Indonesia
NovelToon NovelToon
Rawa Dibelakang Rumah

Rawa Dibelakang Rumah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Anak Genius / Penyelamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: halwa diyah

Arga pendaki kota yang tersesat di hutan menemukan sebuah kampung terpencil dalam kedalaman hutan. Beberapa fakta yang dia dapatkan memunculkan sisi petualang dan sisi detektifnya.
apa yang tersembunyi di kampung tersebut?
bisakah Arga kembali pulang ke rumahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menembus Hutan

Pagi itu, tepat selepas salat Subuh, suara mesin mobil kopi akhirnya terdengar dari depan warung. Suara diesel yang berat memecah kesunyian pagi. Bima yang sejak tadi sudah terjaga langsung bangkit. Dedi menyusul sambil merapikan jaketnya. Arga bahkan sudah berdiri di depan warung sejak beberapa menit sebelumnya.

"Itu mobilnya," ujar Arga.

Dedi mengangguk. Mereka segera memasukkan barang-barang terakhir ke dalam kendaraan. Tidak ada yang banyak bicara. Semua tahu, perjalanan hari itu bukan perjalanan biasa. Mereka akan mengikuti kendaraan yang menjadi satu-satunya petunjuk menuju Kampung Ciburial. Mobil kopi bergerak lebih dahulu. Kendaraan mereka menyusul beberapa puluh meter di belakang. Begitu melewati pintu masuk hutan, suasana langsung berubah. Jalan tanah yang semula masih terlihat cukup jelas perlahan menghilang di antara pepohonan. Di kanan kiri, batang-batang pohon berdiri rapat. Ada yang lurus menjulang tinggi, ada pula yang tumbuh miring seolah mencari ruang di antara pepohonan lain. Daun-daun lebar menutupi sebagian langit. Cahaya matahari pagi hanya mampu menyusup dalam bentuk garis-garis tipis di antara celah dedaunan.

Jalan di depan mereka berwarna cokelat kehitaman. Beberapa bagian dipenuhi batu. Bagian lainnya berubah menjadi tanah lembek karena sisa hujan beberapa hari sebelumnya. Mobil kopi di depan tampak sudah sangat terbiasa. Kendaraan itu tidak pernah berhenti. Roda belakangnya sesekali membuat lumpur terlempar ke samping. Ayah Arga menjaga jarak.

"Jangan terlalu dekat," ujar Dedi.

"Iya."

"Kalau dia berhenti mendadak, kita bisa susah."

Kendaraan terus berjalan. Lima belas menit. Setengah jam. Satu jam. Hutan semakin dalam. Suara burung yang sebelumnya terdengar jelas mulai jarang. Sebagai gantinya, mereka mendengar suara serangga dari balik semak. Kadang terdengar suara ranting patah. Entah karena binatang atau hanya dahan yang jatuh.

Mereka melewati sebuah aliran air kecil. Mobil kopi memperlambat lajunya sebelum melintasi jembatan beton sempit. Di bawahnya, air jernih mengalir di antara batu-batu besar. Di pinggir sungai tumbuh tanaman liar dengan daun lebat. Beberapa batang bambu menjulur dari sisi bukit. Bima menoleh.

Bambu.

Dadanya tiba-tiba terasa berat.

"Kenapa?" tanya Dedi.

Bima menggeleng.

"Nggak apa-apa."

Namun matanya masih tertuju pada rumpun bambu tersebut. Ada rasa takut yang tidak bisa ia jelaskan. Perjalanan kembali berlanjut. Jalan mulai menanjak. Kendaraan harus bekerja lebih keras. Suara mesin terdengar lebih berat. Mobil kopi di depan tetap melaju. Mereka melewati lereng yang cukup curam. Di satu sisi terdapat tebing tanah yang ditumbuhi akar-akar pohon. Di sisi lainnya terdapat jurang dangkal yang dipenuhi semak.

Sesekali cahaya matahari muncul terang ketika pepohonan sedikit terbuka. Namun hanya beberapa menit kemudian mereka kembali masuk ke dalam bayangan hutan. Waktu terus berjalan. Matahari mulai naik tinggi. Tetapi di dalam hutan, suasana tetap terasa seperti pagi. Udara lembap. Dingin. Dan berbau tanah basah.

Dedi melihat jam.

"Sudah hampir tiga jam."

Arga mengangguk.

"Memang panjang."

"Kamu masih ingat?"

"Sedikit." Arga menunjuk jalan di depan.

"Dulu saat perjalanan pulang sebelum bagian seperti ini, jalannya mulai lebih lebar."

Benar saja. Beberapa puluh menit kemudian jalan mulai berubah. Tanah menjadi lebih padat. Lebarnya bertambah. Pepohonan masih rapat, tetapi tidak lagi menempel sedekat sebelumnya.

Menjelang siang, mereka berhenti sebentar.

Bukan karena mobil kopi berhenti.

Kendaraan mereka hanya memperlambat laju karena jalan di depan cukup rusak. Beberapa lubang besar dipenuhi air. Mobil kopi melewatinya satu per satu. Kendaraan mereka mengikuti. Guncangan membuat semua orang di dalam mobil ikut bergoyang.

Arga sampai harus memegang bagian atas kursinya.

"Kalau bukan karena mobil kopi di depan, aku nggak yakin berani lewat sini."

Dedi tertawa kecil.

"Makanya kita mengikuti mereka."

Setelah melewati bagian tersebut, jalan kembali membaik. Hutan yang mereka lewati semakin beragam. Ada bagian yang dipenuhi pohon-pohon tinggi dengan batang besar. Ada pula bagian yang dipenuhi semak rendah. Beberapa pohon memiliki akar yang keluar dari permukaan tanah dan melintang hingga ke tepi jalan. Sesekali mereka melihat tanaman merambat yang menjuntai dari dahan. Ada pula bunga-bunga liar kecil yang tumbuh di antara rerumputan.

Namun semakin jauh mereka masuk, semakin sedikit tanda kehidupan manusia. Tidak ada rumah. Tidak ada tiang listrik. Tidak ada pagar. Tidak ada jalan bercabang yang jelas. Hanya jalan panjang yang terus membelah hutan.

Arga tiba-tiba berkata,

"Dulu aku merasa jalan ini nggak ada ujungnya. Setiap kali melihat hutan, rasanya jalan ini selalu bertambah panjang."

Perjalanan kembali dilanjutkan. Sore mulai datang. Cahaya matahari tidak lagi seterik sebelumnya. Bayangan pohon semakin panjang. Udara berubah lebih dingin. Mobil kopi masih berada di depan. Namun kecepatannya mulai berkurang. Mereka melewati sebuah tanjakan panjang. Kendaraan di depan hampir tidak terlihat karena tertutup tikungan.

Ayah Arga ikut memperlambat kendaraan.

"Jangan sampai kehilangan."

"Aman," jawab Dedi.

Beberapa menit kemudian mereka kembali melihat mobil tersebut.

Dan kali ini...

hutan mulai berubah. Pepohonan tidak lagi serapat sebelumnya. Di antara batang-batang pohon mulai terlihat cahaya terbuka. Bima menatap ke depan.

"Sudah keluar?"

Arga menggeleng.

"Belum. Seingatku sebentar lagi."

Namun suaranya terdengar berbeda. Seolah ia sendiri mulai merasakan sesuatu. Jalan semakin lebar. Tanah berubah menjadi lebih kering. Semak-semak semakin sedikit. Kemudian mereka melewati tikungan terakhir.

Dan tiba-tiba...

pemandangan di depan mereka terbuka. Langit terlihat luas. Cahaya matahari sore menyinari jalan. Di kejauhan tampak beberapa rumah. Mobil kopi memperlambat laju. Kemudian berhenti. Kendaraan mereka ikut berhenti beberapa meter di belakangnya. Tidak ada yang langsung turun. Semua hanya menatap ke depan.

Arga memegang sandaran kursinya. Matanya berkaca-kaca.

"Akhirnya..."

Dedi menoleh.

"Apa?"

Arga menelan ludah.

"Ini memang tempatnya."

Ia menunjuk rumah-rumah di kejauhan.

"Ini benar-benar tempatnya."

Bima perlahan membuka pintu kendaraan. Kakinya menginjak tanah. Ia berdiri. Angin sore menyentuh wajahnya. Di hadapannya terbentang sebuah kampung kecil yang berada di antara perbukitan. Rumah-rumah sederhana berdiri berjajar. Asap tipis terlihat keluar dari beberapa dapur. Ada jemuran pakaian. Ada anak-anak yang berlari di halaman. Ada warga yang mulai keluar rumah karena mendengar suara kendaraan.

Dedi memandang kampung itu. Kemudian melihat jam tangannya. Matahari sudah hampir menyentuh garis perbukitan. Langit mulai berubah warna. Mereka benar-benar telah menghabiskan hampir satu hari untuk menembus hutan.

Dan akhirnya, mereka sampai.

Kampung Ciburial. Tempat yang diharapkan akan bisa menguak rahasia puluhan tahun yang hanya terasa beberapa hari bagi seseorang. Tempat yang pernah menjadi rumah sementara bagi Arga beberapa minggu lalu. Tempat yang mungkin menyimpan jejak Arif, Bayu, Rasyid, Amin, dan Asep.

Dan mungkin, tempat yang menyimpan jawaban tentang bagaimana Bima bisa menghilang selama tiga puluh tahun tanpa bertambah usia.

Saat mobil kopi kembali bergerak perlahan memasuki kampung. Mereka kembali masuk mobil. Mereka mengikuti dari belakang. Satu per satu warga mulai memperhatikan kendaraan asing tersebut. Beberapa anak berdiri di pinggir jalan. Orang-orang dewasa keluar dari rumah. Mereka menatap rombongan itu dengan rasa ingin tahu.

Arga menatap keluar. Semuanya masih sama, bahkan beberapa wajah sangat dia kenal. Dia kembali, kembali ke tempat yang pernah menjadi bagian dari dirinya beberapa hari lalu. Tempat dimana warga yang hidup didalamnya adalah orang-orang yang menyelamatkan hidupnya beberapa waktu lalu. Dan matahari yang hampir tenggelam menjadi saksi bahwa setelah perjalanan panjang menembus hutan, mereka akhirnya tiba di Kampung Ciburial.

1
Seorang Awan Jenggot
Arga mana ?🤭
halwa diyah
/Scowl/
Seorang Awan Jenggot
lanjutttttttttttttttt
halwa diyah: siaaap
total 1 replies
Suci Fatana
bab yg nguras air mataku
Suci Fatana
haaah ikut deg deg an akuuu
Seorang Awan Jenggot
lanjutkan thor😍
halwa diyah: siaaap
total 1 replies
Seorang Awan Jenggot
Mantap Thor 👍
halwa diyah: Terimakasiiiih 😍
total 1 replies
Seorang Awan Jenggot
Makin seru makin menegangkan...😍
halwa diyah: Selanjutnya kuusahakan buat lebih seru lagi kak. terimakasih dukungan nya
total 1 replies
Seorang Awan Jenggot
Mantap
halwa diyah: Terimakasih kak
total 1 replies
Seorang Awan Jenggot
cerita yg bagus, cuma kok sedikit yg berpartisipasi, kurang promo kali, sangat disayangkan ceritanya menggantung ga ada kelanjutan...

banyak orang klw mau baca, mereka lihat dulu ini cerita tamat atau tidak. klw tidak mereka jadi malas membacanya.

masukan buat author, tamatin aja ceritanya. saya tahu di luar sana banyak yg mengintip cerita ini tapi Krn menggantung mrk JD malas..😍
Suci Fatana: ceritanya aku sangat suka
total 4 replies
Suci Fatana
ikut deg degan
halwa diyah: 😅 selamat deg deg-an kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!