Wajah tampan fathan mengalihkan dunianya, dia yang haus belaian selama pelarian panjangnya menghindari Roberto si pria sadis dan kejam. Tak mampu mengabaikan daya tarik Fathan.
Tapi Fathan bukanlah lelaki yang mudah di jamah. Lelaki yang telah menyelamatkan hidupnya itu begitu sulit ditaklukkan, bahkan tubuhnya yang selama ini menjadi aset paling dia andalkan tak mampu mengoyah keteguhan hatinya. Kelembutan dan kesabaran Fathan menyembuhkan candunya pada sentuhan lelaki, perlahan menimbulkan rasa di hati veronica.
Gadis belia itu tak bertepuk sebelah tangan Fathan juga mencintainya dalam diam. Tapi.cinta mereka harus di uji oleh campur tangan Roberto yang tak ingin kehilangan kelinci kecilnya, julukan yang dia sematkan pada veronika.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 30
Vero mematut pantulan tubuhnya dicermin. Mini dres berwarna salem yang dia kenakan terlihat sangat sederhana tapi tetap seksi.
Malam ini Vero akan pergi menghadiri undangan Salah satu teman kampusnya, yang akan mengadakan pesta pertunangan di sebuah hotel bintang lima dikota A.
Vero dan Anya sudah membuat janji akan pergi bersama. Dan Anya yang akan menjemput Vero ke mansion Fathan. Tentu saja ini atas ijin Fathan.
Tak berapa lama, mobil Anya tampak memasuki halaman mansion. Dengan gaun warna merah terang dengan model yang sangat seksi Anya turun dari mobilnya.
Anya menatap takjub kemewahan bangunan mansion yang terpampang didepannya. Sudah bisa terbayang olehnya kemewahan yang didapat Vero dari pemiliknya. Vero sungguh sangat beruntung.
Vero sendiri sudah menyambutnya di pintu utama, sementara di belakangnya berdiri Fathan, lelaki tampan itu sedang menatap kearah Anya dengan tatapan tajam, seakan ingin mengintrogasi Anya. Bisakah dia dipercaya menjaga Vero.
"Mau masuk dulu?" Tanya Vero dengan senyum ramah.
"Gak usah, kita langsung pergi aja ya," sahut Anya sembari menatap lelaki yang berada di belakang Vero. Vero juga beralih menatap Fathan.
"Aku pergi dulu ya," pamit Vero sembari ikut menatap Fathan dibelakangnya.
"Ingat jangan banyak minum disana, kalau ada apa-apa cepat kabari aku. Aku juga ada acara diluar, kalau nanti kamu pulang duluan, kabari aku." ujar Fathan sembari menatap Vero dengan tatapan lembut.
"Iya aku akan ingat pesanmu," sahut Vero.
"Sudah bisa pergi?" tanya Anya pada Vero.
"Sudah ayo."
Anya melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, menuju ke tempat pesta.
"Dia tuan Fathan bukan?" tanya Anya sembari melirik Vero disampingnya.
"Iya."
"Kalian sudah lama bersama?" tanya Anya lagi.
"Belum, ada apa?" nada bicara Anya seperti mengetahui sesuatu tentang Fathan.
"Bukan apa-apa. Hanya saja aku dengar dia menjalin hubungan dengan nona Areta. Tapi melihat dia menempatkanmu di mansionnya, aku rasa kamulah wanitanya bukan Areta." sahut Anya sembari menatap Vero sekilas lalu kembali focus pada jalanan yang padat merayap.
"Dia menempatkan aku di mansionnya bukan karena aku wanitanya." Gumam Vero.
"Lalu?"
"Ceritanya panjang lain kali aku beritahu kamu."
"Hais! Bikin orang penasaran aja." sungut Anya penasaran.
"Kau harus menukar ceritanya dengan traktiran, bagaimana?"
"Haiss, harusnya kamu ambil jurusan bisnis managemen, bukan fashion design. kalau yang ada di otak mu semua berbau bisnis." sungut Anya. Vero terbahak, sembari menatap Anya dengan wajah ceria. Semenjak ibunya meninggal dan harus tinggal bersama pamannya dia sama sekali tak memiki teman sedekat ini.
Tak tetasa mobil Anya sampai dihalaman parkir hotel tempat berlangsungnya acara. Vero tak menyangka kalau tamu yang hadir akan sebanyak ini.
Tamu yang datang sepertinya banyak dari kalangan pengusaha. Mungkin kolega dari kedua keluarga. Kalau tau acara se-pormal ini, Vero tak akan berdandan sesederhana ini. Dia sangka hanya acara sesama teman kampus.
Anya langsung berbaur menayapa beberapa kenalan mereka. Sementara Vero mengekorinya dan sesekali ikut nimbrung sekedar berbasa-basi.
Setelah memberi ucapan selamat keduanya menikmati hidangan yang disediakan penyelenggara pesta.
Vero menyesap perlahan anggur merah berkadar alkohol rendah yang ada ditangannya. Aroma manis ini Vero menyukainya. Maklumlah selama berada di club, minuman seperti ini sudah jadi minuman wajib yang harus dia telat sebelum melayani tamu.
Sembari menikmati anggurnya, Netranya menyapu seluruh ruangan. Memperhatikan gerak para tamu yang mayoritas dari kalangan jet set.
Vero terpaku ditempatnya, saat netranya bertemu pandang dengan bola mata kelam yang tengah menatapnya tajam.
Dia Robert, datang dengan seorang wanita berparas sangat cantik dengan gestur yang begitu anggun penuh pesona. Vero menarik pandangannya melemparnya ketempat lain, sorot mata yang menghunus tajam milik Robert membuat jantungnya seakan mau keluar dari rongga dadanya. Lelaki itu telah memiliki wanita lain, tapi tatapannya ke Vero kenapa masih sama, tidak berubah.
Vero kembali menyesap anggur ditangannya untuk menetralisir rasagugupnya. Tiba-tiba dia merasa begitu menyesal datang kepesta ini, kalau harus bertemu dengan Robert.
"Vero, kau lihat itu. Di depan kita ada tuan Robert, dia datang dengan wanita cantik. Kamu tau dia bukanlah istri Robert. Oh tidak! Dia menuju kemari," oceh Anya yang berubah jadi panik saat Robert melangakah kearah mereka.
Jantung Vero seperti disengat listrik, mendadak berhenti berdetak. Sepontan dia melihat kearah Robert dan ternyata benar dia berajalan kearahnya dengan ekspresi tak terbaca.
"Nona Vero, kita bertemu lagi. Terakhir ketemu pembicaraan kita belum mencapai kesepakatan. Bagai mana kalau malam ini kita sambung lagi pembicaraan kita." Sapa Robert setelah berada didepan Vero. Sorot mata Robert yang begitu tajam menghunus membuat Vero kehilangan kata.
Vero tak tau harus mengiyakan atau menolak Robert, dia menatap wanita disamping Robert, berharap dia buka suara membantunya mencegah Robert membawanya pergi.
"Tuan siapa dia?" tanya wanita itu sembari bergelayut manja dilengan Robert.
"Dia Vero, mahasiswi jurusan Fashion design,"sahut Robert tanpa menatap wanita itu. Netranya masih tertuju pada Vero.
Wanita itu mengulurkan tangannya pada Vero, memperkenalkan diri. "Anindi," ujarnya dengan tatapan lekat.
"Vero," sahut vero ramah, lalu Anindi beralih pada Anya.
Anya yang sadar situasi Vero, segera berpamitan pada Robert. "Tuan maaf kami permisi dulu, ada teman yang harus kami temui," ujar Anya beralasan.
Mendengar itu, Vero bernapas lega. Tidak sia-sia dia memiliki teman seperti Anya.
"Tunggu! Aku perlu bicara pada Vero, kalian tunggulah disini," seru Robert sembari mencekal pergelangan tangan Vero menahan langkah kakinya yang sudah melangkah pergi.
"Tuan jaga sikapmu!" sentak Vero sembari menyentak cekalan Robert. Tapi jemari Robert masih menempel erat dipergelangan tangannya.
"Kau yang harus jaga sikap, apa yang kau lakukan malah mengundang perhatian orang. kalau tidak ingin jadi perhatian diam! dan turuti apa kataku!" tegas Robert sedikit emosi.
Robert tak menyangka akan bertemu Vero disini. Kerinduan yang menggunung membuatnya tak bisa mengontrol perasaannya. Dia bahkan lupa dengan siapa dia datang kepesta ini.
Kalau tidak ingat saat ini berada dimana, Robert sudah melarikan Vero dengan paksa.
"Tuan, tolong jangan begini. Apa pantas tuan memperlakukan aku begini didepan wanitamu," uajr Vero dengan suara pelan. Dia tak ingin tamu lain menyadari perlakuan Robert padanya.
"Jangan banyak alasan Vero, menurutlah. Aku tak segan menyeretmu meninggalkan tempat ini. Jadi kumohon patuhlah," bujuk Robert sedikit melunak. walau sorot matanya masih saja sebuas tadi.
Vero menatap Anindi meminta pertolongan. Gadis cantik ini tak mungkin tak bisa mempengaruhi Robert.
"Tuan, nona Vero benar, sikapmu ini sunggu tak pantas dipandang orang," bujuk Anindi. Hatinya sudah sangat panas melihat perlakuan Robert pada wanita bernama Vero ini. Sementara Anya tak berani angkat bicara, hanya jemarinya yang menggengan sebelah jemari Vero memberi dukungan.
"Apa aku memintamu ikut bicara, ini bukan ranahmu ikut campur urusan pribadiku," ujar Robert sembari menatap marah pada Anindi. Anindi tercekat, tatapan marah Robert menyadarkan dirinya, siapa dia dimata Robert. Lalu apa arti perlakuan lembutnya kemarin malam?
"Ayo!" Robert menarik paksa tubuh Vero agar mengikuti langkahnya. Tapi belum lagi tubuh Vero melangkah terdengar suara tegas menghalangi Robert.
"Tuan lepaskan tanganmu dari wanitaku."
To be continuous.
tapi tolong jangan biarkan Robert dan kakek Fathan mengusik hidup Fero
ceritamu tetap keren
tapi lamanya gak up up jadi sampai lupa akan ceritanya.
oh iya thoer buat Fathan tetap dg Fero. jangan biarkan kakeknya menyakiti.
dan untuk Robert jangan dekatkan dg Fero bagaimanapun Robert sudah punya istri.
Jan dengar komentar yang tidak enak terus lahhh berkaya💪
karena aku g suka Robert karena selalu mencampakkan istrinya
buat penyakit alea sembuh.
buat alea pisah dg Robert setelah itu buat ada orang yg suka sama elea terus Robert menyesal