Di balik kemegahan dan keagungan Kerajaan Veldora, tersimpan rahasia busuk yang menjijikkan. Kalyca, sang putri kandung yang sah, dibuang sejak bayi ke sebuah gubuk reot di pinggiran kota dan hidup dalam penderitaan. Sementara itu, gadis licik, Edelyn putri palsu yang merampas takhtanya, menikmati kemewahan istana.
Rasa sakit dan ketidakadilan, membuat jiwa lemah itu membangkitkan jiwa gelap dari seorang alkemis genius, berdarah dingin, yang sudah mati ribuan tahun yang lalu.
Di tengah misi balas dendam dan intrik berdarah di istana, takdir mempertemukannya dengan Grand Duke Erik Klaus, pria bermata tajam yang dijuluki sebagai dewa perang yang terkenal kejam pada musuh, namun menyimpan rahasia kelam.
“Ribuan tahun lalu, aku gagal melindungi mu. Kali ini, biarkan aku merobek dunia ini untuk membawamu pulang...”
~Grand Duke Erik Klaus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HUKUMAN UNTUK EDELYN
Sesampainya di depan pintu kamar utama , prajurit istana yang berjaga langsung membukakan pintu begitu melihat kedatangan Grand Duke Erik.
Ceklekk
"Silahkan Yang Mulia," ucap penjaga, sopan.
"Hem."
Di dalam ruangan yang hangat dan beraroma wangi rempah menenangkan itu, Raja Veldora tampak sudah duduk bersandar di atas ranjang besarnya, wajahnya memang masih terlihat sedikit pucat, tetapi sorot matanya sudah kembali jernih dan berwibawa.
Di sisi ranjang, Ratu Alice duduk mendampingi sambil menyuapkan semangkuk sup hangat ke suaminya.
Mendengar suara pintu terbuka, Ratu Alice menoleh, wajahnya langsung berbinar begitu melihat sosok Erik dan Kalyca melangkah masuk.
"Salak Yang Mulia Raja, salam Yang Mulia Ratu," ucap Erik dan Kalyca, membungkuk hormat.
"Yang Mulia Grand Duke, dan Tabib Lyca," sapa Ratu Alice ramah, meletakkan mangkuk di nakas lalu berdiri menyambut mereka.
"Silakan duduk," ucap Ratu Alice, tersenyum kecil.
"Bagaimana kondisi Anda pagi ini, Yang Mulia Raja?" tanya Erik dengan suara baritonnya yang tenang.
Raja Veldora tersenyum tipis, lalu mengangguk pelan.
"Jauh lebih baik, Erik, rasanya seperti baru saja bangun dari mimpi buruk yang sangat panjang," jawab Raja Veldora, tersenyum kecil.
"Aku dengar dari penjaga, kau dan Tabib berhasil membereskan kekacauan semalam," lanjut Raja Veldora, melihat Erik dan Kalyca bergantian.
"Itu sudah kewajiban saya, Yang Mulia," jawab Erik mantap.
Ratu Alice beralih menatap Kalyca dengan senyuman penuh kehangatan, wanita paruh baya itu berjalan mendekat, lalu tanpa ragu meraih kedua tangan Kalyca.
"Bagaimana tidur mu Nak?" tanya Ratu Alice, penuh perhatian.
Kalyca tersenyum canggung, lagi-lagi sentuhan tangan Ratu Alice, membuat getaran di dada nya semakin tidak karuan.
"Istana ini sangat nyaman, Yang Mulia Ratu," jawab Kalyca dengan suara yang sedikit melunak, berusaha menutupi getaran emosinya.
"Kamu benar-benar tabib yang luar biasa, nak. Istana ini berhutang budi padamu. Katakan apa pun yang kamu inginkan sebagai bentuk balas jasa kami, dan aku akan mengabulkannya," ucap Raja Veldora tersenyum hangat melihat Kalyca.
Kalyca menggelengkan kepala perlahan di balik kain penutup wajahnya.
"Saya tidak butuh imbalan apa pun, Yang Mulia, hanya melihat istana ini kembali damai dan para pengkhianat diadili dengan setimpal, itu sudah cukup menjadi bayaran bagi saya," jawab Kalyca tegas tapi masih tetap sopan.
Erik yang berdiri di samping Kalyca mengamati gadis itu lekat-lekat, alisnya sedikit berkerut heran, baru kali ini dia melihat seseorang menolak mentah-mentah tawaran hadiah dari Raja Veldora begitu saja tanpa berpikir dua kali.
"Sungguh gadis yang keras kepala dan tidak bisa ditebak," batin Erik, menggeleng kan kepala nya kecil.
"Baiklah jika itu keputusanmu," ucap Raja Veldora bijak.
"Kudengar Edelyn sudah tertangkap setelah sempat mencoba kabur?" tanya Raja Veldora, wajah nya tiba-tiba berubah dingin.
"Benar, Yang Mulia, Putri Edelyn saat ini sudah dikurung di sel tahanan bawah tanah yang paling ketat, sebentar lagi, sidang darurat akan segera kita mulai di aula utama untuk membongkar semua kejahatannya, termasuk racun yang dia berikan pada Anda," jawab Erik mengangguk tegas.
Mendengar nama Edelyn disebut, raut wajah Ratu Alice mendadak berubah sendu, ada guratan kekecewaan di mata wanita tua nya, meskipun dia tahu Edelyn bersalah besar, bagaimanapun gadis itu pernah dirawat dan dibesarkan di sisi mereka selama bertahun-tahun dengan penuh kasih sayang.
"Anak itu..." cicit Ratu Alice pelan, menggelengkan kepalanya lemah.
"Kenapa dia bisa berbuat sekeji itu? Di mana letak kurangnya kami dalam membesarkannya selama ini?" ucap Ratu Alice, dengan mata berkaca-kaca.
Kalyca yang melihat ekspresi sedih Ratu Alice langsung merasa geram dalam hati nya, wanita sebaik Ratu Alice tidak pantas bersedih demi anak palsu yang tidak tahu diuntung seperti Edelyn.
"Anda tidak perlu menyalahkan diri sendiri, Yang Mulia Ratu," ucap Kalyca tanpa sadar bersuara lebih tegas dari sebelumnya.
"Watak seseorang terkadang memang sudah busuk dari dalam, kasih sayang yang Anda berikan tidak akan pernah cukup untuk mengubah seseorang yang memang berniat jahat," lanjut Kalyca, dingin.
Ratu Alice tertegun sejenak menatap mata safir Kalyca yang tampak begitu tajam namun menyiratkan kepedulian.
Erik pun menoleh, menatap Kalyca dengan pandangan menyelidik karena nada bicara sang tabib terdengar begitu emosi.
Merasa dirinya terlalu berlebihan, Kalyca buru-buru menundukkan sedikit kepalanya.
"Maafkan saya, Yang Mulia. Saya lancang," ucap Kalyca, pelan.
Ratu Alice tersenyum maklum lalu menggeleng pelan.
"Tidak apa-apa, Nak Lyca, kata-katamu memang benar, aku hanya merasa lelah, tapi aku tidak akan tinggal diam lagi, walaupun dia adalah putri ku, tapi kejahatan harus tetap di adili!" ucap Ratu Alice, mencoba menguatkan hati nya.
"Bagus kalau begitu," ucap Erik dingin.
"Bersiaplah, Yang Mulia Raja dan Ratu. Sebentar lagi, kita akan membuka persidangan itu dan mengakhiri semuanya!" lanjut Erik, sudah muak dengan kekacauan istana dan ingin segera kembali ke kediaman nya.
"Kamu memang selalu bisa aku andalkan Erik," ucap Raja Veldora, bangga.
Erik hanya diam dengan wajah datar nya, dia sudah sangat kebal dengan sebuah pujian.
Beberapa jam kemudian, suasana di aula utama istana Veldora terasa begitu dingin dan mencekam.
Jendela-jendela besar sengaja dibiarkan terbuka, membiarkan angin pagi berhembus masuk, namun tidak mampu mencairkan ketegangan di dalam ruangan.
Para bangsawan, anggota dewan istana, dan para kesatria berdiri mengelilingi ruangan dengan wajah tegang.
Di ujung ruangan, di atas singgasana utama, Raja Veldora duduk berdampingan dengan Ratu Alice, wajah sang Raja tampak dingin dan berwibawa, sementara mata Ratu Alice sudah tampak sembab.
BRAKK
Pintu utama aula terbuka lebar. Dua orang pengawal masuk dengan menyeret Edelyn secara paksa.
Edelyn sudah tidak mengenakan gaun indahnya lagi, dia hanya mengenakan pakaian lusuh, dengan kedua tangan dirantai, rambutnya acak-acakan dan wajahnya terlihat sangat pucat dan sembab.
"Lepaskan aku! Brengsek! Kalian tidak berhak memperlakukanku seperti ini!" jerit Edelyn histeris, meronta-ronta saat didorong untuk berlutut di tengah-tengah aula.
Grand Duke Erik Klaus melangkah maju ke tengah ruangan, berdiri tegap dengan pandangan tajam ke arah gadis yang sedang meronta itu.
"Berhenti, Edelyn!" bentak Erik dengan suara baritonnya yang menggema di seluruh penjuru aula, membuat Edelyn sontak tertegun ketakutan.
"Hari ini, di hadapan Raja, Ratu, dan seluruh dewan istana, gelar mu akan di cabut, dan kamu akan diadili atas kejahatanmu!" ucap Erik, tegas.
Edelyn mendongak, dengan napas memburu naik-turun, melihat sekeliling, lalu menatap tajam ke arah singgasana.
"Ayah! Ibu!" teriak Edelyn pecah, air matanya langsung tumpah seketika.
Edelyn mencoba merangkak maju, namun rantai di tangannya menahannya.
"Ibu, tolong aku! Mereka memfitnahku! Ibu percaya sama aku, kan? Aku tidak mungkin meracuni Ayah!" jerit Edelyn, masih tidak mengakui kejahatan nya.