Sarah pikir dengan melarikan diri ke tempat terpencil akan membuatnya aman dari orang-orang di masa lalunya. Tapi siapa sangka, pelarian aman itu hanya berlaku untuk beberapa tahun saja.
"Kamu sudah menikah?" tanya pria itu dingin.
"Belum," jawab Sarah tenang.
Pria itu lalu menarik napas dalam sebelum kembali bertanya.
"Lalu... apa kamu punya pacar?"
"Tidak," jawab Sarah lagi.
Raut wajah pria itu seketika berubah. Tidak ada wajah dingin dan intimidasi lagi. Kini ia tersenyum lebar dan tertawa pelan.
"Baguslah," katanya sambil menepuk pelan pundak Sarah. "Sekarang hadapi mereka dulu."
****
Ikuti author di sosmed
Ig : @tulisanmumu
Fb : Mumu Author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Ucapan Tini sukses membuat jantung Sarah seolah merosot ke lambung. Map plastik berisi kertas ulangan harian murid-muridnya bahkan hampir terlepas dari dekapan tangan tangannya yang mendadak lemas.
“Anak… anak Kasatlantas, Tin?” ulang Sarah memastikan, suaranya naik satu oktav karena terlalu terkejut.
Tini mengangguk mantap dengan wajah puas karena berhasil membuat sahabatnya itu jantungan pagi-pagi. “Iya, beneran. Anak tunggalnya Kasatlantas yang baru pulang kuliah dari Jawa. Cantik, kan? Modis lagi. Nggak heran sih kalau si Ardhana langsung nempel begitu.”
Sarah tidak mendengarkan kelanjutan kalimat Tini. Kepalanya mendadak berdengung hebat dan overthinking yang langsung merusak seluruh kewarasannya. Pikirannya melompat liar ke mana-mana, menyusun skenario-skenario buruk yang membuat dadanya terasa sesak.
“Sar? Heh, malah melamun lagi,” tegur Tini sembari melambaikan tangan di depan wajah Sarah.
“Eh, iya,” jawab Sarah gugup, mencoba menormalkan ekspresi wajahnya walau gagal total. “Ya… bagus dong kalau begitu. Memangnya kenapa kalau anak Kapolres?”
Tini berdecak, gemas melihat Sarah yang masih mencoba bersikap sok tangguh. “Ya ampun, Sarah Jaenab! Kamu beneran nggak mikir ke sana? Ardhana itu kan polisi muda yang kariernya lagi bagus. Kalau dia bisa deketin anak atasannya sendiri, jalan kariernya ke depan pasti bakal mulus semulus jalan tol! Bisa-bisa cepat naik pangkat jadi perwira!”
“Oh, jadi gitu kelakuan asli dia sekarang,” gumam Sarah ketus, dadanya mulai memanas oleh rasa kecewa yang mendalam.
“Maksud kamu?” Tini mengernyit bingung.
“Ya jelaslah, Tin!” sela Sarah dengan nada suara yang mulai tidak santai. Kalimatnya meluncur cepat tanpa struktur yang kaku. “Malam itu dia kirim pesan panjang lebar ke aku, akting jadi pria tertindas yang menyesal karena masa lalu, katanya pindah ke daerah terpencil ini cuma demi nyari aku dan menebus kesalahan. Tapi nyatanya apa? Begitu ada peluang emas deketin anak komandannya sendiri demi kelancaran karier, dia langsung mepet tanpa mikir dua kali! Ternyata dia emang seoportunis itu!”
Tini ternganga mendengar kesimpulan ekstrem yang ditarik oleh Sarah. “Wah, wah, tunggu dulu, Sar. Kamu kok mikirnya ekstrem banget sampai ke arah sana, sih?”
“Ya kenyataannya begitu, kan?” sahut Sarah berapi-api, matanya mulai berkaca-kaca menahan rasa perih. “Semua cowok emang sama aja. Dulu dia diam pas aku dilabrak karena takut usaha ayahnya hancur. Sekarang? Dia buru-buru ninggalin aku setelah ditolak sekali, cuma buat jadi anjing penjaga yang manis di depan anak Kasatlantas demi jabatan! Tahu gitu, kemarin sore nggak usah aku ladenin makan boba bersama dia!”
“Heh, Sar! Kecilin suara kamu, astaga!” panik Tini, reflek menarik lengan Sarah menjauh dari koridor kelas yang mulai ramai oleh murid-murid yang berlarian. “Kamu ini kalau udah cemburu beneran bisa bikin skenario film drama ya. Jangan asal nuduh dulu, siapa tahu mereka cuma lagi ada urusan dinas atau perintah dari atasannya buat nemenin jalan-jalan.”
“Urusan dinas mana ada yang ketawa-tawa manja sambil minum kopi keliling di pinggir jalan sore-sore, Tini!” bantah Sarah tidak mau kalah. Rasa cemburu dan overthinking-nya sudah menyatu, membentuk benteng amarah yang luar biasa kokoh. “Udahlah, aku malas bahas dia lagi. Mau jadi menantu Kapolres atau menantu Presiden sekalipun, itu udah bukan urusan aku lagi. Aku mau masuk ruang guru, gerah!”
Sarah langsung membalikkan badannya dengan sentakan kasar, melangkah lebar meninggalkan Tini yang hanya bisa melongo menatap punggung sahabatnya itu.
“Aduh, kasihan si Ardhana. Belum juga mulai berjuang lagi, udah dicap jadi cowok oportunis gila jabatan sama bu guru satu ini,” gumam Tini geleng-geleng kepala sembari menyusul langkah Sarah dari belakang.
Sepanjang sisa hari itu di sekolah, pikiran Sarah benar-benar terkunci pada teori-teori konspirasi buatannya sendiri tentang Ardhana dan anak Kapolres tersebut. Di dalam hatinya, ia merasa sangat bodoh karena sempat merasa kehilangan pria itu selama beberapa hari terakhir.
Sarah bersumpah di dalam batinnya, mulai detik ini ia akan menutup rapat-rapat pintu hatinya dan menganggap Brigpol Ardhana tidak lebih dari sekadar polantas yang kebetulan pernah menilangnya di jalan.
Yakin gak akan mikirin Ardhana lagi🤭🤣🤣
Panas....cemburu melanda😂
kalau aku jadi sarah juga bakalan marah..😤😤😤😤