Selesai membaca novel drama yang bikin emosi, Naya malah mengalami kecelakaan dan terbangun di dalam tubuh figuran bernasib sama. Tahu alur tragisnya, ia memanfaatkan kontrak nikah 6 bulan untuk hura-hura pakai uang Damar suami kaya nan dingin yang terpaksa menikahinya lalu berniat kabur membawa uang kompensasi cerai!
Namun, sikapnya yang berubah 180 derajat jadi cuek savage dan menganggap Damar sekadar ATM berjalan justru membalikkan alur cerita. Saat masa kontrak usai dan Naya menagih perceraian, Damar malah ngamuk tak rela dan mendadak berubah jadi suami posesif yang bucin parah!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29.Rencana calon janda
Malam Minggu di mansion Diksara seharusnya menjadi waktu yang tenang bagi siapa pun setelah seharian lelah berkeliling kota. Namun, tidak berlaku bagi Damar Diksara. Pria yang terbiasa memegang kendali atas ribuan karyawan dan grafik saham perusahaan multinasional itu kini justru tengah duduk gelisah di ruang kerja pribadinya yang luas. Lampu meja berwarna hijau klasik menyinari setumpuk dokumen laporan keuangan, tetapi matanya sama sekali tidak fokus pada angka-angka di atas kertas.
Pikirannya melayang kembali pada kejadian siang tadi. Di depan lukisan surealis di galeri seni, Naya melontarkan kalimat yang begitu dalam—tentang luka batin, tentang orang-orang yang terlihat megah di luar namun berjuang sendirian di gang gelap yang sunyi. Yang membuat Damar terjaga hingga larut malam bukan sekadar kalimat filosofis itu, melainkan kenyataan bahwa wanita yang duduk di sampingnya saat itu terasa begitu asing sekaligus luar biasa memikat.
Damar menyandarkan punggungnya pada kursi kerja kulit hitam berukuran besar, memijat batang hidungnya dengan sebelah tangan.
Ada yang aneh dengan Naya, batin Damar bergejolak penuh tanya.
Ia masih sangat ingat bagaimana sosok Naya sebelum resmi dinikahkan oleh Mamah Ratna beberapa bulan lalu. Berdasarkan berkas investigasi pribadi yang sempat ia baca, Naya yang asli adalah gadis pendiam, penakut, cenderung minder, dan selalu menunduk ketakutan setiap kali berhadapan dengan keluarga elit. Gadis itu tidak punya selera humor, tidak tahu apa itu cilok mercon, apalagi berani meneriakinya "Mas Kulkas" atau menggelitiki pinggang seorang CEO di pagi hari.
Tetapi Naya yang sekarang? Gadis itu ceriwis, berani melawan, punya cara pandang hidup yang unik, tahu banyak hal random, dan bertindak seolah-olah ia tidak memiliki beban hidup sama sekali—meski di detik berikutnya ia bisa melontarkan kalimat tajam yang menusuk tepat ke ulu hati Damar.
Apakah dia menggunakan topeng? Atau... jangan-jangan dia bukan Naya yang dulu? pikir Damar setengah tidak masuk akal, lalu langsung menggelengkan kepalanya pelan untuk menepis pemikiran konyol yang terdengar seperti plot novel fiksi murahan. Mana mungkin ada orang yang berubah drastis dalam semalam?
Meski akal sehatnya menolak, rasa penasaran itu justru menggerogoti pertahanan Damar. Pria itu memutuskan untuk mencari tahu. Dengan langkah pasti, Damar beranjak dari ruang kerja dan berjalan pelan menuju kamar utama di lantai atas, berniat memeriksa apakah istrinya sudah tidur atau belum.
Di dalam kamar utama, suasana remang-remang menyelimuti ruangan besar berkat pendar lampu tidur dari atas nakas. Di sisi kanan tempat tidur, Naya sama sekali belum memejamkan matanya. Gadis itu justru sedang duduk bersila di atas karpet berbulu halus, memegang sebuah buku catatan kecil bersampul merah muda dengan ekspresi wajah yang amat serius, ditemani sebatang pulpen hitam.
Naya sama sekali tidak menyadari keberadaan Damar yang membuka pintu kamar secara perlahan tanpa suara. Saat ini, kepalanya sedang sibuk menghitung masa depan.
Waktu kontrak pernikahan tinggal kurang dari empat bulan lagi, gumam Naya dalam hati sambil mencoret-coret sesuatu di atas kertas. Kalau aku berhasil bertahan sampai hari H, aku bakal mengantongi cek kompensasi sebesar dua miliar rupiah dari keluarga Diksara. Dua miliar, Cuy! Buat ukuran anak kos yang mendadak nyasar masuk ke dalam novel romantis klise ini, itu adalah berkah luar biasa.
Naya mulai menulis daftar impiannya setelah resmi bercerai dan menyandang status baru.
#Poin pertama: Beli ruko tiga pintu di dekat kampus strategis buat buka kafe kue pancong modern dan es doger estetik.
#Poin kedua: Beli apartemen studio minimalis di pusat kota, bebas dari teror Mamah Ratna dan bebas dari tatapan tajam si Mas Kulkas.
#Poin ketiga: Pensiun dini dari dunia percintaan fiksi, hidup tenang sebagai janda kaya raya yang independen.
"Lagi bikin rencana makar apa malam-malam begini?"
Sebuah suara bariton yang berat mendadak menginterupsi keheningan kamar, membuat Naya terperanjat hebat hingga pulpen di tangannya hampir melayang.
Bruk!
Naya buru-buru menutup buku catatannya dengan gerakan kilat, lalu menoleh ke belakang. Ia mendapati Damar sudah berdiri bersandar di kusen pintu kamar mandi dengan kedua tangan dilipat di dada. Kemeja flanel yang tadi siang dipakai sudah berganti dengan kaos polos putih longgar dan celana bahan hitam, membuat aura ketampanannya berkali-kali lipat lebih berbahaya di bawah temaram lampu malam.
Naya mengerjap kaget, berusaha memasang ekspresi setenang mungkin sambil nyengir lebar tanpa dosa. "Eh, Mas Kulkas! Belum tidur? Kirain udah mimpi buruk dikejar-kejar deadline laporan keuangan perusahaan."
Damar melangkah mendekat, langkah kakinya terdengar pelan namun mengintimidasi. Ia berhenti tepat di hadapan Naya yang masih duduk di lantai, lalu menundukkan sedikit kepalanya untuk menatap buku catatan bersampul merah muda yang dipegang erat-erat oleh sang istri di belakang punggungnya.
"Buku apa itu? Kenapa keliatannya panik begitu pas saya datengin?" tanya Damar menyelidik, sebelah alisnya terangkat tajam. Matanya menatap curiga ke arah tangan Naya.
Naya tersenyum kaku, menggeser posisinya sedikit ke belakang. "Dih, kepo banget jadi orang! Ini rahasia dapur negara, nggak boleh dibaca sama pejabat publik kayak kamu. Nanti kalau kamu baca, saham perusahaan kamu bisa anjlok karena syok."
Damar tidak langsung menyerah. Ia berjongkok di hadapan Naya, menyamakan tinggi wajah mereka. Jarak di antara keduanya mendadak menjadi sangat dekat, hingga Naya bisa mencium aroma sabun mandi mint bercampur maskulin yang menguar dari tubuh suaminya. Jantung Naya seketika berdegup kencang, bukan karena baper, melainkan karena takut rahasia rencana "janda kaya" terbongkar.
"Naya," panggil Damar dengan suara rendah yang begitu menghipnotis, menatap lurus ke dalam manik mata istrinya. "Belakangan ini, kamu jadi sering bertingkah aneh. Cara ngomong kamu, cara pandang kamu ke dunia, semuanya beda banget sama Naya yang dikenal keluarga saya dulu. Sebenarnya... siapa kamu?"
Deg!
Darah Naya mendadak berdesir hebat. Kalimat itu meluncur begitu telak, seolah Damar bisa membaca isi kepala bahwa jiwa di dalam tubuh ini bukanlah Naya yang asli, melainkan seorang pembaca novel dari dunia nyata.
Untuk sepersekian detik, Naya kehilangan kata-kata. Tenggorokannya terasa kering. Namun, sebagai pembaca novel yang sudah melahap ratusan cerita fiksi serupa, Naya tahu betul ia tidak boleh panik. Panik berarti kalah.
Naya langsung mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu mendengkus keras sambil mendorong pelan dada bidang Damar dengan telapak tangannya agar pria itu menjauh.
"Ih, ngaco banget mulai ngelantur tengah malam gini! Kesambut penunggu gentayangan mana kamu, Mas?" protes Naya dengan nada sewot yang dibuat-buat, berusaha menutupi kegugupannya. "Ya jelas beda lah! Dulu kan saya jaim, takut dibully sama mertua galak kayak Mamah Ratna, makanya saya diem aja kayak patung pancoran. Sekarang kan saya udah adaptasi! Kalau saya tetep diem, yang ada darah tinggi saya kambuh ngadepin kulkas dua pintu berjalan kayak kamu!"
Damar terdiam, mengamati setiap gerak-gerik dan perubahan ekspresi di wajah Naya. Pria itu tidak langsung percaya, tetapi ia juga tidak menemukan celah kebohongan yang pasti. Wajah Naya tampak begitu natural melayangkan protes, membuat Damar perlahan menarik kembali tubuhnya dan bangkit berdiri.
"Bisa jadi alasan itu benar," balas Damar dingin dengan nada menyelidik, meski sudut bibirnya sempat berkedut tipis menahan geli. "Tapi kalau sampai saya tahu kamu menyembunyikan sesuatu yang membahayakan rumah tangga kita... saya tidak akan segan-segan menghukum kamu, Naya."
Naya ikut berdiri, mendengus kesal sambil berkacak pinggang. "Hukum apa emangnya? Mau dipotong uang belanja? Silakan aja, emangnya saya takut!" elaknya berani, meski dalam hati ia meringis membayangkan uang dua miliar rupiah melayang.
Damar hanya menatapnya sekilas dengan sorot mata yang menyembunyikan rasa penasaran mendalam. Tanpa berkata apa-apa lagi, pria itu membalikkan badan dan berjalan menuju sisi kiri tempat tidur, lalu berbaring di balik selimut tebalnya.
Naya menghela napas panjang, mengusap dadanya yang berdegup kencang karena hampir ketahuan. Ia kembali melirik buku catatannya, lalu bergumam pelan, "Aduh, si Mas Kulkas makin hari makin peka aja kayak detektif conan. Harus lebih hati-hati nih kalau mau nyusun rencana kabur."
Keesokan paginya, matahari hari Minggu menyapa mansion Diksara dengan cuaca yang cerah ceria. Namun, ketenangan pagi itu langsung buyar seketika begitu suara ketukan dan dorongan pintu kamar utama terbuka dengan kasar. Mengingat Mamah Ratna tinggal menetap di sayap utara mansion megah tersebut, wanita paruh baya itu sama sekali tidak butuh waktu lama untuk menyerbu langsung ke lantai atas.
Brak!
Pintu kamar utama terbuka lebar tanpa diundang. Sosok Mamah Ratna melangkah masuk dengan wajah memerah menahan murka, napasnya memburu tajam, didampingi oleh seorang wanita muda berpakaian modis berinisial Clara—sosok sosialita anak rekan bisnis keluarga Diksara yang beberapa hari ini memang sengaja diundang menginap di mansion oleh Mamah Ratna untuk mendekati Damar.
Naya yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil di lehernya langsung terlonjak kaget. Sementara Damar, yang sudah bangun lebih dulu dan duduk di tepi tempat tidur mengenakan kemeja kasual, langsung menaikkan sebelah alisnya dengan tatapan dingin.
"Damar! Naya! Berani sekali kalian tidur selena ini di saat matahari sudah tinggi!" geram Mamah Ratna menggelegar, matanya menatap tajam bergantian ke arah anak dan menantunya. Tanpa membuang waktu, Mamah Ratna langsung melempar sebuah map merah tebal ke atas tempat tidur di hadapan mereka dengan kasar. "Dan kamu, wanita tidak tahu diri! Baca apa isi map itu dan jelaskan apa maksud semua ini?!"
Naya mengerjap-ngerjap polos, melirik sekilas ke arah map merah yang mendarat tepat di dekat bantal pembatas kasur. Ia menunjuk hidungnya sendiri sambil menoleh ke arah Damar.
"Loh, Mah... pagi-pagi udah hobi banget ngajak sinetron stripping. Emangnya saya berbuat apa lagi? Bikin pabrik cilok ilegal di basement mansion?" celetuk Naya tanpa filter.
Damar mengabaikan celetukan istrinya. Pria itu dengan gerakan tenang meraih map merah tersebut, membukanya, dan membaca deretan lembar dokumen di dalamnya. Seketika itu juga, rahang Damar mengeras, dan sorot mata tajamnya berubah menjadi dingin mematikan.
_Bersambung