Indonesia
NovelToon NovelToon
Membatasi Rasa

Membatasi Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Perjodohan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sarifah31

Pernah gak sih, kamu sayang banget sama seseorang, tapi demi menjaga hati dan prinsip, kamu terpaksa bersikap sedingin es ke dia?

Itu yang dirasain Zaza. Waktu hatinya mulai telanjur jauh sama Rayyan, dia milih buat mundur perlahan. Gak ada chat basa-basi, gak ada modus pengen ketemu. Semua rindu dan riuhnya perasaan cuma dia tumpahin di sepertiga malam, langsung ke Pemilik Hati.
Rayyan pun sama. Dia kelihatan cuek dan gak peduli, padahal aslinya lagi berjuang mati-matian nahan rasa demi sebuah komitmen. Akhirnya, mereka berdua terjebak dalam kesunyian, sama-sama ngira kalau cinta mereka cuma bertepuk sebelah tangan.

Saling menjauh, tapi saling mendekat lewat doa apa mungkin cara sedekat ini malah bikin mereka makin jauh selamanya? Atau justru, menjaga jarak demi ibadah bakal berujung pada akhir yang gak terduga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hangatnya Naungan di Rumah Dinoyo

Matahari pagi baru saja terbit sempurna di atas ufuk timur Kota Malang, membiaskan sinar keemasan yang menembus dedaunan mawar di pelataran rumah Dinoyo. Hawa dingin yang menyelimuti kawasan itu mendadak luluh oleh kesibukan kecil di teras depan. Sebuah mobil sedan berwarna hitam terparkir rapi, dengan bagasi yang sedikit terbuka menampilkan dua buah koper berukuran sedang.

Pak Zain tampak sibuk merapikan kemeja batik dan pecinya, sementara di sampingnya, Umi Zaza berdiri sembari membawa sebuah tas jinjing berisi perlengkapan pribadinya. Zaza dan Rayyan berdiri menyambut mereka dengan senyum hangat yang mengembang sempurna, sementara Ghafi kecil tampak asyik memegangi kaki celana abahnya dengan wajah mengantuk yang menggemaskan.

"Ayo masuk dulu, Bi, Umi," sapa Rayyan takzim, melangkah maju untuk menyalami Pak Zain dan membawakan koper dari bagasi mobil.

Pak Zain menepuk-nepuk pundak menantunya dengan raut wajah yang penuh kelegaan. "Terima kasih banyak ya, Rayyan, Zaza. Abi benar-benar merasa tenang kalau Umi dititipkan di sini selama tiga minggu ke depan."

Zaza segera meraih tangan ibunya, mencium punggung tangan Umi dengan penuh kasih sayang sebelum merangkul pundak wanita paruh baya itu. "Abi ini seperti ke siapa saja pakai bilang titip segala. Umi kan memang ibunya Zaza juga, rumah ini selalu terbuka lebar untuk Umi. Lagipula, Zaza malah senang sekali kalau Umi tinggal di sini, rumah jadi makin ramai."

Pak Zain tersenyum tipis, matanya berbinar menatap putri tunggalnya. "Abi tidak tega kalau harus meninggalkan Umi sendirian di rumah. Ada undangan resmi dari rekan akademisi di Arab Saudi untuk mengisi seminar ilmiah dan silaturahmi kebudayaan selama hampir satu bulan. Agendanya sangat padat dan Abi harus berpindah-pindah kota, jadi rasanya terlalu melelahkan kalau Umi harus ikut. Tapi kalau Umi ditinggal sendiri di rumah Dinoyo yang lama, Abi pasti tidak akan fokus jalankan tugas di sana karena kepikiran terus."

"Betul itu, Bi," potong Rayyan mantap sembari menata koper di sudut ruang tengah. "Pilihan Abi sangat tepat. Di sini ada Zaza, ada Ghafi, dan Rayyan juga bisa menjaga Umi setiap hari setelah pulang dari kantor. Abi fokus saja dengan agendanya di Arab, jangan khawatirkan kondisi Umi di sini. Biar Rayyan dan Zaza yang melayani Umi dengan baik."

Umi Zaza yang sejak tadi mengusap lembut pipi Ghafi kecil yang ada di dekapannya, akhirnya membuka suara dengan tawa kecil nan teduh. "Umi ini sebenarnya tidak apa-apa kalau ditinggal, wong sudah terbiasa. Tapi Abimu ini yang cemasnya berlebihan. Dari kemarin malam sibuk mengecek barang bawaan Umi, seperti Umi mau ikut terbang ke Arab saja."

"Bukan cemas berlebihan, Ummi," sahut Pak Zain lembut menatap istrinya dengan pendar kasih yang telah teruji puluhan tahun. "Seorang suami itu punya amanah untuk memastikan istrinya berada di tempat yang paling aman dan nyaman saat dia harus pergi jauh. Dan tempat terbaik untuk Umi saat ini ya di samping anak dan menanti kita."

Mendengar bait kalimat sederhana namun sarat akan rasa tanggung jawab dari sang mertua, Rayyan tersentuh. Ia makin mengagumi sosok Pak Zain—seorang akademisi sekaligus imam keluarga yang selalu menempatkan rasa kasih dan perlindungan di atas segalanya.

Setelah menikmati secangkir teh hangat dan memberikan beberapa pesan khusus, Pak Zain bersiap menuju bandara. Di teras depan, Umi Zaza mencium tangan suaminya dengan takzim, diiringi doa-doa keselamatan yang dilafalkan lirih oleh Zaza dan Rayyan.

"Abi pamit ya. Jaga diri baik-baik, Ummi. Rayyan, Zaza, Abi titip rumah tangga kalian dan titip Umi ya," ucap Pak Zain sebelum melangkah masuk ke dalam mobil travel yang sudah menjemputnya.

"Hati-hati di jalan, Bi. Semoga acaranya lancar dan selamat sampai tujuan," balas Rayyan dan Zaza serempak.

Mobil perlahan bergerak menjauh, menyisakan lambaian tangan hangat di balik kaca. Setelah kendaraan itu menghilang di belokan gang, Rayyan merangkul pundak Umi Zaza dan istrinya, menuntun mereka masuk kembali ke dalam rumah yang kini terasa semakin hangat dan penuh warna.

Di dalam ruang tengah yang beraroma wangi melati, Umi Zaza duduk di sofa empuk sembari memangku Ghafi yang mulai aktif mengoceh. Zaza meletakkan camilan brownies panggang dan teh hangat di meja, lalu duduk di samping ibunya.

"Umi mau kamar yang di lantai bawah kan? Sudah Zaza rapikan tadi pagi, sprei dan sarung bantalnya sudah diganti yang baru semua," ujar Zaza lembut.

Umi Zaza menatap putri dan menantunya dengan mata berkaca-kaca karena haru. "Kamar mana saja boleh, Za. Umi sudah sangat bersyukur bisa kumpul di sini. Melihat kamu, Rayyan, dan Ghafi hidup rukun dan bahagia seperti ini... itu sudah jadi hadiah paling indah buat Umi di masa tua."

Rayyan tersenyum hangat, duduk di samping Ghafi sembari memegangi jemari mungil anaknya. "Umi adalah bagian dari keberkahan rumah ini. Kehadiran Umi di sini bukan beban, tapi justru membawa sejuk bagi kami semua."

Mahari pagi kian meninggi, memancarkan kehangatan yang sempurna di atas pelataran Dinoyo. Rumah yang dulunya menjadi saksi bisu perjuangan sunyi dalam membatasi rasa dan bertahan di tengah badai fitnah, kini menjelma menjadi naungan yang paling kokoh—tempat di mana bakti, kasih sayang keluarga, dan keridaan Ilahi menyatu dalam kedamaian yang seutuhnya.

1
yrputri
😍waw
yrputri
😍
Zed Analytical Number Nine
Zaza perempuan mahal
Zed Analytical Number Nine
mending ta'aruf saja, Zaza
Zed Analytical Number Nine
mulai terbayang, cepat beristighfar
Xlyzy
kalau merasa ga pantas seharusnya harus bisa merubah diri agar pantas untuk nya
Xlyzy
Dilema si ini jadi nya mau nolak gimana sama orang tua
Xlyzy
Tapi ga harus di jodohin jugak sih cukup kenalkan mereka dulu kalau mereka saling suka baru nikahkan mereka
Cimol krispy
padahal temenan aja nggak di larang loh za
Sarifah_Aini97: bukan mahram kak
total 1 replies
Cimol krispy
jadi dari tadi kamu bikin heboh koridor karna nyariin Zaza ya rayyan
Miu.Nuha
barangkali jodohny ya itu rayyan
beruntung kalo perjodohan itu mengarah kesana 😙
Miu.Nuha
makanya...
bikin abang rayyan bingung
si eneng berada dijalur lain sih 😁
Filan
doanya pakai gue /Facepalm/
Sarifah_Aini97: Wkwk iya nih, biar doanya terasa lebih akrab dan personal langsung ke pencipta-Nya 🤣
total 1 replies
Filan
susah sih ya, kalau dia masih belom bisa sholat. gimana bisa jadi imam?
Filan
langsung sholat malam aja nih... sholat wajibnya gimana, Ray? /Chuckle/
Filan
menghindar nih ceritanya
Filan
skateboard apa udah jadi bagian dirinya? 😅
Aquarius97 🕊️
bagus Rayyan.. awalnya berubah karena Zaza, tapi lama2 dari hati yaa

. sampai kamu gak bisa meninggalkan sholat hehe
Three Flowers
semoga doa Rayyan terkabul, karena dia sudah meminta dengan jalan yang benar
Three Flowers: okay kakak
total 2 replies
Three Flowers
Rayyan dapat hidayah sejak bertemu Zaza
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!