Di balik jubah dakwahnya sebagai ustadz muda karismatik, Musa menyimpan rahasia besar sebagai mafia yang disegani. Selama setahun, ia terus bayangi sosok wanita misterius yang pernah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya dari jebakan musuh sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.
Titik terang muncul ketika orang tua Musa, Kyai Adam dan Umi Sinta menjodohkannya dengan Musdalifah, putri seorang sahabat. Namun, kejutan besar menanti: wanita misterius yang dicarinya selama ini ternyata adalah Laila, adik kandung Musdalifah. Tanpa ragu, Musa menolak Musdalifah dan menuntut untuk menikahi Laila. Decision nekat itu tidak hanya memicu rasa sakit hati dan dendam Musdalifah, tetapi juga menyeret mereka ke dalam konflik keluarga yang sengit, dibayangi oleh rahasia masa lalu serta bahaya dari dunia kelam Musa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Sesampainya di lokasi, ruko dua lantai milik yayasan itu ternyata sudah tampak bersih, rapi, dan siap dipakai. Kyai Adam rupanya telah mengurus segalanya secara matang—mulai dari perizinan dasar hingga penataan awal ruangan.
Laila menatap sekeliling dengan mata berbinar haru.
Ia menghampiri mertuanya lalu menangkupkan kedua tangan di depan dada penuh hormat.
"Abah, terima kasih banyak. Ini sungguh luar biasa."
Kyai Adam tersenyum bijak dan mengangguk pelan.
"Iya, Laila. Ini sudah jadi tugas Abah untuk mendukung niat mulia kalian. Niat baik harus disegerakan."
Dari balik tubuh Kyai Adam, Umi Sinta melangkah mendekat. Raut wajahnya dipenuhi rasa bersalah.
Dengan mata yang berkaca-kaca, Umi Sinta menggenggam jemari Laila erat-erat.
"Laila, Umi minta maaf atas segala kesalahan dan prasangka Umi di masa lalu ya, Nak." bisik Umi Sinta tulus, suaranya bergetar menahan haru.
Laila mengulas senyum paling teduh dari balik cadarnya, membalas genggaman tangan sang ibu mertua dengan penuh kasih.
"Umi, sudah. Tidak ada yang perlu dimaafkan lagi. Semuanya sudah berlalu dan Laila sudah melupakan semuanya."
Musa yang berdiri memeluk pinggang istrinya ikut tersenyum lega melihat keharmonisan keluarganya.
Ia melihat sekeliling ruko yang sudah hampir sempurna, lalu menoleh ke arah Laila dan Abahnya.
"Jadi, kapan rencananya pembukaan kliniknya?" tanya Musa antusias.
Laila mendongak, menatap Musa lalu beralih ke Kyai Adam dan Umi Sinta.
"Bagaimana kalau lusa saja, Mas? Kita bisa undang Abah Adi, Umi Mina, dan Musdalifah. Kita juga bisa mengundang teman-teman dokter dari rumah sakit."
Musa mengangguk setuju, lalu menambahkan gagasan manis untuk hari pertama pembukaan mereka.
"Ditambah, kita adakan bakti sosial berupa pengobatan gratis khusus untuk balita dan lansia di sekitar wilayah ini."
Rencana mulia itu disambut hangat oleh Kyai Adam dan Umi Sinta, tanpa ada satu pun dari mereka yang menyadari bahwa Musdalifah di tempat lain tengah menyiapkan skenario gelap yang siap diluncurkan pada acara tersebut.
Usai mengecek seluruh sudut ruko dan mematangkan rencana pembukaan klinik, perut yang mulai berkeroncong mengingatkan mereka bahwa waktu makan malam telah tiba.
Musa melihat sebuah warung makan lesehan yang ramah dan ramai di pinggir jalan tak jauh dari lokasi.
"Bagaimana kalau kita makan malam dulu di lesehan sana, Abah, Umi, Sayang?" tawar Musa antusias.
Kyai Adam dan Umi Sinta mengangguk setuju. Rombongan kecil itu pun segera berjalan santai menuju warung lesehan tersebut.
Setelah mengambil tempat duduk melingkar di atas tikar bersih, Musa memanggil pelayan dan memesan deretan menu favorit mereka: ikan bakar bumbu kecap pedas gurih, cah kangkung terasi yang segar, es jeruk dingin, serta semangkuk sambal dabu-dabu yang menggiurkan.
Saat hidangan disajikan hangat-hangat di atas meja, Musa baru saja hendak menyendok ikan bakar yang dicelupkan ke sambal, namun jemari lembut Laila dengan sigap menahan lengannya.
"Musa, ingat, jangan pedas-pedas. Lukamu baru sembuh," bisik Laila lembut tapi penuh penegasan ala seorang dokter.
Musa terkekeh pelan, menatap istrinya dengan pendar mata yang sangat manja.
"Siap, Dokter Lailaku." jawab Musa patuh sembari menurunkan kadar sambal di piringnya.
Melihat adegan bucin terang-terangan di depannya, Yusuf yang sedang menuangkan es jeruk menggeleng-gelengkan kepala, memasang raut wajah iri yang dibuat-buat.
"Duh, serasa dunia milik berdua, yang lain cuma ngontrak," ledek Yusuf spontan.
Ia menghela napas panjang lalu bermunajat lirih, "Kapan ya aku bisa menikah."
Kyai Adam yang mendengar celetukan pengawal setia anaknya itu langsung tersenyum bijak.
"Bagaimana kalau Abah jodohkan saja kamu dengan Fatimah? Dia wanita solehah, putri sahabat Abah dari pesantren sebelah."
Mendengar tawaran emas itu, mata Yusuf seketika berbinar terang.
Belum sempat Yusuf menjawab, Musa langsung menyambar sambil menikmati suapan ikan bakar berdaging lembut dan cocolan sambal dabu-dabu yang gurih segar.
"Iya, Abah! Aku setuju banget!" sahut Musa tertawa. Ia melirik Yusuf penuh godaan.
"Umur sudah kepala tiga masih jomblo melulu, bikin malu komandan saja."
"Wah, Bos Musa malah buka kartu!" seru Yusuf salah tingkah, membuat seluruh meja lesehan itu pecah dalam gelak tawa dan kehangatan keluarga.
Tawa gembira memecah keheningan malam di warung lesehan sederhana itu.
Wajah Yusuf yang merona merah akibat godaan Musa makin membuat Umi Sinta dan Kyai Adam terkekeh bahagia.
Setelah sekian lama dibayang-bayangi ketegangan dan bahaya, malam itu terasa begitu hangat, wajar, dan penuh rasa bersyukur.
Selesai menikmati hidangan ikan bakar hingga tak bersisa, mereka menyempatkan diri minum es jeruk segar sambil berbincang-bincang santai.
"Terima kasih banyak, Abah, Umi, sudah mau mendampingi kami hari ini," ucap Laila dengan tulus, matanya berbinar menatap kedua mertuanya.
Kyai Adam tersenyum penuh kasih, mengelus janggutnya yang memutih.
"Sama-sama, Laila. Melihat kalian berdua bahagia dan saling menjaga seperti ini sudah menjadi hadiah terbesar untuk Abah dan Umi. Buka klinik lusa harus dipersiapkan dengan baik, ya."
"Insya Allah, Abah. Besok Musa dan Yusuf akan koordinasi lagi dengan tim lapangan untuk memasang tenda dan spanduk pengobatan gratis," jawab Musa sembari mengusap lembut punggung tangan Laila di bawah meja.
Setelah menyelesaikan pembayaran, rombongan tersebut bersiap untuk pulang. Musa dan Laila berpamitan kepada Kyai Adam dan Umi Sinta yang pulang dengan mobil terpisah.
Malam kian larut saat Yusuf melajukan mobil sedan kembali menuju kediaman Musa dan Laila.
Suasana jalanan kota yang sepi menemani perjalanan mereka hingga mobil akhirnya berhenti di halaman rumah kediaman mereka.
Begitu melangkah masuk dan menutup pintu, keheningan rumah menyambut mereka dengan kehangatan yang menenangkan.
Musa menarik pelan tubuh Laila ke dalam pelukannya dari belakang, melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang istri lalu menyandarkan dagunya di bahu Laila.
"Mas, besok temani aku ke tempat Abah Adi ya, untuk memberitahukan acara pembukaan klinik lusa," bisik Laila lembut, menyandarkan kepalanya pada dada tegap suaminya.
Musa mengulas senyum manis, mengecup pipi Laila dengan mesra.
"Iya, Sayang. Besok kita berangkat bersama."
Musa tersenyum makin lebar mendengarkan perhatian dari istrinya.
Ia melingkarkan pelukannya sedikit lebih erat, merasakan kehangatan tubuh Laila yang selalu sanggup menenangkan jiwanya setelah seharian beraktivitas.
"Sekarang kita istirahat dulu, aku tidak mau dokter pribadiku jatuh sakit," bisik Musa lembut tepat di samping telinga Laila, menyalurkan rasa kasih sayang yang begitu dalam.
Laila mengangguk pelan, menyunggingkan senyum paling tulus di balik keheningan malam yang melingkupi kediaman mereka.
"Iya, Musa."
Dengan Penuh kelembutan, Musa menuntun tangan Laila melangkah menuju kamar tidur utama.
Di dalam ruangan yang temaram dan hangat itu, seluruh beban hari kemarin seolah meluruh tanpa sisa.
Keduanya berbaring berdampingan; Laila menyandarkan kepalanya di dada tegap Musa—mendengarkan detak jantung suaminya yang teratur—sementara Musa memeluk tubuh Laila dengan penuh rasa perlindungan.
Malam itu berlalu dengan penuh kedamaian bagi pasangan suami-istri tersebut, menjadi jeda yang sempurna sebelum fajar menyingsing dan hari esok membawa mereka lebih dekat pada momen pembukaan klinik.
tp km juga jgn lupa ,, kalo kejahatan gx kn pernh menang lawan kebenaran ,,
kalo pun menang tu hanya kemenangan semu 😏😏😏😏
tp kak ,, khawatir juga sih kalo org udh gelap mata oleh rasa iri gx bisa di bendung ,, bisa berbuat nekat senekat nekat ny ,,
jgn sampe deh rumah tangga Musa dan Laila di ganggu oleh fitnah Musdalifah
😒😒😒😒😒🥱🥱🥱
makany jgn coba2 ngusik umi Laila ,,
jd hancur lebur kn Hrga diri kalian ,, 😏😏😏😏😏
umi Sinta bisa menerima Laila dg baik ,,
bisa2 ny pak kiyai nikahin perempuan model gtuu ,,
semangat Musa berantas semua org2 yg udh nyakitin Laila ,,
sedangkan Nakula ny B aj ,, 🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣
msh aj di pilih ,, buka mata mu lebar2 umiiiiii