Di antara cahaya yang tak pernah cukup dan bayangan yang tak pernah padam, namanya terucap hanya dalam hening: Orion.
Ia bukan milik dunia yang kau kenal. Pangeran dari kedalaman kegelapan, sosok yang dikabarkan tak pernah menyentuh sinar matahari, yang berjalan di tempat di mana cahaya tak mampu menjangkau. Banyak yang gemetar menyebut namanya; banyak yang menganggapnya kutukan. Namun bagi Aruna—ia adalah satu-satunya keberkahan yang menyelamatkannya dari jurang.
Aruna, gadis yang hidup di antara keraguan dan bahaya yang datang tanpa peringatan, selalu menemukan dirinya ditarik ke tepi jurang—sampai sepasang tangan yang kuat, hangat meski berasal dari kegelapan, menariknya kembali. Orion selalu hadir tepat saat dunia tampak membelakanginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LailaHaidar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan di Balik Cermin
Tiga hari terasa seperti tiga tahun. Setiap detik terasa berjalan lambat, seolah waktu sendiri sedang menahan napas menunggu malam yang dikatakan Orion — malam tanpa bulan.
Pagi itu aku terbangun lebih awal dari biasanya. Langit di luar terlihat aneh — kelabu suram, seolah awan lupa bagaimana cara bergerak. Aku duduk di tepi jendela, memegang lionting kecil di leherku yang terasa sedikit lebih hangat dari biasanya. Di saku jaketku, kelopak bunga hitam itu masih utuh, masih memancarkan kilau perak samar. Tanda bahwa dia baik-baik saja. Setidaknya untuk sekarang.
Aku berjalan ke kampus dengan langkah cepat. Di kantin, Dinda sudah menungguku di meja paling pojok. Dia menunduk menatap selembar kertas yang penuh coretan, alisnya berkerut dalam. Saat aku duduk di hadapannya, dia langsung mendongak.
"Kau lihat beritanya pagi ini?" tanyanya berbisik, matanya melebar sedikit. "Tiga orang hilang semalam. Semuanya tinggal di jalan yang menghubungkan desa kita dengan hutan tua. Sama persis seperti pola yang dulu."
Hatiku mencelos. "Mereka bukan sekadar hilang, kan?"
Dinda menggeleng pelan, suaranya makin rendah. "Pintu rumah mereka terbuka dari dalam. Tidak ada tanda perkelahian. Seolah mereka berjalan keluar sendirian... seperti dipanggil sesuatu yang tidak bisa mereka tolak. Tetangga bilang sempat mendengar suara bisikan di luar jendela sebelum hilang. Tapi saat mereka melihat keluar... tidak ada siapa-siapa."
Aku menggenggam tanganku di bawah meja. "Orion bilang mereka tidak menyakiti secara langsung. Mereka masuk ke pikiran, membisikkan apa yang paling diinginkan hati seseorang, lalu memancing mereka keluar ke tempat yang sepi."
"Mengerikan," bisik Dinda, menggigil. "Bagaimana kalau aku juga tiba-tiba merasa ingin berjalan ke hutan tengah malam? Bagaimana kalau aku tidak sadar saat aku sedang dipanggil?"
"Itulah gunanya batu perlindungan yang Orion berikan," ingatku lembut. "Selama kau memakainya, mereka tidak bisa masuk ke pikiranmu. Tapi kau tetap harus waspada. Jangan berjalan sendirian ke mana pun, terutama saat sore menjelang malam. Dan kalau kau mendengar namaku dipanggil dari belakang... jangan menoleh dulu sampai kau memastikan itu benar-benar aku."
"Dan kalau itu bukan kau?"
"Tutup matamu, tarik napas dalam, lalu ucapkan namaku tiga kali dengan keras. Suara yang bukan aku... akan pecah dan menghilang."
Dinda menelan ludah, lalu mengangguk mantap. "Baik. Aku ingat. Tapi Aruna... kau juga harus berjanji. Kalau kau merasa ada yang aneh, kalau kau merasa ingin pergi sendirian ke tempat gelap... kau hubungi aku. Segera. Aku tidak peduli jam berapa pun."
"Janji," kataku, meski di dalam hatiku ada rasa gelisah yang tak bisa kugambarkan. Seperti ada yang mengawasi dari balik jendela kantin ini sendiri.
Sore itu aku berjalan ke tempat pertemuan kami dengan perasaan berat. Kabut turun lebih awal hari ini, menyelimuti jalan setapak itu dengan warna abu-abu yang dingin. Orion sudah ada di sana, berdiri di bawah pohon beringin tua. Dia tidak tersenyum saat melihatku datang. Wajahnya pucat, dan dia sedang menatap pergelangan tangannya dengan tatapan yang sulit kubaca.
"Kau terluka?" tanyaku langsung, melangkah cepat mendekatinya.
Dia menyembunyikan tangannya di belakang punggung, tapi aku sudah melihatnya. Jejak hitam itu tidak lagi hanya melilit pergelangan tangannya. Sekarang sudah merambat naik ke lengan atas, seperti urat hitam yang berdenyut pelan di bawah kulit pucatnya.
"Ini bukan lukaan yang menyakitiku, Aruna. Setidaknya tidak sekarang. Tapi semakin jauh mereka melacakku, semakin sulit bagiku untuk menyembunyikan keberadaan kita. Mereka tahu jalan masuk ke duniamu. Mereka tahu titik terlemah di sekeliling desa ini."
"Malam tanpa bulan... malam ini?" tanyaku, jantungku berdebar kencang.
Dia mengangguk pelan. "Langit sudah tertutup awan tebal sejak pagi. Matahari terbenam sekarang, dan bulan tidak akan muncul sama sekali malam ini. Ini saat yang mereka pilih."
"Kita tidak bisa menunggu mereka datang ke rumahku. Mari kita temui mereka di sini, di tempat terbuka, di tempat aku bisa melihat segalanya."
Orion menggeleng tegas. "Tidak. Tempat ini terlalu dekat dengan pemukiman. Kalau pertarungan terjadi di sini, siapa pun yang lewat bisa menjadi sasaran. Aku sudah menyiapkan tempat lain. Sebuah lembah tersembunyi di balik hutan tua. Di sana tidak ada siapa-siapa kecuali kita dan mereka yang datang mencari kita. Itu tempat yang paling aman bagi orang lain, dan paling berbahaya bagi kita."
Aku meraih tangannya yang bebas, menggenggamnya erat. "Kau pikir aku takut pada tempat berbahaya selama kau di sisiku?"
Dia menatapku lama sekali, lalu menghela napas panjang dan tersenyum sedih. "Kau membuatku merasa seperti pangeran yang sebenarnya, Aruna. Padahal aku hanya bayangan yang beruntung pernah dilihat oleh cahayamu."
"Kau lebih dari itu bagiku," bisikku. "Kau rumahku, ingat?"
Dia mengangguk pelan, lalu menarikku ke dalam pelukannya. "Pergilah ke rumahmu sekarang. Kumpulkan semua yang kau butuhkan — jurnalmu, liontingmu, kelopak bunga itu. Tunggu sampai jam sembilan malam. Kalau aku belum datang menjemputmu pada jam itu... ikuti kabut putih yang berjalan pelan di pinggir jalan setapak. Itu jalur aman yang sudah kuciptakan untukmu. Ikuti sampai ke lembah."
"Tunggu bersamaku sekarang," pintaku pelan. "Jangan pergi dulu."
Dia melepaskan pelukannya perlahan, menatap mataku dalam-dalam. "Aku harus pergi lebih dulu. Memastikan jalan aman. Dan... ada satu hal yang harus kulakukan sendirian sebelum kita menghadapi mereka. Sesuatu yang mungkin akan menyakitimu untuk melihatnya."
"Apa itu? Katakan sekarang, jangan ada rahasia di antara kita lagi."
Dia terdiam, seolah sedang menimbang setiap kata. "Kalau nanti kau melihat sesuatu yang menakutkan... kalau kau melihatku bukan seperti yang kau kenal... ingatlah satu hal. Itu bukan aku yang sesungguhnya. Aku masih di sini." Dia menaruh tangannya di dadanya, tepat di atas hatinya. "Di mana pun aku berada, apa pun wujudku... hatiku tetap milikmu."
Kata-katanya membuatku semakin gelisah. "Kau membuatku takut, Orion. Apa yang akan terjadi malam ini?"
Dia mencium keningku dengan lembut, lama sekali, seolah mengingat setiap detiknya. "Pergilah, Aruna. Dan jangan pernah... jangan pernah ragu padaku, apa pun yang terjadi. Itulah satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan kita berdua."
Lalu dia mundur perlahan, menyatu dengan kabut yang semakin pekat. Sebelum dia benar-benar menghilang, aku melihat ke belakangnya — ada sosok tinggi berdiri di balik batang pohon besar, menunggu dia. Sosok yang tidak terlihat seperti manusia, dengan sayap tipis yang terlipat di punggungnya. Saat aku berkedip, sosok itu hilang. Tapi aku tahu mataku tidak salah lihat.
Dia tidak pergi sendirian. Dia dipanggil.
Sore berganti malam. Aku duduk di tepi tempat tidur, tas kecil di sampingku berisi semua yang penting. Jam di dinding menunjukkan pukul delapan lewat empat puluh lima menit. Masih ada waktu sedikit lagi.
Aku berdiri dan berjalan ke cermin di sudut kamar. Menatap bayanganku sendiri. Mataku terlihat lebih cemas dari biasanya, tapi aku tidak gemetar. Aku siap. Untuknya, aku siap menghadapi apa pun.
Lalu aku melihat sesuatu yang membuat darahku terasa berhenti mengalir.
Di cermin itu, di belakang bayanganku sendiri, ada bayangan lain. Bukan milikku, bukan juga Orion. Sosok itu berdiri diam, memakai jubah yang persis seperti yang Orion pakai hari ini. Tapi wajahnya... saat dia perlahan mendekat ke permukaan cermin, aku melihat wajah yang sama persis dengan Orion. Namun matanya bukan berwarna keemasan lembut yang kukenal. Matanya merah menyala, tajam dan dingin.
Dan bibirnya bergerak, tanpa suara, tapi aku tahu persis apa yang dia katakan:
"Dia sudah menjadi milikku sekarang. Selamat datang, pengantin kecilku."
Cermin itu retak perlahan, dari sudut ke sudut, bunyinya halus namun mengerikan di keheningan malam. Aku berbalik cepat ke belakangku — tidak ada siapa-siapa di sana. Tapi lionting di leherku terasa sangat panas, membakar kulitku, memberi peringatan yang paling nyata.
Jam di dinding berdentang pelan. Sembilan malam.
Dan di luar jendela, kabut putih yang Orion sebutkan belum datang. Yang datang justru suara ketukan di pintu depan. Tiga ketukan berat, teratur, dan suara yang persis seperti suara Orion memanggil namaku:
"Aruna... buka pintunya. Aku datang menjemputmu."
Tapi aku tahu. Kalau dia benar-benar Orion, dia tidak akan mengetuk pintu. Dia selalu menunggu aku keluar. Dia selalu tahu aku akan datang kepadanya.
Langkahku terasa berat saat aku mendekati pintu. Tanganku gemetar memegang kunci pintu. Di saku, kelopak bunga hitam itu terasa dingin seketika. Saat aku melirik ke jendela samping pintu, aku melihat bayangannya — tinggi, tegap, sama persis seperti Orion. Tapi di kakinya... tidak ada bayangan yang jatuh ke tanah.
Aku menahan napas, menempelkan bibirku ke pintu, dan berbisik pelan:
"Kalau kau benar-benar Orion... bisikkan namaku dengan nama panggilan yang hanya kau yang tahu. Yang tidak pernah kau ucapkan di depan siapa pun."
Di luar sana, keheningan yang panjang. Lalu suara itu terdengar lagi, sedikit berubah, sedikit terdesak:
"Cahayaku... bukalah pintunya. Cepat. Waktu kita tidak banyak."
Air mata menetes di pipiku. Itu nama panggilanku. Benar. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Suaranya terburu-buru, tidak tenang seperti biasanya. Dan kenapa dia tidak membiarkanku keluar sendiri seperti biasa?
Saat aku ragu, aku melihat sesuatu di bawah celah pintu. Ada jejak kaki yang basah dan hitam pekat, menetes perlahan di lantai teras. Bukan air. Itu cairan pekat yang memancarkan bau terbakar samar.
Dan tiba-tiba, dari balik dinding sebelah pintu, aku mendengar suara yang sungguh-sungguh milik Orion — tercekik, lemah, tapi jelas:
"Jangan buka pintunya, Aruna! Itu bukan aku! LARI!"
Di luar, sosok di depan pintu itu tertawa. Bukan tawa Orion. Tawa yang melengking dan bergema di udara malam. Dan pintu itu mulai bergetar, ketukan berubah menjadi pukulan keras yang membuat dinding rumahku ikut bergetar.
Aku berbalik dan berlari ke jendela belakang. Membukanya cepat, melompat keluar ke halaman belakang. Di sana, kabut putih akhirnya muncul, bergerak pelan menuju hutan tua. Aku berlari mengikutinya, jantungku berpacu secepat kilat, di belakangku suara hancur pintu rumahku terdengar memecah keheningan malam.
Aku tidak tahu apa yang menantiku di ujung kabut itu. Aku tidak tahu apakah aku akan menemukan Orion atau hanya menemukan jebakan yang lebih mengerikan. Tapi aku tahu satu hal — aku tidak akan menyerah. Bukan saat dia membutuhkanku paling banyak.