Hayden menghentikan langkahnya tepat di tepi podium. Tatapannya menelusuri tiap lekuk tubuh Aluna. Pria itu mengulurkan tangannya, seolah-olah hendak membenarkan letak kain selendang yang tersingkap di atas paha Aluna.
Namun, gerakan jemari Hayden tidak berhenti di sana. Jemarinya yang dingin dan kasar bergeser perlahan, sengaja menyapu permukaan kulit halus Aluna, bergerak semakin naik menyentuh area yang tertutup selendang putih tipis itu.
Sentuhan asing dan lancang itu seketika meletupkan amarah Aluna.
"Jangan sentuh!"
Aluna menepis tangan Hayden dengan kibasan keras. Dalam sekejap, gadis itu menarik kain selendang untuk menutupi dadanya, merapatkan kedua kakinya, dan mundur ke sudut podium. Matanya yang sembab menatap Hayden dengan kilatan amarah yang membara.
"Jaga tanganmu, Hayden!" bentak Aluna dengan suara bergetar hebat, napasnya memburu cepat oleh kombinasi rasa takut dan murka. "Aku di sini cuma jadi model lukisanmu! Aku menjual posisiku sebagai model untuk melunasi _
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29.
Seketika napas Aluna tersengal. Rasa dingin mematikan menjalar cepat dari pergelangan kakinya hingga ke ujung kepala, membangkitkan badai trauma dan kemurkaan yang selama ini ia tekan di dalam dada. Ketakutan akan bayangan mengandungkan benih dari pria yang telah merusak hidupnya membuat dadanya serasa hendak meledak.
Aluna memutar tubuhnya dengan sentakan kasar, mengabaikan rasa nyeri hebat yang menusuk pergelangan tangannya yang terbalut perban tebal. Matanya membara, menatap Hayden lurus dengan sorot kebencian yang teramat pekat.
"Tidak akan!" potong Aluna dengan suara bergetar namun tegas dan sarat ketajaman. "Aku tidak akan pernah hamil anakmu, Hayden!"
Hayden hanya menatapnya kaku tanpa mengubah ekspresi dingin di wajahnya. Keheningan di antara mereka terasa kian menghimpit, namun Aluna tak membiarkan dirinya ditindas lagi oleh tatapan intimidasi itu.
"Dan dengarkan aku baik-baik," lanjut Aluna, air matanya menetes merembesi pipinya yang pucat, namun tatapannya tak sedikit pun goyah. "Kalau pun ketakutan terbesarku itu terjadi... kalau pun di dalam rahimku sampai tumbuh benih dari iblis sepertimu... aku bersumpah demi apa pun, aku akan menggugurkannya! Aku akan membunuhnya sebelum dia bernapas!"
Kata-kata itu terlempar bagai belati yang menghantam dinding dingin di antara mereka. Aluna mencengkeram sprei rumah sakit rapat-rapat, napasnya memburu cepat seraya membiarkan seluruh rasa benci dan kesakitannya meluap tepat di hadapan wajah pria yang berdiri mematung di samping ranjangnya.
Ekspresi Hayden membeku seketika. Iris mata kelamnya membakar, berkilat oleh kombinasi amarah dan rasa memiliki yang begitu gelap. Kata 'menggugurkan' dari bibir Aluna seolah menebas helai terakhir dari sisa ketenangannya.
Hayden melangkah maju satu pukulan cepat, membungkukkan tubuh tegapnya hingga jarak wajah mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. Jemari panjangnya yang tegap melayang dan merengkuh rahang Aluna dengan cengkeraman ketat—tidak cukup kuat untuk melukai, namun amat dominan hingga mengunci gerak gadis itu sepenuhnya.
"Coba ulangi kalimatmu lagi, Aluna," bisik Hayden rendah, suaranya serak dan sarat ancaman yang sangat pekat. "Kamu mau menggugurkannya?"
Aluna menggerakkan rahangnya frustrasi, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman pria itu meski napasnya kian tercekat. "Lepas... aku bilang lepas, Hayden!"
"Dengar baik-baik, Aluna," pangkas Hayden kaku, menatap lurus ke dalam manik mata Aluna yang berkaca-kaca. "Kalau sampai ada benihku yang tumbuh di dalam rahimmu, tidak akan pernah ada yang boleh menyentuhnya. Sekalipun itu kamu sendiri."
Air mata Aluna meleleh kian deras, membasahi ibu jari Hayden yang berada di pipinya. "Kamu gila... kamu benar-benar iblis!"
"Aku memang gila kalau menyangkut dirimu," balas Hayden tanpa ragu, suaranya dingin dan mutlak. "Kamu pikir aku akan membiarkanmu membunuh anakku? Nyawamu, tubuhmu, bahkan darah yang mengalir di tubuhmu saat ini—segalanya ada dalam genggamanku. Jika kamu berani menyentuh anak itu nanti, aku pastikan kamu akan menyesal seumur hidupmu."
Hayden melepaskan cengkeramannya secara perlahan, menyapu air mata di pipi Aluna dengan gerakan yang bertolak belakang—begitu lembut namun terasa mengintimidasi.
"Dokter tetap akan melakukan pemeriksaan darah dan kandungan hari ini," lanjut Hayden datar seraya merapikan kembali jas hitamnya yang rapi. "Kamu tidak punya hak untuk menolak."
Pria itu berbalik, melangkah menuju pintu keluar tanpa memedulikan tatapan penuh kebencian dan jeritan batin Aluna yang kian hancur berkeping-keping. Begitu pintu bergeser kaku dan mengunci dari luar, Aluna menarik selimutnya rapat-rapat, meremas dadanya yang sesak di tengah isolasi keheningan kamar VIP yang terasa makin mencekik.
Suara pintu VIP yang terkunci berbunyi klik, bergema begitu dingin di dalam ruangan yang mendadak terasa begitu sempit dan menyiksa.
Aluna mencengkeram selimut tebalnya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa sakit di pergelangan tangan kirinya yang terbalut perban tebal kalah tajam dibanding rasa hampa dan kehancuran yang menggerogoti dadanya. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini mengalir deras tanpa henti, membasahi bantal tempatnya bersandar.
"Iblis... kamu benar-benar iblis, Hayden..." bisik Aluna dengan suara yang pecah dan hampir tak bersuara.
Ia memejamkan mata rapat-rapat, namun bayangan cengkeraman Hayden di rahangnya, tatapan mata pria itu yang dipenuhi kegilaan dan obsesi, serta ancaman dinginnya seolah terus berputar menakutkan. Tubuh Aluna bergetar hebat. Bagaimana jika ia benar-benar hamil? Bagaimana jika benih dari pria yang paling ia benci dan takuti sedang tumbuh di dalam dirinya? Bayangan itu membakar akal sehatnya, memberinya rasa mual yang teramat sangat.
*
Tidak sampai setengah jam kemudian, pintu kamar VIP kembali bergeser terbuka.
Langkah kaki terdengar mendekat. Bukan langkah tegap dan berat milik Hayden, melainkan langkah halus beberapa perawat. Dokter kandungan wanita berseragam putih bersih melangkah masuk mendampingi Suster Maya yang membawa peralatan medis di atas meja dorong.
"Selamat pagi, Nona Aluna," sapa Dokter kandungan itu ramah, mencoba mencairkan atmosfer tegang di ruangan tersebut. "Saya Dokter Siska. Atas permintaan Tuan Hayden, kami akan melakukan pemeriksaan USG perut dan pengambilan sampel darah untuk memeriksa kondisi rahim serta kemungkinan kehamilan."
Aluna seketika menegakkan tubuhnya, memundur hingga punggungnya menempel kaku pada kepala ranjang. Matanya menatap alat USG portabel dan tabung sampel darah itu dengan horor luar biasa.
"Tidak... jangan sentuh aku!" jerit Aluna histeris, menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Aku tidak mau diperiksa! Keluar!"
Suster Maya melangkah mendekat dengan raut wajah prihatin. "Nona Aluna, tolong tenang dulu... Ini hanya pemeriksaan biasa. Tuan Hayden hanya ingin memastikan—"
"Aku tidak peduli apa yang dia inginkan!" potong Aluna dengan napas memburu, suaranya melengking tinggi hingga serak. "Kalian semua dibayar olehnya, kan?! Aku bilang jangan sentuh aku! Keluar dari kamarku!"
Dokter Siska dan Suster Maya saling pandang dengan cemas. Sebelum mereka sempat membujuk lebih jauh, pintu kamar kembali terbuka.
Hayden berdiri di ambang pintu. Pria itu sudah melepas jas hitamnya, hanya mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku. Tatapan matanya lurus, dingin, dan penuh dominasi mutlak yang tak terbantahkan.
"Ada masalah?" tanya Hayden rendah seraya melangkah masuk.
Dokter Siska membungkuk sopan. "Tuan Hayden, pasien menolak keras untuk dilakukan pemeriksaan. Kondisi emosionalnya sangat tidak stabil, dan jika dipaksakan, kami khawatir tekanan darahnya akan melonjak naik."
Hayden menghentikan langkahnya di sisi ranjang. Ia menatap Aluna yang sedang gemetar hebat dengan mata sembab berair. Kebencian di mata Aluna begitu nyata, namun di hadapan Hayden, kebencian itu hanya tampak seperti pemberontakan kecil yang tak berarti.
"Tinggalkan kami sebentar," perintah Hayden datar kepada tim medis.
"Baik, Tuan." Dokter Siska dan para perawat segera membungkuk lalu melangkah keluar, menutup pintu rapat-rapat.
Ruangan itu kembali menyusut menjadi arena intimidasi satu arah. Hayden membungkuk, menumpukan kedua tangannya di sisi kanan dan kiri tubuh Aluna pada ranjang, mengurung gadis itu sepenuhnya dalam jangkauan tubuh tegapnya.
"Kenapa harus berteriak-teriak seperti itu, Aluna?" bisik Hayden pelan, begitu dekat hingga hembusan napas hangatnya menerpa wajah Aluna yang pucat. "Kamu membuat para dokter dan suster ketakutan."
Aluna memalingkan wajahnya sekuat tenaga, enggan menatap iris mata kelam di hadapannya. "Pergi, Hayden... aku mohon pergi... Jangan paksa aku..."
"Aku tidak pernah memaksamu," sahut Hayden tenang, namun nada suaranya mengancam. "Aku hanya memastikan milikku dalam kondisi baik. Apakah itu salah?"
"Aku bukan milikmu!" jerit Aluna, menatap Hayden lagi dengan sisa-sisa keberaniannya. "Aku manusia! Aku bukan barang pajangan atau lukisan yang bisa kamu klaim sekehendak hatimu!"
Hayden terkekeh dingin. Tangan kanannya terulur, jemarinya yang panjang merayap dari bahu Aluna, turun ke lengan, hingga mengusap lembut jemari kanan Aluna yang bebas dari perban.
"Sejak malam kamu menyerahkan dirimu padaku di studio itu, Aluna... kamu sudah kehilangan hak atas dirimu sendiri," tutur Hayden halus namun kejam. "Setiap helai napasmu, setiap tetes darahmu, bahkan jika ada nyawa baru yang tumbuh di dalam rahimmu... semuanya milikku. Kamu hanya perlu menurut."
"Kamu jahat... kamu benar-benar tidak punya hati!" tangis Aluna pecah. "Kenapa kamu tidak biarkan aku mati saja semalam?! Kenapa kamu harus menyelamatkanku kalau cuma untuk menyiksaku seperti ini?!"
Cengkeraman tangan Hayden di sisi ranjang mendadak mengerat. Rahangnya mengeras kaku mendengar kata 'mati' kembali terlontar dari bibir Aluna. Rasa panik dan amarah yang sempat meruntuhkan kendali dirinya semalam mendadak mencengkeram dadanya lagi.
"Jangan pernah sebut kata itu lagi di hadapanku," pangkas Hayden kaku, suaranya merendah menjadi guratan ancaman yang sangat berbahaya. "Kamu tidak akan mati, Aluna. Aku tidak akan membiarkanmu mati. Sekalipun kamu membenciku setengah mati, kamu akan tetap hidup di sisiku."
Hayden menegakkan kembali tubuhnya, merapikan kemeja putihnya yang sedikit kusut. Ia menatap Aluna dari atas dengan dingin.
"Pemeriksaan akan tetap dilakukan sekarang. Jika kamu mencoba memberontak atau melukai dirimu lagi..." Hayden menggantung kalimatnya, menyunggingkan senyum tipis yang amat beracun. "...aku pastikan jadwal terapi saraf Romeo sore ini dibatalkan, dan seluruh tim dokter ahli yang merawatnya akan kutarik detik ini juga."
"Hayden!" Aluna membelalakkan mata, napasnya tercekat oleh rasa tidak percaya. "Jangan bawa-bawa Kak Romeo! Dia tidak tahu apa-apa!"
"Makanya, jadilah gadis yang penurut," balas Hayden datar tanpa penyesalan sedikit pun.
Pria itu berbalik dan berjalan menuju pintu. Sebelum melangkah keluar, ia menoleh sedikit. "Aku berikan kamu waktu dua menit untuk menenangkan dirimu sebelum dokter masuk kembali."
Pintu kamar VIP bergeser tertutup.
Aluna mencengkeram dadanya yang terasa sangat sesak. Tangisnya pecah dalam keheningan, suara isakannya tertahan di balik selimut. Ia kalah. Pria itu tahu persis di mana titik lemahnya dan tak ragu menggunakannya untuk menghancurkan setiap benteng pertahanan yang Aluna miliki.
*
*
*