Nadia tak menyangka takdir akan membawanya menjadi ibu tiri dari pria tiga anak. Ibunya memaksanya untuk menikahi laki-laki yang sudah punya anak. Menggantikan adiknya yang menolak lamaran tersebut, lantaran dia sudah memiliki pacar tentara dan sudah sarjana.
Nadia merasa seolah takdir mempermainkannya, apa salahnya jika dirinya memilih jalan hidup sendiri. menolak perjodohan ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
"Oma sama Opa pamit dulu ya, Sayang," ucap Ranti lembut seraya memeluk Damian, Jovan, dan Kenzo secara bergantian. "Belajar yang rajin, jangan nakal, dengerin kata Papa sama Bunda."
"Iya, Oma... Hati-hati di jalan ya," sahut Damian mewakili adik-adiknya. Kenzo sempat memeluk pinggang sang Oma erat-erat sebelum akhirnya melepaskannya perlahan.
Ranti kemudian berbalik menatap Nadia yang berdiri mendampingi Arvin. Senyum hangat terukir di wajahnya saat ia mengusap lembut kedua lengan menantunya itu.
"Nadia, Mama sama Papa pamit dulu ya," ujar Ranti pelan.
"Maaf banget kali ini Mama gak bisa lama-lama. Padahal pengin banget kita bisa jalan-jalan bareng setelah kamu sembuh. Kamu fokus istirahat dulu ya, tenangin pikiran, cepat sembuh total. Nanti kalau Mama ke Indonesia lagi, kita jalan-jalan berdua."
Nadia tersenyum tulus. Ia meraih tangan Ranti, lalu menciumnya dengan penuh rasa hormat. "Iya, Mah... Gak apa-apa. Terima kasih banyak ya, Ma, udah nengokin dan perhatian banget sama Nadia. Hati-hati di jalan ya, Mah"
"Iya, Sayang. Oh iya, titip salam ya buat Ibu sama adik kamu," tambah Ranti lembut. "Maaf Mama belum sempat mampir kerumah kamu"
"Iya, Mama. Nanti pasti Nadia sampaikan," jawab Nadia halus.
Di sisi lain, Haris menepuk bahu Arvin cukup keras, memberi isyarat agar putra sulungnya itu bergeser sedikit menjauh dari yang lain. Mereka berdua berdiri agak menyudut di dekat pintu utama.
Haris menatap Arvin dengan sorot mata tenang namun tegas, khas seorang ayah yang paham betul karakter anaknya.
"Arvin," panggil Haris pelan. "Papa tahu kamu cemas dan peduli banget sama Nadia. Tapi ingat, nuntut orang buat nurut lewat bentakan atau amarah itu gak akan pernah menyelesaikan masalah."
Arvin terdiam, menunduk tipis mendengar teguran ayahnya.
"Wanita seperti Nadia itu butuh dirangkul, diajak bicara baik-baik, bukan dikontrol kayak kamu lagi memimpin perusahaan," lanjut Haris menasihati. "Turunin ego kamu. Jangan sampai rasa takutmu kehilangan justru bikin orang yang kamu sayangi makin menjauh. Paham, kan?"
Arvin menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan. "Iya, Pa. Arvin paham. Terima kasih nasihatnya."
Haris tersenyum tipis, menepuk dada Arvin sekali sebelum akhirnya mereka semua berjalan bersama mengantar Ranti dan Haris menuju mobil yang sudah bersiap membawa mereka ke bandara.
Mobil yang membawa Ranti dan Haris perlahan keluar melewati gerbang, lalu menghilang di kejauhan.
"Bunda... aku boleh ke toko kue Bunda, gak? Aku belum pernah coba kue di sana... pengin liat toko Bunda," ucap Damian.
Nadia tersenyum hangat. Rasa rindu pada tokonya yang sudah lama ditinggalkan seketika membuncah.
"Boleh banget, bang," jawab Nadia.
"Nanti Bunda kabarin Mbak Wulan biar disiapin kue yang paling enak buat kalian."
Jovan menyahut antusias. "Jovan ikut, Bunda! Mau cobain semua kuenya!"
Kenzo ikut menepuk lengan Damian. "Di sana kuenya enak banget, Bang! Aku boleh ikut, kan?"
"Boleh dong." sahut Damian merangkul adiknya.
"Kalian pergi diantar Pak Adam, ya," ujar Arvin. "Ingat, jangan bikin ulah dan pulangnya jangan kesorean."
"Siap, Papa!" sahut Damian, Jovan, dan Kenzo serempak.
Setelah mobil yang membawa ketiga anak mereka bersama Pak Adam perlahan menghilang di balik gerbang, suasana rumah seketika berubah hening.
Nadia melangkah menuju kamar utama di lantai atas untuk beristirahat. Sementara itu, Arvin memilih berjalan menuju ruang kerjanya untuk menyelesaikan beberapa dokumen kantor yang perlu ditinjau.
Di dalam kamar, Nadia berbaring di atas ranjang, memandangi langit-langit kamar sembari menikmati ketenangan. Namun, tak berapa lama, ketukan pelan terdengar di pintu kamar.
"Permisi, Non Nadia..." panggil pelayan dari balik pintu.
Nadia bangkit dan bergeser ke tepi ranjang. "Ada apa, Bi?"
"Anu, Non... dipanggil Pak Arvin ke ruang kerjanya," ucap pelayan tersebut dengan sopan.
Nadia mengerutkan keningnya tipis, bertanya-tanya dalam hati ada hal apa hingga suaminya memanggilnya ke ruang kerja. Ia mengangguk pelan seraya tersenyum kecil.
"Iya, Bi, terima kasih ya. Nanti saya ke sana."
Nadia merapikan pakaiannya sebentar, lalu melangkah menuju ruang kerja Arvin yang berada di lantai dua. Setelah membuang napas pelan untuk menenangkan hatinya, ia mengetuk pintu kayu jati itu dua kali.
"Mas... ini aku," panggil Nadia dari luar.
"Masuk, Nadia," sahut suara berat Arvin dari dalam.
Nadia memutar gagang pintu lalu melangkah masuk. Arvin terlihat sedang duduk tegap di balik meja kerjanya yang luas dengan beberapa berkas yang terbuka. Pria itu menghentikan aktivitasnya, lalu menatap Nadia yang masih berdiri canggung di dekat pintu.
"Ngapain berdiri di sana? Duduk," ucap Arvin dengan nada datar seraya menunjuk kursi di hadapannya.
Nadia mendekat lalu duduk perlahan. Ia menatap suaminya dengan raut bingung. "Ada apa, Mas? Kenapa manggil aku?"
Arvin mengamati wajah Nadia sejenak, menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, lalu menatap manik mata istrinya lurus-lurus dengan raut wajah yang sangat serius.
"Saya ingin bertanya sesuatu ke kamu," ujar Arvin dengan suara rendah dan berat. Ia memberi jeda sejenak sebelum melanjutkan. "Apa kamu ingin memiliki anak dari saya?"
Pertanyaan yang meluncur begitu saja itu seketika membuat suasana ruang kerja hening mencekam. Nadia terdiam cukup lama, lidahnya mendadak kelu tak mampu merangkai kata karena sama sekali tidak menduga Arvin akan melempar pertanyaan seberat itu.
Melihat Nadia yang hanya membisu dengan tatapan goyah, Arvin menegakkan posisinya, menuntut kepastian.
"Jawab, Nadia," panggil Arvin pelan namun penuh penekanan.
Nadia menarik napas panjang, mencoba menetralkan rasa terkejut dan desakan sesak di dadanya. Ia menunduk sebentar sebelum akhirnya memberanikan diri menatap mata Arvin.
"Jujur... aku belum memikirkan hal sejauh itu, Mas," jawab Nadia pelan.
Kening Arvin seketika berkerut dalam, menyisakan raut kekecewaan yang tersirat jelas. "Kenapa? Usia kamu sudah 33 tahun, Nadia. Kenapa kamu gak mau punya anak sama saya?"
"Ini bukan cuma masalah usia, Mas," sahut Nadia pelan namun tegas.
"Aku merasa... anak-anak belum sepenuhnya menerima kehadiran aku di rumah ini."
"Kalau masalah anak-anak, nanti saya yang tanya langsung ke Damian, Jovan, sama Kenzo," potong Arvin cepat.
Nadia menggeleng pelan, menatap Arvin lurus dengan sorot mata yang sarat akan kejujuran dan luka yang terendam.
"Bukan cuma itu, Mas... Kita bahkan belum saling mencintai. Bagaimana bisa kita melakukan hal sejauh itu tanpa ada dasar cinta? Pernikahan kita diawali tanpa rasa, Mas. Aku cuma ingin punya anak dari orang yang benar-benar mencintaiku dan kucintai."
Arvin terpaku kaku di kursinya. Suara lembut Nadia yang bergetar itu bergaung memenuhi setiap sudut ruangan yang hening. Jemari Arvin yang saling bertaut di atas meja terkepal semakin erat, menahan gejolak emosi dan kekecewaan mendalam yang mencubit dadanya.
Nadia kembali menunduk diam, menatap jemarinya yang saling bertaut di atas pangkuan.
Arvin menarik napas panjang yang terasa begitu berat, mencoba menetralkan rasa sesak di dadanya. Pria itu menatap Nadia lurus-lurus dengan sorot mata dingin yang sulit diartikan.
"Baiklah kalau itu mau kamu, kita jalani saja pernikahan ini," ucap Arvin dengan suara berat dan datar. Ia jeda sejenak, menatap istrinya dalam-dalam. "Saya harap... kamu bisa merasakan apa yang saya rasakan saat ini."
Nadia perlahan mendongak, menatap Arvin tanpa mampu mengucap sepatah kata pun.
Tanpa menunggu tanggapan lebih lanjut, Arvin bangkit dari kursi kebanggaannya. Ia merapikan kemejanya sebentar, mengambil kunci mobil dan ponsel di atas meja tanpa lagi menatap wajah istrinya.
"Saya mau pergi dulu, mungkin pulang malam. Ada urusan yang harus saya selesaikan," ujar Arvin dingin.
Pria itu melangkah lebar keluar dari ruang kerja, meninggalkan Nadia seorang diri dalam keheningan.