Moiro Asahi, seorang anak laki-laki yang tiba-tiba berubah menjadi dingin di sekolah setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan.
Ditambah lagi, orang tuanya meninggalkan utang yang amat besar pada dirinya.
Dengan utang besar itu, ia tak punya pilihan lain selain bekerja sepulang sekolah. Sayangnya, setiap lamaran selalu ditolak karena satu alasan: ia masih pelajar.
Hingga suatu hari, ia memutuskan untuk hanya bekerja part-time, dan akhirnya sebuah kafe mewah menerimanya sebagai seorang maid.
Tunggu... Maid?! APA APAAN INI?!
Seberapa lama Moiro harus menjalani hidup absurd itu demi melunasi hutangnya? Apakah ia harus terus mengenakan seragam imut untuk bertahan hidup? Dan yang paling menakutkan... Apakah ia akan kehilangan jati dirinya di tengah semuanya?!
Penasaran sama ceritanya? Ikuti terus kisah absurd hasil gabut ini dan silakan nikmati alur kocaknya!
Novelnya ada beberapa kejadian gak logis, jadi maklumi aja, hehe.
(ada beberapa gambar bikinan AI, bukan ceritanya)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mujahid Al Fattih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 GAK MUNGKIN!
Pagi hari berikutnya, Moiro berangkat ke sekolah seperti biasanya.
Sesampainya di gerbang sekolah, ia kembali teringat kecemasannya saat melihat beberapa murid bermain ponsel di sekitaran sekolah.
"Benar juga... Aku lupa!" serunya dalam hati. Wajahnya terlihat datar tapi penuh kegelisahan.
Dengan langkah kaku, Moiro berjalan perlahan menuju kelas dan berusaha agar terlihat seperti biasa.
Selama pelajaran berlangsung, Moiro selalu terlihat cemas, panik, dan kaku. Kadang, ia sampai lupa mencatat materi yang diajarkan, tidak merespon ketika dipanggil, hingga terlihat melongo di atas meja duduknya.
Melihat itu, Mika jelas bingung dan khawatir. Saat guru tengah menjelaskan, Mika mengambil kesempatan untuk bertanya pada Moiro.
"M-Moiro," bisiknya, "Psstt...!"
Moiro tetap diam bengong, tak membalas, bahkan tak menyadari kalau Mika sedang memanggilnya.
"Sepertinya belum bisa..." pikir Mika, masih khawatir. Ia pun akhirnya kembali memerhatikan pembelajaran.
Setelah pelajaran selesai dan waktu istirahat tiba, Mika ingin mencoba mengajak Moiro makan bersama. Tapi, sebelum ia mengeluarkan kotak bekalnya dari dalam laci, tiba-tiba Yuka datang menghampirinya sambil membawa tumpukan kertas. Kacamata bulatnya tampak mengkilat dilintasi cahaya.
"Sano, aku ingin kamu menjadi rekanku sekaligus wakil dalam pencalonan OSIS nanti."
"Eh?" sentak Mika halus, bingung karena tiba-tiba diajak untuk mencalon OSIS dengannya.
"Aku tau kamu bingung, itu sebabnya..." Yuka meletakkan tumpukan kertas yang besar hingga menggebrak saat menghantam meja.
Mika membelalak menatap itu.
Yuka berkacak pinggang, "Aku punya beberapa hal untuk dibahas sepulang sekolah nanti."
Itu mah bukan beberapa lagi, tapi bebertumpuk!
"Ke-Ketua kelas..." ucap Mika terkaku sambil mengangkat pelan wajahnya yang tersenyum paksa, "Anu... Aku mau nanya..."
"Tanyakan saja," balas Yuka santai.
"Begini, nih... Kenapa harus aku yang dipilih, ya?" tanyanya. Wajahnya tetap memasang senyuman, sementara ucapannya terdengar bingung dan ragu, "Pasti ada kesalahan, kan?"
"Tidak kok," jawab Yuka dengan tenang, tatapannya tajam seperti biasa, "Aku sudah memikirkannya dengan baik, dan kamu cocok untuk mencalon OSIS bersamaku."
Ia berpaling lalu mengepalkan satu tangannya, "Aku yakin, kita pasti bisa menang dan membawa perubahan yang besar!"
"Ketua kelas... Kamu percaya diri banget, ya?" balas Mika pelan, merasa tak bisa mengalahkan ambisinya.
Yuka kembali berpaling—menghadap ke arah Mika, lalu memperbaiki rambut pendeknya dengan satu kibasan tangan, "Tentu saja. Optimisme harus dimiliki setiap orang."
Mika terdiam, matanya terpaku pada benda yang menggantung di rambut Yuka.
Yuka heran melihat Mika yabg menatapnya seperti itu. Ia mengerjap singkat, lalu bertanya, "Ada apa?"
Mika diam tak membalas, matanya tetap tertuju pada benda berbentuk kepala naga hitam yang menggantung di rambut Yuka. Setelah diperhatikan dengan jelas, itu adalah sebuah jepit rambut.
Mika menunjuknya, "Kenapa kamu pakai jepit rambut itu? Aku baru tau kamu menyukai naga."
Yuka tersentak, pipinya memerah seketika.
Dengan cepat dan berusaha tetap terlihat profesional sebagai ketua kelas, ia memalingkan setengah badannya dan menghalangi pandangan Mika agar tak tertuju pada jepit rambut itu.
Ia memperbaiki kacamatanya yang sengaja dilonggarkan ketika berpaling, lalu berucap pelan. Suaranya terdengar sedikit aneh, "A-Apa yang kamu maksud...? Naga? Aku tidak mengerti..."
"Apa maksudmu, Ketua kelas? Jelas-jelas tadi ada jepit rambut berbentuk naga. Kemarin aku gak liat kamu memakai—"
Mika terdiam seketika setelah suatu dugaan melintas dalam benaknya. Ia akhirnya menyadari setelah sebuah tali akhirnya tersambung dan membentang di dalam pikirannya—menyambungkan kejadian yang seketika terlintas di pikirannya.
"Sebentar..." Mika kemudian mencoba mencocokkan lagi, dan tanpa sadar dirinya berbisik saking fokusnya. Wajahnya berubah serius memikirkannya, "Naga? Naga... Ryu..."
Mika tersentak, mendapatkan jawabannya. Matanya sontak membulat indah.
Ia kemudian tersenyum tipis lalu berdiri, mendekat pada Yuka dan menepuk ringan pundaknya.
Yuka menoleh cepat, bingung dan sedikit panik. Wajahnya masih merah seperti udang rebus.
Mika bertanya pelan, "Apa itu pemberian Ryuji?"
Wajah Yuka makin panas seketika. Uap tipis keluar dari ubun-ubunnya. Ia berpaling dengan cepat, mencoba menutupi ekspresi malu pada wajahnya.
"Sepertinya aku benar," lanjut Mika, ingin sedikit menggodanya.
Mika terus tersenyum, sementara benaknya berkata, "Aku punya senjata untuk menolak ajakannya mencalon OSIS."
Mika kembali berucap, "Aku tidak menyangka, loh. Seorang ketua kelas menyukai anak yang nakal—"
"Dia gak nakal!" sanggah Yuka cepat sambil menoleh, bibirnya mengerucut setelah mengatakannya, "D-Dia cuma..."
Yuka tersentak halus saat tanpa sadar dirinya membela Ryuji. Wajahnya seketika makin memerah padam begitu menyadarinya.
Ia pun menghadapkan badannya pada Mika, lalu mengangkat telunjuknya yang bergetar halus mengarah pada bibir gadis itu.
Yuka menatapnya dengan ekspresi malu, wajahnya sangat merah dengan mata yang sedikit berkaca.
"To... Tolong rahasiakan ini..." bisiknya pelan.
"Ketua kelas...?" Mika terbelalak melihat ekspresinya, "Aku tidak tau kalau dia bisa seimut ini...!"
Mika mengangkat tangan, memegang lembut lengan Yuka di depan wajahnya sambil terus tersenyum, "Aku akan merahasiakannya, tapi jangan ajak aku mencalon OSIS, ya?"
Yuka terkejut dan sontak berekspresi sedih, "K-Kenapa...?"
Matanya membelalak seketika, melihat gelang berhias manik-manik lucu di pergelangan Mika yang memegang tangannya, dan ada yang bertuliskan inisial “Mo” di salah satu manik-maniknya.
Tanpa menunggu lama, Yuka menemukan kesempatan untuk membalikkan keadaan.
Ia tersenyum tipis yang panjang. Kacamatanya memantulkan cahaya terang seolah mendapat pencerahan dari dewi. Rona di wajahnya juga perlahan memudar.
Ia pun memegang perlahan gelang di pergelangan Mika menggunakan tangan yang satunya.
Mika sontak terkejut melihatnya, ia segera melepaskan tangan Yuka lalu menggenggam pergelangannya sendiri dengan malu—menutupi gelang itu, "I-Ini..."
Yuka tersenyum, "Aku tidak akan memberitahukannya jika kamu bersedia mencalon OSIS bersamaku."
"Aku terkena balasannya...!" sesal Mika dalam hatinya.yanh bersedih.
Saling balas serangan, wkwk.
Sementara itu, Moiro tetap diam membatu. Ia tak mendengarkan atau memerhatikan apa yang sedang terjadi di sekelilingnya.
Tiba-tiba, Ryuji memanggilnya dan mengatakan sesuatu.
"Moiro," serunya sambil menatap Moiro, "aku menemukan seseorang yang membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama!"
Hah?!
Moiro tersadar. Mika dan Yuka yang mendengarnya juga terkejut dan menoleh bersamaan.
Alis Yuka bergetar, "Orang yang disukai Ryuji..."
Dengan cepat ia langsung mendekat, diikuti oleh Mika di sebelahnya.
Moiro menoleh pada Ryuji yang sedang memegang ponsel dan seketika bertanya karena penasaran, "Siapa itu?"
Moiro sangat tidak menyangka kalau setan di sebelahnya itu bisa tertarik dengan orang lain.
Emang setan. Kau yang bengong aja bisa dibuatnya sadar.
Ryuji tersenyum lebar, "Aku ketemu postingan ini kemarin sore. Kau liat aja si cewek ini."
Ia pun mengarahkan layar ponselnya pada ketiganya sambil berkata dengan senyuman yang terasa berbeda dari biasanya, "Lihat. Cantik, kan?"
Moiro membelalak kaget. Yuka tersentak dan sigap menutup mulutnya.
Keduanya terkejut bersamaan setelah melihat foto di layar ponselnya.
Ryuji bingung dengan ekspresi keduanya, "Ada apa?"
Moiro membatu, ekspresinya berubah jijik dan takut. Wajahnya membiru dengan cepat hingga berkeringat.
Yuka tak kalah terkejutnya. Ia tak menyangka tentang sosok yang disukai Ryuji. Perasaannya makin kacau balau setelah melihat gambar di layar ponsel itu.
Sementara Mika hanya bingung dengan ekspresi keduanya, meski ia merasa kalau perempuan di layar ponsel Ryuji memang tidak asing baginya.
Di ponsel itu, terdapat sebuah foto seorang laki-laki yang bersama seorang maid berambut merah muda dengan pakaiannya yang bertema natal berlatar pohon cemara dengan hiasan indah. Maid yang dimaksud itu adalah Moiro!
ALAMAK!