Ratri adalah potret perempuan sempurna: seorang istri yang berdedikasi sekaligus pilot sukses dengan jam terbang tinggi. Namun, dunianya runtuh dalam semalam ketika kejutan manis yang ia siapkan untuk suaminya, Indra, justru mengungkap pengkhianatan keji. Ratri memergoki Indra berselingkuh dengan sahabat karibnya sendiri, Imelda.
Rasa sakitnya kian menghujam ketika ia menyadari bahwa kedua anak mereka justru berpihak pada sang ayah. Diperlakukan layaknya mesin uang oleh keluarga parasit yang membodohinya, Ratri hanya bisa menangis dalam senyap di dalam lemari, sembari memahat sumpah untuk membalas setiap tetes air mata yang jatuh.
Setelah memutuskan pergi dengan hati yang hancur, Ratri jatuh pingsan di depan bandara karena guncangan hebat. Beruntung, seorang pria bernama Devandra datang menolongnya. Pertemuan tak terduga ini menjadi titik balik bagi Ratri untuk menyembuhkan luka, mengepakkan kembali sayapnya yang patah, dan memulai misi menuntut keadilan mutlak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
...Satu minggu kemudian, suasana pagi hari di penthouse milik Devandra dimana terasa jauh lebih hidup dan hangat....
...Sinar matahari pagi menembus celah jendela, menyinari ruangan yang kini dipenuhi dengan kebahagiaan baru....
...Ratri yang tampak segar dan bugar dengan apron sederhanam...
...Ia sudah sibuk di dapur sebelum melangkah ke kamar anak-anak....
..."Sandra, Rizal, ayo bangun! Sudah jam tujuh, nanti kalian terlambat!" seru Ratri lembut sambil mengetuk pintu kamar mereka....
..."Iya, Ma." sahut suara mereka berdua....
...Tak lama kemudian, keduanya keluar. Sandra tampak rapi dengan pakaian santai namun sopan siap menuju kampus....
...Sementara Rizal terlihat gagah dengan seragam staf administrasi maskapai....
...Sesuai kesepakatan, Devandra mengajak Rizal memulai kariernya dari bawah di maskapainya sendiri....
...Devandra tidak mau Rizal langsung duduk di posisi manajerial hanya karena hubungan keluarga,...
...Ratri segera meletakkan beberapa kotak makanan di meja makan kayu jati yang kini sering mereka gunakan untuk sarapan bersama....
..."Ini, Mama sudah buatkan bekal untuk kalian berdua di kampus dan di kantor. Jangan jajan sembarangan ya, kesehatan itu mahal," ucap Ratri sambil merapikan tas Sandra dan Rizal....
...Setelah memastikan bekal anak-anak siap, Ratri menggeser satu kotak bekal yang lebih besar ke arah Devandra yang sedang duduk bersandar membaca berita di tabletnya....
..."Mas, ini bekal milik kamu. Makan tepat waktu, jangan sampai telat makan hanya karena sibuk meeting," ucap Ratri lembut....
...Devandra meletakkan tabletnya, menatap Ratri dengan tatapan penuh cinta dan rasa syukur yang tak terhingga....
...Ia meraih tangan istrinya dan mengecupnya sekilas....
..."Terima kasih banyak, Sayang. Kamu selalu memikirkan hal-hal kecil yang membuatku merasa sangat beruntung."...
..."Iya, Mas. Sama-sama," jawab Ratri dengan senyum manis yang membuat pagi itu terasa sempurna....
...Sandra dan Rizal sudah berdiri di ambang pintu, tampak tidak sabar....
..."Ayo, sekarang berangkat! Nanti macet di jalan," ajak Sandra sambil menyalami kedua orang tuanya....
...Setelah berpamitan dan mencium tangan Devandra serta memeluk Ratri....
...Memereka pun melangkah keluar penthouse untuk menjemput masa depan dengan semangat baru....
...Di dalam rumah yang kini tenang, Ratri menatap Devandra, merasa bahwa inilah kebahagiaan yang selama ini ia impikan....
...Setelah pintu penthouse tertutup rapat dan suasana kembali hening, Ratri menghela napas lega....
...Dengan cekatan, ia mulai membersihkan meja dan merapikan sisa-sisa sarapan di ruang makan, lalu mencuci piring-piring kotor hingga berkilat bersih....
...Selesai dengan urusan dapur, Ratri melangkah ke kamar utama untuk mengganti apronnya dengan pakaian kasual yang nyaman namun tetap elegan....
...Hari ini ia memutuskan untuk pergi berbelanja kebutuhan bulanan rumah tangga....
...Sejak memutuskan pensiun dari profesinya sebagai kapten pilot, Ratri memang memilih menyibukkan diri dengan aktivitas domestik yang dulu jarang bisa ia nikmati....
...Salah satunya berbelanja bahan makanan segar secara langsung....
...Sudah seminggu penuh ia resmi menjalani peran barunya sebagai ibu rumah tangga seutuhnya, dan ia sangat menikmati setiap detiknya....
...Ratri mengambil kunci mobil, lalu turun menggunakan lift menuju area parkir khusus penghuni penthouse....
...Ia berjalan menghampiri mobil SUV putihnya, membuka pintu, dan duduk nyaman di balik kemudi....
..."Masak apa ya buat nanti malam?" gumam Ratri pelan sambil menyalakan mesin mobilnya....
...Pikirannya melayang menyusun menu spesial untuk suami dan kedua anaknya nanti malam....
...Mengingat Devandra sangat menyukai masakan berkuah gurih dan Rizal serta Sandra selalu lahap jika dibuatkan hidangan olahan daging, Ratri tersenyum tipis....
...Ia mulai memutar kemudi, mengarahkan mobilnya keluar dari area parkir menuju supermarket....
...Sesampainya di supermarket, Ratri memarkirkan mobilnya dengan rapi, mengambil keranjang belanjaan, dan melangkah masuk ke dalam area berpendingin udara yang luas itu....
...Saat menyusuri lorong bagian produk olahan dan susu, pandangannya terhenti pada sosok gadis muda berkemeja seragam supermarket yang sedang merapikan rak stok....
...Ratri tertegun melihat Tasya yang bekerja di supermarket....
..."Tasya?"...
...Gadis itu menoleh kaget, matanya membelalak sebelum akhirnya menunduk dalam-dalam....
..."Tante Ratri?"...
...Tasya melangkah mendekat dengan ragu, lalu tanpa ragu meraih tangan Ratri dan mencium punggung tangannya penuh rasa hormat....
...Ratri memperhatikan penampilan putri yang dulu ia rawat sejak kecil itu....
...Baju seragamnya sederhana, tanpa riasan tebal atau perhiasan mewah seperti dulu, namun guratan kesombongannya telah hilang sama sekali....
..."Kamu, kerja di sini?" tanya Ratri dengan suara lembut tanpa dendam....
..."Iya, Tante, aku jadi staf di sini. Kalau Kak Gabriel, sekarang dia kerja jadi petugas keamanan di kantor bank, Tante. Kami mencoba hidup mandiri."...
...Ratri tersenyum kecil, merasa lega melihat perubahan positif pada diri mereka....
..."Baguslah, kalau begitu. Tante lanjut belanja dulu, ya."...
..."Iya, Tante. Silakan," jawab Tasya mengangguk santai....
...Ratri melanjutkan langkahnya menuju area bahan makanan segar di bagian belakang, tepatnya di konter daging sapi dan ayam....
...Namun, baru saja ia membungkuk untuk memilih potongan daging segar....
...Indra penciumannya mendadak menjadi sangat sensitif....
...Bau amis daging yang biasanya biasa saja kini terasa begitu menyengat dan membakar tenggorokannya....
..."Huekk,"...
...Ratri mendadak mual hebat, menutup mulutnya erat-erat dengan telapak tangan....
...Ia mencoba menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan perutnya, tetapi aromanya justru terasa semakin kuat dan menekan dadanya....
...Pandangannya mendadak kabur, kepala terasa berputar hebat, dan dalam hitungan detik, tubuh Ratri melemas hingga akhirnya roboh dan jatuh pingsan di lantai....
...Tasya yang tak jauh dari sana sedang mendorong troli barang tidak sengaja melihat kejadian itu dari kejauhan....
...Ia membelalakkan matanya dan langsung melepas trolinya seketika....
..."Tante!" jerit Tasya histeris sambil berlari cepat menghampiri tubuh Ratri yang terbaring tak sadarkan diri....
...Tasya dengan panik segera menghubungi layanan darurat untuk memanggil ambulans....
...Sambil menunggu bantuan datang, jemarinya yang bergetar cepat membuka tas tangan Ratri dan mengambil ponselnya yang tidak terkunci....
...Ia mencari kontak darurat dan menemukan nama Om Devan....
...Tanpa berpikir panjang, Tasya menekan tombol panggil....
...Di ruangan rapat direksi maskapai yang megah, Devandra yang sedang memimpin jalannya diskusi penting menghentikan pembicaraannya saat merasakan getaran ponsel di saku jasnya. Layar menampakkan nama sang istri....
..."Tumben sekali?" gumam Devandra heran saat istrinya yang menelponnya....
...Sebab ia tahu Ratri jarang menghubunginya di jam kerja....
...Devandra mengangkat telepon itu dengan senyum tipis di bibirnya....
..."Iya, Sayang. Ada apa?"...
..."Om, aku Tasya," suara bergetar dan panik di ujung telepon seketika membuat senyum di wajah Devandra sirna....
..."Tante Ratri pingsan di supermarket, Om! Sekarang aku di perjalanan membawa Tante ke rumah sakit pakai ambulans!"...
..."Apa?!"...
...Devandra berdiri seketika dari kursinya, membuat seluruh jajaran direksi terkejut memandangnya....
..."Rumah sakit mana, Tasya?!"...
..."Rumah Sakit Medika, Om!"...
..."Om, ke sana sekarang juga!" tegas Devandra....
...Ia langsung mematikan telepon, menyambar kunci mobilnya, dan menatap sekretarisnya cepat....
..."Rapat ditunda. Thomas, ikut aku sekarang!" ucap Devandra....
keluarga baru ratri juga udh bahagia ,,
semoga si indra ma Imelda gx perlu deh kluar dr penjara ,, ganggu aj nnti dy bisa nya ,,
org yg km sakiti ,,
msh peduli Dan cemas dg kondisi kalian ,,
alhamdullah tasya Dan Gabriel juga udh punya pekerjaan masing2 ,,
bahagia selalu kalian semua
semoga jalan kalian di permudah ,,
krn semua org pernah berbuat salah ,,
hingga mereka berdua pun pantas mendapat kesempatan kedua buat berubah ,,
semoga setelah ini cuma kebahagiaan yg mereka rasakan ,,
udh deg2an ,,
baru juga masalah satuu beres ,, dtg masalah lain ,,
semoga ratri cepat di temukan Selamat sampai lgi di Jakarta ,, ,,