Dua puluh lima tahun Ryu Jin mengurung jiwanya di dasar jurang terlarang demi menahan kebangkitan Pedang Tulang Hitam. Namun, Aliansi Tiga Sekte membantai seluruh warga desanya demi menguras darah jiwa murni. Tetesan darah warga merobek segelnya. Sang Iblis Purba terbangun dengan mata membara. Mereka tidak tahu bahwa desa itu bukanlah pemukiman biasa, melainkan penjara tempat dikurungnya bencana abadi. Kini, pintunya telah terbuka, dan Ryu Jin siap menagih jiwa para penguasa benua!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LUAPAN DENDAM SANG DEWI
KRAK!
Di antara pilar-pilar batu yang hancur dan kawah bekas runtuhnya benteng Kota Darah Hitam, Ryu Jin menginjak sebuah peti giok kuno yang terperosok di balik reruntuhan balai utama.
Peti giok berukirkan segel pelindung suci itu pecah terbelah dua. Dari dalamnya, memancar pendar cahaya hijau keemasan yang teramat lembut, menyebarkan aroma wangi herbal purba yang seketika menetralkan bau amis darah dan abu pembakaran di sekeliling tempat itu.
Di tengah pecahan giok, terbaring sebuah pil bundar seukuran ibu jari—Pil Pemurni Darah Suci.
Pil tersebut adalah pustaka obat tingkat tinggi yang sangat langka di Wilayah Pusat. Khasiat utamanya adalah meregenerasi seluruh pembuluh darah yang hancur, menyambungkan jaringan energi yang putus, serta menyuntikkan pasokan energi kehidupan murni secara instan.
Namun, saat Ryu Jin mendekatkan telapak tangannya, Pedang Tulang Hitam di dalam dadanya justru mendesis menolak. Energi kehidupan murni yang dipancarkan oleh pil tersebut berlawanan secara mutlak dengan Hukum Kematian yang bersemayam di dalam tubuh sang pendekar. Konsumsi pil ini hanya akan memicu gesekan energi yang sia-sia bagi Ryu Jin.
Ryu Jin menatap pil di tangannya tanpa gejolak kecewa. Wajah kusamnya tetap dingin, datar, dan hampa.
Ia berbalik, melangkah menuju tubuh Lian Xue yang terkulai kaku di atas tanah batu.
Lian Xue masih bernapas tipis. Efek samping dari Bunga Jiwa dan proses penyaringan jutaan energi di ruang bawah tanah sebelumnya telah membuat jiwanya hampa dan tubuh fisiknya hancur di ambang kematian. Matanya yang redup menatap langit malam tanpa emosi, menunggu ajalnya tiba dengan pasrah.
TAP.
Ryu Jin berjongkok di samping tubuh Lian Xue.
Tanpa sepatah kata pun, tangan kanan Ryu Jin mencengkeram rahang Lian Xue secara kasar, memaksa mulut gadis itu terbuka lebar. Sebelum Lian Xue sempat menyadari apa yang terjadi, Ryu Jin melempar Pil Pemurni Darah Suci lurus masuk menembus tenggorokan Lian Xue, lalu menepuk dadanya agar obat tersebut tertelan utuh!
"Nghhh... Uhuk! Uhuk!" Lian Xue tersedak hebat, matanya membelalak kaget.
GZZZZZZ!
Hanya dalam hitungan detik setelah pil tersebut mengendap di dalam perutnya, ledakan hangat energi kehidupan murni meledak dahsyat melingkupi seluruh tubuh Lian Xue!
Cahaya hijau keemasan memancar menembus pori-pori kulitnya. Saluran energi yang semula putus dan mengering seketika menyambung kembali dengan kecepatan yang terlihat oleh mata telanjang. Luka-luka dalam, memar, dan kerusakan organ di dalam dada Lian Xue pulih sepenuhnya.
Wajahnya yang pucat pasi mendadak kembali merona segar. Seluruh pasokan Energi Murni Darah Suci di dalam pembuluh darahnya bangkit kembali, memulihkan stamina, fisik, dan energi fisiknya hingga mencapai titik paling prima!
Lian Xue terduduk di atas tanah batu, memegangi dadanya yang kini berdenyut kencang penuh dengan energi kehidupan.
Ia menatap kedua telapak tangannya sendiri yang tak lagi gemetar. Rasa sakit luar biasa yang menyiksanya sepanjang hari telah hilang tanpa berbekas. Fisiknya telah pulih seratus persen!
Namun, tidak ada rasa terima kasih di mata Lian Xue.
Ia mendongak, menatap pemuda berkain cokelat pudar yang berdiri mematung di hadapannya dengan sepasang mata merah darah yang tetap hampa.
Lian Xue tahu betul. Ryu Jin tidak memulihkannya atas dasar rasa kasihan, kemanusiaan, atau penyesalan. Pemuda iblis ini memulihkan fisiknya semata-mata agar "waduk energi" dan "alat penyaring" di tangannya tidak mati sebelum mencapai Altar Utama Wilayah Pusat!
Perlakuan yang teramat dingin, objektif, dan memperlakukannya tak lebih dari sekadar barang ini menjadi jerami terakhir yang merobohkan seluruh dinding pertahanan mental Lian Xue.
Segala rasa takut, keputusasaan, penderitaan, dan kebencian mendalam yang terpendam sejak pembantaian sektenya... meledak hebat secara bersamaan!
"IBLIS!"
Lian Xue bangkit berdiri secara mendadak. Suaranya melengking kencang, memecahkan keheningan malam di tengah kawah reruntuhan Kota Darah Hitam!
Air mata kemarahan dan sakit hati merebak membasahi pipinya yang kembali memerah. Dengan dada yang naik turun memburu dan napas yang terengah-engah, Lian Xue menunjuk wajah Ryu Jin dengan jemarinya yang bergetar hebat.
"A-Apa yang sebenarnya ada di dalam kepalamu?!" jerit Lian Xue histeris, suaranya bergetar menahan tangis kebencian yang teramat pekat. "Kau pikir kau ini apa?! Kau mengobati tubuhku hanya untuk kau perah kembali?! Kau memperlakukan manusia, jiwa, dan kehidupan seperti barang sampah yang bisa kau permainkan sesuka hatimu!"
Ryu Jin tidak bergerak. Ia berdiri mematung di tengah terpaan angin malam, mendengarkan jeritan itu tanpa mengedipkan matanya sedikit pun.
"Kau membunuh ribuan orang tanpa berkedip!" cecer Lian Xue dengan air mata yang terus menetes deras, meluapkan seluruh ganjalan yang membakar jiwanya. "Kau datang ke sekteku, kau bantai semua orang, dan kau membunuh ibuku... kau membunuh Dewi Lian Ji tanpa sedikit pun rasa ragu di matamu!"
Lian Xue melangkah maju satu langkah, menatap lurus ke dalam mata merah darah Ryu Jin dengan keberanian liar yang lahir dari kemurkaan puncak.
"Ibuku memang musuhmu! Tapi dia adalah manusia! Mereka semua adalah manusia yang memiliki kehidupan!" teriakan Lian Xue bergema memantul di dinding kawah. "Bagaimana bisa kau membunuh orang dengan begitu mudahnya?! Apakah bagimu nyawa manusia sama sekali tidak ada harganya?! Apakah hatimu sudah benar-benar mati, Ryu Jin?!"
Jeritan dan makian penuh emosi itu menggema luas di bawah naungan langit malam yang diselimuti awan merah. Setiap kata yang diucapkan Lian Xue dipenuhi oleh penderitaan seorang anak yang melihat dunianya dihancurkan oleh sesosok iblis tanpa emosi.
Namun, Ryu Jin tetap berdiri tegak di tempatnya.
Sikapnya tetap datar. Tidak ada rasa bersalah di wajah kusamnya, tidak ada kemarahan atas makian Lian Xue, dan tidak ada sedikit pun gejolak emosi di matanya yang merah darah.
Bagi Ryu Jin yang lahir dan menyaksikan pembantaian berdarah di Desa Sunyi, dunia kultivasi pernah memberinya satu pelajaran mutlak: Hukum Rimba. Di bawah naungan langit ini, tidak ada ruang untuk moralitas belas kasihan. Yang kuat melahap, dan yang lemah dilahap.
Dewi Lian Ji membantai orang-orang Desa Sunyi tanpa keraguan untuk eksperimen jiwanya. Dan kini, Ryu Jin melahap seluruh keturunannya untuk menghancurkan eksperimen tersebut. Sederhana, dingin, dan tanpa perlu pembenaran.
"Sudah selesai?" suara Ryu Jin akhirnya terdengar.
Suara itu teramat pendek, sangat rendah, dan datar—bagaikan gumpalan es yang dijatuhkan ke dalam air mendidih.
Lian Xue membeku. Pertanyaan dingin tanpa emosi itu bagaikan tamparan keras yang meremukkan seluruh luapan kemarahannya. Pria di hadapannya sama sekali tidak tersentuh oleh air mata, penderitaan, ataupun jeritan moralitasnya.
"K-Kau..." Lian Xue menggigit bibirnya erat-erat hingga darah segar kembali mengalir di dagunya.
Dengan sisa energi murni yang baru saja pulih di dalam dadanya, Lian Xue menggerakkan tangannya secara mendadak, membentuk cakar energi suci dan menghantamkannya lurus ke arah dada kiri Ryu Jin—tempat Pedang Tulang Hitam bersemayam!
"Mati kau, Iblis!" jerit Lian Xue dalam keputusasaan terakhirnya!
WUUUUSH!
Namun, sebelum cakar energi suci Lian Xue sempat menyentuh jubah cokelat pudarnya...
TAP.
Ryu Jin hanya menggerakkan pergelangan tangan kirinya secara santai.
Dua jari Ryu Jin menangkap pergelangan tangan Lian Xue di udara dengan presisi yang sempurna. Cengkeraman jari Ryu Jin bagaikan jepitan besi murni—begitu kokoh hingga seluruh daya hantam energi suci Lian Xue seketika padam tanpa sisa!
"Ngh!" Lian Xue meringis saat pergelangan tangannya terkunci kaku, tak sanggup bergerak satu sentimeter pun.
Ryu Jin menarik pergelangan tangan Lian Xue secara perlahan, memaksa gadis itu mendekat hingga wajah mereka hanya berjarak belasan sentimeter.
Ryu Jin menatap lurus ke dalam mata Lian Xue yang dipenuhi air mata dan kebencian.
"Aku memulihkan tubuhmu bukan untuk mendengarkan khotbahmu," kata Ryu Jin datar, suaranya menusuk langsung ke dalam sumsum tulang Lian Xue. "Aku memulihkanmu agar waduk energi ini tidak rusak saat aku membenturkannya di Altar Utama nanti."
Kata-kata itu diucapkan tanpa rasa dendam ataupun amarah—hanya sebuah kenyataan objektif yang teramat kejam.
Ryu Jin memutar pergelangan tangannya, mengalirkan sedikit aura kematian untuk mengunci kembali simpul energi pergerakan Lian Xue tanpa merusak organ yang baru pulih.
DEGG!
Lian Xue kembali lemas, tak sanggup menggerakkan otot-otot fisiknya meskipun energi di dalam tubuhnya penuh melimpah. Air mata keputusasaan kembali menetes di pipinya. Pembalasan dendamnya, kemarahannya, dan pemulihan fisiknya... semuanya tetap berada di dalam cengkeraman kendali Ryu Jin.
Ryu Jin menyambar bahu Lian Xue, menyampirkannya kembali di bahunya bagaikan barang bawaan yang tak berdaya.
Ia berpaling dari kawah reruntuhan Kota Darah Hitam, menatap lurus ke arah pilar cahaya merah raksasa yang membumbung tinggi menembus langit di ufuk barat.
Pintu menuju Altar Utama Sekte Dewa Langit Merah kini membentang tanpa penghalang. Pertemuan puncak dengan pimpinan tertinggi sekte—dalang sejati pembantaian Desa Sunyi—sudah berada tepat di garis pandangnya.
Ryu Jin melangkah menembus kegelapan malam, membawa serta alat bernyawanya menuju pertarungan paling menentukan di Wilayah Pusat!