunya minum-minuman dan main perempuan."

Mo Chen tersentak kaget, air menetes dari rambut dan wajahnya yang basah. Dia mengedipkan mata berkali-kali, mencoba menyesuaikan pandangannya, dan saat melihat wajah ayahnya yang menatapnya dengan pandangan yang mengerikan, dia tersentak mundur selangkah. Tatapan itu seakan siap menelannya hidup-hidup.

"Adik... bukannya kau masih diculik?" gumamnya masih linglung, menunjuk ke arah Li Hua dengan jari gemetar. "Kau sudah pulang?"

PRAK!

Tamparan keras mendarat di pipi kanan Mo Chen dengan bunyi yang nyaring menggema di seluruh aula. Tuan Zhang menarik napas panjang, tangannya bergetar karena amarah yang meluap-luap.

"Mabuk terus! Kemarin malam kamu juga pulang dalam keadaan seperti ini, hari ini juga!" bentaknya dengan suara bergetar. "Mulai hari ini, kau dilarang keras keluar dari gerbang kediaman tanpa izin dariku! Siapa pun yang melihatmu keluar, langsung laporkan padaku! Mengerti?!"

Mo Chen menunduk dalam, tidak berani membela diri sedikit pun. Pipi kanannya memerah jelas, rasa sakit dan malu bercampur menjadi satu. Dia hanya mengangguk pelan, lalu diantar pergi oleh para pelayannya yang tampak lega bisa membawa majikan mereka menjauh dari kemarahan Tuan Besar.

Belum lama berlalu, langkah kaki yang anggun namun terdengar tergesa-gesa terdengar mendekat. Shi Yin masuk ke aula dengan gaun sutranya yang berkilau indah, wajahnya tersenyum sopan seakan tidak ada apa-apa yang terjadi. Dia memberi hormat singkat pada ayahnya.

"Ayah, Ibu... kalian memanggilku?" tanyanya lembut, namun saat dia mendongak dan matanya menangkap sosok yang berdiri di belakang ayahnya, senyumnya langsung membeku di bibir. Matanya membelalak tak percaya.

Li Hua berdiri di sana, tersenyum manis padanya, melambaikan tangan kecil dengan wajah yang masih terlihat sisa kesedihan namun matanya berkilat tajam.

"Hai, Kakak," sapa Li Hua dengan nada yang terdengar polos namun penuh arti.

Shi Yin mundur selangkah, menunjuk jari telunjuknya gemetar ke arah adiknya. "Kau... bagaimana mungkin kau sudah pulang ke sini?! Bukankah kau..."

​​

1
lin sya
msih menunggu li hua membalas shi yin krn dijual dirmh bordil sayangnya li hua cerdas, tp beruntung li yun perduli smpai nyari kemana mana, klo li hua balik kkluarganya bikin shi yin dijual juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!