Indonesia
NovelToon NovelToon
Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Pernikahan ini bukan tentang cinta, melainkan sebuah hukuman.

Bagi Alvan, Andira adalah wanita berdarah dingin yang harus membayar kematian adiknya. Demi membalas dendam, ia mengikat Andira dalam pernikahan sedingin es yang penuh aturan ketat dan kebencian.

Bagi Andira, pernikahan ini adalah satu-satunya cara membuktikan bahwa ia tidak bersalah dan mengungkap kebenaran di balik jebakan kelam keluarga sendiri.

Namun, saat rahasia mulai terkuak dan dalang sebenarnya bersembunyi di balik senyuman terdekat, akankah benih cinta sanggup tumbuh di atas tanah dendam?

"Aku menikahimu bukan untuk membahagiakanmu, Andira, tapi untuk memastikan kamu membayar setiap tetes air mata keluargaku."

Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Antara Benci Dan Cinta.
By - Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Suasana di Ruang Sidang Utama Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dipenuhi oleh keheningan yang begitu mencekam.

Udara berpendingin ruangan terasa sangat dingin, membalut barisan kursi penonton yang disesaki oleh puluhan awak media nasional, praktisi hukum, serta jajaran petinggi Samudra Group.

Di meja terdakwa, Elena duduk kaku dalam balutan kemeja putih dan rompi tahanan kejaksaan. Rambut mewahnya kini kusam, wajahnya pucat pasi tanpa riasan mahal, dan tangannya gemetar hebat di atas pangkasannya.

Di sampingnya, Reno terduduk menunduk dengan bekas lebam yang masih berbekas di rahang serta pergelangan tangan berbalut gips akibat konfrontasi berdarah di dermaga tua malam sebelumnya.

Di sudut depan ruang sidang, Alvan Samudra berdiri megah dalam setelan jas hitamnya.

Tangan kanannya merangkul bahu Andira dengan penuh kehangatan dan perlindungan. Andira tampak anggun mengenakan gaun putih polos yang sederhana, matanya jernih dan tenang, tidak ada lagi ketakutan yang tersisa di sana.

TAK! TAK! TAK!

Hakim Ketua memukul palunya tiga kali, memotong gumaman pelan di dalam ruangan.

"Majelis Hakim menerima harddisk eksternal forensik yang disita dari Tuan Reno Adhiwijaya di dermaga pelabuhan tua sebagai bukti utama baru," suara Hakim Ketua bergema mantap melalui pengeras suara. "Berdasarkan uji forensik siber Mabes Polri, rekaman video ini terbukti seratus persen asli dan tidak mengalami rekayasa digital. Kita akan memutar rekaman video dari kamera mikro luar mansion pada malam 14 November."

Layar proyektor raksasa di tengah ruang sidang mendadak menyala cerah.

Seluruh pandangan mata di ruangan itu terpaku pada layar. Rekaman video berdurasi jelas menunjukkan sudut luar pintu belakang mansion peristirahatan Samudra pada malam nahas sembilan bulan lalu.

Pukul 22.15 WIB.

Terlihat jelas mobil Mercedes hitam milik Elena terparkir di bawah bayangan pohon. Pintu belakang terbuka, dan sosok Elena berlari keluar dari dalam mansion dengan napas tersengal-sengal. Gaun merah mewahnya bersimbah bercak darah kental almarhum Roy.

Di tangan kanannya, Elena menggenggam patung perunggu berat yang menjadi alat pemukul, sebelum akhirnya ia melemparkan benda itu ke semak-semak dan memacu mobilnya kabur dengan kecepatan tinggi.

Video berlanjut hingga pukul 22.25 WIB, sepuluh menit kemudian memperlihatkan Andira baru tiba di lokasi dengan wajah panik, melangkah masuk ke pintu yang sudah terbuka untuk menolong Roy.

GASPS!

Riuh kepanikan dan gumaman ketakutan pecah di seluruh penjuru ruang sidang! Para wartawan dengan gila-gilaan mengetik laporan di laptop mereka.

Kenyataan yang sesungguhnya telah benderang di bawah sinar keadilan. Skenario jebakan sembilan bulan lalu yang menghancurkan hidup Andira kini hancur berkeping-keping di depan mata publik dan hukum.

"Tidak... tidak! Itu rekayasa! Itu bohong!" jerit Elena histeris, berdiri secara mendadak hingga kursinya jatuh terlempar ke belakang. "Reno! Kamu mengkhianatiku, sialan! Alvan, wanita itu penipu!"

"Petugas, amankan terdakwa!" bentak Hakim Ketua dengan ketukan palu yang keras.

Dua orang petugas tahanan menyeret Elena kembali ke kursinya saat Hakim Ketua berdiri membacakan vonis akhir.

"Menyatakan terdakwa Elena Rahardian dan Reno Adhiwijaya terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan pembunuhan berencana, pemerasan, serta rekayasa data perbankan secara ilegal. Menjatuhkan hukuman kepada masing-masing terdakwa dengan... HUKUMAN PENJARA SEUMUR HIDUP tanpa pengurangan masa tahanan!"

TOK! TOK! TOK!

Ketukan palu terakhir itu menyegel nasib Elena dan Reno. Elena meraung histeris saat borgol besi mengunci tangannya kembali, diseret keluar ruang sidang di bawah sorotan ratusan kilatan kamera wartawan yang kini mencatat kemenangan mutlak bagi nama baik Andira Samudra.

~~

Sore harinya, langit di atas Pemakaman Mewah San Diego Hills tampak cerah berawan. Angin sepoi-sepoi bertiup lembut, menggoyangkan dedaunan pohon kamboja yang menaungi area perbukitan yang asri itu.

Di atas padang rumput hijau yang tertata rapi, berdiri sebuah batu nisan marmer hitam bertuliskan nama Roy Samudra. Taburan bunga mawar merah dan melati segar bertebaran di atas pusara yang tenang itu.

Alvan dan Andira berdiri berdampingan di depan makam Roy.

Andira berlutut perlahan, menyentuh permukaan marmer yang dingin dengan jemarinya. Air mata bening menetes lembut di pipinya, namun bukan lagi air mata duka atau trauma, melainkan air mata keharuan dan kedamaian jiwa yang mendalam.

"Mas Roy..." bisik Andira lembut, suaranya bergetar dalam ketenangan. "Nama baik saya sudah bersih... Kebenaran atas kematianmu akhirnya terungkap di hadapan hukum dan dunia. Istirahatlah dengan tenang di alam sana, Mas..."

Alvan ikut berlutut di samping Andira. Pria itu menundukkan kepalanya sejenak, memanjatkan doa terbaik untuk adik kandungnya yang telah pergi.

Setelah beberapa saat, Alvan berpaling menatap wajah Andira yang berada di sampingnya.

Sinar matahari sore memantul indah di mata bening istrinya. Alvan mengulurkan tangannya, meraih jemari Andira dan menggenggamnya dengan kepenuhan rasa cinta dan penyesalan mendalam yang mengakar di dalam dadanya.

"Roy..." kata Alvan dengan suara rendah namun mantap, menatap batu nisan adiknya. "Aku telah menuntaskan janjiku padamu untuk mencari pembunuhmu. Dan di depan makammu hari ini... aku berjanji padamu, bahwa aku akan mencintai, menghormati, dan melindungi Andira dengan segenap jiwa dan ragaku seumur hidupku."

Andira menatap Alvan dengan rasa haru yang membuncah di dalam dadanya. Genggaman tangan Alvan yang hangat dan kokoh menyalurkan rasa aman yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

Alvan berdiri, lalu membantu Andira untuk bangkit. Di atas padang rumput yang tenang itu, Alvan merengkuh pinggang Andira, menarik tubuh istrinya ke dalam dekapan hangatnya.

Ia menundukkan kepala, menyapukan bibirnya di dahi Andira dalam kecupan panjang yang dipenuhi rasa syukur atas takdir yang akhirnya menyatukan jiwa mereka secara utuh.

"Terima kasih sudah bertahan sejauh ini, Andira," bisik Alvan lembut di telinga istrinya. "Terima kasih sudah memaafkanku dan tetap berdiri di sampingku."

"Terima kasih sudah memercayai saya, Alvan," jawab Andira, menyandarkan kepalanya di dada bidang Alvan, mendengarkan detak jantung suaminya yang berpacu tenang.

Keduanya melangkah perlahan meninggalkan pusara Roy, berjalan bergandengan tangan menuju mobil sedan hitam milik Alvan yang terparkir di gerbang area pemakaman.

Angin sore mendadak bertiup sedikit lebih kencang, membawa hawa dingin yang aneh merayap di sepanjang lorong pepohonan pemakaman.

BZZZZ! BZZZZ!

Ponsel pribadi Alvan di dalam saku jasnya bergetar kuat.

Alvan menghentikan langkah kakinya beberapa meter sebelum mencapai pintu mobil. Ia mengeluarkan ponselnya, mengira itu adalah laporan rutin dari Bima mengenai penyitaan aset Elena oleh kejaksaan.

Namun, di layar ponsel pintar milik Alvan, sebuah notifikasi dari aplikasi pesan terenkripsi muncul dari nomor tidak dikenal tanpa identitas pemilik.

Andira yang menyadari perubahan raut wajah Alvan ikut menghentikan langkahnya. "Ada apa, Alvan?"

"Tunggu sebentar, Sayang," ujar Alvan tenang, mencoba menjaga agar Andira tidak panik.

Alvan menggeser layar dan membuka pesan terenkripsi tersebut.

Hanya ada satu paragraf kalimat pendek di dalamnya, tulisan hitam tebal yang membuat seluruh aliran darah di tubuh Alvan mendadak terasa membeku.

"Elena hanyalah pion yang kubuang untuk menguji sejauh mana kamu bisa berjuang, Alvan. Jangan bersenang-senang dulu di atas makam Roy... karena permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai dari aku... 'S'."

DEGGGG!

Mata Alvan menyipit tajam bagaikan pisau. Rahangnya mengeras seketika, dan genggaman tangannya pada ponsel plastik itu mencengkeram begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Ancaman Reno di dermaga tua malam sebelumnya bukanlah gertakan kosong! Elena dan Reno hanyalah alat yang dimanfaatkan di permukaan.

Sosok misterius berinisial 'S', sang dalang utama yang memegang kunci brankas rahasia di bawah lantai mansion utama, masih bebas berkeliaran di dekat mereka, siap menebaskan belatinya dalam permainan baru yang jauh lebih mematikan!

...----------------...

To Be Continue ....

1
Ibuk Oppo
dobel up kakak
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
Andira kamu wanita kuat tetap semangat ya Allah bersamamu 🥺...elena kamu boleh tertawa sepuasnya sebelum semua kebusukan mu terbongkar 😏
Reniochim
seru nih kayaknya..sekelebat ceritanya kayak sinetron ikatan cinta.
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Rina Kurnia
waduuhh....miss ra...tragis kali ya....🥺🥺
Miss Ra: 🤗/Chuckle/
total 1 replies
Eva Karmita
mampir otor 🙏
Eva Karmita: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 2 replies
Ma Em
Miss jgn terlalu kejam nanti Alvan pada Andira kasihan karena Andira mungkin dijebak oleh adik tirinya si Alena .
Miss Ra: 🤗/Chuckle/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!