Mata Dewa: Jalan Sang Pangeran
Zhou Li, pangeran keempat Kerajaan Zhou yang lemah, tewas dicabik binatang buas di hutan terlarang—dan tubuhnya ditempati Zhou Chen, pemuda modern yang mati membaca buku di perpustakaan. Terjebak di istana asing, dikepung delapan saudara haus takhta, tanpa kekuatan atau sekutu, ia hanya ingin hidup tenang. Semua berubah saat Mata Dewa Analisis terbangun dalam dirinya, mampu menembus kelemahan, potensi, dan takdir tersembunyi, berdampingan dengan Kitab Langit Tanpa Akhir yang menyempurnakan setiap ilmu yang ia kuasai.
Dari mereka yang dianggap sampah dunia, ia membangun Pasukan Mata Langit—loyal hingga mati—dan perlahan menyeret Kerajaan Zhou keluar dari bayang-bayang, hingga tersingkap kebenaran: dunia ini hanyalah lapisan terendah dari semesta yang jauh lebih luas. Ia tak pernah mengejar takhta, tapi dunia akan bertekuk lutut di hadapan namanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 — Sidang Dewan Menteri
Ruang sidang dewan menteri jauh lebih kecil dari Aula Utama, namun ketegangan yang memenuhinya terasa berkali-kali lipat lebih berat. Tujuh menteri senior duduk berjajar di depan, dengan Raja Zhou Tian sendiri hadir di kursi tertinggi—sesuatu yang tidak biasa untuk sidang seperti ini, namun mengingat status kedua pihak yang bertikai, kehadirannya nyaris tak terelakkan.
Zhou Han berdiri di satu sisi ruangan, tenang seperti biasa, sementara Zhou Chen berdiri di sisi lain bersama Zhou Ming yang kini tidak lagi menyembunyikan keterlibatannya.
"Dokumen yang Kakak Keempat bawa," kata Zhou Han begitu diberi kesempatan bicara, "bisa saja dipalsukan. Bagaimana dewan bisa yakin ini bukan rekayasa untuk menjatuhkan hamba?"
Menteri Song, yang duduk di antara para menteri lain, akhirnya angkat bicara—sebuah keberanian yang mengejutkan banyak orang mengingat reputasinya yang selama ini netral. "Hamba bisa mengonfirmasi keaslian tanda tangan dalam dokumen ini, Yang Mulia. Hamba pernah melihat tanda tangan yang sama pada surat-surat lama, puluhan tahun silam."
Seluruh ruangan terdiam. Raja Zhou Tian mencondongkan tubuhnya ke depan. "Tanda tangan siapa?"
Menteri Song menarik napas panjang, seolah kata-kata berikutnya adalah beban yang telah ia pikul terlalu lama sendirian.
"Zhou Yan," katanya akhirnya. "Adik kandung mendiang Ibunda Ibu Suri yang sesungguhnya, Yang Mulia. Tapi orang yang seharusnya sudah wafat lebih dari tiga puluh tahun lalu, dinyatakan mangkat karena sakit setelah gagal dalam upayanya merebut pengaruh di istana pada masa muda Baginda."
Wajah Raja Zhou Tian berubah pucat, sesuatu yang jarang sekali terlihat di hadapan publik. "Itu mustahil. Aku menghadiri pemakamannya sendiri."
"Hamba juga mengira begitu, Yang Mulia," jawab Menteri Song pelan, "sampai hamba melihat dokumen ini."
Zhou Chen merasakan potongan-potongan teka-teki yang selama ini terpisah mulai menyatu di kepalanya. Zhou Yan—bukan sekadar kerabat jauh Permaisuri seperti dugaan awal, melainkan bibi kandung Raja sendiri, seseorang yang diyakini telah mati puluhan tahun lalu namun ternyata memalsukan kematiannya sendiri untuk terus mengendalikan istana dari bayang-bayang.
"Kalau ini benar," kata salah satu menteri lain, suaranya bergetar, "maka seluruh peristiwa selama bertahun-tahun terakhir—kebijakan yang tampak aneh, pengangkatan pejabat yang tidak masuk akal, bahkan mungkin kematian-kematian mencurigakan di masa lalu—bisa jadi diatur olehnya."
Zhou Han, untuk pertama kalinya sejak sidang dimulai, kehilangan ketenangannya. "Ini... ini fitnah. Hamba tidak pernah bertemu siapa pun bernama Zhou Yan—"
"Kurirmu mengunjungi sebuah rumah di distrik pedagang lama," potong Zhou Chen tegas, "dua hari sebelum perjamuanmu merayakan 'kemenangan atas tikus-tikus pengganggu'. Kami menemukan dokumen ini di rumah itu sendiri, dari tangan seorang wanita yang jelas bukan orang biasa."
"Bohong—"
"Cukup." Suara Raja Zhou Tian menggema, memotong perdebatan yang mulai memanas. Ia menatap Zhou Han lama, matanya penuh kekecewaan yang sulit disembunyikan. "Han. Jawab aku jujur. Apakah kau pernah menerima perintah dari seseorang di luar istana ini—siapa pun itu—sejak beberapa tahun terakhir?"
Keheningan panjang menyelimuti ruangan itu. Zhou Han, yang selama ini selalu terlihat sempurna dalam mengendalikan ekspresinya, kini menunjukkan keretakan pertama—rahangnya mengeras, matanya bergerak gelisah mencari jalan keluar yang tidak lagi ada.
Sebelum ia sempat menjawab, sebuah ledakan kecil terdengar dari luar ruangan sidang, diikuti teriakan panik para pengawal.
"Penyusup! Ada penyusup di area istana!"
Pintu ruang sidang terhempas terbuka, dan seorang pengawal berlari masuk dengan wajah pucat pasi. "Yang Mulia! Beberapa orang bersenjata menyerang gerbang barat—mereka mengincar ruang sidang ini!"
Zhao Kai, yang berjaga di luar ruangan bersama Ah Fu dan Yue Er, segera masuk dengan pedang terhunus. "Yang Mulia, kita harus mengamankan Raja dan seluruh dewan sekarang juga!"
Zhou Han memanfaatkan kekacauan itu untuk mundur perlahan ke arah pintu samping, namun Zhou Ming—dengan gerakan cepat yang jarang ia tunjukkan secara fisik—menghalangi jalannya.
"Ke mana kau pikir kau akan pergi?" tanya Zhou Ming dingin.
"Menjauh dari kekacauan yang jelas bukan buatanku," desis Zhou Han, namun matanya yang gelisah mengkhianati kebohongan itu.
Di luar, suara pertarungan semakin jelas terdengar—bukan sekadar beberapa penyusup, melainkan pasukan kecil yang terorganisir, bergerak dengan formasi yang mengingatkan Zhou Chen pada serangan pertama di jalur dagang berbulan-bulan lalu.
Gagak Hitam, pikirnya, dadanya mencekam. Mereka mengirim pasukan langsung ke jantung istana. Ini bukan lagi permainan bayangan—ini serangan terbuka.
Raja Zhou Tian, meski usianya sudah lima puluhan, masih menunjukkan sisa ketangkasan seorang bekas prajurit di masa mudanya, segera memerintahkan pengawal pribadinya membentuk formasi pelindung di sekeliling dewan menteri.
"Li," katanya, menatap Zhou Chen dengan tatapan yang penuh keputusan mendadak, "kau dan orang-orangmu—amankan jalur keluar. Aku ingin tahu siapa yang berani menyerang jantung kerajaanku sendiri."
Zhou Chen mengangguk tegas, tidak ada waktu lagi untuk keraguan. "Zhao Kai, Yue Er—ikut aku. Ah Fu, lindungi Zhou Feng dan pastikan dia tidak terluka."
Mereka bergerak keluar ruang sidang menuju koridor yang kini dipenuhi kekacauan—pengawal istana bertarung melawan sosok-sosok berjubah hitam yang bergerak dengan kecepatan dan koordinasi jauh di atas bandit biasa.
Di tengah kekacauan itu, Zhou Chen mengarahkan Mata Dewa ke salah satu penyerang yang paling dekat, berharap menemukan sesuatu yang bisa membantu membalikkan keadaan.
Penyerang — Gagak Hitam, tingkat kultivasi Pemadatan Qi. Formasi menunjukkan komando terpusat, kemungkinan besar diperintahkan langsung untuk melenyapkan bukti dan saksi di ruang sidang, bukan untuk menguasai istana secara keseluruhan. Catatan: serangan ini kemungkinan bukan upaya kudeta, melainkan operasi pembersihan mendesak.
"Mereka bukan mencoba merebut istana," seru Zhou Chen kepada Zhao Kai di tengah pertarungan yang mulai pecah di sekitar mereka. "Mereka mencoba membunuh kita—saksi dan bukti sekaligus, sebelum semuanya sampai ke telinga lebih banyak orang!"
"Itu berarti Zhou Yan atau siapa pun namanya sekarang benar-benar panik," balas Zhao Kai, menangkis serangan pedang dari salah satu penyusup dengan gerakan Teknik Pedang Delapan Arah yang kini mengalir semakin alami di tangannya. "Bagus. Musuh yang panik membuat kesalahan."
Pertarungan di koridor istana berlangsung sengit, namun jumlah pengawal kerajaan yang jauh lebih banyak perlahan mulai menekan mundur para penyerang. Di tengah kekacauan itu, Zhou Chen melihat sesosok yang sangat ia kenal Zhou Han, memanfaatkan momen kacau untuk benar-benar menghilang dari pandangan, menyelinap melalui pintu belakang yang jarang digunakan.
"Dia melarikan diri!" seru Zhou Chen, namun terlambat gelombang penyerang lain menghalangi jalannya untuk mengejar.
Ketika kekacauan akhirnya mereda beberapa saat kemudian, dengan sebagian besar penyerang berhasil dilumpuhkan atau melarikan diri, kerugian yang tersisa cukup jelas: beberapa pengawal istana terluka, satu menteri junior tewas terkena serangan nyasar, dan yang paling mengkhawatirkan Zhou Han telah menghilang sepenuhnya dari istana.
Raja Zhou Tian berdiri di tengah reruntuhan kekacauan itu, wajahnya keras seperti batu, namun matanya menyimpan luka yang jauh lebih dalam dari sekadar kemarahan seorang penguasa terhadap pengkhianatan.
"Cari dia," perintahnya, suaranya dingin dan tegas seperti yang belum pernah didengar Zhou Chen sebelumnya. "Cari Han, di mana pun dia bersembunyi. Dan cari tahu siapa sebenarnya wanita yang menyebut dirinya Zhou Yan itu—hidup atau mati, aku ingin jawaban pasti."
Zhou Chen membungkuk hormat, namun di dalam hatinya, ia tahu bahwa sidang yang seharusnya menyelesaikan tuduhan terhadap dirinya, kini telah membuka babak yang jauh lebih berbahaya perang terbuka yang tidak lagi bisa disembunyikan di balik intrik dan bisikan istana.