Menikah karena keadaan bukanlah akhir dari segalanya. Bagi Arkana Najendra dan Hanifah Shafiqa, itu justru menjadi awal dari kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.
Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, mereka membeli sebuah rumah tua di ujung jalan. Rumah tusuk sate. Murah, tetapi dipenuhi cerita yang membuat orang enggan mendekat.
Saat kehilangan terbesar menghancurkan keluarga kecil mereka, satu per satu masalah mulai berdatangan. Tekanan keluarga, luka yang belum sembuh, hadirnya orang ketiga, hingga berbagai kejadian ganjil yang membuat mereka bertanya...
Benarkah rumah itu membawa kutukan?
Ataukah, kutukan sesungguhnya adalah ketika dua hati yang saling mencintai perlahan berubah menjadi asing di bawah atap yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 - Luka dan Tuduhan
Arkana pulang kerja dengan langkah tergesa-gesa. Sejak pagi ia terus memikirkan Hanifah yang mengurung diri di kamar.
Begitu sampai di rumah, ia bahkan tak sempat melepas jaketnya. Langkahi kakinya berderap cepat menuju kamar utama.
Tok... Tok... Tok...
"Dek? Hanifah?" panggil Arkana dengan suara bergetar cemas. "Mas pulang, Dek."
Hening. Tak ada sahutan sama sekali dari dalam.
Tok... Tok... Tok!
Arkana menggedor pintu kayu itu lebih keras. "Hanifah! Jawab Mas, Dek!"
Tetap sunyi. Jantung Arkana berdegup kencang. Tanpa berpikir panjang, ia memutar gagang pintu dan mendorongnya lebar-lebar.
"Hanifah!"
Hanifah terbaring lemas di atas ranjang dengan mata sembap dan pipi yang basah oleh bekas air mata. Di pelukannya, tergenggam erat tiga pasang pakaian bayi kecil berwarna biru, kuning, dan putih.
Arkana menghembuskan napas lega, lalu segera berlari kecil menghampiri dan duduk di sisi ranjang. "Dek... kamu tidak apa-apa?"
Hanifah perlahan menoleh dengan tatapan kosong. "Mas..."
"Iya, Dek. Mas di sini," sahut Arkana menggenggam jemari dingin istrinya.
Air mata Hanifah kembali menetes. "Mas... kenapa ini terjadi?"
Arkana menundukkan kepala, tak sanggup menjawab.
Hanifah menggigit bibirnya pelan, menatap suaminya dengan mata memerah. "Mas... apa aku boleh marah sama Tuhan? Apa aku boleh menyalahkan Tuhan karena mengambil anak-anak kita?"
"Jangan bicara begitu, Dek," pangkas Arkana menggeleng cepat. "Semua ini... takdir Allah."
Hanifah tertawa lirih. Sebuah tawa rapuh yang menyayat hati. "Takdir? Katanya Allah tidak akan memberi cobaan melebihi kemampuan hamba-Nya... Kalau begitu, kenapa cobaan ini terasa begitu berat, Mas?! Aku tidak sanggup..." Tangisnya pecah seketika. "Aku benar-benar tidak sanggup!"
Arkana merengkuh dan memeluk tubuh istrinya erat. "Mas juga sedih, Dek... Mas juga kehilangan. Tapi jangan tinggalkan Allah saat kita sedang diuji."
"Mas..." tangis Hanifah makin kencang di dada Arkana. "Aku sudah menyiapkan nama untuk mereka... Aku sudah membayangkan mereka tumbuh... Aku sudah membayangkan menggendong mereka... Kenapa semuanya hilang begitu saja?!"
Hanifah meremas tiga pakaian bayi di tangannya dan mengangkatnya ke depan wajah Arkana. "Mas, lihat! Bajunya masih baru... Siapa yang akan memakainya sekarang?! Siapa, Mas?!"
Air mata Arkana runtuh seketika. Ia menarik kembali tubuh istrinya ke dalam dekapan. "Mas tahu, Dek... Mas tahu... Mereka tidak akan pernah memakainya lagi..."
Tepat saat isak tangis keduanya memenuhi kamar, suara pintu depan berderit terbuka. Bibi Ratna baru saja pulang bekerja dan melemparkan tas kerjanya ke meja.
Mendengar suara tangisan dari kamar utama, ia melangkah mendekat dan melongok ke dalam pintu yang terbuka.
"Sudahlah!" cetus Bibi Ratna dengan nada datar. "Yang sudah pergi biarkan pergi, jangan ditangisi terus!"
Hanifah terus terisak tanpa mendongak. Arkana mengusap punggung istrinya sambil menatap Bibi Ratna.
"Kasihan anak-anakmu," lanjut Bibi Ratna tanpa empati. "Kalau terus kamu tangisi begini, mereka tidak akan tenang di sana."
"Bi..." panggil Arkana dengan mata basah. "Tolong... Biarkan kami sendiri dulu."
Raut wajah Bibi Ratna seketika berubah masam. "Kenapa?! Sekarang Bibi tidak boleh bicara?!"
"Bukan begitu maksud saya, Bi," sela Arkana menggeleng pelan. "Tapi Hanifah masih sangat terpukul."
Bibi Ratna mendengus sinis, melangkah masuk ke dalam kamar. "Justru karena itu Bibi bicara! Sudah berapa kali Bibi mengingatkan kalian?! Tapi tidak pernah didengarkan!"
"Bi, tolong..." bisik Arkana menahan rasa sesak di dadanya.
"Jangan beli perlengkapan bayi sebelum usia kandungan lewat tujuh bulan! Masih ingat?!" cerca Bibi Ratna menunjuk-nunjuk. "Kalian tetap beli! Jangan menerima pakaian bekas! Kalian tetap terima! Rumah ini rumah tusuk sate! Bibi juga sudah bilang dari awal, tapi kalian tetap tinggal di sini!"
Arkana mengepalkan kedua tangannya erat-erat di atas sprei. "Bi... kami menghargai semua nasihat Bibi. Tapi sekarang bukan waktunya membahas itu!"
"Kenapa bukan waktunya?! Terus mau nya kapan dengerin nasihat bibi? Sebelum kejadian, Bibi sudah kasih tau. Apa kalian dengarkan pendapat bibi?!" jerit Bibi Ratna memotong tajam. "Justru sekarang kalian harus sadar! Kalau orang tua memberi nasihat itu didengar! Bukan dibantah!"
Hanifah mencengkeram kemeja Arkana sambil bersuara lirih, "Bi... cukup, Bi... Tolong..."
"Cukup?! Kamu bilang cukup?!" tukas Bibi Ratna melotot ke arah Hanifah. "Makanya Hanifah, kalau dinasihati orang tua itu didengar! Kamu terlalu banyak rebahan! Terlalu sering main ponsel! Sedikit-sedikit dilarang kerja, sedikit-sedikit istirahat! Makanya jadi begini!"
Hanifah langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan, tangisnya makin histeris.
Arkana spontan bangkit berdiri pasang badan. "BI! SUDAH CUKUP!"
Bibi Ratna berkacak pinggang. "Apa?! Mau melawan?! Begini caranya bicara kepada orang yang lebih tua?! Dulu Arkana tidak seperti ini, sejak menikah kamu berubah!"
"Saya tidak melawan!" tegas Arkana menahan giginya bertaut. "Tapi jangan terus menyalahkan Hanifah! Dia sudah cukup menderita, Bi!"
"Menderita?!" Bibi Ratna tertawa sumbang. "Bibi juga sedih! Tapi kenyataannya kalian memang tidak pernah mau mendengar! Kalian menikah juga karena Hanifah sudah hamil duluan, kan?! Semuanya serba terburu-buru! Kalau saja sejak awal kalian mau mendengar orang tua, mungkin semua ini tidak akan terjadi!"
Kalimat kejam itu menghantam Hanifah telak. Tubuhnya gemetar hebat menahan histeria.
"CUKUP, BI!" bentak Arkana hingga suaranya menggema penuh kemarahan. "Bibi boleh salahkan saya! Bibi boleh marah kepada saya! Tapi jangan pernah menyalahkan istri saya! Dia baru kehilangan tiga anaknya, Bi! Belum cukupkah penderitaan yang dia rasakan?!"
"Justru karena Bibi peduli!" balas Bibi Ratna tak mau kalah, suaranya makin melengking. "Kalau tidak peduli, dari dulu Bibi diam saja! Kalian ini susah diberi tahu! Dikasih nasihat selalu merasa paling benar!"
...----------------...
Di luar rumah, Bu Sulastri dan Pak Hadi yang baru kembali dari pasar malam menghentikan langkah saat mendengar bentakan dari dalam.
"Pak... itu suara Arkana!" bisik Bu Sulastri cemas.
Pak Hadi mengangguk tegang. "Sepertinya Bu Ratna lagi."
Bu Sulastri meremas lengan suaminya. "Kita harus bagaimana, Pak?!"
"Lari ke rumah, ambil ponsel!" perintah Pak Hadi cepat. "Bapak telepon ayahnya Arkana sekarang! Beliau kakaknya Ayah Arkana, mungkin hanya beliau yang bisa menenangkan adiknya!"
"Iya, Pak! Cepat!" desak Bu Sulastri.
Pak Hadi bergegas berlari menuju rumah mereka. Sementara Bu Sulastri tetap berdiri di depan pintu rumah Arkana dengan dada berdebar keras.
Namun, saat jeritan tangis Hanifah yang begitu memilukan kembali terdengar menembus keluar rumah.
"Duh... Saya gak bisa diam aja disini." Bu Sulastri tak sanggup lagi menahan diri. Ia mendorong pintu rumah hingga terbuka dan berlari menuju kamar utama.
Begitu melihat Hanifah gemetar memeluk pakaian bayi di bawah cercaan Ratna, amarah Bu Sulastri membuncah.
"CUKUP, BU RATNA!" jerit Bu Sulastri lantang.
Suasana kamar mendadak membeku seketika. Tak seorang pun menyangka, wanita yang dikenal paling lembut dan sabar itu kini berdiri di ambang pintu dengan mata menyala penuh kemarahan.