Indonesia
NovelToon NovelToon
I Love You, Kak

I Love You, Kak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Basket / Cintamanis / Teen
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anggun Kartika Mundikasih

Dahayu Nayanika Arutala (Naya), siswi baru yang tidak pernah terkesan pada popularitas, harus berulang kali berhadapan dengan Narain Shankara Naradhipta (Nara) — bintang basket sekolah sekaligus seniornya di SMA yang ia anggap sombong dan menyebalkan. Namun, di balik pertengkaran dan saling ejek, Naya menemukan sosok Nara yang sebenarnya, seorang pemuda yang tertekan oleh tuntutan keluarga dan hanya dapat menjadi dirinya sendiri ketika bersamanya. Saat kedekatan mereka memicu penolakan Reksa - Kakak lelaki Naya dan kemarahan para penggemar Nara. Naya harus memilih tetap menyangkal perasaannya atau memperjuangkan cinta kepada orang yang dahulu paling ia benci, sebelum pertandingan terakhir dan kelulusan memisahkan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggun Kartika Mundikasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENDEWASAAN DIRI

Minggu demi minggu terlewati. Tugas kelompok telah usai, namun kedekatan Naya dan Setra di sekolah tidak ikut selesai. Selain karena satu kelas dan satu klub renang, mereka sering duduk barsama di perpustakaan jika tidak ada jadwal latihan renang. Hal yang dulu biasa dilakukan oleh Nara dan Naya ketika mereka masih di zona wilayah dan waktu yang sama serta di sekolah yang sama. Terkadang Sentra pun ikut pulang sekolah dalam rombongan yang sama bahkan terkadang belajar untuk ujian juga. Setra dan Daniel pun mulai ikut nongkrong bersama Naya dan Kimi di kantin ketika istirahat makan siang.

Bagi Naya, hal itu normal. Hanya sekadar teman. Namun bagi Nara yang hanya dapat mengintip keseharian Naya lewat foto, chat, dan story, semuanya terlihat berbeda.

Satu foto, dua foto. Lalu beberapa cerita sekolah yang menampilkan posisi Setra di matanya terlalu dekat dengam Naya. Nara mencoba menahan diri. Tidak adil rasanya jika dirinya curiga. Dia sendiri berteman baik dengan Sabrina, dia sendiri sering belajar bareng teman perempuan lainnya. Hanya saja, urusan perasaan jarang mau tunduk pada logika jika berhubungan tentang cinta.

Suatu malam di akhir pekan, Nara menelepon. Tidak diangkat. Dia mencoba lima belas menit kemudian. Masih tidak diangkat. Ia menyerah akhirnya mengirimkan chat.

Masih kegiatan sekolah?

Tidak ada jawaban. Satu jam kemudian balasan dari Naya baru masuk.

Maaf. Baru selesai latihan renang untuk persiapan lomba ditingkat propinsi.

Nara langsung menelepon lagi. Kali ini diangkat. Wajah Naya muncul, dia berada di dalam mobil yang tidak dikenalinya.

“Belum sampai rumah?” tanya Nara.

“Belum.”

“Siapa yang antar?”

Naya melirik depan. “Setra. Dia juga menjadi perwakilan tim putra untuk bertanding ditingkat propinsi bersamaku.”

Nara diam sebentar. “Oh.”

Nada itu, Naya kenal.

“Kak Nara.”

“Hmm?”

“Jangan mulai.”

“Aku belum ngomong apa-apa.”

“Tapi nada Kak Nara sudah lebih jujur berkata.”

Nara bersandar. “Kenapa dia yang antar?”

“Kebetulan rumahnya searah.”

“Enggak ada yang lain?”

Naya mengernyit. “Memangnya kenapa?”

“Enggak kenapa-kenapa.”

“Kak Nara...”

Beberapa detik kemudian Nara akhirnya bilang, “Aku hanya bertanya.”

Naya menarik napas. “Kalau Kak Nara merasa tidak nyaman, katakan saja.”

Nara mengaku pelan, lebih baik jujur apa adanya. “Aku tidak nyaman.”

Naya terdiam.

Dulu, kalimat itu mungkin bikin dia defensif. Tapi mereka sudah janji buat lebih terbuka.

“Kenapa?”

“Karena aku enggak kenal dia.”

“Terus?”

“Dia sering ada di sekitar kamu.”

“Ya karena kami sekelas.”

“Aku tahu.”

Naya menunggu jawaban lanjutan dari Nara.

Nara menatap layar. “Aku cuma...”

Naya menyela pelan, “Takut?”

Tidak ada jawaban. Tapi itu sudah cukup mewakili semuanya.

Naya tersenyum tipis dan sekilas menoleh kearah Setra.

“Kak Nara.”

“Hmm?”

“Aku masih pacar Kak Nara.”

“Aku tahu.”

“Terus?”

Nara menunduk sedikit. “Aku hanya sedih karena tidak ada di sana.”

Kalimat itu terdengar berbeda. Bukan sekadar cemburu, ada rasa kalah karena jarak. Naya paham, Nara tidak sedang takut pada Setra, dia takut pada ruang kosong yang bisa saja Setra mengambil kesempatan itu untuk memasukinya.

***

Beberapa hari kemudian, giliran Nara yang terkena sasaran introgasi dari Naya. Semuanya berawal dari Sabrina mengunggah foto ulang tahun temannya dan men-tag ke akun media sosial Nara. Untuk menghargai hal yang dilakukan Sabrina, Nara pun me-repost tag foto tersebut. Foto tersebut terdiri dari sekitar sepuluh orang di sebuah apartemen. Nara ada di sana, Sabrina berdiri persis di sebelahnya. Di salah satu foto, Sabrina memegang bahu Nara sambil ketawa bersama Nara. Foto yang terlihat lebih mesra dibandingkan foto sebelumnya yang pernah diposting Nara di media sosialnya.

Naya menatap cukup lama. Dia tahu itu cuma foto, dia tahu budaya pertemanan di sana berbeda, dia juga yakin Nara tidak salah. Tapi rasa kesal kearah cemburu itu tetap muncul. Ia membuka chat, mengetik, menghapus, mengetik lagi, menghapus lagi. Pada akhirnya ia sekuat tenaga melawan emosi batinnya dan memenangkan logikanya secara mati-matian sehingga berakhir tidak ada chat apapun yang dikirimkan kepada Nara untuk menanggapi foto tersebut.

Besoknya Nara langsung tersadar.Balasan Naya pendek-pendek. Biasanya, “Pagi juga. Semangat kuliahnya. Jangan lupa makan.” Sekarang hanya ucapan “Pagi”.

Nara mengirimkan foto makan siangnya yang berhasil dibuatnya dengan mengorbankan dapur asramanya dan Naya hanya menjawab, “Looks good”. Padahal biasanya Naya berkomentar panjang, porsinya kekecilan lah, tampilannya aneh lah.

Nara menelepon namun Naya tidak mengangkat telepon darinya. Ia pun memutuskan untuk men-chat Naya dan bertanya.

Apa yang terjadi?

Enggak ada.

Kita sudah sepakat enggak pakai kata “gapapa” karena artinya adalah kebalikannya bahwa sebenarnya ada apa-apa.

Beberapa menit kemudian Naya balas satu kata.

Sabrina.

Nara menatap nama itu, lalu semuanya menjadi jelas mengapa Naya bertindak aneh seperti itu.

Foto ulang tahun?

Iya.

Nara Kembali menelepon. Kali ini diangkat oleh Naya.

“Aku bisa jelasin,” Lanjutnya.

Naya menggeleng. “Kak Nara tidak perlu menjelaskan apapun.”

“Terus?”

“Aku tahu dia teman.”

“Naya.”

“Aku tahu.”

Nara menatap. “Tapi kamu cemburu.”

Naya menarik napas. “Sayangnya… Iya.”

Tanpa bantahan, tanpa pura-pura.

Nara menyengir kecil. “Aku suka versi kamu yang sekarang.”

Naya melotot. “Jangan bercanda Kak Nara. Aku sudah berusaha mengendalikan emosiku supaya tidak mengalahkan logikaku dan berakhir dengan kita bertengkar karena hal itu melelahkan dan menguras energi kita satu sama lain.”

“Oke.”

Nara kembali serius, “Itu ulang tahun Jason. Semua orang datang.”

“Aku tahu.”

“Sabrina juga.”

“Aku tahu.”

“Dia memang seperti itu dengan semua orang.”

“Aku tahu.”

Nara menghela napas. “Kamu jawab aku tahu terus.”

“Karena secara logika aku memang tahu.”

“Terus?”

Naya menatap layar dengan nanar. “Perasaanku enggak selalu sepintar logikaku Kak Nara...”

Nara terdiam. Kalimat itu mengenai tepat di tengah hatinya. Karena dia juga merasakan hal yang sama soal Setra.

Malam itu mereka ngobrol hampir dua jam. Dan untuk pertama kalinya, mereka mengakui sesuatu yang selama ini mereka tahan-tahan. Mereka sama-sama takut.

Naya takut suatu hari Sabrina, atau perempuan lain, akan mengenal Nara lebih dekat daripada dirinya. Mereka bisa ketemu Nara tiap hari, makan besama, belajar bersama, jalan pulang bersama, hal-hal yang dulu Naya lakukan tanpa berpikir panjang ketika dirinya bahkan jauh sebelum menjadi kekasih Nara. Sekarang, untuk menelepon saja dia harus menghitung perbedaan waktu.

Nara pun punya ketakutan serupa. Setra mengambil posisinya untuk menemani Naya belajar, mengantar pulang, ada di sekolah saat Naya sedih, hadir saat Naya butuh orang disampingnya. Sedangkan Nara hanya ada sebagai wajah di layar kecil ponsel.

“Kadang aku merasa egois,” kata Nara.

“Kenapa?”

“Aku ingin kamu punya banyak teman. Aku ingin kamu menikmati kehidupan SMA dan berprestasi untuk membuktikan bahwa kamu pantas dan mampu diakui atas talentamu.” Ucapan Nara berhenti sejenak kemudian melanjutkan, “Namun pada saat aku melihatmu dekat dengan orang lain, ada bagian dari aku yang berharap aku masih ada di sana.”

Naya tersenyum sedih. “Aku juga.”

Suasana menjadi hening seketika.

Lalu Naya berkata, “Berarti masalahnya bukan Setra.”

“Bukan.”

“Bukan Sabrina juga.”

“Bukan.”

Naya mengangguk pelan. “Masalahnya ada di kita.”

Nara mengernyit. “Bukan kita.”

“Terus?”

“Jarak.”

Naya tersenyum tipis. “Jarak lagi.”

***

Namun mengetahui akar masalah mereka tidak otomatis membuatnya serba mudah bagi mereka. Beberapa minggu setelahnya, mereka masuk ke dalam fase yang lebih berat. Nara dengan ujian tengah semester, tumpukan tugas yang menggerus waktu tidurnya hanya menjadi tiga-empat jam sehari. Sedangkan Naya sibuk dengan persiapan lomba renang antar propinsi, acara sekolah, dan tentu saja ujian semester.

Telepon pun semakin jarang mereka lakukan. Bukan karena marah, bukan karena hubungan mereka yang memburuk. Hanya waktu saja yang mengajak mereka berlari kencang dengan kesibukan masing-masing hingga merasa jeda yang dimiliki hanya dapat digunakan untuk beristirahat. Dan terkadang hubungan yang baik pun bisa terasa pelan-pelan menjauh.

Satu hari mereka tidak ngobrol sama sekali. Lalu dua hari. Hari ketiga hanya satu pesan.

Maaf. Lagi gila banget minggu ini.

Naya membalas, Semangat.

Hanya itu. Tidak ada panggilan, tidak ada cerita, tidak ada foto yang dibagi.

Hari kelima, Naya duduk sendirian di tribun memandang kolam renang setelah kegiatan latihan selesai.

Setra datang membawa dua botol minum, “Satu buat kamu.”

Naya menerimanya. “Makasih.”

Setra duduk beberapa kursi jauhnya. “Kelihatan capek.”

“Lumayan.”

“Acara?”

Naya mengangguk. “Dan yang lain.”

Setra tidak memaksa untuk lanjut bertama. Mereka diam beberapa menit.

Lalu Setra berkata, “Pacarmu itu Kak Nara yang saat ini kuliah di Amerika, kan?”

Naya menoleh. “Kok tahu?”

“Apakah kamu lupa dulu gosip kalian sangat heboh dan menjadi headline utama di grup sekolah dan kerennya berakhir mereka tidak ada yang protes akan hal itu.”

Naya menghela napas. “Tentu saja. Terima kasih atas The Power of Nara dan pasukan basketnya.”

Arga ketawa kecil. “Sulit?”

Naya menatap lapangan. “Kadang.”

“Kenapa masih dijalanin?”

Pertanyaannya sederhana, tapi jawabannya tidak. Naya memikirkan Nara, perpustakaan, ujian, kelulusan, bandara, panggilan pagi, pertengkaran pertama, foto langit California, pesan-pesan kecil, semua yang mereka lewati. Akhirnya menjawab, “Karena sulit bukan berarti salah dan tidak sanggup dijalani.”

Setra mengangguk. “Fair enough.”

Naya tersenyum.

***

Malam itu juga, Nara duduk di perpustakaan Stanford. Laptop-nya terbuka, beberapa buku berserakan di hadapannya, namun pikirannya tidak benar-benar terfokus pada materi yang akan diujiankan. Tangan kanannya masih menggenggam pulpen.

Sabrina yang duduk di seberang tak pelak bibirnya gatal untuk tidak berkomentar melihat teman dekatnya seperti ayam kuyu.

“You’ve been staring at the same page for ten minutes.” (Kamu telah melihat di halaman buku yang sama selama sepuluh menit)

Nara menutup buku. “Tired...” (Lelah)

Sabrina menatap. “Girlfriend?” (Pacar)

Nara mendongak. “Why does everyone know?” (Kenapa semua orang tahu tentang itu?)

Sabrina tersenyum. “Because you check your phone every five minutes.” (Karena kau mengecek ponselmu setiap lima menit)

Nara melirik ponselnya, tidak ada pesan baru.

Sabrina bertanya, “You guys okay?” (Apa kalian baik-baik saja?)

Nara diam. “I think so.” (Sepertinya begitu)

“That doesn’t sound convincing.” (Tampak tidak meyakinkan)

Nara bersandar. “We’re just busy.” (Kami hanya sedang sibuk satu sama lain.)

Sabrina mengangguk. “Long distance is weird.” (Pacaran jarak jauh itu memang merepotkan)

Nara nyengir kecil. “You’re an expert now?” (Kamu sudah jadi pakar sekarang?)

“No,” (Tidak) Kata Sabrina, “But I can see you’re miserable.” (Tapi aku melihatmu kusut)

Nara tertawa pelan. “Thanks.”

“I mean it,” (Itu maksudku) Lanjut Sabrina. “If you miss her, just call her.” (Kalau kau merindukannya, teleponlah dia)

“She might be sleeping.” (Dia mungkin sedang tidur saat ini)

“Then send something.” (Lalu kirimkanlah chat sesuatu)

Nara menatap layar ponselnya.

“Apa?”

Sabrina mengangkat bahu. “Whatever you wish someone would send you.” (Apapun yang dia harapkan chatnya darimu).

Kalimat itu membuat Nara terdiam.

Beberapa detik kemudian dia membuka chat Naya.

Mengetik,

Maaf akhir-akhir ini aku hampir hilang.

Kemudian dihapus dan lanjut mengetik lagi.

I miss you.

Dia menatap kalimat itu sebentar, lalu menekan kirim.

Di Indonesia, ponsel Naya bergetar tepat saat dia baru sampai rumah. Dia membuka pesan Nara yang terdiri dari tiga kata.

I miss you

Naya menatap layar lama. Tidak ada penjelasan, tidak ada ceramah, tidak ada rangkaian alasan. Aneh, tapi itu cukup. Dia pun membalas, I miss you too.

Beberapa detik kemudian Nara menelepon dengan mode video call dan Naya pun segera mengangkatnya. Wajah Nara kelihatan lelah, rambutnya berantakan, ada lingkaran samar di bawah mata.

Naya langsung nyeletuk, “Kak Nara tidur enggak sih? Mana Kak Nara yang keren dan selalu memperdulikan penampilannya?”

Nara ketawa kecil. “Halo juga.”

“Kak Nara beneran kelihatan kayak zombie.”

“Romantis sekali.”

“Aku serius ini.”

Nara menyandarkan kepalanya dan menarik depan rambutnya ke belakang dengan tangan kanannya. “Capek...”

Naya tidak membahas kenapa pesannya baru datang sekarang. Tidak menyinggung tentang Sabrina. Tidak juga mengejar penjelasan tentang dua minggu yang hampir kosong. Ia hanya berkata, “Wanna tell?” (Mau cerita?)

Nara menatap. “Cerita apa?”

“Apa saja.”

Dan malam itu mereka benar-benar bercerita. Bukan tentang hubungan. Bukan tentang cemburu. Bukan tentang Setra. Bukan tentang Sabrina. Nara menceritakan tentang dosen dan ujian, tentang mahasiswa yang ketiduran di perpustakaan. Naya menceritakan kegiatan sekolah, Kimi, guru yang memberikan tugas luar biasa banyak, dan bagaimana Setra hampir menjatuhkan dekorasi panggung. Mereka tertawa bersama, mereka mengeluh bersama. Mereka kembali menjadi Nara dan Naya. Bukan dua orang yang mati-matian mempertahankan sesuatu, tapi dua orang yang saling suka dan ingin saling berbagi. Mungkin itulah yang hampir mereka lupa.

Sebelum telepon ditutup, Naya memanggil, “Kak Nara...”

“Hmm?”

“Kalau nanti aku punya teman baru, Kak Nara jangan takut dan khawatir.”

Nara menatapnya.

Naya lanjut berucap, “Dan kalau Kak Nara punya teman baru, aku juga akan mencoba tidak takut dan khawatir.”

“Mari kita coba.”

“Enggak bisa janji langsung berhasil.”

Nara tersenyum. “Fair.” (Adil)

Naya menambahkan, “Soalnya kalau hubungan kita bisa bertahan karena hidup kita berhenti berkembang, berarti ada yang salah.”

Nara diam sebentar, lalu mengangguk. “Setuju.”

Naya tersenyum lagi. “Tapi...”

“Tapi apa?”

“Kalau Sabrina terlalu dekat, aku tetap boleh cemburu sedikit.”

Nara tertawa. “Boleh.”

“Sedikit.”

“Boleh.”

Nara ikut menimpali, “Setra juga.”

Naya mengangkat alis. “Kak Nara masih ingat?”

“Tentu saja, posisinya yang terlalu dekat denganmu pada foto terakhir saja sudah bisa membuatku mendidih menyaingi teko air panas.”

Mereka tertawa. Beberapa bulan menjalani jarak jauh akhirnya mengajari mereka satu hal. Cinta bukan hanya tentang menjaga seseorang tetap dekat. Terkadang cinta justru berarti membiarkannya tumbuh di tempat yang tidak dapat dilihat langsung. Memercayainya saat dirimu tidak tahu siapa yang duduk di sebelahnya. Mepercayainya saat sebuah foto membuat semuanya tampak lebih dekat dari kenyataan. Mempercayainya saat pesan yang diharapkan datang cepat ternyata datang terlambat, saat panggilan tidak diangkat, dan saat orang lain mulai hadir dalam hidupnya. Mungkin ini yang disebut sebagai pendewasaan diri.

Karena kepercayaan tidak benar-benar diuji ketika orang itu ada tepat di depan mata. Kepercayaan baru diuji ketika dia punya seribu alasan untuk pergi, dan dirimu tetap yakin dia memilih pulang. Malam itu sebelum tidur, Naya membuka chat mereka.

Pesan terakhir dari Nara, “Good night.” (Selamat malam)

Naya tersenyum, lalu mengetik, “Good morning.” (Selamat pagi)

Di California, matahari baru mulai naik. Nara membaca pesan itu saat keluar dari perpustakaan, lalu tersenyum. Untuk beberapa detik, semuanya terasa sederhana lagi.

***

1
Ayunda Permata
Fresh Idea and nice story
Wawan
Salam kenal untuk Naya 💪✍️
Ayunda Permata
Sukses Selalu Thor 🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!