Rara, seorang gadis yang gemar membaca kisah pria tampan, tiba-tiba terbangun di dalam novel yang baru saja dibacanya. Namun, bukan sebagai pemeran utama yang baik hati, ia justru menjadi Zelara Sabiru, istri arogan, sombong, dan kejam dari seorang bos mafia bernama Bashkar Deluca. Dalam cerita asli, Zelara selalu membenci Bashkar dan ikut keluarganya menuduh sang suami sebagai dalang di balik kematian kedua orang tuanya. Bahkan, Zelara berakhir dengan nasib tragis. Namun Rara mengetahui satu rahasia yang tidak diketahui siapa pun Bashkar tidak pernah membunuh orang tuanya. Semua tuduhan itu hanyalah fitnah. Berbekal pengetahuan tentang alur cerita, Rara memutuskan mengubah takdir Zelara. Ia meninggalkan sifat buruk sang istri, memilih untuk bertaubat, dan mulai membela Bashkar yang selama ini hidup dalam kesepian serta penuh kecurigaan. Tetapi semakin Rara berusaha mengubah akhir cerita, semakin banyak rahasia keluarga Deluca yang terbongkar. Dan yang paling membuatnya bingung… Mengapa sang mafia dingin yang seharusnya membencinya justru mulai melindunginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Empat jam berlalu bagaikan siksaan neraka yang berjalan merayap. Di luar ruang operasi, Bashkar tidak bergeming sedikit pun dari posisinya. Pria itu berdiri kaku di balik dinding kaca, membiarkan darah kering di jemarinya membeku, sementara sepasang mata kelabunya menatap lurus ke arah lampu indikator merah yang tak kunjung padam. Lorong rumah sakit itu dipenuhi keheningan mencekam; tak ada satu pun pengawal yang berani bernapas terlalu keras di sekitar sang penguasa underworld.
KLEK.
Lampu operasi akhirnya padam, digantikan oleh pendar hijau. Pintu ganda berbahan besi tebal itu terdorong terbuka. Kepala dokter bedah keluar dengan peluh yang membasahi dahi, wajahnya tampak sangat lelah namun menyiratkan rasa lega yang teramat besar. Ia segera melepaskan masker medisnya dan membungkuk dalam-dalam di hadapan Bashkar.
"Tuan Deluca..." ujar sang dokter dengan suara yang sedikit bergetar, mencoba menetralkan napasnya. "Operasi berjalan sangat rumit karena adanya pendarahan internal di area dada dan hipotermia ekstrem yang sempat menghentikan fungsi organ vitalnya. Namun... dengan mukjizat yang luar biasa, kami berhasil menstabilkan detak jantung dan menghentikan pendarahannya. Nyonya Zelara sudah berhasil melewati masa kritisnya."
Kalimat itu meluncur dan seketika meruntuhkan ketegangan yang menghimpit dada Bashkar selama empat jam terakhir. Meski raut wajahnya tetap kaku, ketegangan di garis rahangnya tampak sedikit mengendur.
"Apakah dia aman?" tanya Bashkar singkat, suaranya parau dan rendah.
"Secara medis, kondisi vitalnya sudah stabil, Tuan. Namun tubuhnya masih sangat lemah dan beliau harus dipindahkan ke ruang perawatan intensif (ICU) untuk pemantauan ketat. Efek trauma fisik dan obat bius akan membuatnya belum siuman untuk beberapa waktu ke depan," jelas dokter bedah itu sebelum akhirnya pamit mundur bersama timnya.
Bashkar menarik napas panjang yang terasa sangat berat. Ia berpaling ke arah Rian yang berdiri tegap dua langkah di belakangnya.
"Rian," desis Bashkar, suaranya turun beberapa oktav—kembali dingin, tajam, dan sarat akan ancaman pembunuh.
"Ya, Tuan?"
"Cari pria paruh baya itu dan seluruh kepingan pasukannya yang terlibat dalam penculikan ini. Seret mereka ke markas bawah tanah," perintah Bashkar dengan mata berkilat membahayakan. "Pastikan mereka ditangkap dalam keadaan hidup-hidup. Jangan biarkan ada satu pun dari mereka yang mati sebelum merasakan pembalasan dendam dari tanganku sendiri."
"Tugas dilaksanakan, Tuan. Saya pribadi yang akan memimpin perburuannya malam ini," sahut Rian tegas sebelum membungkuk hormat dan berbalik pergi bersama pasukan eksekutornya.
Setelah prosedur pemindahan selesai, Bashkar melangkah perlahan memasuki ruang ICU VVIP yang hening dan steril. Bau antiseptik yang menyengat mendominasi ruangan, berpadu dengan irama monoton dari mesin electrocardiogram (ECG) yang berbunyi teratur: Bip... bip... bip...
Langkah kaki Bashkar terasa begitu berat saat mendekati sisi brankar.
Di atas tempat tidur medis yang dingin itu, terbaring tubuh ramping Zela. Wajah porselen istrinya yang biasanya dipenuhi rona merah, senyuman ceria, dan celotehan konyol kini tampak begitu pucat pasi bagaikan kertas polos. Berbagai selang infus dan pemantau medis menempel di tubuhnya, sementara selang oksigen melingkar di hidungnya yang mungil. Perban putih tebal membebat leher dan pelipisnya, mempertegas betapa hancurnya tubuh wanita itu akibat siksaan brutal yang ia terima.
Bashkar berdiri mematung di samping brankar. Jemari tegapnya yang masih dipenuhi bekas luka galian tanah terangkat perlahan, hendak mengusap helai rambut Zela yang terurai, namun tangannya terhenti di udara ragu, takut jika sentuhan kasar tangannya justru akan menyakiti kulit pucat wanita itu yang tampak begitu rapuh.
Deg.
Tiba-tiba, sebuah rasa nyeri yang tak asing menyengat ulu hati Bashkar. Dadanya terasa begitu sesak dan menghimpit, seolah-olah ada pasokan udara yang mendadak hilang dari paru-parunya. Rasa sakit itu bukan berasal dari luka fisik, melainkan sebuah gejolak emosi yang asing dan sangat dibencinya.
Bashkar mengepalkan tangannya di udara, menatap wajah lelap Zela dengan sorot mata yang dipenuhi kebingungan dan keputusasaan yang samar.
Kenapa...? bisik Bashkar dalam hatinya, merasakan remasan hangat bercampur perih yang kian membakar dadanya. Kenapa dadaku terasa begitu sesak dan menyakitkan cuma dengan melihatnya terbaring tak berdaya seperti ini?
Keesokan harinya, matahari musim dingin terbit enggan di balik awan kelabu yang tebal. Di bagian terdalam markas bawah tanah keluarga Deluca sebuah ruangan beton tanpa jendela yang dingin, lembap, dan hanya diterangi oleh pendar lampu gantung yang temaram keheningan terasa begitu pekat dan berbau amis darah yang menyengat.
Pintu besi tebal berderit nyaring saat Rian menyeret tubuh pria paruh baya itu masuk. Pria penculik yang kemarin bertindak jumawa itu kini berada dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Wajahnya babak belur hingga membengkak kebiruan, salah satu matanya tertutup rapat oleh pendarahan, dan kedua kakinya patah meliuk tak wajar akibat 'penjemputan paksa' yang dilakukan oleh pasukan Rian.
Pria itu dilempar begitu saja ke atas lantai semen yang dingin, merintih dan batuk darah secara menyedihkan.
TAP. TAP. TAP.
Suara derap langkah sepatu kulit menggelegar santai namun mematikan. Dari balik bayang-bayang ruangan, Bashkar melangkah maju. Ia tidak lagi mengenakan pakaian dinas mewahnya, melainkan kemeja hitam berdasi dengan lengan yang digulung rapi hingga ke siku. Sepasang sarung tangan kulit hitam melapisi jemarinya, dan di tangan kanannya, ia memegang sebuah parang bergerigi tebal yang amat tajam.
Raut wajah Bashkar tenang begitu tenang hingga memancarkan ketakutan murni yang membuat udara di dalam ruangan itu terasa beracun.
"B-Bashkar... amp—"
CRACK!
Tanpa melontarkan sepatah kata pun sebagai pembuka, Bashkar menginjak dada pria itu dengan sepatu boot-nya hingga terdengar bunyi remuk dari tulang rusuk yang patah! Pria paruh baya itu melotot histeris, melolong menahan rasa sakit yang luar biasa sewaktu paru-parunya terhimpit.
"Ceritakan padaku..." desis Bashkar tajam. Suaranya sangat rendah, halus, namun merayap bagaikan racun yang membekukan darah. "Ceritakan secara detail... bagaimana caramu menyiksa istriku kemarin malam."
Pria paruh baya itu gemetar hebat. Deru napasnya memburu bercampur tenggorokan yang tersumbat darah. Dalam keputusasaan dan rasa takut yang melumpuhkan, ia terpaksa membuka mulutnya, menceritakan kembali kekejamannya demi mengulur nyawa.
"S-saya... saya memukul kepalanya dari belakang pakai kayu..." cicit pria itu dengan suara serak yang putus-putus. "S-saat dia terikat di kursi... saya menampar wajahnya berulang kali karena dia terus memanggil namamu... S-saya pakai tali tambang tebal... saya cambuk punggung dan dadanya sampai mantelnya robek dan dia menjerit-jerit kesakitan..."
Setiap kata yang keluar dari mulut pria itu bergema di dalam ruangan, membakar saraf-saraf di kepala Bashkar. Bayangan tubuh pucat Zela yang dipenuhi memar dan darah kering seketika berputar liar di benak Bashkar, membakar habis sisa rasa kemanusiaan yang ia miliki.
"Lalu?" desis Bashkar lagi, matanya menyipit dengan kilatan iblis yang pekat.
"D-dia menangis... dia bilang dia benci kamu..." lanjut pria itu merintih. "S-saat dia pingsan karena tak sanggup menahan sakit... s-saya menyeret rambutnya ke luar... membawanya ke halaman belakang... dan melemparkan tubuhnya ke lubang tanah..."
"Cukup."
Satu kata itu meluncur dari bibir Bashkar, memotong cerita itu secara mutlak.
Sebelum pria paruh baya itu sempat memohon ampun, Bashkar meraih pergelangan tangan kanan pria itu dan menancapkannya secara paksa ke atas meja kayu tebal di sampingnya!
JASSHH!
Bashkar mengayunkan parang bergerigi itu dengan kekuatan penuh tepat ke arah pergelangan tangan sang penculik!
CRACK-SLICCEEE!
"AAAAARRGGHHGHHH! AMMMMPUUUNN!"
Jeritan histeris memekakkan telinga meledak di dalam ruangan beton itu! Tebasan parang tebal itu menghancurkan tulang pergelangan tangan dan memotong sebagian besar daging serta urat secara kasar. Namun, parang itu sengaja tidak memutus pergelangan tangan tersebut secara sempurna. Ayunan yang terukur dengan kejam itu menyisakan sedikit lapisan daging dan kulit tebal yang membuntut, membiarkan tangan pria itu terkulai menggelantung tragis hanya disanggah oleh sisa jaringan otot yang terkoyak!
Darah segar menyembur deras bagaikan pancuran, menggenangi meja kayu dan membasahi lantai semen. Pria itu mengeliat-geliat hebat di atas lantai, menjerit hingga suaranya pecah, memegangi lengannya yang kini menggantung parah dengan rasa sakit yang tak terbayangkan.
Bashkar berdiri kaku di atasnya, menatap penderitaan pria itu dengan mata kelabu yang sama sekali tidak memancarkan emosi. Ia menurunkan pandangannya, menempelkan moncong parang yang bersimbah darah hangat itu tepat di bawah dagu pria tersebut, memaksa pria yang melolong itu untuk menatap matanya.
"Setiap rasa sakit yang kau berikan pada istriku..." bisik Bashkar dengan nada suara yang begitu dingin dan mematikan, "akan kubayar kembali seratus kali lipat. Dan perjalananmu menuju neraka... baru saja dimulai."