Delapan tahun pernikahan membuat Naura rela mengorbankan segalanya demi keluarga. Ia melahirkan dua anak, meninggalkan kariernya, dan diam-diam membantu suaminya membangun kerajaan bisnis hingga menjadi konglomerat.
Namun setelah tubuh Naura berubah gemuk usai dua kali melahirkan, Erwin justru menganggapnya sebagai aib dan memilih wanita lain.
Diceraikan, dihina, bahkan dipisahkan dari anak-anaknya, Naura memilih bangkit daripada terus terpuruk. Ia kembali pada identitas yang selama ini disembunyikan sebagai pewaris keluarga kaya. Di saat yang sama, takdir mempertemukannya kembali dengan pria dari masa lalunya, yang membantunya mengubah hidup sekaligus mengembalikan tubuhnya menjadi sehat dan ideal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab³⁰
Malam itu, rumah Erwin dipenuhi suasana yang jauh berbeda dari biasanya. Lampu ruang tamu masih menyala terang, tetapi tidak ada kehangatan sedikit pun di dalamnya. Beberapa gelas kosong berserakan di atas meja, sementara aroma alkohol begitu kuat memenuhi ruangan.
Erwin duduk di sofa dengan kemeja yang sudah kusut. Wajahnya memerah, rambutnya berantakan, dan tatapan matanya tampak kosong. Di tangannya masih terdapat segelas minuman yang entah sudah berapa kali ia isi ulang.
Davina berdiri beberapa langkah di depannya dengan wajah tegang.
"Mas, sudah cukup. Dari tadi kamu minum terus. Kalau ada masalah di perusahaan, besok saja dibicarakan. Jangan seperti ini."
"Diam! Jangan ikut campur!!!"
"Aku ini kekasihmu! Bagaimana mungkin aku tidak ikut campur kalau kamu pulang dalam keadaan seperti ini?"
Erwin mengangkat kepalanya, tatapannya tajam.
"Kau pikir aku mabuk karena perusahaan?“
"Kalau begitu karena apa?"
"Karena Naura!" Erwin meletakkan gelasnya dengan kasar.
Nama wanita itu langsung membuat wajah Davina berubah. "Jangan sebut nama perempuan itu di depanku, Mas! Jangan-jangan kamu masih memikirkannya dan ingin kembali padanya?"
"Memangnya salah?" Erwin lalu tertawa hambar.
"Apa?" Davina menatap pria itu tidak percaya.
Erwin berdiri sempoyongan, aroma alkohol begitu kuat saat ia membuka mulut untuk berbicara. "Aku tak pernah mengatakan bahwa aku sudah melupakannya. Aku pria bodoh, dan aku baru sadar setelah kehilangan dia."
Davina merasa dadanya sesak. Selama ini ia selalu berharap Erwin bisa benar-benar mencintainya. Ia rela melakukan banyak hal demi mempertahankan hubungan mereka. Namun, kini Erwin malah mengucapkan dengan jelas sesuatu yang selama ini paling ditakutinya. Erwin masih mencintai Naura.
"Aku sudah berusaha melupakan dia," gumam Erwin. "Tapi setiap kali melihat anak-anak, aku selalu teringat Naura."
Davina mengepalkan tangan. "Jadi sekarang anak-anak pun membuatmu mengingat mantan istrimu?"
Diamnya Erwin justru menjadi jawaban paling menyakitkan.
Davina mendekat, wajahnya sangat mengiba. "Mas, lihat aku. Kenapa kamu nggak pernah benar-benar memilihku?"
"Aku sedang tidak ingin bertengkar."
"Aku tidak sedang mencari pertengkaran, Mas! Aku hanya ingin tahu kenapa setelah semua yang kulakukan, hatimu masih tertinggal pada perempuan itu."
Erwin kehilangan kesabaran, wajahnya diliputi emosi. "Karena ternyata aku masih mencintainya!"
Suara bentakan itu menggema di ruangan, Davina tersentak.
"Aku masih mencintai Naura dan sampai sekarang aku masih menyesal telah kehilangan dia. Puas?!"
Davina menatap pria itu dengan air mata yang mulai menggenang. "Kamu kejam."
Erwin berbalik hendak pergi, tapi Davina menarik lengannya.
"Jangan pergi sebelum menjawabku!"
"Lepaskan!"
"Aku tidak akan melepaskan sebelum kamu mengatakan bahwa kamu tidak mencintainya lagi!"
Erwin menarik tangannya dengan kasar dari cekalan wanita itu, Davina kehilangan keseimbangan.
"Mas!"
"CUKUP!!!"
Dalam kondisi mabuk dan emosi, Erwin mengangkat tangannya.
Plak!
Tamparan keras mendarat di wajah Davina, wanita itu membeku. Tangannya perlahan menyentuh pipi yang terasa panas.
Erwin sendiri tampak terkejut dengan perbuatannya. Namun bukannya meminta maaf, ia justru memalingkan wajah. "Aku... mau tidur."
Ia berjalan meninggalkan ruang tamu, dan Davina tetap berdiri di tempatnya. Air matanya akhirnya jatuh, tapi rasa sakit di pipinya tidak sebanding dengan luka di hatinya. Selama ini ia selalu takut Naura akan mengambil Erwin kembali. Malam itu, ketakutan tersebut berubah menjadi kebencian.
Keesokan harinya, Davina mendatangi sebuah kafe yang cukup sepi. Di sana sudah menunggu Tania.
Wanita itu menatap wajah Davina yang masih menyisakan bekas kemerahan.
"Kamu bertengkar dengan Erwin?"
"Dia masih mencintai Naura." Davina duduk dengan wajah muram.
Tania menghela napasnya. "Davina, kalau kau ingin Erwin benar-benar melupakan Naura... kau harus membuat Naura kehilangan sesuatu yang paling berharga baginya. Aku tidak menyuruhmu melakukan kejahatan, aku hanya mengatakan bahwa selama Naura masih memiliki kehidupan sempurna bersama anak-anaknya, Erwin akan selalu memiliki alasan untuk selalu melihat ke belakang."
Kalimat itu terus terngiang di kepala Davina.
Sore harinya, Davina mulai menghubungi seseorang. Ia mengetahui jadwal anak-anak Naura, ia juga mengetahui sekolah mereka dan siapa pengasuh yang biasa menjemput. Semua dilakukan diam-diam, bahkan Tania sama sekali tidak mengetahui rencana tersebut.
Tania memang memiliki kebencian terhadap Naura karena masa lalu keluarga mereka. Namun satu hal yang tidak pernah ingin dilakukannya adalah menyakiti anak-anak Naura. Bagaimanapun, mereka tetap keponakan kandungnya. Dia satu ayah dengan Naura.
Karena itu ketika Davina menghubunginya malam itu, Tania hanya mengira wanita tersebut sedang mencari cara untuk menjauhkan Naura dari Erwin.
"Kamu jangan melakukan sesuatu yang membahayakan anak-anak," pesan Tania melalui telepon.
"Aku tahu."
"Jangan sampai mereka menjadi korban."
"Aku bilang aku tahu!" Davina langsung memutus panggilan, tatapannya berubah dingin. "Aku tidak akan menyakiti mereka, aku hanya akan membawa mereka pergi sebentar."
Dua hari kemudian...
Naura sedang berada di kantor ketika telepon dari sekolah masuk.
"Nyonya Naura, kami ingin memastikan apakah anak-anak sudah dijemput?"
Kening Naura mengernyit dalam. "Belum, bukankah mereka masih di sekolah?"
"Anak-anak sudah tidak ada di kelas." Suara pihak sekolah terdengar panik.
"Apa?!" Darah Naura terasa berhenti mengalir.
"Kami sedang memeriksa CCTV."
Naura langsung berdiri dari duduknya dengan wajah cemas. "Saya segera datang!"
Tangannya gemetar ketika menghubungi pengawal. Namun sebelum sempat berbicara lebih jauh, sebuah pesan masuk.
>[Kalau ingin anak-anakmu kembali, jangan libatkan polisi.]
Naura menatap layar ponselnya dengan wajah pucat. Di bawah pesan itu terdapat sebuah foto kedua anaknya yang sedang duduk di sebuah ruangan asing.
"Anak-anakku..." Air mata Naura langsung jatuh.
Tangannya mengepal erat, siapa pun pelakunya kali ini Naura tidak akan tinggal diam. Ia segera menghubungi orang-orang terdekatnya. Dan tanpa mengetahui bahwa dirinya sudah masuk ke dalam perangkap yang jauh lebih besar.
Davina tersenyum puas dari sebuah rumah kosong di pinggiran kota.
"Sekarang kita lihat, Naura."
Ia menatap kedua anak yang duduk ketakutan di sofa. "Apakah setelah kehilangan anak-anakmu, kamu masih bisa hidup tenang bersama Erwin?"
Namun Davina tidak tahu satu hal, Naura bukan lagi wanita lemah yang dulu bisa diperlakukan sesuka hati. Dan ketika seseorang menyentuh anak-anaknya, seluruh batas kesabarannya akan runtuh.
🤭🤭
krn ibu ny Tania sendiri yg gx kasih tau klo dy lgi hamil ank ny sakti ,,