Ji Ming, murid luar Sekte Puncak Elang Hitam yang dianggap sampah karena "Meridian Kosong" — kondisi langka yang membuatnya tak bisa merasakan qi seperti kultivator normal — ditugaskan menjaga Makam Terlarang di pinggiran sekte: tempat relik-relik Perang Boneka Jiwa, bencana ratusan tahun lalu yang nyaris menghancurkan seluruh dunia kultivasi, disegel selamanya.
Saat Hari Peringatan Perang Boneka, segel melemah. Ji Ming menemukan ruang tersembunyi berisi fragmen kesadaran terakhir seorang Grandmaster Pengukir Jiwa — bukan reinkarnasi, hanya sisa tekad yang nyaris punah, cukup untuk mewariskan Manual Sang Pengukir Pertama sebelum lenyap selamanya. Meridian Kosong yang selama ini dihina ternyata justru syarat paling langka untuk jalur ini: kekuatan dari jiwa, bukan qi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Aula Utama Aliansi
Perjalanan tiga hari menuju Aula Utama Aliansi berlangsung dengan pengawalan resmi dari Guild Penengah—enam murid guild terlatih yang mengelilingi rombongan mereka sepanjang jalan, cukup untuk membuat siapa pun yang berniat menyerang berpikir dua kali.
Aula Utama Aliansi sendiri, saat akhirnya terlihat di kejauhan pada sore hari ketiga, jauh lebih megah dari yang pernah Ji Ming bayangkan—kompleks bangunan raksasa yang menjulang di tengah lembah luas, dikelilingi menara-menara pengawas dan gerbang-gerbang besar yang masing-masing menampilkan lambang berbagai sekte besar yang tergabung dalam aliansi.
"Aku belum pernah berada sedekat ini," Ji Ming berbisik, merasakan campuran kekaguman dan ketegangan menatap kemegahan yang jauh melampaui apa pun yang pernah ia lihat di Puncak Elang Hitam.
"Jangan biarkan kemegahannya mengintimidasimu," Su Mei berkata pelan, berjalan di sampingnya. "Batu dan menara tak pernah menentukan kebenaran. Hanya keberanian untuk mengucapkannya di hadapan siapa pun yang menentukan itu."
Mereka diterima di gerbang oleh petugas protokol Aliansi yang telah diberitahu sebelumnya tentang kedatangan mereka, dan diarahkan menuju penginapan khusus tamu sidang—bangunan terpisah yang, meski nyaman, terasa seperti sangkar emas dengan penjagaan ketat di setiap sudutnya.
"Penjagaan seperti ini," Yun Xia berkata pelan begitu mereka sendirian di kamar mereka, "bisa untuk melindungi kita, atau untuk memastikan kita tidak bisa kabur kalau semuanya berjalan buruk."
"Mungkin keduanya," Tetua Kang menjawab jujur, wajahnya tegang memikirkan esok hari. "Aliansi selalu berhati-hati dengan hal-hal yang berpotensi menjadi skandal besar."
Malam itu, saat sebagian besar rombongan mencoba beristirahat meski ketegangan membuat tidur nyenyak nyaris mustahil, Ji Ming duduk sendirian di balkon kecil kamarnya, menatap kompleks Aula Utama yang bermandikan cahaya lentera di kejauhan, Xiao Mu duduk tenang di pangkuannya.
Sebuah ketukan pelan di pintu balkon mengejutkannya—bukan dari dalam kamar, melainkan dari luar, seolah seseorang telah memanjat dinding untuk mencapai balkon lantai dua itu secara diam-diam.
Ji Ming bersiaga, tapi begitu bayangan itu melangkah ke cahaya lentera, ia mengenali wajah yang tak disangka-sangka akan ia temui di sini.
"Han Lie?"
Pemburu bayaran itu berdiri dengan sikap yang jauh berbeda dari terakhir kali mereka bertemu—tidak ada lagi senyum penuh perhitungan seorang pemburu profesional, melainkan sesuatu yang lebih hati-hati, hampir gugup.
"Aku tidak datang untuk menyerangmu," Han Lie berkata cepat, tangannya terangkat menunjukkan ia tak membawa senjata. "Aku datang karena aku dengar tentang sidang besok, dan aku pikir kau perlu tahu sesuatu yang mungkin berguna."
"Kenapa kau tiba-tiba mau membantu? Terakhir kali kita bertemu, kau berjanji akan kembali dengan lebih banyak bantuan."
"Karena setelah pertarungan terakhir kita di Sungai Tenang, aku mulai bertanya-tanya sendiri," Han Lie menjawab, suaranya jujur untuk pertama kalinya sejak mereka mengenal satu sama lain. "Bayaran macam apa yang membuat seorang tetua sekte begitu putus asa hingga rela membayar ganda untuk seorang buronan bermeridian kosong? Aku mulai menggali sendiri, diam-diam, dan yang kutemukan membuatku semakin yakin bahwa aku telah dibayar untuk memburu orang yang tak bersalah."
Ji Ming menatapnya lama, mencoba menilai kejujuran di balik kata-kata itu. "Apa yang kau temukan?"
"Wakil Tetua Sun bukan bertindak sendirian." Han Lie melangkah lebih dekat, suaranya merendah menjadi bisikan. "Ia punya sekutu di dalam Dewan Aliansi sendiri—bukan hanya di Puncak Elang Hitam. Besok, saat sidang berlangsung, mereka berencana mengajukan seorang saksi kejutan yang akan bersaksi bahwa kau, Ji Ming, menggunakan kekuatan jiwa untuk memanipulasi pikiran orang-orang di sekitarmu—tuduhan palsu yang dirancang untuk membuat seluruh Dewan takut, membuat mereka lupa pada bukti nyata yang sudah kalian kumpulkan."
Kata-kata itu membuat perut Ji Ming terasa dingin. "Siapa saksi itu?"
"Aku tidak tahu namanya," Han Lie menggeleng, "tapi aku tahu dia dibayar sangat mahal, dan latihan berbohongnya sangat meyakinkan. Kalau kalian tidak siap menghadapinya, tuduhan itu bisa mengubah seluruh arah sidang sebelum bukti nyata kalian sempat benar-benar didengar."
Ji Ming menatap Xiao Mu, lalu kembali ke Han Lie, merasakan campuran rasa terima kasih dan kewaspadaan yang membingungkan—mantan musuh yang kini, entah karena hati nurani atau alasan lain, memilih membantunya di saat paling kritis.
"Kenapa kau memberitahuku ini secara langsung? Kau bisa saja tetap diam dan membiarkan rencana itu berjalan."
Han Lie terdiam sejenak, menatap ke arah kompleks Aula Utama yang megah di kejauhan. "Karena aku sudah cukup lama hidup sebagai orang yang dibayar untuk tidak peduli pada kebenaran. Mungkin sudah waktunya aku mencoba peduli, meski hanya sekali." Ia melangkah mundur menuju tepi balkon, bersiap menghilang secepat kedatangannya. "Berhati-hatilah besok, Meridian Kosong. Aku tidak bisa membantu lebih jauh dari ini tanpa membahayakan diriku sendiri, tapi setidaknya sekarang kalian tahu apa yang menanti."
Sebelum Ji Ming sempat berterima kasih lebih jauh, Han Lie telah menghilang ke dalam kegelapan malam.