Indonesia
NovelToon NovelToon
Resep Cinta Dokter Narendra

Resep Cinta Dokter Narendra

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Sci-Fi / Dokter
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Naila fitri

Judul lama : Diagnosis: Falling For You

dr. Narendra Adiwijaya, Sp.B adalah putra tunggal dari keluarga konglomerat, Narendra dipersiapkan sejak kecil untuk menjadi penerus Adiwijaya Healthcare Group. Tuntutan tinggi tersebut membentuk Narendra menjadi pria kaku, dominan, dingin.

dr. Nayla Kartikasari, Sp.A adalah anak pertama dari pasangan Arga Dewantara dan Citra Kirana, memiliki seorang adik bernama Bintang. Nayla memiliki sifat yang hangat, ekspresif, namun bermental baja menjadikannya dokter yang disukai oleh anak anak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naila fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cemburu Lagi

Pukul satu siang. Suasana di lantai empat The Nayla Kartikasari Pediatric Center mulai kembali normal setelah kekacauan semalam resmi terkendali.

Nayla duduk di kursi kebesarannya di dalam ruang kerja Kepala Tim Riset. Jas dokter putihnya tergantung rapi di sandaran kursi. Ia hanya mengenakan kemeja bahan berwarna soft pink yang lengan bahagian bawahnya sudah dilipat hingga siku. Di depannya, tumpukan berkas evaluasi pasien balita dan laporan rekam medis masih membukit.

Ceklek.

Pintu ruang kerja Nayla terdorong pelan. Narendra melangkah masuk membawa sebuah nampan kayu berisi dua porsi nasi goreng spesial dengan telur mata sapi setengah matang, plus dua gelas jus jeruk segar. Pria bedah itu sudah menanggalkan jas eksekutifnya, hanya mengenakan kemeja putih polos yang dua kancing teratasnya terbuka santai.

"Makan dulu, Nayla," ujar Narendra dengan suara baritonnya yang berat namun hangat. Pria itu meletakkan nampan di meja kopi ruang tamu privatnya, lalu menatap istrinya yang masih sibuk menggoreskan pena di atas lembar rekam medis.

"Sebentar lagi, Naren... tinggal tiga berkas lagi," sahut Nayla tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas.

Narendra tidak bersuara lagi. Pria tegap itu melangkah mendekati meja kerja Nayla. Tanpa peringatan, ia menarik pelan kursi roda yang diduduki Nayla, memutarnya hingga wanita itu berhadapan langsung dengannya. Narendra menunduk, mengepung kedua lengan kursi Nayla dengan tangan kekarnya.

"Narendra..." pekik Nayla kaget, refleks menahan dadanya di kemeja tegap suaminya.

"Sejak pagi kamu belum makan nasi, Nyonya Adiwijaya," tegur Narendra lekat-lekat. Sepasang mata elangnya menatap lurus ke dalam manik mata jernih Nayla. "Sebagai Kepala Riset, kamu bisa mengatur puluhan dokter. Tapi sebagai istri aku, kamu wajib menurut kalau disuruh makan."

Nayla menatap raut wajah suaminya yang mendadak protektif itu, lalu tersenyum manis tak berdaya. Ia menjangkau rahang tegas Narendra, mengusapnya pelan dengan ujung jari. "Iya, Dok... aku makan sekarang."

Narendra menyunggingkan senyum tipis yang amat memikat. Ia menegakkan tubuhnya, lalu meraih jemari mungil Nayla untuk dibimbing menuju sofa empuk di ruang tamu tersebut.

Mereka duduk berdampingan. Narendra mengambil piring milik Nayla, menyendokkan nasi goreng bersama potongan daging dan telur, lalu mengarahkannya ke depan bibir istrinya.

"Aku bisa makan sendiri, Naren..." ucap Nayla malu-malu.

"Buka mulutnya, Sayang," sahut Narendra datar namun penuh kelembutan.

Nayla menerima suapan itu dengan rona merah yang hinggap di kedua pipinya. Rasa gurih nasi goreng hangat langsung memanjakan lidahnya. "Enak banget... kamu yang pesan di kantin VVIP?"

"Aku minta koki dapurnya bikin nasi goreng spesial sesuai selera kamu, ga banyak garam, ga berminyak dan sayur nya lengkap," jawab Narendra santai, lalu menyendokkan suapan kedua untuk istrinya.

Namun, momen manis itu mendadak terganggu oleh ketukan di pintu.

TOK TOK

Pintu ruangan terbuka sebelum sempat diizinkan. dr. Evan—seorang dokter spesialis anak muda yang baru tiga bulan bergabung di tim riset pediatri—melangkah masuk membawa sebuah map biru dan buket bunga mawar merah kecil.

"Selamat siang, Dokter Nayla... maaf mengganggu," ujar dr. Evan ramah, tanpa menyadari sepenuhnya keberadaan Narendra yang duduk agak tertutup di sudut sofa. "Ini ada laporan perkembangan sampel darah pasien. Dan... ini ada bunga kecil dari orang tua pasien Bintang sebagai ucapan terima kasih buat Dokter Nayla."

dr. Evan melangkah mendekati meja kerja, menyunggingkan senyum mengagumi ke arah Nayla.

suasana di ruangan itu seketika berubah dingin.

Narendra meletakkan sendok dan piringnya di meja dengan dentingan yang sedikit keras. Pria tegap itu berdiri dari sofa. Postur tubuhnya yang tinggi besar dan aura intimidasi seorang Pimpinan Operasional seketika memenuhi ruangan, membuat dr. Evan refleks melangkah mundur satu langkah karena kaget.

"Dokter Evan," panggil Narendra. Suara baritonnya sangat rendah, dingin, dan mengiris keheningan.

Wajah dr. Evan seketika berubah pucat begitu menyadari sosok pimpinan tertinggi rumah sakit itu berada di dalam ruangan. "D-Dokter Narendra... Selamat siang, Dok!"

Narendra melangkah mendekati dr. Evan, berdiri tepat di hadapan dokter muda itu. Mata elangnya menatap tajam buket bunga mawar merah di tangan dr. Evan.

"Laporan rekam medis diletakkan di meja sekretariat tim," ujar Narendra dengan nada bicara yang amat datar namun mematikan. "Dan soal bunga dari keluarga pasien... prosedur operasional rumah sakit ini melarang dokter menerima pemberian pribadi di dalam ruang kerja khusus tanpa pencatatan."

dr. Evan menelan ludah dengan susah payah, mencengkeram map biru di tangannya dengan gemetar. "M-maaf, Dokter Narendra... saya cuma menyampaikan amanah dari keluarga pasien—"

"Dokter Nayla adalah Kepala Tim Riset sekaligus istri saya" potong Narendra tanpa ampun, menekan kata istri saya dengan artikulasi yang sangat jelas. "Segala bentuk koordinasi atau pemberian untuk beliau harus melalui asisten resmi atau melewati saya. Paham, Dokter Evan?"

"P-paham, Dokter Narendra! Permisi, Dok... Dokter Nayla!" seru dr. Evan panik. Dokter muda itu meletakkan map dan bunga di meja terdekat, berbalik badan, lalu melangkah setengah berlari keluar dari ruangan dengan wajah memerah tahan malu.

Setelah pintu kembali tertutup rapat, Nayla yang menyaksikan adegan itu dari sofa tak sanggup lagi menahan tawa kecilnya.

Narendra memutar tubuhnya, menatap istrinya dengan kening berkerut dalam. "Kenapa tertawa, Nayla?"

Nayla berdiri dari sofa, melangkah mendekati suaminya. Ia melingkarkan kedua tangan halus di pinggang tegap Narendra, menyandarkan dadanya di dada bidang pria itu sambil mendongak.

"Dokter Narendra Adiwijaya yang terhormat..." goda Nayla manis, matanya berbinar-binar. "Kamu cemburu lagi?"

Narendra menatap mata bening istrinya. Tangannya secara otomatis merengkuh pinggang Nayla, menarik tubuh wanita itu makin rapat tanpa sisa jarak.

"Dia menatap kamu terlalu lama dengan tatapan yang berbinar," gumam Narendra jujur dengan raut kaku yang amat menggemaskan di mata Nayla. "Dan dia bawa bunga mawar merah ke ruang kerja kamu."

"Itu bunga dari ibunya pasien Bintang, Naren..." kekeh Nayla pelan, mengecup rahang tegas suaminya yang masih mengeras. "Lagian, seluruh RS Medika Adiwijaya ini juga tahu kalau hati aku, status aku, dan diri aku cuma milik Dokter Bedah yang paling galak ini."

Narendra menatap bibir manis istrinya yang tersenyum menggoda. Kilatan dingin di mata elangnya seketika mencair, berganti menjadi kehangatan gairah.

Pria itu menundukkan kepala, mengikis habis sisa jarak dan memagut bibir Nayla dengan ciuman yang sangat dalam, menuntut, dan penuh kepemilikan. Nayla mendesah pelan di dalam pertautan bibir mereka, membalas ciuman suaminya dengan kepasrahan penuh sambil mengusap tengkuk tegap Narendra.

"Ingat, Nayla..." bisik Narendra serak ketika mengurai ciumannya beberapa senti di depan bibir Nayla. "Pintu ruang kerja ini bisa aku kunci kapan saja kalau ada dokter cowok lain yang berani goda kamu lagi."

Pipi Nayla membara hebat mendengar ancaman manis suaminya. "Narendra! Ini masih jam kerja!"

Narendra terkekeh rendah—suara tawa paling bahagia yang hanya tercipta saat ia bersamanya. Dipeluknya tubuh hangat sang istri dengan erat.

1
Dewi Anggraeni
Unboxing nih Naren 🤭
Dewi Anggraeni
Boleh thor biar seru 🤭🤭
Dewi Anggraeni
Wah salah tebak aku 🤭 Narendra punya berapa paman sih ? Terus gibran anaknya siapa ? Kan katanya sepupu
Dewi Anggraeni
siapa kira" ??? Tebakan aku sih Fathan Adiwijaya
Dewi Anggraeni
keren nayla 👍
Dewi Anggraeni
up lg thor
Dewi Anggraeni
lanjutlah thor ditunggu konfliknya
Dewi Anggraeni
Ada konflik lagi nih
Dewi Anggraeni
Alhamdulillah akhirnya terbongkar 🙏
Dewi Anggraeni
Mauuuu thor
Dewi Anggraeni
mantap udah ada konflik 👍
Dewi Anggraeni
up lg thor 👍
Dewi Anggraeni
Up lagi thor
Dewi Anggraeni
lanjutttt
Dewi Anggraeni
lanjut thor 👍
Dewi Anggraeni
otw sah nih
Dewi Anggraeni
nah loh nayla 🤭 otw bucin nih
Dewi Anggraeni
lanjut thor 👍
Dewi Anggraeni
Gaslah ren 😄
Dewi Anggraeni
otw bucin nih ren🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!