Apa yang akan terjadi jika Dua dunia di pertemukan dalam sebuah keputusan penting?, dan ini terjadi pada Dua manusia yang di pertemukan secara tidak sengaja, LANGIT Wanita dengan semua kendali penuh dan kekuasaannya, sedangkan BUMI laki-laki sederhana dengan semua kelebihannya.
Yuk ikuti ceritanya, di jamin seru, menggemaskan dan juga menegangkan.
Salam Author Sinho, jangan lupa Bahagia ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Sinar matahari pagi menerobos masuk dengan lancang melalui dinding kaca, membentuk garis-garis emas di atas lantai marmer.
Bumi terbangun lebih awal. Sebagai seorang montir yang terbiasa membuka bengkel jam tujuh pagi, jam biologisnya tidak bisa berkompromi dengan kemewahan penthouse. Ia membuka matanya, mengerjap beberapa kali, dan menyadari dirinya masih berada di atas sofa.
Ia menoleh ke ujung sofa satunya. Di sana, Langit masih tertidur dengan sangat lelap. Posisi tidurnya sudah tidak ada anggun-anggunnya sama sekali sebagai seorang CEO.
Mulutnya sedikit terbuka, rambutnya yang acak-acakan menutupi sebagian wajahnya, dan gaun pengantin mewahnya sudah kusut masai di sana-sini.
Bumi duduk, meregangkan otot-otot lehernya yang terasa kaku. Ia memandangi Langit sejenak.
Ada rasa iba sekaligus kagum melihat wanita ini. Di luar sana dia adalah macan korporasi, tapi di sini, saat tidur, dia terlihat begitu rapuh dan lelah.
"Kalau dibiarkan tidur di sini sampai siang, bisa-bisa dia bisa encok dan tidak bisa tanda tangan dokumen miliaran rupiah," gumam Bumi pada diri sendiri.
Bumi berdiri, melangkah mendekati Langit. Dengan gerakan yang sangat pelan dan hati-hati agar tidak membangunkan sang CEO yang sudah resmi berstatus sebagai istrinya, walaupun kontrak.
Bumi menyusupkan satu lengannya di bawah leher Langit dan lengan lainnya di bawah lutut wanita itu. Dengan satu sentakan kuat namun lembut, Bumi menggotong tubuh Langit.
Langit hanya melenguh kecil, mencari posisi nyaman di dada bidang Bumi, lalu kembali mendengkur halus. Bumi menggelengkan kepalanya melihat betapa pulasnya wanita ini tidur.
Ia melangkah menuju kamar utama yang pintunya terbuka sedikit. Kamar itu luar biasa luas, dengan tempat tidur berukuran king size yang tampak sangat empuk.
Bumi membaringkan Langit di atas ranjang dengan sangat perlahan. Ia menarik selimut tebal hingga sebatas dada Langit.
Setelah memastikan wanita itu nyaman, dan melihat bahwa pakaian atau gaunnya masih utuh melekat di tubuhnya tanpa ada yang kurang satu apa pun, Bumi berbalik dan keluar dari kamar, menutup pintunya dengan sangat pelan.
"Sekarang, mari kita lihat apa isi dapur orang kaya," bisik Bumi sambil berjalan menuju area dapur yang sangat bersih.
Dua jam kemudian, Langit mulai terusik oleh tidurnya. Kulitnya merasakan kelembutan kasur yang akrab, bukan tekstur sofa yang keras. Ia membuka matanya perlahan, menatap langit-langit kamarnya yang tinggi.
Langit langsung terduduk tegak. Jantungnya berpacu cepat. Lho? Kok aku sudah di kamar?
Ia memeriksa tubuhnya dengan panik. Gaun pengantinnya masih utuh, meski sudah sangat kusut. Tidak ada yang berubah. Langit menarik napas lega.
Bumi yang memindahkanku? pikirnya. Pikiran itu mendadak membuat wajahnya merona di pagi hari. Bagaimana bisa dia tidur se-pulas itu sampai tidak sadar digotong oleh seorang laki-laki?
Saat ia mencoba menenangkan diri, sebuah aroma yang sangat menggoda tiba-tiba menyusup masuk melalui celah pintu kamarnya.
Bau bawang putih yang digoreng, aroma mentega, dan wangi daging panggang yang begitu lezat langsung membuat perut Langit berbunyi nyaring.
Rasa penasaran mengalahkan rasa lelahnya. Langit turun dari ranjang, melepaskan sepatu hak tingginya yang semalam tergeletak di lantai dekat kasur (pasti Bumi yang melepaskannya), dan berjalan keluar kamar dengan bertelanjang kaki.
Begitu sampai di area ruang tengah, pandangannya langsung tertuju ke arah dapur bersih.
Di sana, di balik meja bar marmer yang mewah, berdiri Bumi. Laki-laki itu sudah mengganti pakaiannya dengan kaos oblong hitam polos yang pas di tubuh tegapnya, memperlihatkan otot lengan yang terlatih karena pekerjaan berat di bengkel.
Yang membuat Langit harus menahan tawa sekaligus terpesona adalah, Bumi mengenakan celemek dapur berwarna merah muda dengan motif bunga-bunga kecil, celemek pajangan yang dibeli Langit hanya untuk estetika dapur dan tidak pernah dipakai sama sekali.
Bumi tampak sangat cekatan. Tangannya memegang spatula, membalik potongan daging dengan gerakan lihai, sementara tangan satunya menaburkan lada hitam dengan gaya yang sangat santai.
Langit berjalan mengendap-endap tanpa suara. Ia tidak ingin merusak pemandangan langka ini. Ia menarik salah satu kursi bar di depan meja makan yang berada tepat di belakang Bumi, lalu duduk di sana.
Ia menopang dagunya dengan kedua tangan, memperhatikan punggung lebar Bumi yang bergerak berirama mengikuti aktivitas memasaknya.
Ternyata seorang Bumi, kalau di dapur kelihatan seksi juga, batin Langit nakal.
Bumi sedang asyik memindahkan telur mata sapi yang matang sempurna ke atas piring ketika ia merasakan ada kehadiran seseorang. Ia membalikkan badannya dengan cepat, spatula masih di tangan.
"Astaga, langit!" Bumi terkejut kecil melihat Langit yang sudah duduk manis di sana sambil tersenyum lebar.
"Kamu ini titisan ninja atau bagaimana? Datang tidak ada suaranya sama sekali." Lanjut Bumi.
"Kamunya saja yang terlalu fokus memasak, Chef Bumi," goda Langit, matanya beralih ke celemek yang dipakai Bumi. "Bagus ya celemek nya. Sangat cocok dengan citra seorang Bumi yang sangar."
Bumi melirik celemek merah muda yang mengikat tubuh tegapnya. Bukannya malu, dia justru menepuk dadanya dengan bangga dengan gaya cool-nya.
"Ini namanya pemecah stigma, Langit. Laki-laki sejati itu tidak takut pakai warna merah muda. Apalagi kalau masakannya seenak ini. Dijamin pamanmu yang botoks itu langsung minta adopsi aku jadi anaknya kalau tahu cara masakku."
Langit tertawa renyah, melupakan statusnya sebagai CEO.
"Okey, kamu masak apa hari ini, Aromanya sampai ke kamarku."
"Sarapan standar bengkel, tapi versi upgrade karena bahannya premium," Bumi meletakkan dua piring besar di atas meja makan.
Isinya adalah sirloin steak yang dipotong tipis dengan saus lada hitam rumahan, telur mata sapi, tomat panggang, dan roti panggang yang kecokelatan sempurna. "Silakan dinikmati, Ibu CEO."
Suasana penthouse yang biasanya terasa sepi, dingin, dan terlalu luas untuk satu orang, pagi ini mendadak terasa begitu hangat.
Suara dentingan garpu dan pisau beradu dengan obrolan ringan yang mengalir tanpa henti.
Langit memotong sepotong daging dan memasukkannya ke dalam mulut.
Matanya langsung melebar. "Demi apa, Bumi_ ini enak banget! Kamu belajar masak di mana? Setahu aku anak bengkel makannya mi instan dicampur nasi."
Bumi yang sedang mengunyah rotinya menatap Langit dengan pandangan datar yang khas. "Di larang merendahkan kasta anak bengkel, Langit. Di bengkel saya yang lama, kalau tidak bisa masak, kamu cuma bakal kebagian tugas cuci baskom oli. Saya ini mantan koki dadakan untuk mereka para pekerja, Kalau mesin motor saja bisa saya bikin halus suaranya, apalagi perut manusia."
"Sombongnya konsisten ya, dari semalam tidak berubah," cibir Langit, namun tangannya terus menyuap makanan dengan lahap.
Lalu Langit melanjutkan kalimatnya, "Oh ya, omong-omong, terima kasih ya."
"Untuk?"
"Untuk memindahkan ku ke kamar semalam, aku benar-benar tidak sadar. Maaf ya, aku pasti berat banget."
Bumi meminum kopinya perlahan, lalu menatap Langit lekat-lekat.
"Berat sih tidak. Cuma gaunmu itu yang bikin repot. Banyak payetnya. Rasanya seperti menggotong karung berisi pecahan kaca. Untung otot lengan saya ini sudah teruji oleh beban mesin motor."
Langit melemparkan tisu yang sudah dipakainya ke arah Bumi, yang lagi-lagi dihindari Bumi dengan kepala yang bergeser sedikit dengan santai.
Jangan lupa komentarnya, LIKE dan HADIAH nya.