Sinta Aniswari (23) dulunya adalah mahasiswi kedokteran paling ceria dan cerewet se-FK.
Sampai ayahnya bangkrut dan satu-satunya cara menyelamatkan rumah sakit keluarga adalah dengan menikahi Dean Galang Wijaya (30).
Pengusaha muda, perfeksionis, kaku seperti robot, dan sedingin kulkas dua pintu.
Dua tahun menikah tanpa cinta. Sinta berubah menjadi Nyonya Wijaya yang anggun dan penurut. Dari luar, semua orang mengira ia adalah istri yang tidak disayang. Pernikahan yang kaku seperti dua orang asing yang tinggal di rumah yang sama.
Sampai mereka tau sisi lainnya.
Bahwa Dean yang kaku itu ternyata menjadwalkan segalanya. Bahkan untuk menyentuh istrinya. Satu bulan empat kali. Setiap tanggal 5, 12, 19, dan 26. Jam 21.00 tepat.
Dan selalu diawali dengan kalimat yang sama, dengan wajah datar yang sama:
"Apa mau main?"
Sinta pikir pernikahan ini hanya soal peran. Sampai Dean yang kaku itu mulai membuatnya bingung, berubah menjadi lebih aktip.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SISI LAIN SUAMIKU — DEAN GALANG WIJAYA BAB 30 — ES KRIM PERTAMA DAN FORMULA PEN
SISI LAIN SUAMIKU — DEAN GALANG WIJAYA
BAB 30 — ES KRIM PERTAMA DAN FORMULA PENENANG KAKU
Langkah kaki Dean dan Sinta membelah koridor RS Santika menuju lift khusus VIP. Di belakang mereka, Anita hanya bisa berdiri memaku dengan napas tercekat, menyadari bahwa kariernya di posisi puncak sekretaris utama Wijaya Group telah berakhir sepenuhnya karena melanggar batas yang tidak seharusnya.
Begitu pintu lift VIP tertutup rapat dan kedap suara, Sinta langsung melepas mode "Nyonya Wijaya yang anggun". Dia menyandarkan punggungnya ke dinding lift, mengembuskan napas panjang, lalu mendongak menatap suaminya yang masih berdiri tegak di sampingnya.
"Mas Dean beneran langsung mutusin wewenang akses Mbak Anita hari ini juga?" tanya Sinta, menguji kepastian keputusan suaminya.
"Ya," jawab Dean lempeng tanpa ragu. Tangannya masih menggegam erat jemari Sinta, menyalurkan kehangatan yang konsisten. "Tindakan mendatangi lokasi kerja kamu tanpa izin merupakan bentuk hazard operasional. Mengeliminasi potensi gangguan sebelum berdampak pada stabilitas emosi kamu adalah keputusan dengan efisiensi tertinggi."
Sinta menahan senyumnya, menyikut pelan pinggang tegap Dean. "Bilang aja Mas protektif, pake bawa-bawa istilah hazard segala!"
Dean hanya melirik Sinta sekilas dengan mata hitamnya yang jujur. "Karakteristik protektif tersebut merupakan variabel bawaan sejak status legal pernikahan kita disahkan."
DI DALAM MOBIL SUV HITAM — PUKUL 12.30 WIB
Perjalanan menuju restoran tidak langsung berlanjut. Rian yang mengemudi di depan sudah paham betul kebiasaan baru atasannya: memberikan jeda waktu agar Nyonya Sinta tidak mengalami stres pasca-insiden.
"Rian, berhenti di gerai es krim terdekat," perintah Dean tiba-tiba dari kursi belakang.
Sinta mengerjap kaget. "Eh? Es krim? Mas Dean mau beli es krim?"
"Berdasarkan literatur psikologi medis yang saya baca tadi malam," jawab Dean sedatar papan tulis, "konsumsi glukosa dan rasa dingin dari es krim mampu menstimulasi hormon serotonin secara instan untuk meredakan ketegangan saraf setelah menghadapi konfrontasi emosional."
Sinta melongo. "Mas... aku ini mahasiswi kedokteran, aku tahu teori serotonin. Tapi Mas Dean beneran beliin aku es krim cuma gara-gara tadi ketemu Mbak Anita?!"
[POV Dean]
Tingkat kepucatan pada kulit wajah Sinta saat di Poli Anak tadi mengindikasikan adanya peningkatan kadar kortisol singkat. Meskipun Sinta merespons dengan tenang dan anggun, saya menyadari bahwa sifat aslinya yang aktif dan ceria sempat tertahan. Pembelian es krim rasa cokelat-vanila ini adalah intervensi taktis. Efisiensi biaya es krim ini tidak sebanding dengan kembalinya senyuman dan nada suara khasnya yang bervolume tinggi—yang belakangan ini menjadi parameter utama kenyamanan hidup saya.
Dua menit kemudian, Rian kembali membawa sekeranjang kecil es krim cup premium. Dean mengambil satu cup es krim cokelat, membuka tutupnya dengan sangat rapi, lalu menyerahkannya bersama sendok kecil kepada Sinta.
"Habiskan ini sebelum kita sampai di restoran," kata Dean kaku, namun matanya menatap Sinta dengan kelembutan yang luar biasa tebal.
Sinta menerima es krim itu, menyendoknya sedikit, lalu menyuapkannya ke dalam mulut. Rasa manis yang dingin langsung meleleh di lidahnya. Sinta menatap wajah lempeng suaminya yang tetap terlihat kaku dengan setelan jas mewahnya di dalam mobil.
"Mas Dean gak mau?" tawar Sinta sambil mengarahkan sendok berisi es krim ke depan bibir Dean.
Dean menatap sendok itu selama dua detik. "Kandungan gula dalam es krim ini melampaui batas toleransi nutrisi harian saya."
"Dikit aja, Mas! Biar gak kaku-kaku banget!" desak Sinta dengan muka memelas yang dibuat-buat, sifat "toa masjid"-nya mulai kembali penuh.
Dean menghela napas pelan—sebuah gestur pasrah yang hanya bisa dilakukan oleh seorang Sinta Aniswari. Pria itu menunduk sedikit dan menerima suapan es krim dari tangan istrinya.
"Bagaimana fungsinya?" tanya Dean datar setelah menelan es krim tersebut. "Apakah kadar serotonin kamu sudah meningkat?"
Sinta tertawa geli, meletakkan cup es krimnya sejenak, lalu mendadak memajukan tubuhnya dan mengecup pipi kanan Dean dengan cepat.
Cup.
"Udah naik seratus persen, Pak Robot!" bisik Sinta manis dengan mata berbinar-binar.
Wajah Dean tetap lempeng, tidak ada ekspresi terkejut di bibirnya. Namun, jika ada alat pengukur suhu di dalam mobil tersebut, kedua daun telinga sang CEO bernilai triliunan rupiah itu kini sudah berubah warna menjadi merah matang seketika.