Aurelia Evandra datang membawa sebuah kontrak.
Bukan untuk ditandatangani olehnya, melainkan oleh Nathaniel Alister—pewaris keluarga Alister yang terkenal dingin dan tak pernah tunduk pada siapa pun.
Semua orang menganggap Nathaniel akan menolak tanpa berpikir dua kali.
Namun, Aurelia datang dengan syarat yang tak bisa diabaikan. Sebuah tanda tangan menjadi awal dari permainan berbahaya yang mempertemukan dua pewaris, dua keluarga besar, dan rahasia yang selama bertahun-tahun terkubur.
Awalnya hanya kontrak.
Hingga perlahan berubah menjadi ikatan yang tak seorang pun mampu putuskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon masadepan_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah foto
Malam mulai turun sebelum akhirnya Nathaniel sampai di kediamannya. Ia tidak pulang ke villa, melainkan ke mansion dimana keluarganya tinggal. Setelah pertemuan dengan Giovani, Pradana dan Valerian—kedua orang tua Nathaniel menyuruhnya tinggal di mansion karena ada beberapa hal yang perlu mereka bahas.
Begitu ia menginjakkan kaki setelah melewati pintu utama. Beberapa pelayan menyambutnya, membawakan tas dan jas yang menggantung di lengan Nathaniel.
Ia berada disini tanpa Attar, asistennya itu masih berada di kantor untuk menyelesaikan beberapa masalah.
"Selamat datang, tuan." Ucap bu Taya, pelayan tertua yang sudah mengabdi di kediaman Alister.
Nathaniel menyunggingkan senyum tipis, kepalanya mengangguk pelan. Lalu melanjutkan langkah kakinya.
"Tuan tertua dan nyonya masih di luar. Sepertinya akan pulang malam." Taya memberikan informasi yang harus ia sampaikan.
Nathaniel mengerti kenapa kedua orangtuanya tidak datang menyambut. Biasanya, Valerian selalu menunggu kedatangan putranya. Menyambut di depan pintu, memeluk tubuhnya hangat dan melemparkan kalimat kerinduan seorang ibu pada putranya.
Kesibukan mereka benar-benar menjadi jembatan mereka sehingga jarang bertemu.
"Kalau mereka datang. Beritahu bahwa saya sudah di kamar." Ucap Nathaniel tanpa menoleh sedikitpun. Suara langkah kakinya pada setiap anak tangga terdengar berirama.
Sampai langkahnya sampai di depan pintu kamarnya. Nathaniel membukanya dengan perlahan. Lalu masuk kedalam dengan disambut aroma khas yang selalu ia rindukan.
Pintu kamar tertutup, matanya beredar mengelilingi isi ruangan. Sudah empat bulan dia tidak menginjakkan kakinya disini. Semuanya masih sama, siapapun tidak pernah ada yang berani memindahkan satu barang pun tanpa sepengetahuannya.
Ia mendudukkan dirinya di sofa, lalu membuka laci di nakas. Ia mengeluarkan satu foto yang bergambar seorang wanita di suatu acara yang sedang tertawa bahagia.
Pikirannya jauh berkelana pada beberapa tahun lalu.
Dimana pada sebuah acara besar. Pertemuan dengan beberapa klien, mengobrol singkat, dan makanan ringan. Tapi yang masih membenak dipikirannya sampai sekarang adalah satu wanita.
Ia masih ingat ketika mereka tak sengaja berpapasan hingga tas wanita itu terjatuh. Tapi tidak ada raut panik yang Nathaniel lihat dari wanita itu, melainkan ketenangan.
Tapi bukan berarti angkuh, wanita itu tetap mengucapkan kata maaf meskipun singkat.
Hingga sepanjang acara, Nathaniel terus memperhatikan wanita itu. Bahkan ia sempat mengeluarkan ponsel dari saku dan memotretnya tanpa ijin.
Hal bodoh.
Tapi Nathaniel menyukai kejadian itu.
Tok! Tok!
Nathaniel terperanjat, ia buru-buru memasukkan kembali foto itu kedalam laci. Matanya menangkap sosok Sarah diambang pintu dengan senyum andalannya.
"Apa aku mengganggu adik manisku?" Tanya Sarah dengan suara menggoda, ia masuk tanpa meminta ijin. Pintunya ia tutup rapat dan mulai melangkah mendekati Nathaniel.
"Tidak." Ucap Nathaniel singkat lalu menyenderkan punggungnya di sofa.
"Apa kakak baru sampai?" Tanya Nathaniel. Karena pertama masuk, ia tidak melihat Sarah maupun Lili.
"Iya. Tapi tanganku pegal sekali karena Lili tidur sepanjang perjalanan." Timpal Sarah seraya menggerakkan lengannya perlahan.
"Apa dia masih tidur?"
Sarah mengangguk. "Tidur dia. Udah dikamar." Sarah meloncat ke atas kasur tanpa melepaskan heelsnya. Hal itu membuat Nathaniel melemparkan tatapan tajam.
Tapi Sarah hanya nyengir kuda.
"Aku rindu sekali kamar ini." Sarah merentangkan kedua tangannya seolah sedang menghirup udara segar. Lalu bergerak mencopot heels sebelum adiknya murka.
Nathaniel hanya terdiam, pria itu berusaha melepaskan jam tangan dari lengannya.
"Aku cukup terkejut dengan keputusanmu dan Aurelia."
Nathaniel meletakkan jam tangannya di atas nakas, lalu menoleh pada Sarah.
"Bukankah itu yang kakak inginkan?" Tanya Nathania datar.
Sarah menghembuskan napas panjang. Ia duduk dengan menyilangkan kedua kakinya di atas kasur.
"Memang benar. Tapi apa kamu tidak berpikir bahwa ini terlalu tiba-tiba?" Sarah meraih bantal dan meletakkannya di atas kaki lalu memeluknya.
"Tidak. Aku tidak pernah membuat keputusan tiba-tiba dan tanpa berpikir panjang." Nathaniel mencondongkan tubuhnya, menautkan kedua lengannya dengan tatapan datar ke arah Sarah.
"Kakak tahu, Nathan. Tapi sebelumnya kalian sama-sama menolak perjodohan ini." Sarah masih penasaran. Permasalahan ini mengganjal di hatinya sejak pertama kali beritanya sampai padanya.
"Anggap saja aku menerima perjodohan ini untuk masa depanku."
Sarah mengangkat kedua alisnya.
"Aurelia memiliki kemungkinan mudah untuk berbaur di keluarga kita. Dia memiliki potensi untuk menjadi istri dariku. Kakak tahu, aku tidak suka wanita manja dan penuh pertimbangan." Nathaniel berkata dengan tenang, seolah kalimat yang keluar darinya adalah sebuah ketulusan.
"Sedangkan Aurelia, wanita yang tenang, bijaksana dan cerdas. Aku tidak pernah meragukan itu. Dan posisi aku yang dipojokkan oleh kakak, Mama dan Papa semakin mendorong aku untuk menerima Aurelia."
Sarah tersenyum mendengar ucapan Nathaniel yang menurutnya begitu jujur.
"Aku tidak memiliki perasaan apapun padanya. Bahkan sangat dikatakan itu adalah hal tidak mungkin. Tapi itu semua diluar kendaliku, kak. Kalaupun suatu hari aku memiliki perasaan terhadapnya. Bukankah itu bukan sebuah dosa?"
Sarah tersenyum lebar seraya mengangguk-anggukkan kepalanya kecil.
"Kalaupun itu dosa. Sepertinya aku akan mendukung kau berbuat dosa." Sarah tertawa jahil.
Nathaniel hanya berdecak.
"Aku senang mendapat pengakuan dari kau dan Aurelia yang jujur. Kalian tidak berkata berbohong melakukan ini karena cinta." Sarah beraut serius.
"Tapi aku berharap setelah pernikahan kalian berlangsung. Jangan mementingkan ego masing-masing. Aku tahu egomu besar, begitu juga dengan Aurelia. Tapi kasih sayang keluarga kita masih bisa menjadi alasan agar kau menurunkan egomu. Berbeda dengan Aurelia... Yang bahkan tidak pernah diberi kesempatan untuk membuat keputusan dirumahnya sendiri." Mata Sarah berkaca-kaca setiap mengingat wanita malang seperti Aurelia. Ia tahu betul suasana rumah wanita itu yang jauh dari kata hangat. Berbeda dengan dirinya dan Nathaniel yang tangki cintanya terpenuhi, kalaupun sifat dingin Nathaniel... Itu bukan hasil dari tekanan siapapun, tapi satu kejadian yang diluar kendali keluarga ini.
Nathaniel hanya diam, pria itu tidak menjawab apapun. Ia kembali menyenderkan punggungnya, lalu menopangnya kepala dengan tangannya.
"Apa kalian selama ini diam-diam bertemu?" Raut sarah menyelidik. Ia mencondongkan tubuhnya dengan mata yang sengaja ia sipitkan.
"Hanya beberapa kali." Timpal Nathaniel tidak sepenuhnya berbohong karena ia baru bertemu Aurelia satu kali selain pertemanan bisnis.
Sarah tersenyum jahil, ia menaik turunkan kedua alisnya.
"Apa menurutmu Aurelia cantik?" Sarah melipatkan bibirnya kedalam, ia berusaha menahan senyumnya yang akan terbit lebar.
Nathaniel terdiam sesaat, lalu terdengar deheman pelan.
"Itu kenyataannya. Aku tidak mau berbohong." Jawab Nathaniel datar.
"Jadi Aurelia cantik?" Sarah bertanya satu kali lagi, ia sangat suka ketika melihat telinga Nathaniel yang mulai memerah.
"Aku sudah menjawab tadi." Nathaniel berkata dengan suara datar lalu mengalihkan pandangannya.
"Itu kurang spesifik. Coba jawab dengan jelas." Sarah menutup mulutnya sebelum suara tawanya meledak di ruangan.
Nathaniel melirik Sarah sekilas.
"Aurelia memang cantik."
Suara Sarah meledak karena tidak bisa ia tahan. Ia berhasil menggoda Nathaniel, lihat bagaimana wajah sampai telinga pria itu berubah warna.
"Aku saja sebagai wanita mengakui itu." Ucap Sarah kemudian.
"Dan satu lagi." Lanjut Sarah lalu menghentikan godaannya.
Nathaniel menoleh pada Sarah.
"Apa?"
Sarah terdiam sejenak. Lalu menatap Nathaniel dengan tatapan menyelidik.
"Kamu sudah mengenal Aurelia sejak dulu, bukan?"