Niat mau bercerai setelah selesai Kkn, eh pas Kkn mereka malah buat dede bayi. Apakah mereka akan jadi bercerai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon isd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama Arsen Keira
Dan tanpa disadarinya, kesalahpahaman pun mulai tumbuh di antara mereka.
Di dalam rumah, Keira kembali memasuki dapur. Namun, kali ini bukan untuk membantu pekerjaan yang tertunda. Ia hanya berdiri mematung di dekat meja, tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Kedua tangannya mengepal kecil, sementara wajahnya menunjukkan kekesalan yang berusaha ia sembunyikan.
Rina yang kebetulan melihatnya langsung menyadari ada sesuatu yang tidak beres.
“Keira,” panggilnya pelan.
Tidak ada jawaban. Rina mengernyit, lalu mendekat beberapa langkah.
“Kamu kenapa, sih? Dari tadi mukamu ditekuk begitu.”
Keira akhirnya menoleh. Ia terdiam sejenak sebelum membuka mulut, seolah sedang menimbang-nimbang pertanyaan yang hendak diajukannya.
“Rina,” panggilnya pelan.
“Hm?”
“Menurut kamu, Pak Arsen itu suka sama perempuan yang seperti apa?”
Rina langsung mengernyit kebingungan.
“Hah? Kok tiba-tiba nanya begitu?”
“Jawab saja, deh!” sahut Keira cepat, sedikit tidak sabar.
Rina mengangkat bahu, kemudian berpikir sejenak sebelum memberikan jawabannya.
“Kalau menurutku, sih, mungkin dia suka perempuan yang dewasa, pintar, elegan, dan punya karier bagus. Pokoknya, tipe wanita profesional begitu, deh.”
Keira terdiam. Bayangan wanita yang tadi berdiri bersama Arsen kembali muncul di benaknya. Penampilannya yang rapi, sikapnya yang anggun, serta caranya tertawa lepas saat berbincang dengan pria itu.
Semuanya terasa begitu cocok dengan gambaran yang baru saja disebutkan Rina.
“Oh...” gumam Keira lirih. “Begitu, ya?”
Rina yang awalnya menjawab dengan santai kini mulai memperhatikan ekspresi sahabatnya itu dengan lebih saksama.
Ia menyipitkan mata, lalu mendekatkan wajahnya sedikit.
“Sebentar.” Rina menunjuk Keira dengan tatapan penuh kecurigaan. “Jangan-jangan kamu suka sama Pak Arsen?”
Keira langsung menggeleng cepat. “Enggak! Enggak sudi!”
Jawabannya terdengar begitu tegas, seolah ia sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Rina justru terkekeh mendengar penolakan tersebut.
“Keira, jangan, deh! Dia saja belum tentu suka sama kamu. Hahaha!”
“Rina!” protes Keira dengan wajah kesal.
Namun, Rina malah semakin tertawa melihat reaksinya.
Di balik kekesalannya, Keira perlahan terdiam. Candaan Rina barusan justru membuatnya teringat pada kenyataan yang selama ini berusaha ia abaikan.
Apa yang dikatakan Rina memang benar.
Sejak awal pernikahan mereka, Arsen hampir tidak pernah menunjukkan senyum hangat kepadanya. Pria itu selalu bersikap dingin, berbicara seperlunya, dan lebih sering membuat Keira merasa seolah keberadaannya tidak berarti.
Namun, pagi ini ia justru melihat Arsen tersenyum begitu lepas kepada wanita lain. Keira menundukkan kepala, memainkan ujung jarinya yang masih terbungkus plester.
“Memang sejak awal dia enggak pernah benar-benar menyukaiku,” gumamnya dalam hati, merasa semakin murung. “Bahkan senyum seperti itu saja enggak pernah dia berikan kepadaku.”
Entah mengapa, kenyataan sederhana itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada yang ingin ia akui.
..
Program KKN kedua yang mereka jalankan perlahan mulai memperlihatkan hasil yang menggembirakan.
Meski baru dua minggu berada di desa tersebut, perubahan nyata sudah mulai dirasakan oleh masyarakat. Warga yang sebelumnya harus bergantung pada sumur untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari, kini bisa memanfaatkan mesin air yang berhasil dipasang oleh tim KKN.
Anak-anak tampak riang bermain di sekitar tempat penampungan air, para ibu tidak lagi terlalu kesulitan mendapatkan air untuk keperluan rumah tangga, dan suasana desa pun terasa semakin ramai.
Keberhasilan program itu menjadi penyemangat bagi seluruh mahasiswa untuk melanjutkan kegiatan berikutnya.
Mereka kembali disibukkan dengan berbagai tugas. Ada yang mencatat perkembangan program, membantu warga menyelesaikan pekerjaan, hingga mengatur perlengkapan yang akan digunakan.
Namun, di tengah kesibukan tersebut, Arsen justru merasakan sesuatu yang berbeda.
Matanya bergerak menyusuri area kegiatan, mencari sosok yang sejak tadi tidak terlihat olehnya.
Keira. Perempuan itu tidak ada di antara para mahasiswa lainnya.
“Ke mana Keira?” gumam Arsen pelan dengan dahi berkerut.
Seharian ini, ia sama sekali belum melihat keberadaan istrinya tersebut.
Padahal, biasanya, sekalipun sedang bertengkar dengannya, Keira tetap muncul di sekitar lokasi kegiatan. Gadis itu selalu memiliki caranya sendiri untuk menunjukkan keberadaan, entah dengan mengomel, membantah perkataannya, atau sekadar melontarkan komentar yang membuat suasana menjadi ramai.
Namun, hari ini justru sebaliknya. Keira seolah menghilang tanpa jejak.
Sementara itu, di sisi lain desa, Keira sedang berusaha menghindari seseorang yang paling tidak ingin ditemuinya saat ini.
Ia bersembunyi di belakang rumah salah seorang warga, berpura-pura sibuk merapikan barang-barang yang sebenarnya tidak terlalu membutuhkan perhatiannya.
“Aku enggak mau ketemu dia dulu,” gumamnya sambil melirik ke arah jalan kecil di samping rumah.
Sejak melihat Arsen berbincang akrab dengan Asti pagi tadi, suasana hatinya belum juga membaik. Ia bahkan belum siap berhadapan dengan pria itu, apalagi jika harus mendengar omelan atau ucapan dinginnya lagi.
Sayangnya, keberuntungan tidak selalu berpihak kepadanya. Tak lama kemudian, seorang mahasiswa datang menghampiri tempat persembunyiannya.
“Keira! Ternyata kamu di sini. Dari tadi dicari Pak Arsen, tahu!”
Keira langsung menoleh dengan wajah panik.
“Hah? Serius?” Ia buru-buru mendekat, lalu berbisik dengan nada memohon, “Tolong, jangan bilang aku ada di sini, ya!”
Mahasiswa itu mengernyit heran. “Kenapa? Katanya ada urusan penting.”
“Bilang saja kamu enggak tahu aku di mana,” pinta Keira cepat.
Mahasiswa tersebut langsung menggeleng. “Enggak bisa, dong. Nanti kalau Pak Arsen marah karena aku enggak menyampaikan keberadaanmu, malah aku yang kena masalah.”
Keira mengembuskan napas panjang. Rencananya untuk menghindari Arsen ternyata gagal total. Dengan wajah pasrah, ia akhirnya mengikuti mahasiswa itu kembali ke lokasi kegiatan.
..
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di tempat para mahasiswa berkumpul.
“Pak Arsen, ini Keira,” ujar mahasiswa tadi sambil menunjuk gadis yang berdiri di sampingnya.
Arsen yang sedang memeriksa perlengkapan langsung mengangkat kepala.
Begitu melihat Keira, ia mengembuskan napas panjang. Ada sedikit kelegaan di wajahnya, meskipun ekspresinya segera kembali serius.
“Kamu dari mana saja?” tanyanya tegas. “Kamu enggak lihat semua orang sedang sibuk bekerja di sini?”
Keira menatapnya sekilas sebelum menjawab singkat, “Aku juga kerja, kok, Pak.”
Beberapa mahasiswa yang berada tidak jauh dari mereka mulai melirik, penasaran dengan percakapan keduanya.
Arsen mengerutkan kening.
“Kalau memang bekerja, seharusnya kamu berada bersama anggota kelompokmu, bukan malah menghilang tanpa kabar.”
Keira mengembuskan napas kesal.
“Percuma kamu kuliah tinggi-tinggi kalau masih saja bersikap seperti ini,” lanjut Arsen. “Kamu pikir kegiatan ini bisa berjalan kalau setiap orang bertindak sesuka hati?”
Nada bicaranya terdengar keras, membuat beberapa mahasiswa memilih diam dan tidak ikut campur.
Keira yang sejak tadi berusaha menahan diri akhirnya membalas dengan wajah masam.
“Bapak kenapa, sih, marah terus sama aku? Yang lain juga ada, kenapa aku melulu yang diperhatikan?”
Beberapa mahasiswa langsung saling pandang.
Mereka sepertinya sudah bisa menebak ke mana arah percakapan tersebut.
Drama antara Pak Arsen dan Keira lagi.
Namun, sebelum perdebatan mereka semakin memanas, seseorang datang menghampiri dengan membawa kabar.
Asti muncul dengan senyum ramah, membawa beberapa bungkus makanan ringan dan minuman dingin untuk para mahasiswa.
“Arsen, camilan dan esnya sudah siap,” ucapnya ceria.
Arsen pun mengalihkan pandangan ke arah Asti, sementara Keira yang melihat kedatangan wanita itu mendadak terdiam.
Senyum Asti terlihat begitu ramah.
Dan entah mengapa, pemandangan itu kembali mengingatkan Keira pada pagi tadi, yang sudah berusaha ia lupakan.
...
Like
Komen
Vote
Love you all