Indonesia
NovelToon NovelToon
Marry (To) Me

Marry (To) Me

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Patahhati / Perjodohan / Konflik Rumah Tangga- Terpaksa Nikah / Tamat
Popularitas:60.1k
Nilai: 5
Nama Author: Far Choinice

Will you marry me, miss Marry?


'Sorry, No'

Sebuah pertanyaan dan jawaban yang mengubah segalanya. Marry menolak Sean tanpa jeda.

Hingga beberapa tahun kemudian, mereka dipertemukan di suatu RS. Perlahan, mereka menguraikan benang merah masalalu. Tapi, disisi lain, mereka juga harus menghadapi banyak kisah rumit yang membuat Marry berada di satu pertanyaan yang sama tentang pernikahan, apakah dia bisa menerima lamaran itu atau menolaknya. Lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Far Choinice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pilihan tersulit

         ‘Kamu adalah anak mama yang hebat, sayang... .’

         Marry berbalik badan, tapi bukan untuk melarikan diri. Ia mengambil mesin DC Shock(Alat Kejut Jantung) dan membawanya mendekati ranjang nyonya Aneta. Ia mempersiapkan alat tersebut dan menatap ke arah Ravendra yang mengangguk mantap sambil menjauh dari bed.

           “Ready?” tanya Marry.

           “Clear!” pekik suster Sandy.

           Marry meletakkan alat kejut jantung ke dada nyonya Aneta. Tubuhnya berjengit sesaat namun monitor belum menunjukkan perubahan akan kondisi nyonya Aneta. Marry kembali mempersiapkan alat dan menatap suster Sandy yang sedang menunggu waktunya.

          “Ready?”

          “Clear!”

           Sekali lagi, Marry memberikan stimulasi listrik tegangan tinggi untuk merangsang detak jantung nyonya Aneta. Mereka menatap layar monitor yang masih menunjukkan garis lurus dengan bunyi nyaring.  Namun, beberapa saat kemudian ada respon dari nyonya Aneta tapi masih sedikit lemah. Marry menjauhkan alat DC Shock, melepas jaketnya dan naik ke atas bed. Ia mulai kembali melakukan pijat jantung dengan sekuat tenaga. Ia terus melakukan pijat jantung sambil sesekali melirik monitor. Ravendra ingin menggantikannya, tapi Marry tak bergeming. Dia terus melakukan pijat jantung hingga siklus terakhir. Perlahan, monitor yang menunjukkan tanda vital nyonya Aneta mulai berubah. Garis lurus itu sudah mulai bergelombang.

         “Nadi kembali. Napas kembali!”

          Marry menghentikan pijat jantung dan turun dari bed dengan terengah-engah. Ravendra memeriksa nyonya Aneta secara menyeluruh.

           “Pertahankan bagging (melompat oksigen dengan alat seperti balon).” Ravendra mengecek ponselnya dan mengetikkan sesuatu, “ICU ready satu bed. Kita pindahkan ke sana untuk persiapan pemasangan ventilator. Sandy, kamu minta persetujuan pada keluarga.”

           “Siap. Mari, suami dari nyonya Aneta. Ikut saya sebentar.” Ajak suster Sandy.

           Hati Marry sedikit mencelos mendengar suster Sandy memanggil ‘suami nyonya Aneta’. Marry melirik papanya yang masih bergeming sambil menatapnya lekat. Ia juga menatap ke arah lengan Marry. Marry tertunduk dan menyadari jika dia hanya memakai kaos pendek sebahu. Artinya, saat ia melepas jaket, luka bekas sayatannya yang terdahulu terlihat cukup jelas. Marry meraih jaketnya dan segera memakainya. Ia menatap sini pada papanya sebelum ia melangkah pergi.

         “Aku akan menunggu di kantin,” ujar Marry pada Ravendra.

          “Oh. Aku akan segera ke sana.” Sahut Ravendra.

           Marry mengangguk sekilas lalu pergi begitu saja meninggalkan IGD sambil menutup jaketnya rapat-rapat. Ia melangkah dengan perasaan campur aduk. Dia lega karena berhasil menyelamatkan satu pasien tapi juga masih sedikit menyesal karena ia menyelamatkan orang yang ia benci. Hah! Lucu. Rasanya dia seperti sedang akting sebagai dokter malaikat seperti dalam drama korea.

         “Tunggu.”

          Marry terhenti sejenak dan menoleh. Tapi, segera ia melengos saat tahu jika anak dari papanya dengan istri barunya tengah berlari kecil menghampirinya. Marry hendak mengabaikannya namun anak tersebut menghadangnya sambil mengulurkan tangannya.

           “Namaku Juno. Kamu adalah Marry, khan? Papa bilang, kamu adalah kakak tiriku.”

          Marry menatap sisnis pada Juno dan tersenyum sarkas, mengabaikan uluran tangan Juno, “Bodo amat.” Kakak tiri? Sinting.

          Marry melewati tubuh Juno dan sengaja sedikit menyenggol bahu anak kecil itu. Kurus dan lemah. Adik tiri? Nope. Tolong, Marry sudah cukup merasa gila, jangan membuatnya semakin menggila.

           “Terimakasih... sudah menyelamatkan mama... kak Marry!” pekik Juno.

            Marry sempat terhenti sejenak saat mendengar ucapan Juno namun tak lama kemudian, ia kembali melangkah mengabaikan Juno. Ia memasuki lift dan melihat Juno tengah membungkuk kecil lalu tersenyum manis seolah penuh rasa terimakasih pada Marry dengan tulus. Marry menatapnya sini hingga pintu lift tertutup. Bodo amat!

 

-oOo-

 

          Sepanjang perjalanan pulang, Marry hanya terdiam duduk di kursi penumpang sebelah Ravendra yang fokus mengemudi sambil sesekali menoleh pada Marry. Sedari tadi, Marry hanya tertunduk dalam diam. Dia hanya akan menjawab sepertinya jika Ravendra menanyakan sesuatu. Dia tenggelam dalam pikirannya sendiri. Jujur, dia masih tidak terlalu yakin dan tidak terlalu suka dengan tindakannya tadi. Jika bukan karena bisikan suara mamanya, dia tidak akan mau menyentuh wanita itu.

          Tak lama, mobil Ravendra telah tiba di depan pintu pagar rumahnya. Ia membereskan tasnya dan melepas sabuk pengaman, “Terimakasih untuk hari ini,” ujar Marry seraya menyunggingkan senyum kecil pada Ravendra.

          Marry melangkah turun dari mobil dan berjalan ganti menuju pintu pagar rumahnya. Saat ia hendak membuka pintu rumah,  Ravendra tiba-tiba menahan kedua bahunya dari belakang. Marry terhenti dan menoleh pada Ravendra yang nampak terdiam. Perlahan, tangannya menyentuh ujung kepala Marry lalu menepuknya lembut.

          “Kerja bagus. Kamu melakukan hal hebat malam ini, Marry.”

           Sebuah ucapan yang sederhana tapi sukses membuat dada Marry membuncah. Perasaan aneh yang sedari tadi ia tahan, meluap bersama tangis yang melelahkan di kedua pipinya. Benar, sedari tadi dia menahan air matanya. Ia menahan perasaan bersekolah dalam dadanya. Dia melakukan hal hebat tapi dia masih sulit mengakuinya. Tidak untuk papanya. Tidak untuk nyonya Aneta. Dan, tidak untuk Juno. Dia melakukan hal hebat, untuk mamanya.

          Perlahan, Ravendra semakin mendekat ke arah Marry dan memeluknya samb menepuk bahu Marry dengan lembut. Aroma tubuh Ravendra yang bercampur dengan keringat, serasa seperti obat penenang yang kian membuat dada Marry merasa lega. Dan, tanpa Marry sadari, ia memeluk erat tubuh kekar Ravendra sambil terus menumpahkan air matanya. Terkadang, kita hanya butuh menangis untuk menjadi lega.

          “Menangislah... aku selalu ada untukmu.”

 

-oOo-

 

          Setelah membuat pakaian Ravendra basah kuyup oleh air matanya semalam, kini Marry terduduk di depan cerminnya. Matanya membengkak karena terlalu banyak menangis. Perasaannya sudah sedikit lega pagi ini tapi perasaan konyol dan malu mulai muncul ke permukaan. Marry menggetokkan jidat ke atas meja rias sambil mengerang kecil.

          “Wajah gue benar-benar menyedihkan. Konyol banget!”

          Bagaimana bisa dia berkeliaran dengan wajah amburadul semacam ini? Dan, bagaimana Ravendra bisa menahan tawa saat menatap wajah konyolnya, sih? Marry menatap layar ponselnya dan menemukan pesan dari Sean yang menanyakan apakah dia mau dibawakan sesuatu. Marry mengabaikannya. Dia juga tidak mungkin membiarkan Sean melihat betapa konyol wajahnya. Oh, Ravendra dan Sean sangat dilarang melihat wajah menyedihkannya. Lagi.

           Ting Tong.

           Marry terkesiap kecil sambil menatap wajahnya, “Ini pasti salah satu dari mereka. Tidak!” Marry buru-buru memakai pelembab dan bedak untuk menutupi wajah jelek ya. Dia juga memakai lipstik warna nude pink untuk menutupi bibirnya yang pucat. Belum memuaskan tapi sedikit lebih baik. Ia bergegas keluar kamar karena bel rumahnya sudah berdenting sampai tiga kali, menandakan si tamu sudah tidak sabar.

           Marry membuka pintu dan tercekat menemukan papanya berdiri di sana sambil membawa sesuatu. Wajah Marry yang awalnya sedikit lebih baik, kembali murung dan murah. Ia hendak menutup pintu rumahnya namun tangan papanya sigap menahan. Meski sudah tua dan sedikit kurus, tenaganya masih lebih kuat daripada Marry.

          “Ijinkan papa mengatakan sesuatu, Marry.”

          “Apalagi?” tanya Marry sewot.

           “Kamu masih suka kue coklat, khan?” tanyanya sambil menyodorkan sebuah kotak berita, berisi kue coklat yang cukup besar.

            Marry menatap papanya dengan ekspresi datar, “Aku bisa kena diabetes makan ginian,” ujarnya dengan nada semakin sewot. Ia bahkan tidak berniat menerima barang itu.

            “Terimakasih Marry... kamu adalah dokter yang hebat.”  Ujar papanya. Marry hampir melemparkan kata-kata kejam sebelum papanya kembali berkata, “Maaf. Papa sudah menyakitimu. Papa tulus meminta maaf padamu.” Ujarnya dengan mata berkaca-kaca. "Papa sungguh tidak tahu apakah ini pantas. Papa menyadari kesalahan bodoh Papa. Papa sungguh maaf. Maaf. Maaf."

           Marry tertegun sejenak melihat ekspresi papanya. Sangat berbeda dari terakhir mereka berbincang di taman. Dia terlihat lebih... tulus. Dia bahkan terlihat begitu serius memohon maaf pada Marry. Tapi, Marry merasa konyol. Butuh waktu yang lama untuk laki-laki ini mengatakan kata maaf. Betapa menyedihkannya!

           “Anda bilang, anda tidak sedang mencari pengampunan.”

           “Papa salah... kini Papa menyadarinya. Mungkin, kata maaf bahkan bukan hal yang tepat untuk memohon pengampunan darimu. Tapi, Papa sungguh tulus meminta maaf padamu, Marry... dan Terimakasih.”

            Setelah air mata turut meleleh di pipi Marry. Uh, dia cukup lelah untuk menangis! Marry menghapus air matanya dengan masih menatap papanya sinis.

"Kenapa Papa pergi?" tanya Marry.

"Papa mencintai Aneta sebelum dijodohkan dengan mamamu. Bahkan, meski Papa sudah memilikimu... papa tidak bisa melupakannya. Dan, beberapa tahun setelah kamu lahir, kami kembali bertemu. Kami masih saling mencintai dan memutuskan untuk melakukan hal nekat."

"Haha... lucu. Itu bahkan bukan alasan yang pantas untuk ini semua. Kalian membunuh mama. Kalian melemparku ke dalam kegilaan hanya karena cinta? f\*ck!" Marry kian meneteskan airmatanya.

"Mamamu mengijinkannya. Di hari Papa meninggalkanmu... mama mengetahuinya dan meminta Papa pergi karena tidak mau menyakitimu. Dan lagi, Aneta sedang hamil saat itu. Jadi, mamamu mengijinkan Papa pergi dengan surat perceraian. Semua terjadi begitu cepat. Tapi, Papa lebih banyak terbawa emosi dan perasaan yang bercampur aduk. Jadi, Papa tidak pikir panjang dan hanya mengedepankan nafsu Papa."

"Sinting. Alasan apa itu... konyol!" pekik Marry.

"Apapun yang Papa ucapkan, tidak akan berguna saat ini Marry. Tapi Papa sungguh menyesal."

"Cih!"

Papa menghela napas panjang, "Maaf... hanya itu yang bisa Papa ucapkan."

"It's so weird... so freak.." ujar Marry dengan suara kian serak.

            “Papa akan pergi. Papa tidak akan mengganggu lagi. Papa tidak berhak menyakitimu. Maaf.”

           Perlahan, Papa Marry meletakkan kotak bawaannya tadi ke atas meja di teras sebelum ia melangkah pergi meninggalkan Marry yang masih terdiam di ambang pintu,  melempar tatapan sini pada papanya yang kian menjauh dan menghilang.

          Marry melirik kue coklat pemberian papanya lalu kembali meneteskan air matanya. Hal tersulit dalam hidup adalah memaafkan dan mengikhlaskan kesalahan masalalu. Dan, Marry tidak cukup yakin dia sudah berhasil melakukannya. Setidaknya, saat ini ia cukup lega mendengar kata ‘maaf’ yang ia tunggu dari papanya. Dan, setidaknya saat ini, Marry melepas kemarahannya demi mamanya.

           ‘Kumohon, kita tidak perlu berjumpa lagi.’ Lirih Marry dalam hati. 'Mungkin... dengan begitu, mungkin aku bisa memaafkanmu... papa.'

 

-oOo-

1
🥑⃟Rɪᷤᴀͣɴᷠᴀ
haha... serius deh,ngakak abis😂😂
Dayu Fabi
penggunaan tanda baca yang cukup bagus, keren banget
Dayu Fabi
penggunaan kata-kata yang bagus! keren! lebih bagus novel Kakak, dibandingkan aku deh kayanya...
Aris Pujiono
terima kasih kak sudah memberi kan koin ... minal aidzin Ealah fa idzin
Aris Pujiono
terima kasih atas tipsnya kakak
Radiah Ayarin
baru mampir nih
❥␠⃝ ͭ🍁💃Katrin📙📖📚❣️
Mampir ya😊
༺❥ⁿᵃᵃ​ꨄ۵​᭄
eemm halo kak salam kenal dri aq...
yg mempir kecerita author menari...
Aris Pujiono
yuk lanjut
ZaaraItsMe
terimakasih buat karya yang bagus ini kak... love it
ZaaraItsMe
Hiks... dah tamaaatttt... seru banget. bagus banget ceritanya. beda... gak ngebosenin. mantap thoorr
Aris Pujiono
next kak
Aris Pujiono
bikin bergetar
🐰⃞⃟° ̥۪͙۪◌ yujin
udah mampir feedback yah
CumaAku
terimakasih untuk novel yg epik kak..... gk mbulet. seru. keren... sukses karya2nya kakkk
CumaAku
udah tamaattt hikes
ZaaraItsMe
astagaaaah dua episode terakhir baca ini bikin emosi lho. kemarin pergi, sekarang udah ada anak aja.
🐰Far Choinice🐰: sabar ya kaaaak ^^
total 1 replies
ZaaraItsMe
Heeee lhooo heeee lhooo.. kok tiba2 pergi. heeeee lhooo apa2an ini thoorrrrrrrr
ZaaraItsMe
Ya ampuunnn semua hal di novel ini berkaitan dan penuh kejutannn.. serruu aslii
🐰Far Choinice🐰: Yuhuuuuuu
total 1 replies
CumaAku
heeeee thooorrr itu gimana ada anak ajaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!