Indonesia
NovelToon NovelToon
PENYESALAN YANG DATANG TERLAMBAT

PENYESALAN YANG DATANG TERLAMBAT

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Rumah Tangga / Selingkuh / Tamat
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Alya menjalani pernikahan perjodohan dengan Arga, pria kaya yang tidak pernah benar-benar menerimanya sebagai istri. Saat Alya berusaha mempertahankan rumah tangga mereka, Arga justru masih menjalin hubungan dengan kekasih lamanya dan mengabaikan kesetiaan istrinya.
Diam-diam, Alya menahan penyakit parah dan luka hati yang semakin dalam. Hingga suatu hari, ia memilih pergi tanpa meminta apa pun lagi.
Arga mengira Alya akan kembali. Namun ketika hari berganti dan rumah terasa semakin sunyi, ia mulai menyadari bahwa perempuan yang selalu ia abaikan adalah satu-satunya orang yang tulus mencintainya. Saat Alya akhirnya ditemukan dalam keadaan kritis, penyesalan Arga telah datang terlalu terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LIMA KUNTUM TERAKHIR

Hari kelima di kampung, Alya tidak bangun jam 7 pagi.

Bu Ratna yang biasa bangunin jam 6 untuk minum obat, lihat Alya masih tidur, pucat sekali, bibir putih. Hb pasti di bawah 7 lagi.

"Arga, bangun, Nak, Alya pucat," panggil Bu Ratna pelan.

Arga yang tidur di lantai langsung bangun, cek nadi Alya. Nadi cepat, 110, tanda anemia berat.

"Al, bangun, Al," panggil Arga, tepuk pipi pelan.

Alya buka mata pelan, seperti waktu di HCU dulu. "Mas... pusing... gelap..."

Itu tanda Hb turun di bawah 6. Otak kekurangan oksigen.

Pak Pramono sudah siapin mobil, tanpa tanya. "Bawa ke puskesmas kecamatan dulu, kasih oksigen."

Di puskesmas kecamatan, tidak ada lab trombosit, hanya ada Hb manual. Hasil Hb: 5,8.

Dokter puskesmas bilang, "Ini harus transfusi sekarang, Bu. Tapi di sini tidak ada bank darah. Harus ke Makassar."

"Berapa jam ke Makassar, Dok?" tanya Arga.

"4 jam kalau ngebut."

Alya di brankar puskesmas, pakai oksigen tabung kecil, dengan selang. Ia lihat Arga, bisik, "Mas, nggak usah ke Makassar. Di sini aja."

"Al, Hb 5,8 bisa henti jantung," kata dokter puskesmas.

Alya geleng pelan. "Saya tau, Dok. Tapi kalau di jalan 4 jam, saya meninggal di jalan. Kalau di sini, saya meninggal di bawah pohon mangga."

Bu Ratna nangis di luar puskesmas, tidak masuk, karena tidak kuat lihat.

Arga akhirnya tanda tangan penolakan rujuk, sama seperti penolakan transplant di RS Makassar. Kedua kalinya tanda tangan penolakan.

Mereka bawa Alya balik ke rumah panggung, bukan ke Makassar. Alya minta dibaringkan di bawah pohon mangga, bukan di kamar. Katanya mau lihat langit.

Jam 11 siang, di bawah pohon mangga, Alya dibaringkan pakai kasur lipat, pakai oksigen tabung, pakai selimut. Tetangga datang lagi, tapi kali ini tidak bisik-bisik, hanya lihat dari jauh.

Pak Pramono bacain Yasin pelan di samping.

Arga duduk di samping Alya, genggam tangan Alya yang dingin, yang bintik merahnya sudah sampai ke leher sekarang. Perdarahan bawah kulit karena trombosit di bawah 20 ribu.

"Mas," panggil Alya jam 12 siang, suara hampir tidak ada karena Hb 5,8.

"Iya, Al?"

"Buku biru..."

Arga ambil buku biru muda dari kamar, yang sudah hampir habis halamannya.

Alya buka halaman terakhir yang kosong, tulis dengan tangan yang gemetar hebat, tulisan hampir tidak bisa dibaca, karena tidak ada tenaga.

Arga bantu pegang bukunya.

Tulisannya:

Mas, kalau aku nggak ada, jangan tanam bunga kuning lagi. Capek nyiramnya.

Tanam pohon mangga aja, nggak perlu disiram, hujan aja cukup.

Makasih udah temenin dari 16 ribu sampai 5,8.

Aku pulang ya, Mas. Bukan ke Makassar, tapi pulang beneran.

Arga baca tulisan itu, dengan Alya masih pegang pulpen, pulpen jatuh dari tangan.

Jam 12.30, Alya mimisan lagi, tapi kali ini tidak ditekan, tidak dikasih es batu. Darah keluar pelan dari hidung kanan, mengalir ke pipi.

Bu Ratna mau lap, Alya geleng pelan: "Biarin, Bu."

Jam 12.45, napas Alya cepat, 30 kali per menit, tanda tubuh kompensasi Hb 5,8.

Arga peluk Alya dari samping, di bawah pohon mangga, dengan oksigen masih bunyi pelan.

"Al, jangan tidur dulu, Al. Lihat mangganya udah berbuah," kata Arga, bohong, karena mangga belum berbuah.

Alya senyum kecil, senyum terakhir yang sama seperti senyum di Bab 22 waktu masih di RS.

"Mas... alarm jam 5.30... matiin aja ya..."

Itu kalimat terakhir Alya di novel ini.

Jam 13.02, di bawah pohon mangga, dengan buku biru muda terbuka di dada, dengan darah mimisan yang sudah kering di pipi, Alya meninggal. Hb 5,8, trombosit <20 ribu, leukosit <1,0. Bukan karena perdarahan otak besar, tapi karena jantung berhenti pelan karena tidak ada oksigen.

Tidak ada monitor yang bip panjang seperti di ICU. Hanya ada ayam berkokok jam 1 siang, yang tidak biasa.

Bu Ratna teriak pelan, bukan histeris. Pak Pramono tutup Yasinnya.

Arga tidak teriak. Ia hanya genggam tangan Alya yang sudah tidak dingin lagi, tapi sudah tidak ada nadi.

Di Makassar, 4 jam dari kampung, di belakang rumah kosong mereka, 5 kuntum bunga kuning terakhir yang setengah layu di Bab 28, hari ini layu total. Semua 12 kuntum mati, karena 5 hari tidak disiram.

Tetangga Makassar yang lihat dari pagar, bilang, "Bunganya mati semua ya, Bu?"

Tidak ada yang jawab, karena rumah kosong.

Malam itu, jenazah Alya dimandikan di rumah panggung, pakai air hangat, bukan di RS. Tidak ada selang infus, tidak ada jarum.

Arga yang mandiin, dibantu Bu Ratna. Pertama kalinya Arga mandiin Alya, setelah 28 bab Alya yang mandiin Arga dengan masakan.

Buku biru muda ditaruh di dalam keranda, di dada Alya, halaman terakhir terbuka di tulisan "Aku pulang ya, Mas."

1
Inarrr Ulfah
semgat alaya
Nuna_Pena: hehe.. makasi cayank sudah mampir..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!