Andika pria miskin asal Makassar yg mencoba mengadu nasib di negara Amerika,tepatnya di los Santos,dia berharap menjadi kaya raya dan dapat hidup dengan layak setelah merantau di sana,akan tetapi dia justru terjerumus ke dalam dunia gelap los Santos
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANDIKA,312, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 29
Van Declasse Burrito hitam meluncur membelot masuk ke pelataran parkir samping The Fleeca Bank Pacific Bluffs, menepi mulus tepat di bawah naungan dinding beton yang tak tersorot langsung dari jalan raya. Ban mobil mencicit pelan di atas lantai aspal yang halus. Suasana di sekitar bank tampak tenang—beberapa nasabah berjas mahal lalu lalang masuk melalui pintu kaca berbingkai emas, sama sekali tidak menyadari badai berdarah yang baru saja merayap mendekati mereka.
Di dalam kabin van yang gelap dan kedap, dentupan napas dari balik empat topeng badut karet terdengar berat. Pendar mata di balik lubang topeng itu memancarkan aura pembunuh yang dingin dan presisi.
TRING!
Suara desis halus dari radio earpiece di telinga mereka memecah keheningan. Suara Lester Crest terdengar jernih, datar, dan dipenuhi ritme kerja seorang peretas ulung.
"Aku sudah membobol server keamanan internal bank," bisik Lester melalui frekuensi terenkripsi. "Protokol firewall utama berhasil dilumpuhkan. Seluruh kamera pengawas, sensor gerak, dan sistem sinyal alarm darurat otomatis resmi kublokir total selama 10 menit. Waktu kalian berjalan dari sekarang. Bergerak!"
Michael memutar badannya ke belakang, menatap tiga rekannya. "Bagus. Waktunya beraksi! Ingat, cepat, tenang, dan tanpa belas kasihan pada siapapun yang coba-coba jadi pahlawan!"
SLAM!
Pintu samping van dibanting terbuka lebar. Empat sosok jangkung berjas hitam mahal dengan dasi merah terang melompat turun secara bersamaan. Di balik topeng-topeng badut dengan senyuman karet yang mengerikan, laras hitam senapan serbu M4 Carbine dan pistol Glock langsung terangkat sejajar dada.
Mereka menerobos pintu kaca utama bank secara brutal!
BRAAANG!
"TIARAP DI ATAS LANTAI! SEMUA MUKA KE TANAH SEKARANG JUGA, BAJINGAN!" raung Michael, suaranya menggelegar memantul di dinding-dinding marmer aula utama bank yang luas dan megah.
RAT-AT-AT-AT-AT!
Trevor mengarahkan laras M4-nya ke langit-langit aula, menyemburkan tembakan rentetan singkat. Ujung laras senjata meletupkan kilatan api kuning yang menyilaukan! Serpihan semen dan kepingan kaca lampu gantung berkilat jatuh berhamburan bagaikan hujan kristal, menghantam lantai marmer dengan dentang nyaring.
"AARRGGHH! JANGAN TEMBAK!" jerit histeris seorang wanita kasir yang langsung merosot di balik meja counter.
Dua orang penjaga keamanan berseragam yang kaget setengah mati mencoba menggerakkan tangan mereka menuju holstik pistol di pinggang. Namun Trevor melangkah secepat kilat. Tanpa ragu sedikit pun, Trevor mendaratkan hantaman gagang senapan M4-nya tepat ke pelipis penjaga pertama—CRACK!—membuat pria berseragam itu roboh pingsan memuntahkan darah. Penjaga kedua langsung mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, gemetar hebat di bawah acungan laras M4 Trevor yang panas membara.
"JANGAN ADA YANG BERGERAK ATAU AKU AKAN MEMBOLONGI KEPALA KALIAN SATU PER SATU!" jerit Trevor histeris, menyapu pandangan gilanya ke arah dua puluh lebih nasabah dan staf yang kini tengkurap menangis ketakutan di atas lantai.
Aula utama telah sepenuhnya lumpuh dan berada di bawah kendali cengkeraman teror Michael dan Trevor.
"Andika! Franklin! Gerak sekarang!" perintah Michael tegas melalui radio, matanya tetap awas memindai setiap sudut aula.
"Diterima!" sahut Andika dingin.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Andika dan Franklin melompati meja teller yang tinggi dengan gerakan tangkas dan efisien. Langkah kaki bersepatu kulit mereka mendarat mantap di lantai dalam, lalu berbelok kencang menelusuri lorong beton menuju area ruang brankas bawah tanah.
Di belakang mereka, lampu-lampu indikator CCTV di langit-langit lorong berkedip mati satu per satu—bukti sahih jemari Lester bekerja seperti sihir meretas jaringan dari jauh. Namun, keheningan di lorong sempit berbau pendingin ruangan itu justru menyajikan ketegangan yang jauh lebih Mencekam. Udara terasa begitu berat, memompa adrenalin di dalam dada Andika hingga berdegup kencang.
Mereka menunuri tangga melingkar beratap beton tebal. Di ujung lorong terbawah, langkah kaki mereka terhenti di depan sebuah pintu besi baja tahan ledakan raksasa berbobot beberapa ton—Brankas Utama The Fleeca Bank. Pintu melingkar itu berdiri kokoh, dingin, dan membisu, dilindungi oleh engsel-engsel baja raksasa serta papan kunci elektronik yang menyala merah.
"Ini dia tempatnya," desis Franklin, dadanya kembang kempis seraya mengamati konstruksi baja raksasa di hadapan mereka.
"Bantu saya rakit alatnya, Frank!" ujar Andika cepat.
Andika melemparkan tas kargo kanvas hitam tebal ke lantai beton. ZIP! Ritsleting tas ditarik kasar. Di dalamnya, terlihat kompresor mesin bor termal (thermal drill) berdaya tinggi buatan militer, lengkap dengan dua tabung gas kompresi mini dan mata bor tungsten tebal berduri emas.
Dengan jemari yang cekatan namun sangat terkontrol di balik sarung tangan kulitnya, Andika menyambungkan selang gas ke regulator mesin. CLIK-SNAP! Selang terkunci rapat. Franklin dengan sigap memegangi fondasi penyangga bor agar posisi mesin tidak bergeser, sementara Andika memasangkan mata bor tungsten tepat pada celah engsel pengunci utama pintu baja brankas.
"Sistem penahan laser grid sudah kumatikan dari sini, Andika," suara Lester kembali berdengung halus di earpiece. "Sisa waktu kebal alarm kalian tinggal 8 menit. Tempelkan bornya sekarang!"
"Memulai pengeboran!" seru Andika!
Andika menarik pemantik mesin. BZZZZZZ-VROOOOOOM!
Mesin bor termal itu menyalak gahar! Suara deruan mesinnya yang melengking kencang bergema memenuhi seluruh lorong beton bawah tanah, memekakkan telinga. Mata bor tungsten berputar dengan kecepatan ribuan RPM, menyemburkan percikan api jingga terang yang memercik liar ke udara seperti kembang api maut!
SPARK! SPARK! BZZZZZZT!
Suhu di lorong sempit itu seketika melonjak panas. Asap putih pekat berbau logam terbakar mulai membumbung tinggi, mengaburkan pandangan dari balik kaca topeng badut Andika. Andika menggertakkan giginya, mengerahkan seluruh tenaga otot tangannya untuk menekan tuas bor secara stabil. Ia harus menjaga tekanan mata bor agar tetap konstan—terlalu keras menekan akan membuat mata bor patah akibat panas ekstrem, namun jika terlalu lemah, baja tebal itu tidak akan pernah meleleh.
"Tahan posisinya, Frank!" teriak Andika menembus gemuruh suara bor!
"Aku tahan, Bro! Dorong terus!" balas Franklin seraya memasang kuda-kuda kokoh menopang bahu Andika!
Titik engsel baja pertama mulai meleleh memerah bagaikan lava kental. Logam cair panas menetes ke lantai semen, menimbulkan bau hangus yang menyengat.
Di atas aula, suara teriakan ketakutan para sandera dan bentakan gila Trevor masih terdengar samar melalui saluran radio taktis. Setiap detik yang bergulir terasa bagaikan jam, diiringi ketegangan tak bertepi antara kecepatan memotong baja tebal dan waktu hitung mundur perlindungan peretasan Lester yang kian menipis.
CRACK-THUD!
Engsel pengunci pertama akhirnya tembus! Mata bor memercikkan kobaran api terakhir sebelum menembus ruang hampa di balik pintu!
Andika tanpa membuang waktu langsung menggeser posisi bor ke tiga titik engsel berikutnya dengan presisi luar biasa. Keringat dingin mengalir membasahi dahinya di balik topeng badut, namun matanya tetap tajam, membakar, dan fokus sepenuhnya pada satu tujuan: merobek pintu brankas raksasa ini dan menguras seluruh kekayaan di dalamnya!