Di ulang tahun pernikahan nya yang ke sepuluh, Sarah di minta oleh ibu mertua nya menyusul Gibran yang tinggal di tanah perantauan.
Tapi alangkah terkejut nya Sarah, dia menemukan suami nya sudah menjadi suami dari wanita lain. Bahkan mereka sudah memiliki anak berusia 7 tahun. Hal yang lebih mengejutkan, setiap tahun mertua nya datang ke sana mengunjungi mereka serta memberikan banyak hadiah.
Merasa di khianati, Sarah memutuskan kembali ke kota dan memilih untuk berpisah. Tapi setiba nya di rumah, sebuah fakta baru terungkap. Selama ini suami nya membohongi ibu nya sendiri dan menjual nama Sarah demi wanita itu.
Gibran, suami nya Sarah di dukung oleh ayah nya dan juga wanita yang menjadi selingkuhan dari Ayah nya. Ibu mertua nya mendukung Sarah dan membalas perbuatan anak dan suami nya, 2 orang yang berusaha merampas semua harta nya. Tepat di hari Gibran melakukan resepsi mewah, Ibu nya dan Sarah datang memberikan kejutan yang tak terduga untuk Gibran dan juga ayah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Hari ini Santi pergi ke kota, dia mendatangi rumah orang tua nya Gibran. Santi tidak bisa kehilangan rumah nya, karena harga diri nya dan keluarga nya juga akan hilang.
Siang ini, Santi tiba di rumah bu Meri. Tapi dia tidak menemukan siapa pun di sana, karena saat ini bu Meri dan Sarah sedang berada di luar. Bu Meri sedang mengurus penjualan tanah milik nya dengan di temani oleh Sarah.
"Kemana dia? Apakah dia sudah tahu kalau aku akan datang? Sehingga dia memilih keluar dari pada menemui ku!" Santi berguman pada diri nya sendiri.
"Aku akan tetap menunggu di sini, aku tidak akan pergi sebelum ibu nya mas Gibran memberikan uang itu pada ku!" Guman Santi lagi.
Santi pun duduk di kursi yang ada di teras rumah, dia memutuskan untuk menunggu bu Meri di sana. Tidak berselang lama, sebuah mobil memasuki pekarangan rumah. Mobil itu milik nya Sarah, dia baru saja pulang dari mengantarkan bu Meri bertemu dengan notaris.
"Akhir nya, apa yang aku tunggu datang juga!" Guman Santi sambil berdiri dari tempat duduk nya.
Bu Meri dan Sarah turun dari dalam mobil, dan mereka tidak terkejut sama sekali melihat Santi ada di sana. Bu Meri sudah bisa menebak nya, bahwa Santi datang hanya karena uang.
"Mau apa kau datang ke rumah ku?" Tanya Bu Meri dengan ketus.
"Aku datang untuk menagih janji mu!" Jawab Santi dengan suara bergetar.
"Janji yang mana? Aku tidak pernah menjanjikan apapun dengan wanita murahan seperti mu!" Jawab Bu Meri dengan suara dingin.
"Kau sendiri yang menyuruh ku untuk menggadaikan rumah itu, kau berjanji bahwa kau akan menebus nya saat pernikahan itu selesai. Jadi sekarang aku datang untuk menagih nya!" Santi berkata dengan tidak tahu malu.
"Benar - benar wanita tidak tahu diri, bukan kah pernikahan mu dan Giran juga sudah berakhir. Aku tidak punya kewajiban apapun pada dan keluarga mu, jika kau mengingin kan rumah itu silahkan tebus saja sendiri!" Jawab Bu Meri dengan tegas.
"Kau, ini pasti perbuatan mu kan? Kau sudah bukan lagi istri nya mas Gibran, lalu kenapa kau masih berada di sini. Wanita tidak tahu malu!" Santi berkata sambil menuding Sarah.
"Mau aku tinggal di mana saja, itu bukan urusan mu!" Sarah berkata dengan santai.
"Lagi pula rumah itu memang bukan milik mu, selama 8 tahun ini kau sudah mengambil dan menikmati semua milik nya Sarah. Jadi sekarang kau juga akan kehilangan sesuatu yang sejak awal memang bukan lah milik mu!" Bu Mer kembali berkata.
"Rumah itu di bangun oleh mas Gibran untuk ku, jadi tidak ada yanh boleh mengambil nya!" Santi berteriak dengan histeris.
"Jika kau mengingin kan rumah itu, maka silahkan kau tebus saja sendiri. Aku tidak punya urusan apapun dengan wanita seperti mu, ayo nak kita masuk!" Bu Meri menarik tangan Sarah dan membawa masuk ke dalam rumah.
"Tidak, kalian tidak bisa melakukan ini pada ku!" Teriak Santi dengan histeris.
Bu Meri tidak perduli, dia dan Sarah masuk ke dalam rumah dan kembali mengunci pintu nya dari dalam. Dia tidak akan membiarkan wanita seperti Santi menginjak kan kaki nya di rumah milik nya.
"Yang bikin pesta siapa, yang di suruh bayar juga siapa? Enak saja minta uang pada ku, memang nya aku ini mesin Atm nya apa?" Bu Meri berkata dengan kesal nya.
Bu Meri menjatuhkan pantat nya di sofa, dia langsung menelepon Gibran agar menyelesaikan urusan nya dengan Santi tanpa melibatkan diri nya dan Sarah lagi.
"Gibran, cepat datang kemari! Urus istri mu itu, saat ini dia membuat keributan di depan rumah ku!" Perintah bu Meri dengan tegas.
Setelah itu bu Meri langsung melemparkan ponsel milik nya ke atas sofa, di luar Santi masih berteriak seperti orang gila.
Gibran yang mendapat telepon dari ibu nya, bergegas pergi ke rumah sang ibu. Di halaman depan, dia melihat Santi sedang berteriak seperti orang gila.
"Santi, apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Gibran dengan suara lantang.
"Mas, akhir nya kau datang juga! Mas, ayo kita pulang mas, Kevin selalu menanyakan mu!" Santi berkata sambil meraih tangan Gibran.
"Lepas kan!" Gibran menghentak kan tangan Santi dengan kasar.
"Mas, kita baru saja menikah. Kenapa kau bersikap seperti ini pada ku? Kemana suami ku yang dulu, suami yang lembut dan penyayang!" Santi berkata sambil berurai air mata.
"Simpan saja air mata mu itu, Santi. Aku tidak akan terpengaruh lagi, lagi pula aku dan Kevin tidak punya hubungan apa pun. Kevin bukan lah darah daging ku, dia adalah anak mu. Jadi silahkan urus saja sendiri urusan mu!" Gibran berkata dengan sinis.
"Mas, jangan begini mas. Sejak lahir Kevin sudah memanggil mu Papa, dia tidak tahu apapun. Yang dia tahu, kau adalah Papa nya. Tolong kembali lah mas!" Santi berkata sambil memohon di hadapan Gibran.
"Cukup Santi, selama 8 tahun kau dan keluarga mu telah membohongi aku. Aku tidak punya hubungan apapun lagi dengan mu dan juga keluarga mu, pergi kau dari sini!" Gibran pun mengusir Santi.
"Mas, siapa yang akan menebus rumah itu? Bukan kah kau tahu sendiri, aku dan orang tua ku tidak bekerja. Selama ini kami hanya bergantung pada mu, jangan tinggalkan aku mas, ku mohon!" Kembali Santi memohon.
"Rumah itu di bangun dengan uang ku, jadi kau dan keluarga mu tidak berhak atas rumah itu. Jika aku tidak bisa mengambil nya kembali, maka kau dan keluarga mu pun tidak bisa. Akan lebih baik jika rumah itu di sita oleh rentenir!" Gibran berkata dengan santai.
"Keterlaluan kau mas, jika rumah itu di sita maka kami akan tinggal di mana?" Tanya Santi dengan geram.
"Mau tinggal di mana pun kalian, itu bukan urusan ku. Kau dan orang tua mu masih punya kaki dan tangan kan? Jadi silahkan kalian bekerja sendiri, jika kalian mau hidup!" Gibran berkata dengan tegas.
"Jahat kau mas, jahat kau,,,!!!" Teriak Santi dengan histeris.
"Jangan membuat keributan di sini, Santi. Aku akan memanggil pihak keamanan jika kau keras kepala tidak mau pergi!" Gibran mengancam Santi.
"Kejam kamu mas Gibran!!!!" Teriak Santi dengan histeris.
Gibran langsung mencengkram pergelangan tangan Santi, lalu dia menyeret nya keluar dari halaman rumah bu Meri.
"Pergi kau Santi, kau tidak punya tempat sama sekali di sini!" Gibran mengusir Santi sambil mendorong nya ke jalan.
Santi jatuh tersungkur, lutut nya terkena aspal dan mengeluarkan darah. Tapi Gibran sama sekali tidak merasa iba, dia melihat Santi seperti seonggok sampah yang menjijikkan.
next double up ya Thor 😀
gugat cerai saja Pak Burhan. Depan tanpa sepeserpun di kasih harta. Hidup numpang kok ya banyak tingkah