Indonesia
NovelToon NovelToon
Sentuhan Penyembuh Tuan Muda

Sentuhan Penyembuh Tuan Muda

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ghost_Writer

"Kau itu cuma babu pembersih luka yang dibeli oleh Kakekku. Jangan pernah bermimpi bisa menjadi nyonya di rumah ini!"

Bagi Jiro, Senjani tak lebih hanya seorang wanita oportunis yang memanfaatkan kelumpuhannya demi uang. Menikahi Tuan Muda lumpuh dengan keterpaksaan karena utang, Senjani harus menelan mentah-mentah semua hinaan dan perlakuan kasar dari Tuan Muda berhati es itu.

Sebagai seorang fisioterapis, tugas Senjani hanya satu, yaitu menyembuhkan kaki Jiro yang lumpuh akibat kecelakaan tragis di masa lalu. Namun, saat jemari tangannya mulai menuntun Jiro untuk kembali berdiri, sebuah rahasia berdarah justru terkuak. Masa lalu kelam di antara keluarga mereka merobek sisa-sisa profesionalisme Senjani.

Saat Senjani memilih pergi dengan luka yang bersimbah air mata, Jiro baru menyadari bahwa sentuhan wanita itu adalah satu-satunya penyembuh bagi jiwanya yang telah lama mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghost_Writer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 Pewaris Tunggal dan Pesta Megah

Kediaman utama keluarga Nandotomo kembali diselimuti oleh kemegahan yang tiada tanding, namun kali ini atmosfernya dipenuhi oleh gelak tawa dan rona kebahagiaan yang tulus. Hari ini adalah hari ketujuh setelah kelahiran putra pertama mereka, sekaligus hari digelarnya pesta syukuran sang pewaris tunggal generasi keempat keluarga Nandotomo.

Pak Baskoro tidak main-main dalam merayakan kehadiran cicit pertamanya. Halaman luas rumah mewah itu telah disulap menjadi sebuah paviliun kaca raksasa bertema Royal Klasik, dipenuhi oleh ribuan tangkai bunga lili putih dan mawar pastel yang diimpor langsung dari Belanda. Ratusan karangan bunga ucapan selamat dari para menteri, duta besar, dan taipan bisnis fana luar sana berjajar rapi sepanjang satu kilometer dari gerbang depan.

Di dalam kamar tidur utama yang tenang, Senjani sedang duduk di tepi ranjang, mengenakan gaun panjang katun rajut berwarna abu-abu muda yang longgar namun tetap terlihat sangat anggun. Wajah cantiknya memancarkan aura seorang ibu yang teduh, matanya jernih menatap bayi kecil di dalam dekapannya yang sedang tertidur pulas setelah menyusu.

"Dia mirip sekali denganmu saat sedang tidur, Mas," bisik Senjani dengan senyuman manis yang melengkung indah di bibirnya.

Jiro melangkah mendekat dari arah ruang pakaian. Pria itu sudah rapi mengenakan setelan kemeja linen putih dengan celana kain hitam, bersiap untuk turun menyambut para tamu elite di bawah. Langkah kakinya begitu tegap, mantap, dan tanpa ada cacat sedikit pun, sebuah pemandangan yang selalu membuat Senjani bersyukur setiap hari di dalam hatinya.

Jiro duduk di samping Senjani, lalu melingkarkan lengan kokohnya di bahu istrinya dengan gerakan yang sangat protektif dan penuh kelembutan. Netra elangnya menatap lekat-lekat wajah mungil putranya yang diberi nama Arsenio Nandotomo.

"Untungnya dia tidak mewarisi sifat pemarahku saat aku lumpuh dulu," sahut Jiro dengan suara bariton yang rendah dan serak, menyandarkan keningnya di pelipis Senjani. Dia mengulurkan jari telunjuknya yang besar, membiarkan jemari mungil Arsenio menggenggamnya secara refleks. Sebuah debaran hangat yang luar biasa besar merayap langsung ke dalam rongga dada Jiro. Pria angkuh yang dulu mengutuk takdirnya, kini telah menjelma menjadi seorang ayah yang takluk seutuhnya di bawah pesona darah dagingnya sendiri.

Tok, tok.

Pintu kamar terbuka sedikit, memperlihatkan Adriano yang membungkuk hormat dengan wajah yang agak canggung. "Tuan Besar Jiri, Nyonya Senjani. Maaf mengganggu momen intim kalian berdua. Di bawah, para kolega bisnis utama dari jajaran direksi dan Kakek Baskoro sudah berkumpul. Mereka... mereka sangat tidak sabar untuk melihat dan menggendong Tuan Muda kecil Arsenio secara bergantian."

Mendengar kata 'menggendong bergantian', aura di sekitar tubuh Jiro seketika berubah drastis menjadi dingin dan pekat dalam sekejap mata. Sisi posesifnya yang gila-gilaan mendadak aktif kembali tanpa toleransi sedikit pun.

"Katakan pada mereka di bawah, Drian," desis Jiro dengan nada suara yang datar namun sarat akan intimidasi yang mutlak. "Mereka hanya diizinkan untuk melihat Arsenio dari jarak satu meter saat acara doa bersama nanti. Tidak ada satu orang asing pun yang boleh menyentuh kulit atau menggendong anakku. Kamar ini tetap menjadi area steril yang dilarang dimasuki siapa pun kecuali Kakek."

Adriano menahan napasnya, mencoba menahan senyum di balik wajah kaku perawatnya. Dia sudah sangat hafal dengan sindrom bucin posesif tingkat tinggi yang diderita oleh atasannya sejak Senjani hamil kemarin. "B-Baik, Tuan Muda. Perintah akan saya sampaikan kepada para tamu di bawah."

Begitu Adriano melangkah mundur dan menutup pintu kamar kembali, Senjani tidak bisa menahan tawa renyahnya lagi. Suara tawa bening yang sangat dirindukan Jiro itu menggema memenuhi kamar yang sunyi.

"Mas Jiro... kamu berlebihan sekali," goda Senjani sembari menyenggol lengan kekar suaminya. "Mereka itu kolega bisnismu, bukan penjahat seperti Grayson atau Heru yang mau menculik Arsenio. Kenapa harus sekaku itu?"

"Aku tetap tidak peduli siapa mereka di luar sana, Senjani," bisik Jiri dengan suara serak yang penuh dengan dominasi kepemilikan yang sah. "Anak ini... dan dirimu... adalah dua harta paling berharga yang kuperoleh setelah bertaruh nyawa di atas bara api penderitaan masa lalu. Aku tidak suka membagikan milikku kepada dunia fana luar sana, bahkan hanya untuk sekadar pelukan atau gendongan semenit. Kamu adalah terapisku, dan Arsenio adalah penerusku. Kalian berdua adalah kerajaanku yang sesungguhnya."

Senjani merasakan ulu hatinya meleleh sempurna mendengar kalimat super bucin yang keluar dari bibir tipis suaminya. Dia meletakkan kepala Arsenio di dalam boks bayi kecil di samping ranjang dengan hati-hati, lalu berbalik mengalungkan kedua lengan lentiknya di leher kokoh milik Jiro. Dia memberikan sebuah kecupan yang sangat mendalam, manis, dan hangat di bibir Jiro, sebuah kecupan yang menyalurkan seluruh rasa cinta, rasa syukur, dan kesetiaan abadi yang kian mengunci takdir pernikahan mereka.

"Mari kita turun bersama, Suamiku yang paling posesif," bisik Senjani di sela-sela sapuan bibir mereka dengan senyuman yang sangat memikat.

Jiro tersenyum puas, sebuah senyuman tulus dab sangat tampan. Dia menggandeng jemari tangan Senjani dengan cengkeraman yang hangat, melangkah bersama keluar dari kamar menuju paviliun pesta megah di bawah langit Jakarta yang cerah. Langkah mereka bukan lagi sebagai dua orang yang terikat paksa oleh utang pengobatan, melainkan sebagai sepasang raja dan ratu sejati yang siap memimpin masa depan kerajaan bisnis Nandotomo Group bersama buah hati mereka dalam kebahagiaan abadi hingga akhir hayat memisahkan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!