Indonesia
NovelToon NovelToon
Bertahan Hidup Sebagai Tuan Muda Sampah

Bertahan Hidup Sebagai Tuan Muda Sampah

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:954
Nilai: 5
Nama Author: Nappzz

Arthur terbangun di dunia novel dark fantasy yang baru saja ia tamatkan. Sialnya, ia tidak merasuki tubuh sang Pahlawan, melainkan Arthur Pendelton—tuan muda dari keluarga Duke yang terkenal sebagai "sampah", sombong, dan ditakdirkan mati mengenaskan di chapter awal oleh sang protagonis asli. Berbekal ingatannya tentang alur cerita masa depan dan rahasia-rahasia tersembunyi di dunia itu, Arthur harus menyusun strategi untuk menghindari kematiannya. Tapi anehnya... kenapa pahlawan asli dan tokoh-tokoh kuat lainnya malah mulai tunduk dan mengikutinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nappzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 Kain Kafan Malam

Tengah malam di ruang kerja bawah tanah kediaman Pendelton selalu terasa lebih sunyi.

Aku duduk di kursi kulit kebesaran peninggalan kakek buyutku, memutar-mutar sebuah koin emas di antara jari-jariku. Di depanku, Kael—komandan Pasukan Bayangan—berdiri dengan postur tegap sempurna. Sikapnya seratus delapan puluh derajat berbeda dari pertemuan pertama kami. Tidak ada lagi keangkuhan, hanya kepatuhan absolut yang terukir dari rasa takut dan hormat.

"Laporanmu, Kael," kataku memecah keheningan.

Kael menundukkan kepala. "Sesuai dugaan Anda, Tuan Arthur. Ada pergerakan anomali di bangsal medis akademi malam ini. Target kita, Leon, mengalami pemulihan yang tidak wajar."

"Tidak wajar bagaimana?" tanyaku santai, meski aku sudah tahu jawabannya dari penampakan benang emas kausalitas pagi tadi.

"Tulang rusuknya yang remuk total menyatu kembali dalam hitungan jam. Dan bukan hanya itu..." Kael tampak sedikit ragu, seolah sulit mempercayai laporannya sendiri. "Para tabib penjaga melaporkan bahwa tubuh Leon memancarkan aura cahaya emas yang sangat menyilaukan hingga memecahkan kaca jendela bangsal. Uskup Agung dari Kuil Cahaya bahkan datang secara pribadi malam ini dan mendeklarasikan Leon sebagai 'Pahlawan Terpilih yang Diberkati Dewa'."

Aku tersenyum tipis. Pahlawan Terpilih.

Itu hanyalah cara elegan dari Sistem dunia ini untuk mengatakan: "Karakter utamaku hampir mati, jadi aku menyuntikkan cheat pemulihan instan dan buff kekuatan tingkat dewa agar ceritanya tidak tamat."

"Pangeran Julian pasti sangat kegirangan mendengar berita itu," gumamku.

"Benar, Tuan. Memanfaatkan momentum 'Berkah Dewa' tersebut, faksi Pangeran Julian langsung menekan Kepala Akademi dan Dewan Guru," lanjut Kael. "Mereka berdalih bahwa Leon membutuhkan senjata suci yang sepadan dengan panggilannya untuk melindungi akademi dari ancaman Penyihir Hitam. Proposal pembukaan Makam Suci Pahlawan Pertama baru saja disetujui satu jam yang lalu. Ekspedisi akan dilaksanakan saat bulan purnama musim dingin, dua minggu dari sekarang."

Aku melempar koin emas di tanganku dan menangkapnya kembali. Semuanya berjalan tepat sesuai dengan algoritma yang kuprediksi.

"Kerja bagus, Kael. Tarik semua mata-mata kita dari sekitar Leon. Jangan ada yang mencoba mengintainya dari jarak dekat," perintahku. "Leon yang sekarang memiliki insting yang diperkuat oleh Sistem. Jika kalian terlalu dekat, kalian hanya akan menjadi experience point gratis untuknya."

"Dimengerti, Tuan. Lalu, apa langkah kita selanjutnya?"

"Kalian fokus saja memantau pergerakan faksi Julian. Biar urusan makam itu aku yang tangani," aku bangkit berdiri, merapikan jas malamku. "Sekarang, antar aku ke Perbendaharaan Utama. Ayahku bilang aku bebas mengambil apa pun dari sana."

Kael membungkuk dalam. "Mari saya tunjukkan jalannya, Tuan Arthur."

Perbendaharaan Utama keluarga Pendelton bukanlah sekadar ruangan; tempat itu lebih mirip seperti benteng militer bawah tanah. Pintunya terbuat dari baja Mythril setebal satu meter yang dilindungi oleh puluhan rune peledak. Jika ada yang mencoba memasukkan kunci yang salah, lorong ini akan dibanjiri oleh lahar panas.

Kael memutar kunci kombinasi yang telah diberikan oleh Duke Gaius, lalu mundur. Pintu raksasa itu bergeser terbuka dengan suara gemuruh yang menggetarkan lantai.

Begitu kami melangkah masuk, Nox yang sejak tadi bersembunyi di dalam bayanganku langsung melesat keluar. Gadis berambut perak itu terbang mengitari langit-langit perbendaharaan dengan mata berbinar.

"Uang! Emas! Permata!" seru Nox kegirangan, meski ia tidak bisa menyentuhnya secara fisik. "Ayahmu ini ternyata naga yang sedang menyamar, ya? Jumlah koin emas di sini cukup untuk membeli tiga negara kecil!"

Aku mengabaikan tumpukan gunung emas dan koin yang menyilaukan mata. Kekayaan material tidak ada artinya jika tubuhku hangus terbakar oleh elemen cahaya absolut di dalam Makam Suci nanti.

Tujuanku adalah area belakang perbendaharaan: Rak Artefak Kuno.

"Kael, tunggu di luar," perintahku. Sang Komandan mengangguk dan menutup pintu dari luar, meninggalkanku sendirian (bersama Nox) di dalam gudang harta tersebut.

Aku berjalan menyusuri deretan rak kaca yang menyimpan berbagai senjata magis. Pedang berlapis berlian, tongkat penyihir dengan inti jantung naga, hingga perisai yang dikabarkan bisa memantulkan meteor.

Namun, aku tidak tertarik pada mitos atau dongeng sejarah. Aku menginginkan data mentah.

Mata Kausalitas: Aktif.

Pandanganku langsung dipenuhi oleh ratusan kotak teks transparan. Cincin emas di pupil mataku berputar cepat, menganalisis nilai asli dari setiap artefak yang ada di ruangan ini.

Pedang berlian? [Peringkat: B+. Rapuh terhadap sihir api tingkat tinggi.]

Tongkat jantung naga? [Peringkat: A-. Konsumsi mana tidak efisien, rawan meledak.]

"Rongsokan," keluhku sambil terus berjalan. "Tidak ada satu pun dari benda-benda mengkilap ini yang bisa menahan udara suci dari Makam Pahlawan Pertama. Jika aku masuk ke sana hanya mengandalkan Taring Abyss, sihir kegelapanku dan sihir cahaya makam itu akan bertabrakan secara brutal. Aku butuh isolator. Sebuah firewall."

"Kau tahu, biasanya pahlawan akan berteriak tentang semangat pantang menyerah lalu nekat masuk ke sarang musuh berbekal pedang murahan," ejek Nox yang kini sedang duduk di atas sebuah patung singa emas.

"Itu sebabnya angka kematian pahlawan bodoh sangat tinggi, Nox," balasku mendengus. "Aku lebih suka mempersiapkan anti-virus sebelum menancapkan flashdrive ke komputer yang penuh malware."

Aku tiba di sudut paling gelap dan berdebu di perbendaharaan. Berbeda dengan artefak lain yang dipajang di dalam kotak kaca mewah, benda-benda di sudut ini hanya diletakkan begitu saja di atas rak kayu lapuk. Ini adalah area barang kutukan—artefak yang terlalu berbahaya atau tidak bisa digunakan oleh keluarga Pendelton selama berabad-abad.

Mataku tertuju pada sebuah gumpalan kain hitam pekat yang terlihat sangat dekil, seolah itu adalah lap kotor yang tertinggal oleh pelayan kebersihan seratus tahun yang lalu.

Namun, Mata Kausalitas-ku berkedip liar saat menatapnya. Teks peringatan berwarna merah terang muncul.

[Nama: Kain Kafan Malam Tak Bintang (Shroud of the Starless Night)]

[Peringkat: Artefak Primordial - Terkutuk]

[Efek: Mengisolasi pengguna dari segala jenis fluktuasi sihir eksternal dengan cara MENYERAP dan MENETRALISIR setiap elemen yang menyentuhnya.]

[Efek Samping (Kutukan): Benda ini tidak bisa membedakan kawan dan lawan. Ia akan terus menyerap Mana Core penggunanya dan menumpuk energi netral (residu) di dalam tubuh pengguna. Jika residu energi netral itu tidak dibuang, pengguna akan membatu dan hancur menjadi debu dalam 24 jam.]

Aku terdiam. Mataku melebar perlahan, dan sebuah seringai iblis yang sangat lebar terbentuk di bibirku.

"Kau menemukan sesuatu yang bagus, Penjahat Kecil?" Nox melayang turun, mengintip kain kotor itu dari balik bahuku. Gadis itu langsung bersiul pelan. "Hooo... Kain Kafan Malam. Benda ini ditenun dari sutra laba-laba Abyssal. Siapa pun yang memakainya akan benar-benar kebal dari serangan sihir apa pun, termasuk sihir Cahaya Suci. Tapi sayangnya, benda ini akan membunuh pemakainya karena pemakainya akan meledak kelebihan kapasitas energi sisa."

"Itu berlaku untuk manusia normal yang memiliki Mana Core konvensional, Nox," bisikku, tanganku perlahan terulur mengambil kain hitam yang terasa sedingin es itu.

"Maksudmu?" Nox memiringkan kepalanya bingung.

"Kutukan kain ini adalah ia menjejalkan energi netral sisa serapannya secara paksa ke dalam tubuh pemakainya, membuat saluran mana mereka membatu karena tidak bisa mencernanya," aku mengibaskan debu dari kain itu, yang ternyata membentang menjadi sebuah jubah mantel panjang yang sangat ringan.

Aku menatap Nox dengan mata biru yang menyala terang. "Tapi kau lupa satu hal, Nox. Grimoire of Vespera milikku bukan sekadar sihir kegelapan. Itu adalah sihir Penelan."

Mata emas Nox membelalak lebar. "Tunggu... jangan bilang..."

"Tepat sekali. Jika kain ini mengisolasi tubuhku dengan cara menyerap sihir Cahaya dari Makam Suci, lalu mengubahnya menjadi energi netral yang dimasukkan ke tubuhku... maka aku hanya perlu memakan energi netral itu menggunakan pusaran Vespera."

Aku terkekeh rendah. "Kain ini bukan kutukan bagiku. Ini adalah filter udara kelas atas. Ia akan mengubah racun mematikan menjadi minuman bernutrisi untuk Mana Core-ku."

Tanpa ragu, aku menyampirkan Kain Kafan Malam Tak Bintang itu ke bahuku.

Wuuush!

Sensasinya seketika terasa. Kain itu langsung mengisap sedikit mana dari udara di sekitarku, menciptakan semacam ruang hampa magis selebar satu milimeter yang menyelimuti seluruh kulitku. Begitu kain itu mencoba memasukkan 'residu kutukan' ke dalam pembuluh darahku, aku memutar pusaran Vespera di jantungku.

Energi sisa itu langsung tertelan habis tak bersisa, diubah menjadi bahan bakar murni yang menghangatkan tubuhku. Sistem pertahanan yang sempurna. Bug dalam kutukan kain ini telah kumanfaatkan menjadi fitur auto-healing.

Tidak hanya itu, begitu aku mengenakan jubah ini, auraku benar-benar menghilang.

Nox berkedip beberapa kali, menatapku dengan mulut sedikit terbuka. "Ini gila. Secara visual kau berdiri di depanku, tapi sensor sihirku sama sekali tidak bisa mendeteksimu. Kau seolah terhapus dari eksistensi ruang ini. Ini adalah cloak of invisibility untuk dunia sihir!"

"Sekarang," aku merapatkan kerah jubah baruku, menyembunyikan senyum puas di baliknya. "Biarkan Pangeran Julian dan Pahlawan Berkah Dewa-nya itu bersusah payah membunuh para penjaga makam di depan. Sang Penjahat akan masuk melalui pintu belakang dan membersihkan brankas mereka."

Persiapan selesai.

Umpan telah disebar, dan penangkal racun telah dikenakan. Ekspedisi Musim Dingin ke Makam Suci Pahlawan Pertama tidak akan menjadi panggung kebangkitan Leon. Itu akan menjadi panggung perampokan paling epik dalam sejarah Kekaisaran Solaria.

1
ZAHRANI
upnya lama banget,padahal cuman buat 1 novel doang😮‍💨
Nappzz: di usahakan up secepatnya ya ka🙏🏻
total 1 replies
ZAHRANI
5 bab lah thor😭
Nappzz: segera ditunggu ya ka
total 1 replies
ZAHRANI
keren thor mantap👍
Nappzz: thank you ka, makasih support nya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!